Home / Romansa / Jarak Rindu / Chapter 3

Share

Chapter 3

Author: Caerine
last update Last Updated: 2025-11-25 07:27:02

“Beberapa jarak tidak diciptakan untuk memisahkan, tapi untuk memberi waktu agar hati belajar bertemu lagi — dengan tenang, dengan dewasa, dan dengan cara yang tidak menyakitkan lagi.”

Di airlock menuju line produksi, Naya sedang memeriksa ulang daftar pertanyaan inspeksi. Rambutnya sudah tertutup penutup kepala, masker menggantung di leher, coverall putih belum sepenuhnya dikancing.

Ia merapikan lengan baju, dan saat itu, gelang perak di tangannya tersangkut sedikit di ujung manset.

“Aduh,” gumamnya pelan.

Gelang itu tertarik, membuat Naya menghentikan usahanya karena takut gelangnya putus. Naya berusaha mengaitkan penguncinya lagi dengan satu tangan, tangan lain masih memegang map.

Sekali lagi Naya mengutuk kebodohannya. Seharusnya ia melepaskan semua perhiasan sebelum masuk ke ruang produksi, tapi terlalu banyak distraksi dan ia membutuhkan sensasi dingin logam di pergelangan tangannya sebagai penenang, sampai ia lupa melepaskannya sebelum masuk.

Naya berkutat dengan pengait gelangnya, emosi namun tetap berhati-hati, tak mau perhiasan yang sudah menjadi bagian dari dirinya itu rusak, “Susah banget, sih…” ia mengeluh lirih, sepersekian detik lengah.

“Biar aku bantu.”

Suara yang sama.

Napasnya berhenti sepersekian detik. Otaknya sibuk mempertanyakan kenapa semesta tidak memberinya jeda.

Elric berdiri di sebelahnya, sudah memakai coat putih, tapi belum mengenakan masker. Dari dekat begini, jarak usia mereka terasa lebih nyata—dan begitu juga jarak lain yang tidak terlihat.

Tangan Elric terulur.

Ia menyentuh gelang Naya, menggenggam ujung kecil penguncinya dengan gerakan yang sangat familiar, seolah ia pernah melakukannya ratusan kali.

Padahal, hanya sekali.

Tapi momen itu tertanam terlalu dalam di kepala keduanya.

Naya menahan napas.

Kulit mereka bersentuhan sesaat—hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat semua yang ia susun kembali goyah.

“Kamu masih pakai gelang ini,” ucap Elric perlahan. Bukan pertanyaan. Lebih seperti pengakuan bahwa ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak lagi jadi miliknya.

Naya menatap lurus ke depan.

“Saya sudah terlalu terbiasa dengan gelang ini, sampai lupa kalau ada di tangan,” balasnya tenang.

Terlalu tenang, seperti tidak ada kenangan yang berarti.

Elric menyelesaikan kaitnya, lalu melepaskan pelan.

Hanya gelang biasa…

Hanya terlalu terbiasa sampai sudah tidak memiliki arti.

Apakah kehadiran Elric juga sudah terlalu biasa sampai tidak memiliki arti?

***

Pantry lantai kantor selalu agak terlalu terang untuk selera Naya. Lampu putih, dinding putih, kabinet putih. Satu-satunya warna datang dari mug-mug yang tidak seragam dan tanaman kecil di sudut jendela.

Mungkin itu sebabnya ia memilih tempat ini siang itu. Terang. Ramai secukupnya. Sulit untuk terlalu jujur pada diri sendiri di tempat yang seterang ini.

Ia menuang air panas ke dalam mug, memasukkan teh celup jahe yang selalu ia bawa sendiri. Kebiasaan lama yang menempel, entah dari mana awalnya.

“Atau mungkin dari seseorang,” pikirnya kering.

Suara langkah mendekat. Keira membuka kulkas, mengeluarkan botol infused water, lalu memandang Naya dengan mata menyipit sedikit.

“Teh jahe?” tanya Keira.

Naya mengangguk. “Biar nggak gampang masuk angin.”

“Biar nggak gampang goyah juga?” Keira mengangkat alis, separuh bercanda, separuh mengukur.

Naya menatapnya balik, mencoba tersenyum. “Aku insinyur, Keir. Bukan kapal. Goyah apanya.”

