Share

Syarat Lain

Auteur: WAZA PENA
last update Dernière mise à jour: 2025-06-10 12:43:39

“A-aku harus angkat dulu—” katanya panik, suaranya serak.

Bu Mela tak bicara, hanya mengangguk kecil sambil melangkah mundur satu langkah, memberi ruang, tapi matanya tetap terkunci pada Leo, seperti predator yang tahu mangsa tak akan jauh.

Leo buru-buru meraih ponsel, melihat nama di layar, langsung menempelkan ke telinga sambil memunggungi Bu Mela. Percakapan singkat, cepat, dan satu arah. Wajahnya semakin pucat tiap detik.

“Iya… iya, Pa… sekarang juga… aku langsung ke kantor, Pa… maaf…”

Telepon mati.

Leo menurunkan ponsel perlahan, napasnya berat. Dia tak langsung menoleh.

Beberapa detik hening. Bu Mela yang memecahnya, suaranya santai tapi menusuk. “Ada urusan mendadak ya?”

Leo mengangguk pelan, masih tak berani menatap.

“Aku… harus segera ke kantor. Meeting penting.”

Bu Mela mendekat lagi dari belakang, jari telunjuknya menyentuh bahu telanjang Leo hanya sekali, tapi cukup membuat anak itu menegang.

“Pergi sana. Kerja yang bener,” bisiknya lembut di telinga Leo. “Tapi ingat, kamu masih punya janji sama ibu.”

Setelah itu, Bu Mela langsung pergi meninggalkan Leo yang masih mematung.

Leo menelan ludah, matanya tak sanggup menatap wajah Bu Mela lebih dari dua detik.

___

Sesampainya di kantor, Leo segera melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Pikirannya masih dipenuhi oleh kehangatan pagi yang diberikan oleh Dinda, namun dia segera fokus pada pekerjaannya. Tak lama kemudian, pintu kantornya diketuk, dan Pak Bram, ayahnya, masuk dengan senyuman di wajahnya.

"Selamat pagi, Leo?" sapa Pak Bram sambil duduk di kursi di depan meja kerja Leo.

Leo tersenyum dan berdiri untuk menyambut ayahnya,"Selamat pagi, Pah. Kabar baik, seperti biasa. Apa yang membawa Bapak ke sini pagi-pagi begini?"

Pak Bram tersenyum lebih lebar.

"Papa ingin bicara sedikit tentang pernikahanmu dengan Dinda. Tinggal menghitung hari saja, kan? Papa hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar," jawab pak Bram tersenyum.

Leo mengangguk,"Iya, Pak. Segala persiapan sudah hampir selesai. Tinggal detail kecil yang perlu dirapikan"

Pak Bram mengangguk puas, "Bagus, bagus. Papa senang mendengarnya. Tapi, ada satu hal lagi yang ingin papah bahas. Ini tentang pekerjaan Dinda"

Leo menatap ayahnya dengan perhatian,"Oh? Ada apa, Pah?"

Pak Bram bersandar di kursinya, ekspresinya serius tapi penuh perhatian.

"Sebagai ayahmu dan juga seorang dokter, papa tahu betapa pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dinda bekerja di rumah sakit yang cukup jauh dari tempat tinggal kalian nanti, kan?" Pak Bram menatap serius.

Leo mengangguk, mulai paham ke mana arah pembicaraan ayahnya.

"Jadi, papa berpikir, kenapa tidak kamu minta Dinda untuk bekerja di rumah sakit tempat papah bekerja? Papa bisa memberinya posisi yang sesuai dengan keahliannya. Selain itu, dia juga bisa lebih dekat dengan rumah. Tidak perlu lagi bepergian terlalu jauh setiap hari. Lebih aman dan nyaman untuknya," ujar pak Bram.

Leo terdiam sejenak, merenungkan saran ayahnya. Dia tahu betapa Dinda mencintai pekerjaannya sebagai dokter, dan bekerja di rumah sakit yang lebih dekat tentu akan menjadi pilihan yang lebih baik bagi mereka berdua.

Selain itu, dia juga mempercayai kemampuan ayahnya dalam mengelola rumah sakit, sehingga Dinda pasti akan mendapatkan lingkungan kerja yang baik.

"Aku pikir itu ide yang bagus, Pah," jawab Leo akhirnya.

Pak Bram tersenyum bangga,"Bagus, Leo. Papah senang kamu setuju. Papah akan berbicara dengan Dinda tentang hal ini. Dan papah yakin dia juga akan menyambut baik idenya"

Leo mengangguk,"Aku juga akan bicara dengannya nanti. Terima kasih, Pah"

Pak Bram berdiri dan menepuk bahu Leo dengan penuh kebanggaan.

"Kamu adalah anak yang baik, Leo. Aku senang melihat kamu mengambil keputusan yang bijaksana. Segera setelah pernikahan, kita akan merencanakan langkah selanjutnya," ucap pak Bram tersenyum lebar.

Leo tersenyum, merasa lebih tenang dan yakin dengan keputusan yang baru saja dibuat. Setelah Pak Bram keluar dari kantornya, Leo segera meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Dinda.

Dia merasa sependapat dengan saran ayahnya dan ingin Dinda mendiskusikan hal ini secara langsung dengan Pak Bram. Pesannya singkat, namun penuh perhatian.

[Sayang, setelah istirahat siang nanti, bisakah kamu mampir ke rumah sakit tempat Bapak bertugas? Bapak ingin bicara sesuatu yang penting denganmu. Aku juga setuju dengan apa yang ingin dia bicarakan. Nanti aku jelaskan lebih lanjut]

***

Siang hari tiba, dan setelah menyelesaikan jam makan siangnya, Dinda bergegas menuju rumah sakit tempat Pak Bram bertugas. Begitu dia sampai di sana, dia disambut oleh seorang perawat yang segera mengarahkan Dinda ke kantor Pak Bram.

Pak Bram berdiri dari kursinya dengan senyum ramah ketika Dinda masuk ke ruangannya.

"Selamat siang, Dinda. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang," sapa Pak Bram dengan hangat.

"Selamat siang, Pak. Tidak apa-apa, saya senang bisa ke sini," balas Dinda sambil tersenyum.

Setelah beberapa menit berbasa-basi, Pak Bram akhirnya masuk ke topik utama yang ingin dia sampaikan, “Dinda, bapak berbicara dengan Leo tadi pagi tentang pekerjaanmu di rumah sakit. Kamu tahu, Leo sama bapak sangat menghargai dedikasimu sebagai dokter. Namun, bapak khawatir jarak rumah sakit tempat kamu bekerja sekarang terlalu jauh dari rumah yang nanti akan kamu tinggali bersama Leo"

Dinda mengangguk, mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Nah, karena itu, bapak ingin menawarkan posisi untukmu di rumah sakit ini. Bapak yakin dengan kemampuanmu, kamu akan cocok di sini, dan bapak bisa memastikan kamu mendapatkan lingkungan kerja yang mendukung. Selain itu, jaraknya jauh lebih dekat dengan rumah kalian nanti, sehingga kamu tidak perlu terlalu capek dalam perjalanan," terang pak Bram dengan jelas.

Dinda terkejut dengan tawaran ini, namun senyum Pak Bram yang hangat membuatnya merasa tenang.

"Terima kasih, Pak. Saya sangat tersanjung dengan tawaran ini. Saya akan mempertimbangkannya dengan serius. Memang, selama ini saya merasa perjalanan cukup melelahkan, terutama jika harus bekerja dalam shift panjang," ucap Dinda, matanya berbinar.

Pak Bram mengangguk, senang melihat reaksi positif Dinda,"Bapak tahu ini keputusan besar, Dinda, jadi tidak perlu terburu-buru. Pikirkan baik-baik, dan bicarakan juga dengan Leo. Kami ingin yang terbaik untukmu dan untuk keluarga kalian nanti"

Dinda tersenyum, merasa lega bahwa Pak Bram begitu pengertian dan mendukung,“Saya akan membicarakannya dengan Leo, Pak. Saya juga setuju bahwa bekerja lebih dekat dengan rumah akan sangat membantu, terutama setelah kami menikah nanti"

Pak Bram tersenyum puas,"Itulah yang aku harapkan. Jika kamu setuju, kita bisa mengatur transisi secepat mungkin, dan aku akan memastikan semuanya berjalan lancar"

Dinda mengangguk, merasa beruntung memiliki calon mertua yang begitu perhatian. Dengan keyakinan yang baru, Dinda merasa siap untuk menjalani babak baru dalam hidupnya bersama Leo.

