Share

BAB 15

Penulis: Nona Mentari
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 00:48:04

Jantung Heri berdegup kencang, namun dengan kecepatan kilat, ia menarik tangannya dari balik rok Sintya dan pura-pura mengencangkan baut pipa gas menggunakan kunci inggris. Gerakannya yang taktis berhasil menyelamatkan mereka dari bencana.

“Ini, Bi... klem selangnya agak longgar sedikit, jadi bau gasnya keluar. Tapi sekarang udah beres kok,” jawab Heri sesantai mungkin, meski punggungnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin.

Sintya berdehem, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. “Ya s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 86

    Heri langsung bergerak dengan efisiensi seorang predator yang mendeteksi ancaman terhadap mangsanya. Sebelum Sintya sempat melontarkan kata-kata tajam yang bisa memicu kecurigaan Tessa atau lebih buruk lagi, merusak reputasi sosialita mereka di depan kamera pengawas clubhouse, Heri melangkah maju."Nyonya Sintya," potong Heri dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar seperti seorang petugas yang patuh, namun matanya menatap Sintya dengan kilatan perintah yang absolut. "Kebetulan Anda di sini. Ada dokumen laporan keamanan lingkungan blok Anda yang perlu Anda tandatangani segera di kantor belakang."Tessa berdeham, menatap bolak-balik antara Sintya yang wajahnya memerah menahan berang dan Heri yang berdiri tegap tanpa cela. "Oh, kalau begitu aku duluan ya, Sintya. Jaga rumahmu baik-baik," sindir Tessa tipis sebelum melangkah pergi dengan tawa kecil yang tertinggal di udara.Begitu punggung Tessa menghilang di belokan koridor, Heri tidak membuang waktu. Ia mencengkeram len

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 85

    Heri menatap layar laptop Maman selama beberapa detik yang panjang. Otak taktisnya merekam nama "Gita" yang tertera jelas di samping nama Reno dalam manifes penerbangan eksekutif tersebut. Sebuah konspirasi di dalam konspirasi. Alih-alih panik, sebuah senyuman dingin justru perlahan terukir di sudut bibir Heri."Jadi, permainan suap-menyuap pagi tadi di depan pos jaga bukan cuma karena dia gatal," gumam Heri, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai geraman serigala. "Gita sengaja memantauku untuk memastikan situasiku, atau dia memang lagi bermain di dua kaki.""Her, kamu nggak papa?" Maman menelan ludah, ngeri melihat ketenangan Heri yang tidak wajar. "Ini Nyonya Gita yang tadi kamu ceritakan menggodamu di pos, kan? Berarti Reno dan Gita... mereka main di belakang Sintya. Dan sekarang kamu di tengah-tengah.""Tetap jalankan rencana, Man. Jangan ubah satu hal pun," perintah Heri sembari berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaketnya dengan satu sentakan kuat. "Kirim orang-orangmu ke Ba

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 84

    Heri melangkah keluar dari area klaster elit dengan langkah tegap, meninggalkan pos jaga setelah menyerahkan giliran kepada rekan sifnya. Ia mengambil cuti setengah hari, sebuah kelonggaran yang sengaja ia atur jauh-jauh hari dengan dalih urusan keluarga yang mendesak. Namun, tujuan sebenarnya jauh lebih krusial bagi masa depannya.Satu jam kemudian, Heri sudah berada di sebuah kedai kopi redup di pinggiran kota. Tempat itu pengap, berbau asap rokok tebal, dan dipenuhi suara bising kendaraan dari jalan raya di luarnya. Sangat kontras dengan keheningan mewah kompleks perumahan Reno. Di sudut paling gelap, seorang pria berkaos oblong dengan jaket kulit kusam melambaikan tangan. Itu Maman.Heri menarik kursi kayu di hadapan Maman, mengabaikan cangkir kopi hitam yang sudah mendingin di atas meja. Tanpa bertele-tele, Heri merogoh bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang padat.Brak.Heri menjatuhkan amplop itu tepat di depan dada Maman. "Ini sebagian modal ua

