Home / Romansa / Jarak Rindu / Chapter 4

Share

Chapter 4

Author: Caerine
last update Last Updated: 2025-11-25 10:20:13

“Beberapa orang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya duduk sedikit lebih jauh—cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak bisa digenggam.”

Elric tidak berniat mencari Naya.

Atau setidaknya, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri saat melangkahkan kaki ke pantry. Kantor ini tidak besar. Bertemu rekan kerja di pantry adalah hal biasa. Sangat biasa. Bukan berarti ia sengaja.

Tapi begitu melihat punggung Naya di depan dispenser, jantungnya memutuskan untuk tidak mengikuti narasi itu.

Ia melihat senyum singkat Naya saat bicara dengan Keira. Cara ia memegang mug dengan dua tangan. Cara bahunya sedikit turun ketika tertawa kecil. Ada hal-hal yang tidak berubah sejak dulu—cara tubuhnya bereaksi terhadap dunia, misalnya.

“Maaf. Aku Ganggu?” katanya, meski ia tahu ia jelas mengganggu.

“Aku... ada meeting di lantai tiga,” jawab Keira, cepat sekali. Terlalu cepat. “Kalian lanjut aja.”

Dan sebelum ia atau Naya sempat menolak, Keira sudah keluar.

Meninggalkan jeda hening yang menggantung di antara mereka.

Elric berdiri beberapa langkah dari Naya, cukup jauh untuk sopan, cukup dekat untuk mencium aroma teh jahe yang menguap.

“Kamu masih suka teh jahe,” komentarnya pelan.

Naya tidak langsung menjawab. “Enak. Hangat.”

“Kamu dulu cuma mau minum itu kalau lagi gelisah,” lanjutnya, setengah lupa bahwa ini bukan obrolan yang pantas di pantry kantor.

Naya sedikit kaget. “Aku nggak ingat.”

“Waktu kecil,” Elric menambahkan, seolah itu akan membuat semuanya lebih ringan. “Di rumahku, Mama selalu membuatkan teh jahe untuk kamu. Minuman ini salah satu yang bisa bikin kamu tenang. Setelah...kejadian itu.”

Setelah dunia Naya hancur.

Setelah ia berjanji pada Ardan akan “menjaga” adik kecilnya.

Ia menatap punggung Naya. Ada bagian darinya yang ingin berkata, Aku ingat semua hal kecil tentangmu. Tapi ia menahan.

“Aku kadang masih mimpi soal hari itu,” katanya tiba-tiba. Entah kenapa.

Naya berbalik, kening berkerut. “Mimpi?”

“Suara tabrakan. Kamu yang tergeletak di pinggir jalan penuh luka.”

Elric memaksakan senyum tipis, tapi matanya gelap. “Aku pikir mungkin aku juga trauma.”

Naya terdiam.

“Aku sekarang baik-baik aja,” ujarnya akhirnya.

“Kamu selalu bilang gitu,” sahut Elric, pelan. “Dari dulu.”

Kata-kata itu menggantung di udara. Naya mengalihkan pandangannya, menatap ke luar jendela, ke arah langit Jakarta yang ketutup gedung-gedung.

“Karena orang-orang lega kalau mendengar jawaban itu,” jawabnya.

Elric baru saja akan menimpali, tapi seseorang memotong kalimatnya.

“Pak Elric?” panggil salah satu staf dari luar. “Maaf, saya mau minta tandatangan surat jalan, Pak.”

“Sebentar,” jawab Elric, tapi matanya tidak lepas dari Naya.

Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang kenapa Naya pergi. Kenapa ia tidak pamit. Kenapa ia terdengar begitu letih tadi ketika bilang berhenti berharap.

Sebagai orang yang waras dan dewasa, seharusnya ia melangkah pergi sekarang.

Tapi ia malah berkata “Naya, nanti setelah jam kerja… kamu punya waktu sebentar?”

Naya menatapnya, tubuhnya kaku. “Untuk apa?”

“Untuk ngobrol. Bukan soal pekerjaan.”

Lurus. Tanpa basa-basi.

Naya menimbang. Semua insting pertahanannya berteriak tidak. Semua luka lama memintanya menjaga jarak. Tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang… masih ingin mendengar.

