Home / Romansa / Janji yang Tak Sempat Usai / Bab 3: Ingatan yang Tertinggal

Share

Bab 3: Ingatan yang Tertinggal

Author: NOBEL
last update Last Updated: 2025-04-14 22:18:15

Malam itu Nayla nyaris tak bisa tidur.

Bayangan wajah Keane masih menari-nari di benaknya. Cara dia tertawa, cara dia menatap… bahkan suaranya semuanya terasa akrab, tapi sekaligus asing. Seperti seseorang dari masa lalu yang kembali dengan versi baru, yang tidak sepenuhnya bisa ditebak.

Nayla berbaring menatap langit-langit kamar. Tangannya menggenggam dinosaurus kertas yang sudah sedikit kusam satu-satunya peninggalan dari masa kecilnya bersama Keane.

“Kenapa kamu kembali sekarang, Keane…” bisiknya pelan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Terima kasih sudah datang malam ini. Maaf kalau mengejutkanmu.

Nayla mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Hapus lagi. Akhirnya, dia hanya mengetik satu kata.

Sama-sama.

Tangannya sempat gemetar sebelum menekan “kirim.”

Keesokan harinya di kantor, Nayla masih merasa aneh.

“Woy, kamu kenapa?” tanya Rani, sahabat sekaligus rekan kerjanya, saat melihat Nayla melamun di depan layar komputer.

“Enggak, cuma... kurang tidur aja,” jawab Nayla cepat.

Rani menyipitkan mata curiga. “Kurang tidur karena mikirin siapa, nih?”

Nayla hanya nyengir, lalu berpura-pura sibuk mengetik laporan.

Tapi pikirannya tetap tak bisa lari dari pertemuan tadi malam. Keane. Perjodohan. Masa kecil. Dan… sesuatu yang mengganggu perasaannya.

Ada ekspresi di wajah Keane tadi malam senyum tipis yang terlihat tulus, tapi sesekali matanya seperti memendam sesuatu. Seperti ada lapisan rahasia yang belum dibuka.

Di sisi lain kota, Keane berdiri di balkon apartemennya.

Cangkir kopi di tangannya hampir dingin. Matanya memandangi berkas-berkas di meja data keuangan, laporan perusahaan, dan di paling atas sebuah foto tua. Foto dua anak kecil di taman. Salah satunya Nayla.

“Sudah lama, ya…” gumamnya.

Dia mengusap foto itu pelan, sebelum memasukkannya ke laci dan menguncinya.

Ponselnya berbunyi.

“Ya?”

“Langkah selanjutnya bagaimana?” tanya suara dari seberang. Suara wanita. Dingin dan tegas.

“Aku sudah mendekatinya. Dia belum sadar apa pun.”

“Bagus. Jangan sampai dia tahu lebih dulu.”

Keane menatap pantulan dirinya di kaca balkon. Wajahnya tenang. Tapi matanya kosong.

“Aku hanya ingin mengambil kembali yang seharusnya milik keluargaku,” katanya pelan.

Dan Nayla… adalah kunci dari semua itu.

Sore itu, Nayla menerima panggilan dari ibunya. Dengan suara yang terdengar canggung, ibunya mengabarkan kalau Keane ingin bertemu lagi.

“Katanya dia ingin ngobrol lebih banyak. Katanya, kamu terlihat kaku semalam.”

Nayla menghela napas. “Memangnya aku harusnya lari dan peluk dia?”

Ibunya tertawa. “Yah, enggak juga. Tapi kamu juga tahu, Ma dan Papa Keane itu pengen kalian… dekat. Siapa tahu jodoh beneran?”

Nayla hanya menjawab dengan dengusan pelan.

Ia tak tahu apa yang Keane inginkan sebenarnya. Tapi satu hal yang pasti hatinya belum siap untuk membuka kembali luka lama, apalagi jika pria itu datang dengan agenda yang belum jelas.

Namun di balik itu semua, ia tak sadar... bahwa perasaan lamanya perlahan-lahan mulai bergerak lagi.

Dan Keane tahu persis cara membuatnya percaya.

Malam kembali turun dengan pelan. Di kamar Nayla yang remang, ia menatap bayangan dirinya sendiri di cermin.

Wajahnya terlihat lelah. Tapi bukan karena pekerjaan.

Bukan juga karena perjodohan yang mendadak.

Melainkan karena pertanyaan-pertanyaan yang berputar dalam kepalanya sejak kemarin.

