Home / Romansa / Jarak Rindu / Chapter 2

Share

Chapter 2

Author: Caerine
last update Last Updated: 2025-11-25 06:51:03

"Ada cara aneh semesta mempertemukan dua orang yang tidak pernah mencari, tapi ternyata saling menemukan."

Udara di lorong area produksi selalu lebih dingin daripada ruangan lain. Tapi hari ini, udara di ruang produksi terasa lebih dingin dari biasanya. Apa mungkin hanya ia saja yang merasa berbeda, karena setiap langkah terasa seperti menapaki jalan yang pernah ia coba lupakan.

Naya menarik napas pelan. Lalu menghembuskannya pelan.

Hati. Jantung. Yang manapun, ayo pliss kerjasama. Aku mau kerja. Kalau mau mengulah, nanti saja di rumah.

Naya mengomeli dirinya sendiri.

“Bu Nayara, ini jalur penimbangan dan mixing,” ujar seorang supervisor, menunjuk ke arah kanan. “Area filling kapsul ada di sebelah sana, nanti kita lewat ruang buffer di sebelah sana.”

“Baik, Pak.” Suaranya terdengar normal, syukurlah.

Normal. Kata yang hari ini terasa mahal.

Begitu supervisor meninggalkannya sebentar untuk mengambil dokumen, Naya menyandarkan badannya ke dinding. saat ini ia berharap dinding itu bisa menahan sesuatu yang bergejolak di dadanya.

Kenapa kamu pergi waktu itu?

Pertanyaan Elric barusan masih bergema di kepalanya.

Ia sudah membayangkan skenario ini beratus-ratus Kali selama mereka berpisah, Dan ia sudah menyiapkan jawabannya. Tapi, saat orang yang sebenarnya muncul bukan dalam bayangannya, semua jawaban yang sudah ia siapkan seperti tak ada artinya. tak bisa ia ucapkan.

Ia yang memilih pergi. Tapi kenapa ia tetap tak bisa menjawab Elric?

Naya memejamkan mata sejenak.

Dan seperti tubuh yang menyimpan ingatan sendiri, yang muncul pertama justru bukan ruang rapat tadi. Bukan setelan abu-abu Elric, bukan sorot matanya.

Yang muncul adalah suara rem mendadak. Sobekan logam.

Dan napasnya sendiri, yang tersengal-sengal di antara bau asap dan debu.

***

Naya berumur delapan tahun waktu itu.

Dunia berhenti dengan cara yang tidak ia mengerti. Satu detik ia masih mendengar suara Ayah yang bertanya apakah ia mual selama perjalanan, detik berikutnya semuanya berputar.

Kaca pecah. Suara orang berteriak. Dan sunyi yang begitu mencekam setelahnya.

Naya tidak ingat bagaimana ia bisa keluar dari mobil. Ia hanya tahu ia tiba-tiba berada di pinggir jalan, lutut tergores, kepala berdengung. Napasnya berat, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam.

“Ayah…” suaranya parau. “Ibu…”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara orang-orang yang berkerumun.

Seseorang berteriak minta ambulans.

Seseorang menyebut “…tabrakan beruntun…”

Suara itu semua bercampur jadi satu noise di kepalanya.

Ia ingin memanggil Ayah lagi, tapi mulutnya kering.

Ada rasa besi di lidahnya.

Napasnya pendek-pendek. Asmanya kambuh.

Semua bergerak begitu cepat di sekelilingnya, tapi juga seperti bergerak lambat. Begitu membingungkan untuk Naya kecil.

Sampai satu suara menembus semua kebisingan.

“Hei… hei… jangan tidur, ya.”

Suara laki-laki. Masih muda.

Hangat dan lembut, begitu kontras di tengah kekacauan.

Saat Naya membuka mata, seorang remaja laki-laki sudah berjongkok di depannya. Seragam putih abu-abu. Wajah berkeringat, nafas tersengal, tapi matanya… lembut. Ada sedikit kepanikan di matanya.

“Kamu bisa dengar aku?” tanyanya.

Naya mengangguk sedikit, atau mungkin hanya berniat mengangguk. Kepala terasa berat.

“Namamu siapa?”

“N…Naya…”

Bibirnya seolah lupa bagaimana cara berbicara.

“Naya,” ulang remaja itu perlahan, seolah sedang menyimpan nama itu dalam ingatannya. “Oke. Naya, sekarang kamu tarik napas pelan, ya. Lihat aku. Tarik… pelan… tahan dikit… terus keluarin.”

Ia mencontohkan.

Naya berusaha meniru.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Dunia masih kacau. Tapi napasnya mulai mengikuti ritme suara itu. Menenangkannya.

“Bagus. Gitu terus.”

Laki-laki itu mengulurkan tangan. “Aku Elric. Aku nggak akan pergi sebelum kamu aman. Oke?”

Ia tidak tahu siapa Elric.

Tapi di tengah semua yang retak, suara itu satu-satunya hal yang terasa pasti.

Tangannya terulur—kecil, berdebu, lecet, penuh dengan luka.

Elric menggenggamnya erat.

Hangat.

