Accueil / Urban / Jatah Malam Untuk Mertua / Gairah Memuncak 21+

Share

Gairah Memuncak 21+

Auteur: WAZA PENA
last update Dernière mise à jour: 2025-12-28 23:02:34

Bukan karena Ayu sengaja bersikap berlebihan, justru sebaliknya. Perempuan itu berdiri santai, seolah tidak menyadari betapa situasi tersebut terasa begitu… berbahaya bagi seorang pria yang sedang jauh dari istrinya.

"Pak Leo?"

Suara Ayu membuat Leo tersentak untuk kedua kalinya. Ia segera mengalihkan pandangan, menegakkan tubuhnya, berdeham kecil untuk menyamarkan keterkejutannya.

"Iya?" jawab Leo, agak terlambat.

Ayu memiringkan kepala. "Kok bengong?"

Leo terkekeh singkat, terasa kaku. "Maaf… aku lagi gak fokus."

Itu bohong. Dan Leo tahu Ayu bisa merasakannya.

Ayu tersenyum kecil, lalu melangkah ke arah koper untuk mengambil pakaian. Gerakan itu sederhana, tapi cukup membuat Leo kembali kehilangan fokus. Ia memalingkan wajah, namun pikirannya sudah terlanjur dipenuhi bayangan yang sulit disingkirkan.

"Kamu…" Leo berhenti bicara, ragu melanjutkan.

Ayu menoleh. "Aku kenapa, Pak?"

Leo menghela napas pelan, berusaha mengontrol nada suaranya. "Kamu kelihatan… segar, Ayu. Jujur aja, kamu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Adisty Yola
lanjut dong
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Di Kamar Hotel Bersama Sindi

    Namun ucapan itu terasa hampa. Justru pesan dari Sindi membuat dugaannya semakin liar. Kenapa Sindi harus menunggu dan memilih bicara langsung? Kenapa harus soal Dinda?Seketika itu, pintu ruangannya diketuk pelan."Permisi....""Masuk," ucap Leo, mencoba terdengar normal.Ayu muncul di balik pintu. "Pak, ini laporan yang tadi Bapak minta," ucapnya sambil melangkah masuk.Leo menerima map itu, tapi perhatiannya jelas terpecah. Ayu memperhatikan raut wajah Leo yang terlihat lebih tegang dari biasanya."Bapak kelihatan gelisah," ucap Ayu hati-hati.Leo tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Iya… ada sedikit urusan pribadi."Ayu mengangguk pelan. "Kalau ada kabar dari aku soal Rendi, nanti aku langsung kasih tahu Pak Leo."Leo menatap Ayu sesaat, lalu mengangguk. "Makasih, Ayu."Setelah Ayu keluar, Leo kembali sendirian. Ia melirik jam di layar laptop. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum ia harus berangkat ke kampus Sindi. Namun rasanya waktu berjalan jauh lebih lamba

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Mengungkap Rahasia

    Pagi itu suasana rumah terasa biasa saja, namun bagi Leo semuanya terasa berbeda. Setelah sarapan bersama, ia segera berdiri dan merapikan kemejanya. Sementara Dinda yang sedang duduk di meja makan menatap suaminya dengan senyum lembut seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang mengganjal di antara mereka. Sindi juga ada di sana, duduk agak menyamping sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik ke arah Leo."Aku berangkat dulu ya," ucap Leo berusaha terdengar normal."Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Dinda lembut.Sindi ikut menimpali singkat, "Hati-hati, Mas. Semangat juga yah."Leo hanya mengangguk, lalu melangkah keluar rumah. Begitu pintu tertutup, napasnya terasa lebih berat. Ia menghela napas panjang, seakan beban di dadanya tidak ikut keluar bersamanya. Di dalam mobil, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, penjelasan Ayu tentang Rendi. Semalaman ia nyaris tidak bisa tidur nyenyak, dan pagi ini rasa tidak sabar itu semakin menjadi-jadi. Ia ingin tahu, ingin memastikan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Kecurigaan Yang Semakin Nyata

