Share

BAB 69

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-19 08:37:42

Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.

Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri langsung menggiring tubuh montok Sintya menuju sofa panjang berbahan kulit impor di ruang tengah yang sepi. Langkah kaki mereka berantakan, didorong oleh adrenalin konflik yang baru saja mereda dan ki
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 86

    Heri langsung bergerak dengan efisiensi seorang predator yang mendeteksi ancaman terhadap mangsanya. Sebelum Sintya sempat melontarkan kata-kata tajam yang bisa memicu kecurigaan Tessa atau lebih buruk lagi, merusak reputasi sosialita mereka di depan kamera pengawas clubhouse, Heri melangkah maju."Nyonya Sintya," potong Heri dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar seperti seorang petugas yang patuh, namun matanya menatap Sintya dengan kilatan perintah yang absolut. "Kebetulan Anda di sini. Ada dokumen laporan keamanan lingkungan blok Anda yang perlu Anda tandatangani segera di kantor belakang."Tessa berdeham, menatap bolak-balik antara Sintya yang wajahnya memerah menahan berang dan Heri yang berdiri tegap tanpa cela. "Oh, kalau begitu aku duluan ya, Sintya. Jaga rumahmu baik-baik," sindir Tessa tipis sebelum melangkah pergi dengan tawa kecil yang tertinggal di udara.Begitu punggung Tessa menghilang di belokan koridor, Heri tidak membuang waktu. Ia mencengkeram len

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 85

    Heri menatap layar laptop Maman selama beberapa detik yang panjang. Otak taktisnya merekam nama "Gita" yang tertera jelas di samping nama Reno dalam manifes penerbangan eksekutif tersebut. Sebuah konspirasi di dalam konspirasi. Alih-alih panik, sebuah senyuman dingin justru perlahan terukir di sudut bibir Heri."Jadi, permainan suap-menyuap pagi tadi di depan pos jaga bukan cuma karena dia gatal," gumam Heri, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai geraman serigala. "Gita sengaja memantauku untuk memastikan situasiku, atau dia memang lagi bermain di dua kaki.""Her, kamu nggak papa?" Maman menelan ludah, ngeri melihat ketenangan Heri yang tidak wajar. "Ini Nyonya Gita yang tadi kamu ceritakan menggodamu di pos, kan? Berarti Reno dan Gita... mereka main di belakang Sintya. Dan sekarang kamu di tengah-tengah.""Tetap jalankan rencana, Man. Jangan ubah satu hal pun," perintah Heri sembari berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaketnya dengan satu sentakan kuat. "Kirim orang-orangmu ke Ba

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 84

    Heri melangkah keluar dari area klaster elit dengan langkah tegap, meninggalkan pos jaga setelah menyerahkan giliran kepada rekan sifnya. Ia mengambil cuti setengah hari, sebuah kelonggaran yang sengaja ia atur jauh-jauh hari dengan dalih urusan keluarga yang mendesak. Namun, tujuan sebenarnya jauh lebih krusial bagi masa depannya.Satu jam kemudian, Heri sudah berada di sebuah kedai kopi redup di pinggiran kota. Tempat itu pengap, berbau asap rokok tebal, dan dipenuhi suara bising kendaraan dari jalan raya di luarnya. Sangat kontras dengan keheningan mewah kompleks perumahan Reno. Di sudut paling gelap, seorang pria berkaos oblong dengan jaket kulit kusam melambaikan tangan. Itu Maman.Heri menarik kursi kayu di hadapan Maman, mengabaikan cangkir kopi hitam yang sudah mendingin di atas meja. Tanpa bertele-tele, Heri merogoh bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang padat.Brak.Heri menjatuhkan amplop itu tepat di depan dada Maman. "Ini sebagian modal ua

