Home / Romansa / Janji yang Tak Sempat Usai / Bab 2: Makan Malam Yang tak Biasa

Share

Bab 2: Makan Malam Yang tak Biasa

Author: NOBEL
last update Last Updated: 2025-04-14 22:16:07

Sabtu sore datang lebih cepat dari yang Nayla harapkan.

Sejak pagi, ibunya sudah berkali-kali keluar-masuk kamar Nayla. Membawa pilihan baju, menyuruh pakai masker wajah, bahkan menyuruh Nayla untuk mencatok rambutnya sedikit. Bukan karena acara formal, tapi karena “kesan pertama penting,” katanya.

Nayla berdiri di depan cermin. Blouse putih sederhana dan rok panjang berwarna beige. Riasan tipis. Rambut digerai dengan sedikit gelombang di ujung. Biasa, tapi tetap terlihat manis.

“Kenapa aku malah kayak mau lamaran ya…” gumamnya pelan.

“Cantik, Nay! Kamu kelihatan dewasa banget,” komentar Ibu dari ambang pintu.

“Ma, ini makan malam biasa, kan? Nggak ada semacam… kejutan aneh lagi?”

Ibunya hanya tersenyum. Lagi-lagi senyum misterius itu.

Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah bergaya klasik modern di kawasan elite kota. Rumah itu megah, tapi hangat. Lampu-lampu taman menyala temaram, dan aroma masakan menggoda dari dapur terbawa angin malam.

Nayla menatap rumah itu dengan perasaan campur aduk. Rasanya seperti memasuki dimensi lain tempat di mana masa lalu dan masa depan tiba-tiba bertemu.

“Masuk, ayo,” ujar Ibu sambil menepuk tangannya pelan.

Begitu pintu dibuka, aroma lavender langsung menyambut. Di ruang tamu, seorang wanita paruh baya menyambut dengan senyum hangat dan pelukan lembut.

“Ini pasti Nayla, ya? Ya ampun, sudah besar… terakhir aku lihat kamu masih pakai seragam TK!”

Nayla tertawa kikuk. “Iya, Bu…”

“Panggil Tante aja. Tante Leona,” ujarnya ramah. “Keane belum turun, dia lagi ganti baju.”

Nama itu membuat jantung Nayla bergetar sebentar. Keane? Nama yang terasa asing… dan entah kenapa, sedikit familiar.

Mereka duduk di ruang makan yang dihias dengan nuansa pastel. Obrolan mengalir ringan, tentang masa lalu, pekerjaan, dan betapa Nayla mirip mendiang ayahnya.

Hingga suara langkah kaki terdengar dari tangga.

Nayla menoleh.

Seorang pria tinggi dengan kemeja biru muda dan jam tangan kulit berjalan mendekat. Rambutnya hitam pekat, disisir rapi. Wajahnya teduh, dengan tatapan tenang dan bibir yang membentuk senyum tipis.

Tapi senyum itu… seakan menyeret Nayla kembali pada kenangan yang tak sepenuhnya pudar.

Dan saat mata mereka bertemu

Deg.

Nayla terdiam. Mulutnya sedikit terbuka. Wajah itu… dia mengenalnya.

“Keane Alvaro,” ujar pria itu sambil menjabat tangan Nayla dengan sopan. “Senang bertemu denganmu.”

Nayla membeku.

Itu… cinta pertamanya.

Keane. Anak laki-laki yang dulu tinggal di sebelah rumahnya saat kecil. Teman bermain yang selalu menemaninya ke taman, membuat dinosaurus dari kertas, dan yang tiba-tiba menghilang tanpa pamit pindah ke luar negeri tanpa sepatah kata pun.

“Kamu…” Nayla menatapnya penuh tanya. “Kamu Keane yang dulu itu?”

Keane menatapnya lebih lama, lalu mengangguk. “Kamu ingat?”

Ingat? Mana bisa ia lupa?

Tapi Nayla tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum samar. “Lama nggak ketemu, ya.”

Makan malam dimulai. Tapi suasana dalam hati Nayla tidak lagi tenang.

Keane duduk di seberangnya. Tersenyum sopan, berbicara sesekali, tapi tidak ada yang berani menyebut soal masa kecil mereka. Tidak juga tentang kepergiannya yang mendadak waktu itu.

Setelah makan, mereka diminta duduk berdua di taman belakang rumah. Sebuah meja kecil, dua cangkir teh, dan suasana malam yang tenang tapi janggal.

“Kamu… nggak banyak berubah,” ujar Keane pelan.

Nayla menatapnya. “Aku malah merasa kamu berubah banyak. Dulu kamu lebih cerewet.”