Keira menutup pintu kulkas, menyandarkan pinggul ke countertop. “Aku nggak bilang kamu kapal. Tapi kalau kapal, kamu tipe yang pura-pura tenang padahal mesinnya udah berisik duluan.”

“Bahas kapal di pantry kantor, ini efek kamu kebanyakan nonton drama,” balas Naya ringan.

Tapi Keira tidak tertawa. “Kamu nggak cerita kalau direktur operasional di sini itu ‘seseorang’ dari masa lalu kamu.”

Naya berhenti mengaduk teh. Sendok kecil itu menyentuh sisi mug, menghasilkan bunyi pelan yang terlalu lantang di telinganya.

“Aku nggak bilang apa-apa, jadi kamu juga nggak tahu apa-apa,” jawabnya akhirnya, mencoba terdengar netral.

“Naya,” Keira mendesah. “Aku sahabatmu. Kamu pikir aku nggak lihat cara kalian saling menghindar tapi… juga nggak bisa berhenti untuk saling curi-curi pandang?”

Naya menatap permukaan teh, mengamati lingkaran buih di gelasnya. “Aku cuma kerja di sini, Keir. Sama seperti kamu.”

“Bedanya,” Keira meneguk minumannya, “aku nggak punya gelang sentimental yang bikin direktur operasional kita bengong sepersepuluh detik lebih lama dari seharusnya.”

Naya refleks meraih pergelangan tangannya. Gelang perak itu tersembunyi di balik lengan kemeja panjang, tapi rasanya seperti disorot lampu panggung.

Dia masih ingat dengan terlalu jelas hari ketika gelang itu pertama kali melingkar.

***

Usia enam belas.

Hujan sore.

Ulang tahun yang seharusnya terasa biasa saja.

Rumah di Kotabaru itu sepi seperti biasa. Ardan belum pulang, katanya ada tugas kampus. Naya menghabiskan sore di ruang tamu, pura-pura sibuk membaca buku padahal pikirannya jauh ke mana-mana.

Bel berbunyi.

Ia membuka pintu, mendapati Elric berdiri dengan payung dilipat di tangannya, kemeja biru tua basah di bahu.

“Kok… Kak Elric ada di Yogya?” Naya terperanjat. “Masuk, Kak. Hujan.”

Elric tersenyum kecil, masuk, menaruh payung di sudut. “Harusnya aku yang nanya. Kok kamu di rumah sendirian pas ulang tahun?”

“Kak Ardan bilang hari ini pulang malam,” jawab Naya, mengangkat bahu. “Cuma ngasih ucapan.”

“Dasar ga niat,” gumam Elric. “Untung aku niat.”

Ia merogoh saku, mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru biru dan menyerahkannya pada Naya.

“Nggak besar,” katanya singkat. “Tapi… kupikir ini cocok buat kamu.”

Naya menerimanya dengan kedua tangan. Hatinya berdebar kencang, tidak proporsional untuk benda sekecil itu. Saat membuka kotak, kilau permata biru kecil di tengah gelang perak menyambutnya.

“Kak…” suaranya hampir tidak keluar. “Ini… cantik banget.”

Elric mengulurkan tangan. “Boleh?”

Ia hanya bisa mengangguk.

Jari-jari Elric menyentuh pergelangan tangan Naya pelan, mengaitkan pengunci gelang dengan hati-hati. Sentuhan itu singkat, tapi cukup untuk membuat semua suara lain menghilang.

“Katanya, warna ini simbol ketenang dan keberanian,” ujar Elric, menatap gelang itu sejenak. “Dua hal yang… aku lihat ada di kamu.”

Naya menahan napas. “Aku nggak seberani itu, Kak.”

“Kalau nggak berani, kamu nggak akan bisa lewat hari-hari setelah kecelakaan itu.”

Nada suaranya lembut. Ada sesuatu di mata Elric waktu itu — sesuatu yang Naya terlalu muda untuk mengerti. “Selamat ulang tahun, Naya.”

Dan di malam yang terlalu biasa untuk ulang tahun, Naya menyadari: tidak semua bahagia datang dengan pesta. Kadang, ia datang dalam bentuk gelang kecil dan tangan hangat yang mengaitkannya.

***

“Naya?” suara Keira memecah memorinya lagi.

“Hmm?” Naya mengangkat wajah.

“Kamu yakin kamu baik-baik aja?” tanya Keira lagi, lebih pelan, tanpa bercanda.

