MasukMalam semakin larut. Suasana rumah sudah benar-benar tenang setelah acara yang berlangsung sejak sore tadi. Lampu kamar hanya menyala redup, memberikan cahaya hangat yang lembut.Di atas tempat tidur, Leo dan Dinda sudah berbaring.Di tengah mereka, Vino tertidur dengan damai. Bayi kecil itu sesekali menggerakkan tangannya pelan, lalu kembali tenang dalam tidurnya.Dinda memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa melihat wajah anaknya dengan lebih jelas. Senyum bahagia terlihat jelas di wajahnya."Mas…" ucap Dinda pelan.Leo yang sedang memandangi langit-langit kamar menoleh."Iya?"Dinda menatap bayi mereka dengan mata yang penuh rasa sayang."Aku masih nggak percaya sekarang kita sudah punya anak."Leo tersenyum mendengar perkataan istrinya."Iya... Ini yang aku harapkan, Sayang."Dinda mengangguk kecil. "Dulu kita sering membicarakan ini… tentang bagaimana kalau nanti punya anak."Leo mengingat percakapan itu. "Iya, aku ingat."Dinda menatap Leo. "Sekarang semuanya benar-benar terjadi,
Mobil berhenti tepat di depan rumah mereka. Pagi itu udara terasa segar, dan sinar matahari mulai menyinari halaman rumah dengan hangat.Leo keluar lebih dulu dari mobil, lalu membuka pintu untuk Dinda. Dinda turun dengan hati-hati sambil menggendong bayi mereka. Wajahnya terlihat bahagia saat menatap rumah yang beberapa hari terakhir ia tinggalkan."Akhirnya sampai juga," ucap Dinda dengan napas lega.Leo tersenyum. "Iya. Rumah juga pasti kangen sama kita."Sindi yang turun dari kursi belakang ikut tersenyum sambil membawa tas bayi."Mbak pasti lebih nyaman di rumah sendiri," ucapnya.Dinda mengangguk pelan. "Benar banget..."Mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Langkah Dinda terasa ringan, seolah kebahagiaan memenuhi hatinya.Begitu sampai di ruang tengah, Dinda langsung melihat sekeliling rumah dengan perasaan haru."Rasanya beda yah, Mas," ucapnya.Leo tertawa kecil. "Karena sekarang kita pulang bertiga, Sayang."Dinda menatap bayi kecil di pelukannya dengan lemb
Leo berdiri beberapa detik tanpa menjawab. Pertanyaan Sindi membuatnya benar-benar tersentak. Ia tidak menyangka perempuan itu akan bertanya sejujur itu."Coba jujur... Ngapain aja sama suster itu, Mas?" ulang Sindi pelan.Leo mengalihkan pandangannya sejenak ke lorong yang sunyi, lalu kembali menatap Sindi. Ia mencoba terlihat santai."Di sana? Ya... Cuma ngobrol," jawab Leo singkat.Sindi mengangkat alisnya sedikit. "Yakin cuma ngobrol aja? Gak aneh-aneh?""Iya beneran," jawab Leo cepat.Namun Sindi tidak terlihat percaya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Leo dengan mata yang tajam."Mas Leo," ucapnya pelan, "aku minta jujur aja deh. Jangan bohong sama aku."Leo langsung terdiam. Ia tahu Sindi bukan orang yang mudah dibohongi. Perempuan itu sudah mengenalnya cukup lama, dan biasanya bisa membaca ekspresinya."Kalau cuma ngobrol, Mas Leo nggak akan selama itu," lanjut Sindi.Leo menarik napas panjang.Beberapa detik ia hanya menatap lantai. Ia sedang berpikir apa
"Ahh.. Ohh..." Suster Priska terus mendesah, matanya terpejam seolah-olah sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Leo.Kemudian Leo berhenti, ia menatap Suster Priska dengan napas yang masih berat. Perempuan itu sudah terbaring di atas ranjang kecil di ruang istirahat tersebut. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, dan dadanya naik turun mengikuti napas yang belum sepenuhnya tenang."Kamu benar-benar cantik," ucap Leo tersenyum. "Membuatku bergairah."Perlahan Leo merebahkan tubuhnya di samping Priska. Namun sebelum itu, tangannya sempat menyentuh bahu perempuan tersebut, lalu dengan lembut ia mendorongnya hingga benar-benar berbaring nyaman di atas ranjang."Ahh, Pak Leo...."Tatapan mereka kembali bertemu.Mata Suster Priska terlihat lembut, namun juga penuh hasrat yang belum sepenuhnya hilang.Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Suasana di ruangan kecil itu terasa hangat, seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua.Leo kemudian mendekat lagi. Bibirny
Beberapa menit kemudian. Leo masih duduk di kursi panjang ruang tunggu. Lampu lorong rumah sakit yang redup membuat suasana terasa sunyi dan tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat yang lewat di kejauhan.Di sampingnya, Sindi sudah tertidur pulas. Tubuhnya sedikit meringkuk di kursi, kepalanya bersandar ke dinding. Napasnya terdengar teratur.Leo memperhatikan Sindi beberapa saat."Dia sudah pulas lagi," gumamnya.Dalam hatinya ia merasa bersalah. Perempuan itu begitu tulus membantu menjaga Dinda sejak melahirkan. Bahkan malam ini pun Sindi rela bergantian berjaga agar Leo bisa beristirahat.Namun Leo justru memiliki rencana lain.Matanya perlahan beralih ke arah lorong yang panjang. Ingatannya kembali pada pesan dari Suster Priska beberapa menit lalu."Pak Leo, nanti ke sini saja di ruang tidurku. Tugas aku sepuluh menit lagi selesai."Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Leo menelan ludah pelan. Ada rasa berdebar yang sulit dijelaskan.Ia kembali melirik Sindi yan
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sebelas. Suasana rumah sakit jauh lebih sepi dibandingkan sore tadi. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai mengilap.Leo menoleh pada Sindi yang masih duduk di sampingnya di ruang tunggu."Sindi," ucapnya pelan, "kamu tidur saja. Biar aku yang jaga, kamu udah nguap terus."Sindi menatap Leo sejenak. "Kamu yakin, Mas?""Iya. Kamu dari kemarin juga kurang istirahat."Sindi mengangguk pelan. "Ya udah deh. Tapi Mas Leo juga jangan maksa begadang kalau ngantuk."Leo tersenyum tipis. "Iya..."Sindi berdiri, menepuk bahu Leo ringan sebelum masuk ke kamar rawat untuk beristirahat di sofa kecil yang tersedia di dalam.Beberapa menit kemudian, suasana benar-benar sunyi.Leo duduk sendiri di kursi ruang tunggu. Tangannya terlipat di dada, pandangannya kosong menatap lorong.Pikirannya kembali berkecamuk. Dua hari lagi acara pernikahan yang terpaksa harus ia jalani demi menutup ancaman Ayu.Dan di sisi l