Masih ingin tahu apakah satu-satunya jangkar masa kecilnya itu pernah, walau sekali saja, melihatnya bukan sebagai adik sahabat.

“Lihat nanti,” jawabnya akhirnya. “Kalau aku nggak lembur.”

Ia melewati Elric, membawa mug-nya keluar pantry.

Meninggalkan Elric seorang diri.

***

Café itu tidak terlalu jauh dari kantor—cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki, cukup jauh untuk merasa seperti keluar sebentar dari udara pabrik yang dingin dan kaku.

Dindingnya bata ekspos, lampu-lampu temaram menggantung rendah, dan musik pelan mengisi ruang tanpa mengganggu. Naya duduk di ujung meja panjang dekat jendela, memandangi lalu lintas sore yang pelan.

“Pesan apa?” tanya Keira, membuka menu.

“Earl Grey aja,” jawab Naya. “Sama… apa pun yang nggak terlalu manis.”

“Seperti hidupmu,” celetuk Keira.

Naya mendengus, tapi tidak membantah.

Selain mereka berdua, ada tiga orang lain dari tim: Rafi supervisor QA, Dina Manager HR, dan satu staf produksi yang wajahnya baru ia lihat hari ini. Obrolan awal masih aman—tentang kemacetan, makanan dekat kantor, dan sedikit keluhan soal mesin yang susah diajak kompromi.

“Jadi, Bu Naya ini lulusan Jerman, ya?” Rafi duduk di seberang Naya, dagunya bertumpu di punggung tangan. “Keren banget. Di sana kerja juga di farmasi?”

“Iya,” jawab Naya singkat. “Di perusahaan yang fokusnya produk-produk steril.”

“Pantes tadi pas ngomongin soal media fill matanya berbinar,” Dina ikut menimpali.

Sebelum sempat merespons, pelayan datang membawa minuman. Earl grey-nya diletakkan di tepi meja, tempat di sampingnya.u

Satu tangan lain ikut menggeser gelas itu sedikit menjauh dari tepi meja, otomatis, hati-hati.

Gerakan yang terlalu familiar untuk tidak dikenali.

“Kak Elric, kamu mau pesan apa?” tanya Keira.

Naya membeku sepersekian detik. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu laki-laki itu sudah duduk di sisi lain meja—arah diagonal darinya. Cukup jauh untuk tidak mencolok. Cukup dekat untuk terasa.

“Americano.” Jawaban singkat. “Sama apa pun yang paling cepat keluar dari dapur.”

“Selalu terburu-buru,” sindir Keira. “Padahal nggak ada pasien IGD yang nunggu di sini.”

“Jam besuk laporan masih panjang,” balasnya santai.

Naya menatap cangkirnya. Uap tipis keluar dari cangkir tehnya, mengaburkan sedikit permukaan minuman. Ia berusaha fokus pada itu, bukan pada suara di seberang meja.

“Jadi, Bu Naya…” Rafi berdeham sedikit, memiringkan tubuh ke arahnya.

“Kalau boleh tahu, rencana ke depan setelah proyek ini selesai mau ngapain? Tetap di Althera, atau balik ke Eropa?”

Keira refleks menoleh. Dina juga. Pertanyaan itu terdengar seperti basa-basi, tapi Naya tahu nada di baliknya. Ia sudah cukup sering diajak ‘ngobrol karier’ yang ujung-ujungnya bukan soal karier.

“Sampai sekarang kontrakku masih seputar project integration,” jawab Naya hati-hati. “Setelah itu, lihat situasi dulu.”

“Kalau bisa sih jangan balik dulu,” Rafi tersenyum. “Sayang. Orang sekeren kamu kalau cuma numpang lewat.”

Ada ketulusan di sana, dan Naya cukup bijak untuk tidak salah paham. Tapi sebelum ia sempat mengalihkan topik, suara lain menyusul—lebih rendah, lebih tenang, tapi ada nada yang sedikit ketus. Hanya sedikit.

“Keputusan karier Naya pasti dipertimbangkan matang,” komentar Elric sambil mengaduk kopinya. “Kita yang di sini tugasnya memastikan lingkungan kerjanya cukup sehat dulu, baru bisa berharap dia betah.”

Kalimat itu netral. Sangat netral.

