Mag-log inMalam itu Nayla nyaris tak bisa tidur.
Bayangan wajah Keane masih menari-nari di benaknya. Cara dia tertawa, cara dia menatap… bahkan suaranya semuanya terasa akrab, tapi sekaligus asing. Seperti seseorang dari masa lalu yang kembali dengan versi baru, yang tidak sepenuhnya bisa ditebak. Nayla berbaring menatap langit-langit kamar. Tangannya menggenggam dinosaurus kertas yang sudah sedikit kusam satu-satunya peninggalan dari masa kecilnya bersama Keane. “Kenapa kamu kembali sekarang, Keane…” bisiknya pelan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Terima kasih sudah datang malam ini. Maaf kalau mengejutkanmu. Nayla mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Hapus lagi. Akhirnya, dia hanya mengetik satu kata. Sama-sama. Tangannya sempat gemetar sebelum menekan “kirim.” Keesokan harinya di kantor, Nayla masih merasa aneh. “Woy, kamu kenapa?” tanya Rani, sahabat sekaligus rekan kerjanya, saat melihat Nayla melamun di depan layar komputer. “Enggak, cuma... kurang tidur aja,” jawab Nayla cepat. Rani menyipitkan mata curiga. “Kurang tidur karena mikirin siapa, nih?” Nayla hanya nyengir, lalu berpura-pura sibuk mengetik laporan. Tapi pikirannya tetap tak bisa lari dari pertemuan tadi malam. Keane. Perjodohan. Masa kecil. Dan… sesuatu yang mengganggu perasaannya. Ada ekspresi di wajah Keane tadi malam senyum tipis yang terlihat tulus, tapi sesekali matanya seperti memendam sesuatu. Seperti ada lapisan rahasia yang belum dibuka. Di sisi lain kota, Keane berdiri di balkon apartemennya. Cangkir kopi di tangannya hampir dingin. Matanya memandangi berkas-berkas di meja data keuangan, laporan perusahaan, dan di paling atas sebuah foto tua. Foto dua anak kecil di taman. Salah satunya Nayla. “Sudah lama, ya…” gumamnya. Dia mengusap foto itu pelan, sebelum memasukkannya ke laci dan menguncinya. Ponselnya berbunyi. “Ya?” “Langkah selanjutnya bagaimana?” tanya suara dari seberang. Suara wanita. Dingin dan tegas. “Aku sudah mendekatinya. Dia belum sadar apa pun.” “Bagus. Jangan sampai dia tahu lebih dulu.” Keane menatap pantulan dirinya di kaca balkon. Wajahnya tenang. Tapi matanya kosong. “Aku hanya ingin mengambil kembali yang seharusnya milik keluargaku,” katanya pelan. Dan Nayla… adalah kunci dari semua itu. Sore itu, Nayla menerima panggilan dari ibunya. Dengan suara yang terdengar canggung, ibunya mengabarkan kalau Keane ingin bertemu lagi. “Katanya dia ingin ngobrol lebih banyak. Katanya, kamu terlihat kaku semalam.” Nayla menghela napas. “Memangnya aku harusnya lari dan peluk dia?” Ibunya tertawa. “Yah, enggak juga. Tapi kamu juga tahu, Ma dan Papa Keane itu pengen kalian… dekat. Siapa tahu jodoh beneran?” Nayla hanya menjawab dengan dengusan pelan. Ia tak tahu apa yang Keane inginkan sebenarnya. Tapi satu hal yang pasti hatinya belum siap untuk membuka kembali luka lama, apalagi jika pria itu datang dengan agenda yang belum jelas. Namun di balik itu semua, ia tak sadar... bahwa perasaan lamanya perlahan-lahan mulai bergerak lagi. Dan Keane tahu persis cara membuatnya percaya. Malam kembali turun dengan pelan. Di kamar Nayla yang remang, ia menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Wajahnya terlihat lelah. Tapi bukan karena pekerjaan. Bukan juga karena perjodohan yang mendadak. Melainkan karena pertanyaan-pertanyaan yang berputar dalam kepalanya sejak kemarin. “Apa kamu benar-benar orang yang sama, Keane?” bisiknya lirih. Di luar jendela, angin malam berdesir pelan, seakan membawa