“Apa kamu benar-benar orang yang sama, Keane?” bisiknya lirih.

Di luar jendela, angin malam berdesir pelan, seakan membawa suara yang tertinggal di masa lalu.

Dan jauh di sebuah ruangan lain, Keane menatap sebuah surat tua yang sudah menguning. Tangannya menggenggamnya kuat-kuat, sementara rahangnya mengeras.

“Aku akan buat kalian tahu rasanya kehilangan,” ucapnya pelan, nyaris seperti janji kepada dirinya sendiri.

Tapi untuk sekarang, dia akan bersikap manis. Lembut. Dan perlahan, menggiring Nayla ke dalam permainan yang sudah lama ia rancang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 12: Rasa yang Mulai Terasa

    Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 11: Rasa yang Kembali Menyiksa

    Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 10: Ucapan yang Tak Tersampaikan

    Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 9: Rahasia yang Terlalu Lama Tertahan

    Sore itu, langit Jakarta mulai berwarna oranye keemasan. Suara deru kendaraan berlalu-lalang dari kejauhan, namun terasa seperti gema samar di telinga Nayla. Di dalam mobil yang melaju pelan, suasana justru terasa hening. Keane duduk di kursi kemudi, sekali-sekali melirik Nayla yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak mencoba mengisi keheningan itu, seolah keduanya tahu masing-masing sedang bergulat dengan rasa yang sulit diberi nama. “Maaf,” Keane akhirnya membuka suara. “Aku nggak bermaksud bikin semuanya jadi serumit ini.” Nayla menghela napas. “Kamu tahu... aku nggak butuh penjelasan panjang lebar. Aku cuma butuh kejujuran, Keane.” Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan kecil. Tempatnya sederhana tapi punya suasana hangat. Keane memarkir mobil dan menoleh. “Kalau kamu siap, aku bakal cerita semuanya. Tentang kenapa aku pergi waktu itu... dan kenapa aku balik sekarang.” Mereka turun dari mobil, duduk di sudut yang agak sepi. Pelayan datang, mencatat pesana

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 8: Pertemuan Ulang

    Kafe di sudut kota itu tampak hangat sore itu. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kekuningan menciptakan suasana nyaman, berbeda jauh dengan degup jantung Nayla yang tak kunjung tenang. Ia duduk di sudut dekat jendela, menggenggam gelas kopinya yang sudah dingin sejak lima belas menit lalu. Ia menoleh saat bel pintu berbunyi. Keane masuk, mengenakan jaket gelap dan syal tipis yang membuat penampilannya terlihat santai, tapi tetap elegan. Matanya langsung menemukan Nayla, dan senyum tipis muncul di wajahnya. “Maaf aku telat. Lalu lintas,” ucap Keane sembari menarik kursi di depannya. Nayla hanya mengangguk pelan. “Aku hampir pulang.” “Aku bersyukur kamu belum pulang,” sahutnya ringan, mencoba mencairkan suasana. Beberapa detik hening. “Jadi?” tanya Nayla, menatap langsung ke matanya. “Apa yang mau kamu ceritakan?” Keane menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, lalu kembali pada Nayla. “Dulu, waktu kita masih remaja, aku... bukan hanya menghilang tanpa kabar. Aku

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 7: Rencana yang Tak Terucap

    Dua hari berlalu sejak percakapan canggung antara Nayla dan Keane di ruang rapat. Sejak saat itu, Keane tak lagi muncul di lantai tempat Nayla bekerja. Entah sibuk dengan jadwal direksi, atau memang sengaja menjaga jarak. Tapi Nayla bersyukur. Ia butuh waktu untuk bernapas, mencerna semua perasaannya yang berantakan. Namun, di balik kesunyian itu, Keane justru semakin sering muncul di media sosial perusahaan. Wajahnya terpampang di unggahan foto meeting, kunjungan lapangan, dan pernyataan resmi sebagai calon penerus bisnis keluarga. Nayla menontonnya diam-diam, antara kagum dan... waspada. “Lo masih mikirin Keane, ya?” Santi bertanya sambil menyeruput es kopi di meja pantry. Nayla hanya mengangkat bahu. “Sulit buat nggak mikirin.” Santi tersenyum simpul. “Gue ngerti. Tapi Nay, gue punya feeling... cowok itu balik bukan cuma buat jadi penerus perusahaan.” “Apa maksud lo?” “Lo inget dulu pas SMA? Keane tiba-tiba menghilang. Lo nangis seminggu penuh waktu itu.” Nayla menegang. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status