Tapi Naya merasakan ada sesuatu yang bergolak di bawah permukaannya.

Rafi terkekeh kecil. “Siap, Pak Direktur. Maksud saya cuma—”

“Aku tahu,” potong Elric cepat. Ia tersenyum tipis, tapi matanya tidak benar-benar ke Rafi.

Naya mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan milik Elric sekilas.

“Dari dulu,” tambah Elric, lebih pelan, “dia selalu ambil keputusan sendiri. Nggak pernah karena dibujuk orang lain.”

Dulu?

Kata itu menggantung.

“Wah, dari dulu?” Dina berbinar. “Berarti Pak Elric udah kenal lama, ya?”

Naya buru-buru mengalihkan pandang ke arah lain. “Keluarga kami kenal dekat.”

“Adik sahabat saya,” jawab Elric secara ringkas. “Simple.”

Simple?

Naya ingin tertawa. Tidak ada yang terasa simple.

-BERSAMBUNG-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jarak Rindu   Chapter 37

    Setelah berkutat dengan permasalahan sabotase jalur pipa yang berujung pada ledakan di area produksi parfum, pagi ini Pabrik terasa berbeda.Suara tawa dan obrolan kembali terdengar di cafe bawah dekat resepsionis tempat para pekerja biasa menghabiskan waktu pagi dengan secangkir kopi sebelum memulai hari. Dengung suara AC yang disambut dengan suara ketikan keyboard dan suara klik mouse terdengar begitu normal dan menenangkan.Hari ini Naya datang sedikit lebih pagi. Bukan karena pekerjaan menumpuk, melainkan karena ia ingin menikmati beberapa menit pertama hari tanpa alarm darurat, tanpa bisikan ancaman, tanpa rasa waswas menoleh ke belakang.Ia ingin menikmati Althera dengan suasana baru.Naya berdiri di dekat jendela ruang utility, memandangi halaman pabrik yang basah oleh sisa hujan semalam. Untuk pertama kalinya setelah lama… ia bisa bernapas dengan lega.“Pagi.”Suara itu datang dari belakang. Tenang. Familiar.Elric.Naya menoleh. Kemeja abu-abu muda, lengan digulung, kopi di

  • Jarak Rindu   Chapter 36

    Pagi itu, hujan turun rintik-rintik,membuat suasana Semakin suram. Saat ini, Ruang kontrol sudah dipenuhi dengan cahaya dari layar. Grafik tampak stabil. Tekanan normal. Dan Tidak ada alarm yang berbunyi. Namun, ketegangan tetap terasa di udara. Tetha berdiri di depan monitor utama, jemarinya bergerak cepat. “Jam CCTV sudah kita kunci dan disinkronkan ulang,” katanya. “Kalau ada yang mencoba manipulasi lagi, sistem akan menandainya otomatis.” Zoe berdiri di sisi lain, membuka folder laporan. “Email anonim ke Naya sudah kita trace. IP-nya dipantulkan lewat dua proxy, tapi…” Ia berhenti sejenak. “…ada satu kesalahan kecil.” Semua menoleh. “Proxy terakhir pakai jaringan internal lama. Jalur yang masih aktif hanya ada satu di gedung utilitas lama.” Nandini mengangguk pelan. “Gedung workshop.” Reza langsung berdiri. “Aku kirim ke security.” “Jangan dulu,” potong Nandini tenang. “Kalau kita datang dengan orang-orang berseragam, mereka akan diam. Kita butuh… pengakuan.”

  • Jarak Rindu   Chapter 35

    Keputusan diambil tanpa ketukan palu.Nandini menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang.Bukan karena diskusi selesai, tapi karena arah pencarian mereka sudah jelas.“Besok pagi,” katanya, “kita lakukan parallel inquiry. Bukan interogasi resmi. Masih pengumpulan fakta.”Metha mengangguk. “Aku ambil Bayu. Secara teknis dia di bawah scope engineering lama.”“Tetha,” lanjut Nandini, “kamu dengan IT. Aku mau full mirror access. Tidak ada lagi jam yang bisa ‘tersesat’.”Tetha tersenyum tipis. “Akhirnya. Aku sudah menunggu izin itu.”Zoe menatap Naya. “Kamu?”Naya mengangkat wajah. Ada jeda sebelum menjawab.“Aku ikut Yogi.”Ruangan hening lagi.Yogi adalah orang lama Yang tidak pernah benar-benar menerima perubahan. Yang terlalu sering berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi “kalian tidak tahu apa-apa”.“Pastikan kamu tidak sendirian,” kata Nandini datar.“Pasti,” jawab Naya.Reza melirik jam. “Aku awasin lewat cctv. Supaya kita tahu kalau ada orang yang keluar tanpa izin.”Nandini ber