Naya menarik napas pelan. Ia tahu jawabannya : Tidak.

Tapi ia sudah terlalu lama belajar untuk baik-baik saja.

“Aku… sedang mencoba untuk baik-baik aja,” jawabnya jujur.

Keira menatapnya, mendekat, lalu meraih bahu Naya sebentar. “Kalau dia bikin kamu sesakit itu… kamu nggak harus kuat sendirian, tahu.”

Naya hendak menjawab, tapi suara lain tiba-tiba terdengar di pintu pantry.

“Keira, ada dokumen dari finance— oh.”

Langkah berhenti.

“Maaf. Aku Ganggu?”

Elric.

Terlambat untuk pura-pura tidak ada apa-apa.

Keira menyipitkan mata, menatap dua orang di depannya bergantian. Lalu, dengan insting sahabat sekaligus sepupu yang terlalu peka, ia mengangkat botol minumnya.

“Aku… ada meeting di lantai tiga. Kalian lanjut aja,” katanya, terlalu santai untuk kebetulan.

“Keira—” Naya memanggil, tapi Keira sudah berlalu.

Meninggalkan dua orang di pantry yang mendadak terasa jauh lebih sempit.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jarak Rindu   Chapter 37

    Setelah berkutat dengan permasalahan sabotase jalur pipa yang berujung pada ledakan di area produksi parfum, pagi ini Pabrik terasa berbeda.Suara tawa dan obrolan kembali terdengar di cafe bawah dekat resepsionis tempat para pekerja biasa menghabiskan waktu pagi dengan secangkir kopi sebelum memulai hari. Dengung suara AC yang disambut dengan suara ketikan keyboard dan suara klik mouse terdengar begitu normal dan menenangkan.Hari ini Naya datang sedikit lebih pagi. Bukan karena pekerjaan menumpuk, melainkan karena ia ingin menikmati beberapa menit pertama hari tanpa alarm darurat, tanpa bisikan ancaman, tanpa rasa waswas menoleh ke belakang.Ia ingin menikmati Althera dengan suasana baru.Naya berdiri di dekat jendela ruang utility, memandangi halaman pabrik yang basah oleh sisa hujan semalam. Untuk pertama kalinya setelah lama… ia bisa bernapas dengan lega.“Pagi.”Suara itu datang dari belakang. Tenang. Familiar.Elric.Naya menoleh. Kemeja abu-abu muda, lengan digulung, kopi di

  • Jarak Rindu   Chapter 36

    Pagi itu, hujan turun rintik-rintik,membuat suasana Semakin suram. Saat ini, Ruang kontrol sudah dipenuhi dengan cahaya dari layar. Grafik tampak stabil. Tekanan normal. Dan Tidak ada alarm yang berbunyi. Namun, ketegangan tetap terasa di udara. Tetha berdiri di depan monitor utama, jemarinya bergerak cepat. “Jam CCTV sudah kita kunci dan disinkronkan ulang,” katanya. “Kalau ada yang mencoba manipulasi lagi, sistem akan menandainya otomatis.” Zoe berdiri di sisi lain, membuka folder laporan. “Email anonim ke Naya sudah kita trace. IP-nya dipantulkan lewat dua proxy, tapi…” Ia berhenti sejenak. “…ada satu kesalahan kecil.” Semua menoleh. “Proxy terakhir pakai jaringan internal lama. Jalur yang masih aktif hanya ada satu di gedung utilitas lama.” Nandini mengangguk pelan. “Gedung workshop.” Reza langsung berdiri. “Aku kirim ke security.” “Jangan dulu,” potong Nandini tenang. “Kalau kita datang dengan orang-orang berseragam, mereka akan diam. Kita butuh… pengakuan.”

  • Jarak Rindu   Chapter 35

    Keputusan diambil tanpa ketukan palu.Nandini menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang.Bukan karena diskusi selesai, tapi karena arah pencarian mereka sudah jelas.“Besok pagi,” katanya, “kita lakukan parallel inquiry. Bukan interogasi resmi. Masih pengumpulan fakta.”Metha mengangguk. “Aku ambil Bayu. Secara teknis dia di bawah scope engineering lama.”“Tetha,” lanjut Nandini, “kamu dengan IT. Aku mau full mirror access. Tidak ada lagi jam yang bisa ‘tersesat’.”Tetha tersenyum tipis. “Akhirnya. Aku sudah menunggu izin itu.”Zoe menatap Naya. “Kamu?”Naya mengangkat wajah. Ada jeda sebelum menjawab.“Aku ikut Yogi.”Ruangan hening lagi.Yogi adalah orang lama Yang tidak pernah benar-benar menerima perubahan. Yang terlalu sering berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi “kalian tidak tahu apa-apa”.“Pastikan kamu tidak sendirian,” kata Nandini datar.“Pasti,” jawab Naya.Reza melirik jam. “Aku awasin lewat cctv. Supaya kita tahu kalau ada orang yang keluar tanpa izin.”Nandini ber

