LOGINSabtu sore datang lebih cepat dari yang Nayla harapkan.
Sejak pagi, ibunya sudah berkali-kali keluar-masuk kamar Nayla. Membawa pilihan baju, menyuruh pakai masker wajah, bahkan menyuruh Nayla untuk mencatok rambutnya sedikit. Bukan karena acara formal, tapi karena “kesan pertama penting,” katanya. Nayla berdiri di depan cermin. Blouse putih sederhana dan rok panjang berwarna beige. Riasan tipis. Rambut digerai dengan sedikit gelombang di ujung. Biasa, tapi tetap terlihat manis. “Kenapa aku malah kayak mau lamaran ya…” gumamnya pelan. “Cantik, Nay! Kamu kelihatan dewasa banget,” komentar Ibu dari ambang pintu. “Ma, ini makan malam biasa, kan? Nggak ada semacam… kejutan aneh lagi?” Ibunya hanya tersenyum. Lagi-lagi senyum misterius itu. Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah bergaya klasik modern di kawasan elite kota. Rumah itu megah, tapi hangat. Lampu-lampu taman menyala temaram, dan aroma masakan menggoda dari dapur terbawa angin malam. Nayla menatap rumah itu dengan perasaan campur aduk. Rasanya seperti memasuki dimensi lain tempat di mana masa lalu dan masa depan tiba-tiba bertemu. “Masuk, ayo,” ujar Ibu sambil menepuk tangannya pelan. Begitu pintu dibuka, aroma lavender langsung menyambut. Di ruang tamu, seorang wanita paruh baya menyambut dengan senyum hangat dan pelukan lembut. “Ini pasti Nayla, ya? Ya ampun, sudah besar… terakhir aku lihat kamu masih pakai seragam TK!” Nayla tertawa kikuk. “Iya, Bu…” “Panggil Tante aja. Tante Leona,” ujarnya ramah. “Keane belum turun, dia lagi ganti baju.” Nama itu membuat jantung Nayla bergetar sebentar. Keane? Nama yang terasa asing… dan entah kenapa, sedikit familiar. Mereka duduk di ruang makan yang dihias dengan nuansa pastel. Obrolan mengalir ringan, tentang masa lalu, pekerjaan, dan betapa Nayla mirip mendiang ayahnya. Hingga suara langkah kaki terdengar dari tangga. Nayla menoleh. Seorang pria tinggi dengan kemeja biru muda dan jam tangan kulit berjalan mendekat. Rambutnya hitam pekat, disisir rapi. Wajahnya teduh, dengan tatapan tenang dan bibir yang membentuk senyum tipis. Tapi senyum itu… seakan menyeret Nayla kembali pada kenangan yang tak sepenuhnya pudar. Dan saat mata mereka bertemu Deg. Nayla terdiam. Mulutnya sedikit terbuka. Wajah itu… dia mengenalnya. “Keane Alvaro,” ujar pria itu sambil menjabat tangan Nayla dengan sopan. “Senang bertemu denganmu.” Nayla membeku. Itu… cinta pertamanya. Keane. Anak laki-laki yang dulu tinggal di sebelah rumahnya saat kecil. Teman bermain yang selalu menemaninya ke taman, membuat dinosaurus dari kertas, dan yang tiba-tiba menghilang tanpa pamit pindah ke luar negeri tanpa sepatah kata pun. “Kamu…” Nayla menatapnya penuh tanya. “Kamu Keane yang dulu itu?” Keane menatapnya lebih lama, lalu mengangguk. “Kamu ingat?” Ingat? Mana bisa ia lupa? Tapi Nayla tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum samar. “Lama nggak ketemu, ya.” Makan malam dimulai. Tapi suasana dalam hati Nayla tidak lagi tenang. Keane duduk di seberangnya. Tersenyum sopan, berbicara sesekali, tapi tidak ada yang berani menyebut soal masa kecil mereka. Tidak juga tentang kepergiannya yang mendadak waktu itu. Setelah makan, mereka diminta duduk berdua di taman belakang rumah. Sebuah meja kecil, dua cangkir teh, dan suasana malam yang tenang tapi janggal. “Kamu… nggak banyak berubah,” ujar Keane pelan. Nayla menatapnya. “Aku malah merasa kamu berubah banyak. Dulu kamu lebih cerewet.” Keane tertawa kecil. “Mungkin karena waktu. Dan pengalaman.” Hening sejenak. “Kenapa kamu dulu pergi tanpa pamit?” tanya Nayla akhirnya. Suaranya pelan, tapi