/ Romansa / Janji yang Tak Sempat Usai / Bab 5: Rencana yang Tak Terucap

공유

Bab 5: Rencana yang Tak Terucap

작가: NOBEL
last update 최신 업데이트: 2025-04-14 22:25:10

Senin pagi datang lebih cepat dari yang Nayla harapkan. Rasanya baru semalam ia pulang dari taman, tapi kini sudah harus kembali pada kenyataan: kantor, rutinitas, dan… Keane.

Ia berdiri sejenak di depan pintu kaca gedung sambil menarik napas panjang. Matanya menatap ke dalam, mengamati aktivitas yang sudah mulai ramai. Lalu dengan langkah ragu, ia masuk.

"Selamat pagi, Nay!" seru Santi, rekan satu timnya, dengan semangat sambil menggandeng dua cangkir kopi.

"Pagi, San," jawab Nayla, menyambut dengan senyum kecil.

Santi mengerling curiga. "Mukamu… kayak habis begadang. Tapi senyumnya beda. Jangan-jangan"

"Enggak, enggak, jangan mulai," Nayla memotong cepat, meletakkan tas di meja kerjanya.

Namun sebelum Santi sempat bertanya lagi, ponsel Nayla bergetar. Satu pesan baru muncul.

Nanti makan siang bareng, ya? Di rooftop kantor. Jangan kabur.

Pengirimnya: Keane.

Nayla terpaku. Pesan itu singkat, tapi membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Rooftop? Kenapa harus tempat seperti itu? Kenapa bukan ruang makan staf saja, seperti orang normal?

Tapi... Keane memang tidak pernah melakukan hal secara biasa. Dulu pun begitu.

Sepanjang pagi, Nayla mencoba fokus bekerja, tapi pikirannya terus melayang pada pertemuan siang nanti. Apa yang sebenarnya Keane inginkan darinya? Hanya sekadar menjalin hubungan baik demi perjodohan ini? Atau… ada hal lain?

Di sisi lain, Keane duduk di ruangannya, menatap layar laptop yang menampilkan presentasi bisnis. Tapi matanya kosong. Pikirannya tidak berada di sana.

Ia memutar-mutar cincin kecil di jarinya, benda yang sudah lama ia simpan benda peninggalan ayahnya.

Ia telah kembali bukan hanya untuk memimpin perusahaan. Tapi juga untuk menyelesaikan apa yang dulu membuat keluarganya runtuh. Keluarga Nayla tak bersalah, iya. Tapi perusahaan ini perusahaan yang kini juga menjadi tempat Nayla bekerja memiliki masa lalu kelam yang tak semua orang tahu.

Dan Nayla? Menjadi bagian dari cerita itu tanpa ia sadari.

Keane tidak pernah lupa siapa yang membuat ayahnya kehilangan segalanya. Ia menunggu bertahun-tahun untuk kembali, menyusun strategi, membangun koneksi, dan memanfaatkan perjodohan ini sebagai pintu masuk.

Namun, satu hal yang tak ia rencanakan…

Perasaan itu kembali. Dan kali ini, lebih menyakitkan.

Ketika waktu makan siang tiba, Nayla melangkah ke rooftop dengan hati yang penuh tanya. Angin lembut menyambutnya di atas sana. Langit mendung, tapi cahaya matahari masih berhasil menyelinap di antara awan.

Keane sudah ada di sana, bersandar pada pagar pembatas dengan jas terbuka dan tangan di saku. Matanya menatap cakrawala.

Nayla mendekat perlahan.

“Pernah ngebayangin hidup kita kayak gimana kalau dulu aku nggak pergi?” tanya Keane tiba-tiba, tanpa menoleh.

Nayla menatapnya. “Mungkin kita udah lama lupa satu sama lain.”

Keane menghela napas. “Tapi kamu nggak lupa. Kamu masih simpan dinosaurus itu.”

“Kamu juga masih ingat?”

“Tiap detailnya.”

Hening menyelimuti mereka selama beberapa detik. Angin meniup rambut Nayla, dan ia merapikannya perlahan.

“Aku juga nggak lupa gimana rasanya ditinggal tanpa pamit,” ucap Nayla, nadanya tenang tapi dalam. “Jadi kalau kamu datang cuma buat mengulang yang sama… lebih baik jangan mulai apa-apa.”

Keane menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Aku nggak akan pergi, Nay.”

“Bukan soal itu,” jawab Nayla. “Tapi soal kejujuran. Kamu mungkin datang karena janji. Tapi aku… aku hidup dengan patahnya.”

Dan dengan itu, Nayla berbalik pergi. Meninggalkan Keane yang berdiri diam, dengan kata-kata yang seharusnya ia ucapkan… tapi ia tahan.

Karena ia tahu. Rencananya… tak bisa melibatkan perasaan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 15: Pesan yang Mengarah ke Satu Nama

    Nayla masih berdiri di samping mejanya, tangan kanannya menggenggam ponsel erat sampai buku-buku jarinya memutih. Pesan itu masih terpampang jelas di layar. “Jangan terlalu percaya pada orang yang kembali membawa senyum.” Satu kalimat sederhana. Tapi rasanya seperti pisau kecil yang pelan-pelan mengiris bagian paling rapuh dalam diri Nayla. Ia menelan ludah. Tatapannya kosong beberapa detik, sampai suara kursi ditarik dari belakangnya membuat Nayla tersentak kecil. “Nayla? Kamu belum pulang?” Nayla menoleh cepat. itu santi temannya, yang sedang merapikan meja. “Oh… iya,” jawab Nayla buru-buru, berusaha menutupi ekspresinya. “Baru mau pulang.” Santi tersenyum kecil. “Aku duluan ya. Jangan pulang terlalu malam.” Nayla mengangguk. “Hmm.” Setelah Santi pergi, Nayla baru menghembuskan napas panjang. Ia menatap ponselnya lagi, lalu pelan-pelan menekan nomor itu. Panggilan. Satu kali berdering. Dua kali. Tiga kali. Lalu… “Nomor yang Anda tuju sedang tidak d

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 14: Tertunda yang Tak Pernah Selesai

    Nayla masih berdiri di tempatnya, tepat di depan pintu kaca gedung perusahaan, bahkan setelah Keane menghilang di balik pintu otomatis yang kembali menutup perlahan. Suara langkah kaki orang-orang yang baru datang bekerja terdengar ramai, tapi Nayla seperti tidak benar-benar berada di sana. Ia hanya berdiri terpaku. Memandangi pintu yang sudah menelan sosok Keane. Dan kalimat itu… kembali terputar di kepalanya seperti rekaman yang diputar ulang tanpa henti. “Ada sesuatu yang tertunda.” Tertunda apa? Pertanyaan itu menggantung, menempel di dada Nayla seperti sesuatu yang berat. Ia bahkan tidak sadar kalau jemarinya menggenggam tali tasnya terlalu erat sampai terasa sakit. Nayla menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya bergerak. Ia tidak bisa berdiri di sini lebih lama. Kalau ia terus memikirkan Keane, ia akan telat masuk kerja—dan hari ini, Nayla tidak ingin menambah masa

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 13: Luka yang Belum Usai

    Nayla tidak bisa tidur malam itu. Bayangan wajah Keane terus muncul di benaknya caranya menatap dengan sorot mata yang menyimpan rahasia, caranya bicara seolah menggenggam sesuatu yang tak bisa ia lepaskan. Dan kalimat terakhirnya… “Lebih dari yang kamu kira.” Apa maksudnya? Ia duduk di ranjang, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota menyala temaram, seperti hatinya yang kini bimbang, terselubung tanda tanya. Dulu, Nayla berpikir Keane hanya pergi karena pilihan hidup. Tapi sekarang, bayang-bayang masa lalu itu terasa seperti teka-teki yang perlahan membuka potongan-potongan baru. Ia teringat kenangan lama Keane kecil yang selalu melindunginya, Keane remaja yang menulis surat sebelum berangkat ke luar negeri. Dan… Keane yang tiba-tiba menghilang. Tak ada surat, tak ada kabar, hanya hening yang menyiksa. “Kenapa kamu kembali dengan luka?” bisiknya pelan. Di sisi lain kota, Keane memandangi foto lama yang sudah kusam. Sebuah foto keluarga ayahnya, ibunya, dan dirinya yan

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 12: Rasa yang Mulai Terasa

    Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 11: Rasa yang Kembali Menyiksa

    Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 10: Ucapan yang Tak Tersampaikan

    Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status