  • Jarak Rindu   Side Story

    Nandini berdiri di depan screen besar yang menampilkan peta instalasi gas pabrik. Garis-garis biru yang seharusnya stabil kini berwarna merah di beberapa titik. Di bawahnya, grafik tekanan tidak turun sempurna—fluktuasi tidak biasa.“Ada seseorang yang menyentuh sesuatu di sini,” katanya sambil menunjuk panel historical bypass log.Di meja, Zoe, Metha, Tetha, serta beberapa spesialis HSE memperhatikan setiap kata..“Pertama,” lanjut Nandini, “log penggunaan bypass manual tidak terekam pada hari ledakan.”“Artinya?” tanya Metha.“Artinya…” Tetha menambahkan cepat, “Seseorang mematikan auto logging. Itu bukan tombol yang bisa tertekan tidak sengaja. Harus tahu caranya.”Zoe membuka data overlay CCTV.“Dan lihat ini,” katanya sambil menampilkan dua feed video dari dua kamera berbeda. Satu menunjukkan Yudo naik tangga. Satu lagi menunjukkan Surya di koridor dekat ruang utility.“Ini beda waktu tapi jam DVR tidak sinkron,” jelasnya. “Selisih lebih dari 3 menit.”“Jadi jam di sistem senga

  • Jarak Rindu   Chapter 34

    Sore itu, di ruang investigasi, mereka berkumpul lagi. Wajah-wajah lelah, map makin menumpuk.“Jadi,” Zoe merangkum, “dari keterangan teknisi korban, kita dapat tiga hal: satu, budaya manipulasi data dan tambal sulam sudah lama ada; dua, nama yang sama muncul berkali-kali sebagai pihak yang mendorong kelonggaran; tiga, ada sikap sinis terhadap manajemen baru yang tidak berhenti di level omongan.”“Ditambah rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang dengan akses card Pak Surya, perawakan mirip teknisi senior, masuk ke ruang panel,” tambah Tetha.“Dan kelompok informal orang lama yang masih menyisakan beberapa anggota di sini,” sambung Metha.“Dengan kata lain,” Nandini menyandarkan tubuh di kursi, “sistem rusak, budaya buruk, transisi setengah matang, dan orang-orang yang tidak senang dengan perubahan. Gas line hanya salah satu tempat di mana semua itu bertemu.”“Pertanyaannya,” Elric mengusap wajah, “apakah ledakan ini murni hasil kelalaian menahun… atau seseorang memang sengaja mengambil

  • Jarak Rindu   Chapter 33

    Informasi yang Naya terima cukup memberatkan hatinya, tapi di sisi lain ia juga merasa beruntung karena lead investigator yang memimpin investigasi internal ini adalah Nandini, bukan orang lain.Nandini melihat wajah Naya sejenak sebelum melanjutkan.“Kedua,” lanjut Nandini, “aku mau kamu hati-hati dengan rasa bersalahmu sendiri.” Naya mengangkat alis. “Maksudnya?” “Orang yang pakai hati dan otaknya di saat yang bersamaan, biasanya gampang merasa bersalah,” kata Nandini. “Apalagi kalau posisi mereka di tengah-tengah kekacauan seperti ini. Kamu tipe orang yang begitu. Dan itu bagus, sejauh tidak membuatmu menutupi kesalahan orang lain.” “Tidak menutupi?” Naya mengulang. “Kamu tahu ada yang salah di sistem lama. Kamu mungkin pernah lihat indikasi kelalaian orang,” ujar Nandini. “Kalau di kemudian hari, fakta-fakta mulai menyusun pola yang menunjukkan ada pihak yang sengaja melemahkan sistem… aku butuh kamu berani bilang ‘iya, dulu aku pernan lihat ini, tapi aku diam saja. ’.” “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status