suara yang tertinggal di masa lalu. Dan jauh di sebuah ruangan lain, Keane menatap sebuah surat tua yang sudah menguning. Tangannya menggenggamnya kuat-kuat, sementara rahangnya mengeras. “Aku akan buat kalian tahu rasanya kehilangan,” ucapnya pelan, nyaris seperti janji kepada dirinya sendiri. Tapi untuk sekarang, dia akan bersikap manis. Lembut. Dan perlahan, menggiring Nayla ke dalam permainan yang sudah lama ia rancang.Nayla masih berdiri di samping mejanya, tangan kanannya menggenggam ponsel erat sampai buku-buku jarinya memutih. Pesan itu masih terpampang jelas di layar. “Jangan terlalu percaya pada orang yang kembali membawa senyum.” Satu kalimat sederhana. Tapi rasanya seperti pisau kecil yang pelan-pelan mengiris bagian paling rapuh dalam diri Nayla. Ia menelan ludah. Tatapannya kosong beberapa detik, sampai suara kursi ditarik dari belakangnya membuat Nayla tersentak kecil. “Nayla? Kamu belum pulang?” Nayla menoleh cepat. itu santi temannya, yang sedang merapikan meja. “Oh… iya,” jawab Nayla buru-buru, berusaha menutupi ekspresinya. “Baru mau pulang.” Santi tersenyum kecil. “Aku duluan ya. Jangan pulang terlalu malam.” Nayla mengangguk. “Hmm.” Setelah Santi pergi, Nayla baru menghembuskan napas panjang. Ia menatap ponselnya lagi, lalu pelan-pelan menekan nomor itu. Panggilan. Satu kali berdering. Dua kali. Tiga kali. Lalu… “Nomor yang Anda tuju sedang tidak d
Nayla masih berdiri di tempatnya, tepat di depan pintu kaca gedung perusahaan, bahkan setelah Keane menghilang di balik pintu otomatis yang kembali menutup perlahan. Suara langkah kaki orang-orang yang baru datang bekerja terdengar ramai, tapi Nayla seperti tidak benar-benar berada di sana. Ia hanya berdiri terpaku. Memandangi pintu yang sudah menelan sosok Keane. Dan kalimat itu… kembali terputar di kepalanya seperti rekaman yang diputar ulang tanpa henti. “Ada sesuatu yang tertunda.” Tertunda apa? Pertanyaan itu menggantung, menempel di dada Nayla seperti sesuatu yang berat. Ia bahkan tidak sadar kalau jemarinya menggenggam tali tasnya terlalu erat sampai terasa sakit. Nayla menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya bergerak. Ia tidak bisa berdiri di sini lebih lama. Kalau ia terus memikirkan Keane, ia akan telat masuk kerja—dan hari ini, Nayla tidak ingin menambah masa
Nayla tidak bisa tidur malam itu. Bayangan wajah Keane terus muncul di benaknya caranya menatap dengan sorot mata yang menyimpan rahasia, caranya bicara seolah menggenggam sesuatu yang tak bisa ia lepaskan. Dan kalimat terakhirnya… “Lebih dari yang kamu kira.” Apa maksudnya? Ia duduk di ranjang, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota menyala temaram, seperti hatinya yang kini bimbang, terselubung tanda tanya. Dulu, Nayla berpikir Keane hanya pergi karena pilihan hidup. Tapi sekarang, bayang-bayang masa lalu itu terasa seperti teka-teki yang perlahan membuka potongan-potongan baru. Ia teringat kenangan lama Keane kecil yang selalu melindunginya, Keane remaja yang menulis surat sebelum berangkat ke luar negeri. Dan… Keane yang tiba-tiba menghilang. Tak ada surat, tak ada kabar, hanya hening yang menyiksa. “Kenapa kamu kembali dengan luka?” bisiknya pelan. Di sisi lain kota, Keane memandangi foto lama yang sudah kusam. Sebuah foto keluarga ayahnya, ibunya, dan dirinya yan
Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan
Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo
Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend







