Beranda / Romansa / Janji yang Tak Sempat Usai / Bab 4: Janji yang Diulang Kembali

Share

Bab 4: Janji yang Diulang Kembali

Penulis: NOBEL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-14 22:19:33

Hari Minggu biasanya adalah hari santai. Hari di mana Nayla bisa bangun siang, menonton drama Korea sambil ngemil keripik, atau sekadar membaca novel romantis yang belum sempat selesai. Tapi hari ini… tidak.

Hari ini, jantungnya berdetak lebih kencang sejak pagi.

Ia berdiri di depan cermin kamar, mengenakan blus putih polos dan rok midi warna pastel. Rambutnya ia biarkan tergerai lembut, dengan sedikit sentuhan ikal di ujungnya. Riasan di wajahnya pun tipis nyaris seperti tidak memakai apa-apa, tapi tetap terlihat segar.

Bukan karena ia ingin tampil cantik.

Tapi karena… hari ini ia akan bertemu Keane.

Di taman.

Tempat yang entah kenapa dipilih oleh pria itu dan membuat Nayla bertanya-tanya sepanjang malam. Kenapa bukan di kafe? Atau restoran keluarga seperti biasa? Kenapa harus taman?

Ia berjalan pelan di antara deretan pepohonan yang teduh, dengan perasaan canggung yang tak bisa ditepis. Suara burung dan anak-anak yang bermain jadi latar yang kontras dengan debar di dadanya.

Dan di ujung bangku panjang yang sedikit tersembunyi oleh semak bunga lavender, Keane duduk tenang sambil membaca buku.

Sebuah pemandangan yang tampak terlalu tenang, terlalu... mengatur.

Seperti potongan film romantis yang tidak nyata.

“Hai,” Nayla menyapa dengan suara pelan saat ia cukup dekat.

Keane menoleh dan tersenyum tipis. “Kamu datang.”

Nayla mengangguk dan duduk di ujung bangku, memberi jarak yang cukup. Tapi meski begitu, jantungnya tetap tidak tenang.

“Tumben ngajak ketemu di sini,” katanya sambil menatap sekeliling.

Keane menutup bukunya dan menaruhnya di pangkuan. “Aku cuma ingin mengulang satu kenangan lama. Kita pernah duduk di sini waktu kecil, ingat nggak?”

Nayla tertawa pelan. “Kita sering main ke sini waktu kecil. Tapi aku nggak inget semua detailnya.”

Keane menatap lurus ke depan, tapi ekspresinya melunak. “Aku masih ingat. Kamu pernah bilang... kalau kamu ingin dunia orang dewasa sehangat dunia anak-anak.”

Nayla mengernyit, lalu tertawa geli. “Sok bijak banget, ya?”

“Tapi kamu benar.” Keane menatapnya kali ini, langsung ke matanya. “Dan aku masih memikirkan itu sampai sekarang.”

Ada hening yang menyelinap. Bukan hening yang canggung, tapi semacam ruang kosong yang perlahan terisi dengan kenangan atau mungkin, perasaan yang dulu tidak pernah sempat tumbuh.

“Kamu berubah,” kata Keane akhirnya. “Dulu kamu selalu pakai kaus bergambar dinosaurus. Sekarang kamu cantik dan rapi.”

Nayla tersenyum kecil. “Dinosaurus itu masih ada. Disimpan di kotak bawah tempat tidur.”

Mata Keane menyipit, seperti terkejut. “Kamu masih menyimpannya?”

“Kadang... aku nggak punya hati buat buang sesuatu yang punya kenangan.”

Keane terdiam.

Kalimat itu menampar hatinya. Karena Nayla tidak tahu, justru karena kenangan dia kembali.

Tapi bukan hanya untuk mengenang.

Melainkan untuk membalas.

“Aku balik karena ada satu janji yang belum sempat aku selesaikan,” ucap Keane lirih, nyaris seperti gumaman.

Nayla menatapnya, menunggu kelanjutan kalimat itu, tapi Keane tidak menambahkan apa pun.

Dan seperti terikat oleh sesuatu yang tak kasatmata, Nayla ikut diam.

Angin mengusap wajah mereka pelan. Di kejauhan, lonceng gereja berdentang menandakan waktu makan siang.

“Keane,” Nayla akhirnya berbicara, pelan, “kamu balik cuma karena perjodohan ini?”

Keane melirik ke arahnya. Ada keraguan singkat di matanya lalu hilang, digantikan senyum samar.

“Nggak. Aku balik karena kamu.”

Dan untuk sesaat, Nayla lupa bagaimana cara bernapas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 12: Rasa yang Mulai Terasa

    Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 11: Rasa yang Kembali Menyiksa

    Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 10: Ucapan yang Tak Tersampaikan

    Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 9: Rahasia yang Terlalu Lama Tertahan

    Sore itu, langit Jakarta mulai berwarna oranye keemasan. Suara deru kendaraan berlalu-lalang dari kejauhan, namun terasa seperti gema samar di telinga Nayla. Di dalam mobil yang melaju pelan, suasana justru terasa hening. Keane duduk di kursi kemudi, sekali-sekali melirik Nayla yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak mencoba mengisi keheningan itu, seolah keduanya tahu masing-masing sedang bergulat dengan rasa yang sulit diberi nama. “Maaf,” Keane akhirnya membuka suara. “Aku nggak bermaksud bikin semuanya jadi serumit ini.” Nayla menghela napas. “Kamu tahu... aku nggak butuh penjelasan panjang lebar. Aku cuma butuh kejujuran, Keane.” Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan kecil. Tempatnya sederhana tapi punya suasana hangat. Keane memarkir mobil dan menoleh. “Kalau kamu siap, aku bakal cerita semuanya. Tentang kenapa aku pergi waktu itu... dan kenapa aku balik sekarang.” Mereka turun dari mobil, duduk di sudut yang agak sepi. Pelayan datang, mencatat pesana

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 8: Pertemuan Ulang

    Kafe di sudut kota itu tampak hangat sore itu. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kekuningan menciptakan suasana nyaman, berbeda jauh dengan degup jantung Nayla yang tak kunjung tenang. Ia duduk di sudut dekat jendela, menggenggam gelas kopinya yang sudah dingin sejak lima belas menit lalu. Ia menoleh saat bel pintu berbunyi. Keane masuk, mengenakan jaket gelap dan syal tipis yang membuat penampilannya terlihat santai, tapi tetap elegan. Matanya langsung menemukan Nayla, dan senyum tipis muncul di wajahnya. “Maaf aku telat. Lalu lintas,” ucap Keane sembari menarik kursi di depannya. Nayla hanya mengangguk pelan. “Aku hampir pulang.” “Aku bersyukur kamu belum pulang,” sahutnya ringan, mencoba mencairkan suasana. Beberapa detik hening. “Jadi?” tanya Nayla, menatap langsung ke matanya. “Apa yang mau kamu ceritakan?” Keane menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, lalu kembali pada Nayla. “Dulu, waktu kita masih remaja, aku... bukan hanya menghilang tanpa kabar. Aku

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 7: Rencana yang Tak Terucap

    Dua hari berlalu sejak percakapan canggung antara Nayla dan Keane di ruang rapat. Sejak saat itu, Keane tak lagi muncul di lantai tempat Nayla bekerja. Entah sibuk dengan jadwal direksi, atau memang sengaja menjaga jarak. Tapi Nayla bersyukur. Ia butuh waktu untuk bernapas, mencerna semua perasaannya yang berantakan. Namun, di balik kesunyian itu, Keane justru semakin sering muncul di media sosial perusahaan. Wajahnya terpampang di unggahan foto meeting, kunjungan lapangan, dan pernyataan resmi sebagai calon penerus bisnis keluarga. Nayla menontonnya diam-diam, antara kagum dan... waspada. “Lo masih mikirin Keane, ya?” Santi bertanya sambil menyeruput es kopi di meja pantry. Nayla hanya mengangkat bahu. “Sulit buat nggak mikirin.” Santi tersenyum simpul. “Gue ngerti. Tapi Nay, gue punya feeling... cowok itu balik bukan cuma buat jadi penerus perusahaan.” “Apa maksud lo?” “Lo inget dulu pas SMA? Keane tiba-tiba menghilang. Lo nangis seminggu penuh waktu itu.” Nayla menegang. Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status