tajam. Keane menunduk. “Ayahku pindah mendadak. Aku nggak sempat… bilang apa-apa.” “Kamu tahu aku nunggu kabar kamu. Bertahun-tahun.” Keane menatap Nayla dalam diam. “Aku… minta maaf.” Nayla mengalihkan pandangan. Udara malam terasa dingin. Tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Ada rasa yang dulu pernah tumbuh, kini perlahan muncul kembali. Tapi dibarengi luka lama yang belum sempat sembuh. Dan malam itu, Nayla tahu makan malam ini bukan sekadar reuni biasa. Ini awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.Nayla masih berdiri di samping mejanya, tangan kanannya menggenggam ponsel erat sampai buku-buku jarinya memutih. Pesan itu masih terpampang jelas di layar. “Jangan terlalu percaya pada orang yang kembali membawa senyum.” Satu kalimat sederhana. Tapi rasanya seperti pisau kecil yang pelan-pelan mengiris bagian paling rapuh dalam diri Nayla. Ia menelan ludah. Tatapannya kosong beberapa detik, sampai suara kursi ditarik dari belakangnya membuat Nayla tersentak kecil. “Nayla? Kamu belum pulang?” Nayla menoleh cepat. itu santi temannya, yang sedang merapikan meja. “Oh… iya,” jawab Nayla buru-buru, berusaha menutupi ekspresinya. “Baru mau pulang.” Santi tersenyum kecil. “Aku duluan ya. Jangan pulang terlalu malam.” Nayla mengangguk. “Hmm.” Setelah Santi pergi, Nayla baru menghembuskan napas panjang. Ia menatap ponselnya lagi, lalu pelan-pelan menekan nomor itu. Panggilan. Satu kali berdering. Dua kali. Tiga kali. Lalu… “Nomor yang Anda tuju sedang tidak d
Nayla masih berdiri di tempatnya, tepat di depan pintu kaca gedung perusahaan, bahkan setelah Keane menghilang di balik pintu otomatis yang kembali menutup perlahan. Suara langkah kaki orang-orang yang baru datang bekerja terdengar ramai, tapi Nayla seperti tidak benar-benar berada di sana. Ia hanya berdiri terpaku. Memandangi pintu yang sudah menelan sosok Keane. Dan kalimat itu… kembali terputar di kepalanya seperti rekaman yang diputar ulang tanpa henti. “Ada sesuatu yang tertunda.” Tertunda apa? Pertanyaan itu menggantung, menempel di dada Nayla seperti sesuatu yang berat. Ia bahkan tidak sadar kalau jemarinya menggenggam tali tasnya terlalu erat sampai terasa sakit. Nayla menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya bergerak. Ia tidak bisa berdiri di sini lebih lama. Kalau ia terus memikirkan Keane, ia akan telat masuk kerja—dan hari ini, Nayla tidak ingin menambah masa
Nayla tidak bisa tidur malam itu. Bayangan wajah Keane terus muncul di benaknya caranya menatap dengan sorot mata yang menyimpan rahasia, caranya bicara seolah menggenggam sesuatu yang tak bisa ia lepaskan. Dan kalimat terakhirnya… “Lebih dari yang kamu kira.” Apa maksudnya? Ia duduk di ranjang, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota menyala temaram, seperti hatinya yang kini bimbang, terselubung tanda tanya. Dulu, Nayla berpikir Keane hanya pergi karena pilihan hidup. Tapi sekarang, bayang-bayang masa lalu itu terasa seperti teka-teki yang perlahan membuka potongan-potongan baru. Ia teringat kenangan lama Keane kecil yang selalu melindunginya, Keane remaja yang menulis surat sebelum berangkat ke luar negeri. Dan… Keane yang tiba-tiba menghilang. Tak ada surat, tak ada kabar, hanya hening yang menyiksa. “Kenapa kamu kembali dengan luka?” bisiknya pelan. Di sisi lain kota, Keane memandangi foto lama yang sudah kusam. Sebuah foto keluarga ayahnya, ibunya, dan dirinya yan
Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan
Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo
Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend