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 83

    Heri tidak terpancing oleh kemarahan Sintya. Alih-alih panik atau melepaskan cengkeraman kasar wanita itu dari kerah seragamnya, ia justru menatap Sintya dengan senyum miring yang tenang, sebuah ketenangan yang mematikan.Dengan satu gerakan dominan yang cepat dan terukur, Heri mencengkeram pergelangan tangan Sintya, memutarnya dengan lembut namun mengunci pergerakannya, lalu mendorong tubuh ramping itu mundur hingga punggungnya membentur dinding di balik pilar taman yang tertutup rimbunnya pohon puring."Lepas, Heri! Kamu keterlaluan!" desis Sintya, mencoba meronta, namun tubuh kekar Heri sudah terlanjur mengungkungnya, menutup semua celah pelarian.Heri menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka mengikis habis.Napas hangat Heri menerpa kulit leher Sintya, membuat wanita itu seketika menahan napas. Heri menatapnya lurus-lurus, menggunakan tatapan matanya yang kelam dan intens untuk meredam histeria wanita kaya di hadapannya."Kenapa? Kamu cemburu melih

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 82

    Heri menarik napas panjang, menatap wanita yang masih gemetar di lantai semen yang lembap itu. Otak taktisnya langsung bekerja. Ia lalu berlutut, dan mencengkeram kedua bahu Sintya dengan cengkeraman yang kuat namun terukur, sebuah tindakan penegasan dominasi sekaligus penenangan."Tenang, Sintya. Pakai otakmu, jangan pakai ketakutanmu," bisik Heri, suaranya rendah dan tajam, menusuk langsung ke kesadaran Sintya."Reno tidak tahu apa-apa. Dia hanya curiga karena kamu tidak ada di ranjang. Kalau kamu terus bersikap seperti mayat hidup begini, justru itu yang akan membongkar semuanya."Sintya mendongak, matanya yang biasa memancarkan keangkuhan kini meredup rapuh. "Kamu tidak mengerti, Heri. Reno itu licik. Cara dia menatap pos ini tadi...""Aku yang menghadapi tatapannya, bukan kamu," potong Heri dingin. Ia membantu Sintya berdiri, merapikan gaun tidur wanita itu yang kusut dengan gerakan efisien."Sekarang, kembali ke rumah melalui pintu belakang seperti yang aku katakan tadi. Masuk k

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 81

    Heri melangkah keluar dari kamar kecil dengan tenang, mengunci pintu tripleks di belakangnya sebelum Reno sempat melongok ke dalam pos.Sambil membenarkan seragamnya yang sedikit kusut, memastikan kancing kerah dan sabuk kulit kopelnya terpasang rapi, Heri menyapa Reno dengan sikap formal yang dingin. Tatapannya lurus, menyembunyikan badai adrenalin yang sedang mengamuk di dalam dadanya."Malam, Pak Reno. Ada yang bisa saya bantu?" suara Heri memecah keheningan dini hari, terdengar berat dan datar, tipikal seorang petugas keamanan yang terjaga di posnya.Reno tidak langsung menjawab. Pria kaya itu berdiri di ambang pintu pos jaga yang terbuka separuh, mengenakan piyama sutra mahal dengan tangan kanan yang masih bertumpu pada gagang pintu besi luar.Matanya yang merah karena kurang tidur langsung menyapu interior pos yang sempit. Tatapannya tertuju pada kasur kapuk reot di sudut ruangan yang sprainya sedikit berantakan, lalu beralih perlahan ke arah Heri."Kamu tidak mendengar saya mem

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 37

    Sintya mendengus kencang mendengar alasan Karin yang terlampau percaya diri. Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap sahabatnya dengan pandangan mencemooh yang tidak ditutup-tutupi.Sebagai sesama wanita yang paham betul bagaimana tipu daya lelaki kelas atas, Sintya merasa isi kepala Ka

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 36

    Heri segera bergerak ke halaman samping begitu Reno memberikannya perintah ketus dari balik pintu kaca lantai bawah. Pria borjuis itu rupanya sudah selesai dengan urusan ranjangnya dan sekarang menuntut mobil sedannya bersih mengkilap.Heri menarik selang air bertekanan tinggi, menyalakan keran, da

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 35

    Heri menatap Karin yang membuka pintu mobilnya dan melangkah turun. Wanita itu mengenakan tank top ketat berwarna krem yang dipadukan dengan celana jins pendek, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal dan seksi.Langkah anggun Karin yang menghampiri pos satpam tempat Heri berada langsung memicu g

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 33

    Heri melangkah tanpa suara menaiki anak tangga samping yang terhubung langsung ke koridor dalam rumah. Langkah kakinya yang berselimut sepatu lars terasa sangat ringan, nyaris tak terdengar.Menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa, ia berhasil menyelinap masuk ke lorong lantai dua. Ia meraya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status