    Ponsel Leo kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan. Dari Ayu.Leo segera mengangkatnya, menekan volume suara agar tetap pelan."Iya, Ayu," ucap Leo."Aku sudah keluar dari kantor Rendi, Pak. Sekarang lagi di mobil online," suara Ayu terdengar sedikit tegang, tapi berusaha terdengar tenang.Leo merasa dadanya sedikit mengendur."Bagus. Kamu langsung pulang saja.""Iya, Pak. Jujur saja… saya tadi sempat takut," ucap Ayu pelan.Kalimat itu membuat Leo mengepalkan tangannya tanpa sadar."Lain kali kalau ada apa-apa, langsung kabari saya. Jangan dipendam.""Baik, Pak."Panggilan berakhir. Leo menurunkan ponselnya perlahan. Ia masih duduk di tempat yang sama, namun pikirannya semakin kacau. Rendi kini jelas berada di posisi yang berbahaya di benaknya, bukan hanya karena kemungkinan hubungannya dengan Dinda, tetapi juga karena tindakannya terhadap Ayu."Orang seperti itu…" Leo menggeleng pelan. "Tidak bisa dipercaya."Sekali lagi, Leo terdiam.Ia sadar, ia harus lebih berhati-

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Perasaan Tak Biasa

    Panggilan itu diakhiri. Leo menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa penuh, bukan hanya oleh kecemburuan yang tak ingin ia akui, tapi juga oleh rasa was-was yang semakin menekan. Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya berjalan ke sofa dan duduk.Dinda keluar dari dapur dengan dua gelas minum. Sejak tadi matanya memperhatikan Leo, cara ia berdiri, cara ia bicara di telepon, hingga ekspresi wajahnya yang sulit disembunyikan."Mas kelihatan gelisah," ucap Dinda lembut sambil menyerahkan gelas. "Apa ada masalah di kantor?"Leo menerima gelas itu, meneguk sedikit. "Nggak apa-apa, Sayang. Urusan kerjaan saja. Lagi banyak yang harus diurus."Dinda duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit condong mendekat. "Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipikirin sendirian, Mas."Leo tersenyum tipis, senyum yang terasa dipaksakan bahkan bagi dirinya sendiri. "Iya. Aku cuma lagi kebanyakan mikir sekarang."Dinda menepuk punggung tangan Leo dengan lembut. "Apa pun itu, aku di sini, Mas. Jangan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Hasrat Terpendam Pada Sepupu

    Ayu menarik napas panjang. "Pak… aku ngerti bapak marah. Tapi… jangan langsung konfrontasi. Kasihan istri anda."Leo mengangkat tangan, menghentikan. "Aku tahu. Makanya aku ke kantor, bukan ribut di rumah."Ia menatap Ayu dengan mata lelah namun penuh tekad. "Aku nggak mau nuduh tanpa bukti. Tapi aku juga nggak mau dibodohi."Ayu mengangguk. "Anda bener, Pak. Kita harus hati-hati. Aku bakal cari tahu tentang Rendi secepat mungkin."Leo menunduk lagi. "Aku cuma mau kejelasan. Itu saja."Ayu menatapnya dengan empati. "Aku di pihak anda, Pak. Dan aku siap bantu."Leo mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya pagi itu, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia tahu kini ia tidak sendirian menghadapi semua ini.Di balik wajah tenangnya, Leo sudah mengambil keputusan dalam hati. Apa pun hasilnya nanti, ia akan menghadapinya. Dengan bukti, dengan kepala dingin. Namun satu hal pasti, hari ini, hidupnya sudah memasuki titik yang tidak akan pernah sama

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Desahan Di Kamar Mandi ++

    Malam semakin larut tanpa terasa. Hujan rintik yang sempat terdengar di luar jendela kini telah berhenti. Udara dingin menyusup perlahan ke dalam kamar, membuat Leo tanpa sadar menarik selimut lebih rapat. Tubuhnya akhirnya benar-benar terlelap, tenggelam dalam tidur yang tidak terlalu nyenyak.Namun sekitar pukul dua dini hari, Leo terbangun.Matanya terbuka perlahan, kepalanya masih terasa berat. Ia refleks menoleh ke samping, mencari keberadaan istrinya. Tetapi, Dinda tidak ada di sampingnya."Dinda?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Tidak ada jawaban. Leo menghela napas kecil, mencoba berpikir positif. "Pasti ke kamar mandi," bisiknya pada diri sendiri.Ia memejamkan mata lagi sesaat, tapi rasa haus tiba-tiba menyerang. Tenggorokannya terasa kering. Akhirnya Leo bangkit perlahan dari kasur, berusaha tidak menimbulkan suara. Kakinya melangkah keluar kamar menuju dapur, menyalakan lampu kecil, lalu menuang air minum.Sambil minum, pikirannya masih setengah mengantuk. "

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status