  • Jarak Rindu   Side Story

    Nandini berdiri di depan screen besar yang menampilkan peta instalasi gas pabrik. Garis-garis biru yang seharusnya stabil kini berwarna merah di beberapa titik. Di bawahnya, grafik tekanan tidak turun sempurna—fluktuasi tidak biasa.“Ada seseorang yang menyentuh sesuatu di sini,” katanya sambil menunjuk panel historical bypass log.Di meja, Zoe, Metha, Tetha, serta beberapa spesialis HSE memperhatikan setiap kata..“Pertama,” lanjut Nandini, “log penggunaan bypass manual tidak terekam pada hari ledakan.”“Artinya?” tanya Metha.“Artinya…” Tetha menambahkan cepat, “Seseorang mematikan auto logging. Itu bukan tombol yang bisa tertekan tidak sengaja. Harus tahu caranya.”Zoe membuka data overlay CCTV.“Dan lihat ini,” katanya sambil menampilkan dua feed video dari dua kamera berbeda. Satu menunjukkan Yudo naik tangga. Satu lagi menunjukkan Surya di koridor dekat ruang utility.“Ini beda waktu tapi jam DVR tidak sinkron,” jelasnya. “Selisih lebih dari 3 menit.”“Jadi jam di sistem senga

  • Jarak Rindu   Chapter 34

    Sore itu, di ruang investigasi, mereka berkumpul lagi. Wajah-wajah lelah, map makin menumpuk.“Jadi,” Zoe merangkum, “dari keterangan teknisi korban, kita dapat tiga hal: satu, budaya manipulasi data dan tambal sulam sudah lama ada; dua, nama yang sama muncul berkali-kali sebagai pihak yang mendorong kelonggaran; tiga, ada sikap sinis terhadap manajemen baru yang tidak berhenti di level omongan.”“Ditambah rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang dengan akses card Pak Surya, perawakan mirip teknisi senior, masuk ke ruang panel,” tambah Tetha.“Dan kelompok informal orang lama yang masih menyisakan beberapa anggota di sini,” sambung Metha.“Dengan kata lain,” Nandini menyandarkan tubuh di kursi, “sistem rusak, budaya buruk, transisi setengah matang, dan orang-orang yang tidak senang dengan perubahan. Gas line hanya salah satu tempat di mana semua itu bertemu.”“Pertanyaannya,” Elric mengusap wajah, “apakah ledakan ini murni hasil kelalaian menahun… atau seseorang memang sengaja mengambil

  • Jarak Rindu   Chapter 33

    Informasi yang Naya terima cukup memberatkan hatinya, tapi di sisi lain ia juga merasa beruntung karena lead investigator yang memimpin investigasi internal ini adalah Nandini, bukan orang lain.Nandini melihat wajah Naya sejenak sebelum melanjutkan.“Kedua,” lanjut Nandini, “aku mau kamu hati-hati dengan rasa bersalahmu sendiri.” Naya mengangkat alis. “Maksudnya?” “Orang yang pakai hati dan otaknya di saat yang bersamaan, biasanya gampang merasa bersalah,” kata Nandini. “Apalagi kalau posisi mereka di tengah-tengah kekacauan seperti ini. Kamu tipe orang yang begitu. Dan itu bagus, sejauh tidak membuatmu menutupi kesalahan orang lain.” “Tidak menutupi?” Naya mengulang. “Kamu tahu ada yang salah di sistem lama. Kamu mungkin pernah lihat indikasi kelalaian orang,” ujar Nandini. “Kalau di kemudian hari, fakta-fakta mulai menyusun pola yang menunjukkan ada pihak yang sengaja melemahkan sistem… aku butuh kamu berani bilang ‘iya, dulu aku pernan lihat ini, tapi aku diam saja. ’.” “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status