Dan di antara suara sirine dan orang-orang yang berlari, Naya menarik nafas lagi.

Kali ini, sedikit lebih dalam.

***

“Bu Nayara?”

Suara supervisor produksi menariknya kembali ke lorong pabrik bercat putih.

Naya membuka mata. “Ya, Pak?”

“Maaf, ini form kunjungan hari ini. Harus ditandatangani dulu sebelum masuk. Nanti, tinggal ke HR untuk minta didaftarkan ID Card nya supaya punya akses masuk ke ruang produksi.”

“Oh. Baik.” Ia mengambil berkas itu, menandatangani tanpa benar-benar membaca. Tangannya sedikit gemetar.

Di pergelangan tangannya, gelang perak dengan permata biru tampak kecil tapi mencolok di atas kulitnya.

Gelang yang ia terima bertahun-tahun setelah hari itu, di teras rumah yang sunyi.

Gelang yang terasa seperti janji tidak diucap.

Gelang yang seharusnya tidak lagi punya kuasa atas napasnya hari ini.

“Nanti saya jelaskan lagi alur orang dan material, ya, Bu,” supervisor tersenyum.

“Silakan, Pak.” Naya mengangguk. Masuk ke mode kerja lagi.

Mode yang paling aman untuknya saat ini.

***

Di lantai atas, di ruang kerjanya yang menghadap halaman dalam pabrik, Elric duduk menatap layar monitor yang sudah menyala sejak pagi tapi belum memberi banyak arti.

Laporan produksi, angka OEE, grafik deviasi.

Semua tampak penting.

Tapi di kepalanya, yang berputar justru wajah bocah delapan tahun di IGD dengan selang infus di tangan.

Sejak hari itu, ia selalu mengira yang ia jaga adalah seorang adik kecil yang trauma.

Bukan hatinya.

Monitor di depan Elric memantulkan bayangan dirinya sendiri. Ia mengusap wajah, mencoba kembali ke angka-angka.

Tapi bayangan lain muncul:

Gelang berpermata biru di pergelangan tangan seorang perempuan dewasa yang barusan meninggalkannya di ruang meeting.

Gelang itu Masih dia pakai…

Kenapa?

Jika Naya benar-benar ingin meninggalkannya, kenapa gelang itu tidak ikut ditinggalkan?

Ia berdiri. Kursinya sedikit terlemoar karena gerakannya yang tiba-tiba.

Tangannya hampir otomatis meraih kartu akses yang tergantung di lanyard.

Sebelum ia sempat berpikir, kakinya sudah melangkah ke arah koridor yang menghubungkan area kantor dengan area produksi.

-BERSAMBUNG-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jarak Rindu   Chapter 37

    Setelah berkutat dengan permasalahan sabotase jalur pipa yang berujung pada ledakan di area produksi parfum, pagi ini Pabrik terasa berbeda.Suara tawa dan obrolan kembali terdengar di cafe bawah dekat resepsionis tempat para pekerja biasa menghabiskan waktu pagi dengan secangkir kopi sebelum memulai hari. Dengung suara AC yang disambut dengan suara ketikan keyboard dan suara klik mouse terdengar begitu normal dan menenangkan.Hari ini Naya datang sedikit lebih pagi. Bukan karena pekerjaan menumpuk, melainkan karena ia ingin menikmati beberapa menit pertama hari tanpa alarm darurat, tanpa bisikan ancaman, tanpa rasa waswas menoleh ke belakang.Ia ingin menikmati Althera dengan suasana baru.Naya berdiri di dekat jendela ruang utility, memandangi halaman pabrik yang basah oleh sisa hujan semalam. Untuk pertama kalinya setelah lama… ia bisa bernapas dengan lega.“Pagi.”Suara itu datang dari belakang. Tenang. Familiar.Elric.Naya menoleh. Kemeja abu-abu muda, lengan digulung, kopi di

  • Jarak Rindu   Chapter 36

    Pagi itu, hujan turun rintik-rintik,membuat suasana Semakin suram. Saat ini, Ruang kontrol sudah dipenuhi dengan cahaya dari layar. Grafik tampak stabil. Tekanan normal. Dan Tidak ada alarm yang berbunyi. Namun, ketegangan tetap terasa di udara. Tetha berdiri di depan monitor utama, jemarinya bergerak cepat. “Jam CCTV sudah kita kunci dan disinkronkan ulang,” katanya. “Kalau ada yang mencoba manipulasi lagi, sistem akan menandainya otomatis.” Zoe berdiri di sisi lain, membuka folder laporan. “Email anonim ke Naya sudah kita trace. IP-nya dipantulkan lewat dua proxy, tapi…” Ia berhenti sejenak. “…ada satu kesalahan kecil.” Semua menoleh. “Proxy terakhir pakai jaringan internal lama. Jalur yang masih aktif hanya ada satu di gedung utilitas lama.” Nandini mengangguk pelan. “Gedung workshop.” Reza langsung berdiri. “Aku kirim ke security.” “Jangan dulu,” potong Nandini tenang. “Kalau kita datang dengan orang-orang berseragam, mereka akan diam. Kita butuh… pengakuan.”