Keane tertawa kecil. “Mungkin karena waktu. Dan pengalaman.”

Hening sejenak.

“Kenapa kamu dulu pergi tanpa pamit?” tanya Nayla akhirnya. Suaranya pelan, tapi tajam.

Keane menunduk. “Ayahku pindah mendadak. Aku nggak sempat… bilang apa-apa.”

“Kamu tahu aku nunggu kabar kamu. Bertahun-tahun.”

Keane menatap Nayla dalam diam. “Aku… minta maaf.”

Nayla mengalihkan pandangan. Udara malam terasa dingin. Tapi bukan itu yang membuatnya menggigil.

Ada rasa yang dulu pernah tumbuh, kini perlahan muncul kembali. Tapi dibarengi luka lama yang belum sempat sembuh.

Dan malam itu, Nayla tahu makan malam ini bukan sekadar reuni biasa. Ini awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 12: Rasa yang Mulai Terasa

    Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 11: Rasa yang Kembali Menyiksa

    Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 10: Ucapan yang Tak Tersampaikan

    Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 9: Rahasia yang Terlalu Lama Tertahan

    Sore itu, langit Jakarta mulai berwarna oranye keemasan. Suara deru kendaraan berlalu-lalang dari kejauhan, namun terasa seperti gema samar di telinga Nayla. Di dalam mobil yang melaju pelan, suasana justru terasa hening. Keane duduk di kursi kemudi, sekali-sekali melirik Nayla yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak mencoba mengisi keheningan itu, seolah keduanya tahu masing-masing sedang bergulat dengan rasa yang sulit diberi nama. “Maaf,” Keane akhirnya membuka suara. “Aku nggak bermaksud bikin semuanya jadi serumit ini.” Nayla menghela napas. “Kamu tahu... aku nggak butuh penjelasan panjang lebar. Aku cuma butuh kejujuran, Keane.” Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan kecil. Tempatnya sederhana tapi punya suasana hangat. Keane memarkir mobil dan menoleh. “Kalau kamu siap, aku bakal cerita semuanya. Tentang kenapa aku pergi waktu itu... dan kenapa aku balik sekarang.” Mereka turun dari mobil, duduk di sudut yang agak sepi. Pelayan datang, mencatat pesana

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 8: Pertemuan Ulang

    Kafe di sudut kota itu tampak hangat sore itu. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kekuningan menciptakan suasana nyaman, berbeda jauh dengan degup jantung Nayla yang tak kunjung tenang. Ia duduk di sudut dekat jendela, menggenggam gelas kopinya yang sudah dingin sejak lima belas menit lalu. Ia menoleh saat bel pintu berbunyi. Keane masuk, mengenakan jaket gelap dan syal tipis yang membuat penampilannya terlihat santai, tapi tetap elegan. Matanya langsung menemukan Nayla, dan senyum tipis muncul di wajahnya. “Maaf aku telat. Lalu lintas,” ucap Keane sembari menarik kursi di depannya. Nayla hanya mengangguk pelan. “Aku hampir pulang.” “Aku bersyukur kamu belum pulang,” sahutnya ringan, mencoba mencairkan suasana. Beberapa detik hening. “Jadi?” tanya Nayla, menatap langsung ke matanya. “Apa yang mau kamu ceritakan?” Keane menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, lalu kembali pada Nayla. “Dulu, waktu kita masih remaja, aku... bukan hanya menghilang tanpa kabar. Aku

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 7: Rencana yang Tak Terucap

    Dua hari berlalu sejak percakapan canggung antara Nayla dan Keane di ruang rapat. Sejak saat itu, Keane tak lagi muncul di lantai tempat Nayla bekerja. Entah sibuk dengan jadwal direksi, atau memang sengaja menjaga jarak. Tapi Nayla bersyukur. Ia butuh waktu untuk bernapas, mencerna semua perasaannya yang berantakan. Namun, di balik kesunyian itu, Keane justru semakin sering muncul di media sosial perusahaan. Wajahnya terpampang di unggahan foto meeting, kunjungan lapangan, dan pernyataan resmi sebagai calon penerus bisnis keluarga. Nayla menontonnya diam-diam, antara kagum dan... waspada. “Lo masih mikirin Keane, ya?” Santi bertanya sambil menyeruput es kopi di meja pantry. Nayla hanya mengangkat bahu. “Sulit buat nggak mikirin.” Santi tersenyum simpul. “Gue ngerti. Tapi Nay, gue punya feeling... cowok itu balik bukan cuma buat jadi penerus perusahaan.” “Apa maksud lo?” “Lo inget dulu pas SMA? Keane tiba-tiba menghilang. Lo nangis seminggu penuh waktu itu.” Nayla menegang. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status