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 83

    Heri tidak terpancing oleh kemarahan Sintya. Alih-alih panik atau melepaskan cengkeraman kasar wanita itu dari kerah seragamnya, ia justru menatap Sintya dengan senyum miring yang tenang, sebuah ketenangan yang mematikan.Dengan satu gerakan dominan yang cepat dan terukur, Heri mencengkeram pergelangan tangan Sintya, memutarnya dengan lembut namun mengunci pergerakannya, lalu mendorong tubuh ramping itu mundur hingga punggungnya membentur dinding di balik pilar taman yang tertutup rimbunnya pohon puring."Lepas, Heri! Kamu keterlaluan!" desis Sintya, mencoba meronta, namun tubuh kekar Heri sudah terlanjur mengungkungnya, menutup semua celah pelarian.Heri menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka mengikis habis.Napas hangat Heri menerpa kulit leher Sintya, membuat wanita itu seketika menahan napas. Heri menatapnya lurus-lurus, menggunakan tatapan matanya yang kelam dan intens untuk meredam histeria wanita kaya di hadapannya."Kenapa? Kamu cemburu melih

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 82

    Heri menarik napas panjang, menatap wanita yang masih gemetar di lantai semen yang lembap itu. Otak taktisnya langsung bekerja. Ia lalu berlutut, dan mencengkeram kedua bahu Sintya dengan cengkeraman yang kuat namun terukur, sebuah tindakan penegasan dominasi sekaligus penenangan."Tenang, Sintya. Pakai otakmu, jangan pakai ketakutanmu," bisik Heri, suaranya rendah dan tajam, menusuk langsung ke kesadaran Sintya."Reno tidak tahu apa-apa. Dia hanya curiga karena kamu tidak ada di ranjang. Kalau kamu terus bersikap seperti mayat hidup begini, justru itu yang akan membongkar semuanya."Sintya mendongak, matanya yang biasa memancarkan keangkuhan kini meredup rapuh. "Kamu tidak mengerti, Heri. Reno itu licik. Cara dia menatap pos ini tadi...""Aku yang menghadapi tatapannya, bukan kamu," potong Heri dingin. Ia membantu Sintya berdiri, merapikan gaun tidur wanita itu yang kusut dengan gerakan efisien."Sekarang, kembali ke rumah melalui pintu belakang seperti yang aku katakan tadi. Masuk k

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 81

    Heri melangkah keluar dari kamar kecil dengan tenang, mengunci pintu tripleks di belakangnya sebelum Reno sempat melongok ke dalam pos.Sambil membenarkan seragamnya yang sedikit kusut, memastikan kancing kerah dan sabuk kulit kopelnya terpasang rapi, Heri menyapa Reno dengan sikap formal yang dingin. Tatapannya lurus, menyembunyikan badai adrenalin yang sedang mengamuk di dalam dadanya."Malam, Pak Reno. Ada yang bisa saya bantu?" suara Heri memecah keheningan dini hari, terdengar berat dan datar, tipikal seorang petugas keamanan yang terjaga di posnya.Reno tidak langsung menjawab. Pria kaya itu berdiri di ambang pintu pos jaga yang terbuka separuh, mengenakan piyama sutra mahal dengan tangan kanan yang masih bertumpu pada gagang pintu besi luar.Matanya yang merah karena kurang tidur langsung menyapu interior pos yang sempit. Tatapannya tertuju pada kasur kapuk reot di sudut ruangan yang sprainya sedikit berantakan, lalu beralih perlahan ke arah Heri."Kamu tidak mendengar saya mem

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 68

    Ketakutan melihat kemurkaan Sintya yang bisa menghancurkan kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah dengan sekali jentikan jari, Baskoro tidak berani membuka mulutnya lagi.Pria paruh baya itu buru-buru menyambar draf pemecatan di atas meja marmer dengan tangan yang bergetar hebat, lalu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 67

    Baskoro dan Teddy tersentak di tempat duduk mereka, seolah baru saja disengat aliran listrik ribuan volt. Bentakan kasar Sintya yang melengking tinggi membuat suasana di dalam ruang tamu bergaya modern itu terasa semakin mencekam.Namun, Sintya rupanya belum selesai menumpahkan seluruh dom

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 66

    Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status