  • Jarak Rindu   Chapter 35

    Keputusan diambil tanpa ketukan palu.Nandini menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang.Bukan karena diskusi selesai, tapi karena arah pencarian mereka sudah jelas.“Besok pagi,” katanya, “kita lakukan parallel inquiry. Bukan interogasi resmi. Masih pengumpulan fakta.”Metha mengangguk. “Aku ambil Bayu. Secara teknis dia di bawah scope engineering lama.”“Tetha,” lanjut Nandini, “kamu dengan IT. Aku mau full mirror access. Tidak ada lagi jam yang bisa ‘tersesat’.”Tetha tersenyum tipis. “Akhirnya. Aku sudah menunggu izin itu.”Zoe menatap Naya. “Kamu?”Naya mengangkat wajah. Ada jeda sebelum menjawab.“Aku ikut Yogi.”Ruangan hening lagi.Yogi adalah orang lama Yang tidak pernah benar-benar menerima perubahan. Yang terlalu sering berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi “kalian tidak tahu apa-apa”.“Pastikan kamu tidak sendirian,” kata Nandini datar.“Pasti,” jawab Naya.Reza melirik jam. “Aku awasin lewat cctv. Supaya kita tahu kalau ada orang yang keluar tanpa izin.”Nandini ber

  • Jarak Rindu   Side Story

    Nandini berdiri di depan screen besar yang menampilkan peta instalasi gas pabrik. Garis-garis biru yang seharusnya stabil kini berwarna merah di beberapa titik. Di bawahnya, grafik tekanan tidak turun sempurna—fluktuasi tidak biasa.“Ada seseorang yang menyentuh sesuatu di sini,” katanya sambil menunjuk panel historical bypass log.Di meja, Zoe, Metha, Tetha, serta beberapa spesialis HSE memperhatikan setiap kata..“Pertama,” lanjut Nandini, “log penggunaan bypass manual tidak terekam pada hari ledakan.”“Artinya?” tanya Metha.“Artinya…” Tetha menambahkan cepat, “Seseorang mematikan auto logging. Itu bukan tombol yang bisa tertekan tidak sengaja. Harus tahu caranya.”Zoe membuka data overlay CCTV.“Dan lihat ini,” katanya sambil menampilkan dua feed video dari dua kamera berbeda. Satu menunjukkan Yudo naik tangga. Satu lagi menunjukkan Surya di koridor dekat ruang utility.“Ini beda waktu tapi jam DVR tidak sinkron,” jelasnya. “Selisih lebih dari 3 menit.”“Jadi jam di sistem senga

  • Jarak Rindu   Chapter 34

    Sore itu, di ruang investigasi, mereka berkumpul lagi. Wajah-wajah lelah, map makin menumpuk.“Jadi,” Zoe merangkum, “dari keterangan teknisi korban, kita dapat tiga hal: satu, budaya manipulasi data dan tambal sulam sudah lama ada; dua, nama yang sama muncul berkali-kali sebagai pihak yang mendorong kelonggaran; tiga, ada sikap sinis terhadap manajemen baru yang tidak berhenti di level omongan.”“Ditambah rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang dengan akses card Pak Surya, perawakan mirip teknisi senior, masuk ke ruang panel,” tambah Tetha.“Dan kelompok informal orang lama yang masih menyisakan beberapa anggota di sini,” sambung Metha.“Dengan kata lain,” Nandini menyandarkan tubuh di kursi, “sistem rusak, budaya buruk, transisi setengah matang, dan orang-orang yang tidak senang dengan perubahan. Gas line hanya salah satu tempat di mana semua itu bertemu.”“Pertanyaannya,” Elric mengusap wajah, “apakah ledakan ini murni hasil kelalaian menahun… atau seseorang memang sengaja mengambil

  • Jarak Rindu   Chapter 33

    Informasi yang Naya terima cukup memberatkan hatinya, tapi di sisi lain ia juga merasa beruntung karena lead investigator yang memimpin investigasi internal ini adalah Nandini, bukan orang lain.Nandini melihat wajah Naya sejenak sebelum melanjutkan.“Kedua,” lanjut Nandini, “aku mau kamu hati-hati dengan rasa bersalahmu sendiri.” Naya mengangkat alis. “Maksudnya?” “Orang yang pakai hati dan otaknya di saat yang bersamaan, biasanya gampang merasa bersalah,” kata Nandini. “Apalagi kalau posisi mereka di tengah-tengah kekacauan seperti ini. Kamu tipe orang yang begitu. Dan itu bagus, sejauh tidak membuatmu menutupi kesalahan orang lain.” “Tidak menutupi?” Naya mengulang. “Kamu tahu ada yang salah di sistem lama. Kamu mungkin pernah lihat indikasi kelalaian orang,” ujar Nandini. “Kalau di kemudian hari, fakta-fakta mulai menyusun pola yang menunjukkan ada pihak yang sengaja melemahkan sistem… aku butuh kamu berani bilang ‘iya, dulu aku pernan lihat ini, tapi aku diam saja. ’.” “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status