Tetapi, setelah sempat merasakan kesenangan, seketika pak Bram membawa aura wibawa yang membuat Dinda merasa tegang.

"Dinda," ujar Pak Bram dengan suara berat.

"Bapak sudah mempertimbangkan hubunganmu dengan Leo. Bapak tahu Leo mencintaimu, dan bapak tidak menentang pernikahan kalian. Namun, ada satu syarat yang harus kau penuhi jika benar-benar ingin menjadi istri anakku," ujar pak Bram dengan serius dan tatapan mata yang tajam.

Dinda mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kegugupannya, "Apa pun syaratnya, Pak. Saya akan melakukannya"

Pak Bram tersenyum tipis, tetapi senyuman itu terasa dingin di mata Dinda, "Syaratnya sederhana. Setelah menikah dengan Leo, kau juga harus melayani aku!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (6)
goodnovel comment avatar
ARIF RAHMAT
aowkwkkw udah kebaca jir pasti nanti si Leo sama ibunya Dinda, si Dinda sama si Bram padahal si Bram bukan ortu aslinya LEO
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
kenapa ngga mertua sama mertua aja sih...
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Ibu mertua, ayah mertua, malah bikin rusak hubungan suami istri anak-anaknya
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Gairah Bersama Suster Priska 21+

    "Ahh.. Ohh..." Suster Priska terus mendesah, matanya terpejam seolah-olah sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Leo.Kemudian Leo berhenti, ia menatap Suster Priska dengan napas yang masih berat. Perempuan itu sudah terbaring di atas ranjang kecil di ruang istirahat tersebut. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, dan dadanya naik turun mengikuti napas yang belum sepenuhnya tenang."Kamu benar-benar cantik," ucap Leo tersenyum. "Membuatku bergairah."Perlahan Leo merebahkan tubuhnya di samping Priska. Namun sebelum itu, tangannya sempat menyentuh bahu perempuan tersebut, lalu dengan lembut ia mendorongnya hingga benar-benar berbaring nyaman di atas ranjang."Ahh, Pak Leo...."Tatapan mereka kembali bertemu.Mata Suster Priska terlihat lembut, namun juga penuh hasrat yang belum sepenuhnya hilang.Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Suasana di ruangan kecil itu terasa hangat, seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua.Leo kemudian mendekat lagi. Bibirny

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Malam Yang Panas 21++

    Beberapa menit kemudian. Leo masih duduk di kursi panjang ruang tunggu. Lampu lorong rumah sakit yang redup membuat suasana terasa sunyi dan tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat yang lewat di kejauhan.Di sampingnya, Sindi sudah tertidur pulas. Tubuhnya sedikit meringkuk di kursi, kepalanya bersandar ke dinding. Napasnya terdengar teratur.Leo memperhatikan Sindi beberapa saat."Dia sudah pulas lagi," gumamnya.Dalam hatinya ia merasa bersalah. Perempuan itu begitu tulus membantu menjaga Dinda sejak melahirkan. Bahkan malam ini pun Sindi rela bergantian berjaga agar Leo bisa beristirahat.Namun Leo justru memiliki rencana lain.Matanya perlahan beralih ke arah lorong yang panjang. Ingatannya kembali pada pesan dari Suster Priska beberapa menit lalu."Pak Leo, nanti ke sini saja di ruang tidurku. Tugas aku sepuluh menit lagi selesai."Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Leo menelan ludah pelan. Ada rasa berdebar yang sulit dijelaskan.Ia kembali melirik Sindi yan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Kode Dari Suster Priska

    Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sebelas. Suasana rumah sakit jauh lebih sepi dibandingkan sore tadi. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai mengilap.Leo menoleh pada Sindi yang masih duduk di sampingnya di ruang tunggu."Sindi," ucapnya pelan, "kamu tidur saja. Biar aku yang jaga, kamu udah nguap terus."Sindi menatap Leo sejenak. "Kamu yakin, Mas?""Iya. Kamu dari kemarin juga kurang istirahat."Sindi mengangguk pelan. "Ya udah deh. Tapi Mas Leo juga jangan maksa begadang kalau ngantuk."Leo tersenyum tipis. "Iya..."Sindi berdiri, menepuk bahu Leo ringan sebelum masuk ke kamar rawat untuk beristirahat di sofa kecil yang tersedia di dalam.Beberapa menit kemudian, suasana benar-benar sunyi.Leo duduk sendiri di kursi ruang tunggu. Tangannya terlipat di dada, pandangannya kosong menatap lorong.Pikirannya kembali berkecamuk. Dua hari lagi acara pernikahan yang terpaksa harus ia jalani demi menutup ancaman Ayu.Dan di sisi l

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Janji Yang Harus Ditepati

    Lorong rumah sakit sore itu tidak terlalu ramai. Aroma antiseptik samar terasa di udara. Langkah Leo terdengar pelan menyusuri lantai mengilap menuju ruang administrasi.Namun tiba-tiba langkahnya melambat.Dari ujung lorong, seorang perawat berjalan ke arahnya. Suster Priska tampak anggun dalam seragam putihnya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya dihiasi senyum yang terasa lebih hangat dari biasanya.Tatapan mereka bertemu. Leo merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Priska tersenyum manis."Selamat sore, Pak Leo," sapanya lembut.Sapaan itu terasa berbeda. Ada nada yang lebih pribadi di dalamnya.Leo balas tersenyum. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Untuk beberapa detik, ia lupa hendak ke mana."Sore, Suster," jawabnya pelan.Saat jarak mereka semakin dekat, Leo tiba-tiba berkata, "Suster. Tunggu sebentar?"Priska berhenti. Matanya menatap Leo penuh tanya, tapi tetap tersenyum."Iya, Pak?"Leo menelan ludah tipis. "Aku masih penasaran sama kamu…"Kalimat itu meluncur beg

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Tekad Didalam Tekanan

    Pak Haris kembali berbicara, "Kamu yang siapkan semuanya ya. Administrasi, kendaraan, dan kebutuhan di rumah.""Iya, Pak. Nanti aku yang urus," jawab Leo cepat."Dan mulai sekarang," lanjut Pak Haris, "kurangi urusan luar yang tidak perlu."Leo mengangguk lagi. "Baik, Pak."Ia mendekat ke ranjang, menatap bayi kecil yang tertidur. Wajah mungil itu begitu polos, begitu tenang."Mas senang kan?" tanya Dinda pelan.Leo tersenyum. "Senang banget, Sayang."Itu bukan kebohongan. Ia memang senang Dinda bisa segera pulang.Namun di sudut pikirannya, ada perasaan lain.Tentang Priska. Ia ingat tatapan di lorong semalam. Ingat sentuhan, ingat bisikan yang masih terasa hangat.Dengan pulang ke rumah, pertemuan mereka tentu akan lebih jarang.Tapi kemudian Leo tersenyum tipis. Ia sudah menyimpan nomor Priska. Artinya, jarak bukan lagi penghalang.Pikiran itu membuatnya sedikit lebih tenang, bahkan di tengah suasana keluarga yang penuh harapan.Bu Ratna kemudian berdiri. "Leo... Kami tadi sudah b

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Rayuan Maut Ayu

    Ayu menggenggam tangan Leo lebih erat."Ayo, Mas kita ke kamar yuk," ajaknya pelan, nada suaranya berubah lembut dan menggoda.Leo langsung menegang. "Ayu, jangan. Aku nggak bisa lama-lama di sini.""Aku tahu," jawab Ayu cepat. "Tapi aku butuh itu, Mas. Cuma sebentar."Leo mencoba menarik tangannya pelan. "Aku ke sini bukan untuk itu."Namun Ayu tidak menyerah. Ia tersenyum manja, mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut menuntun Leo menyusuri lorong kecil menuju kamar."Ayu…" Leo masih berusaha menahan diri, meski langkahnya tetap mengikuti.Di dalam kepalanya, bayangan Dinda muncul. Wajah istrinya yang tadi meminta ia cepat kembali ke rumah sakit. Bayi mereka yang masih merah dan rapuh.Tapi godaan di depan mata terasa begitu nyata.Sesampainya di kamar, Leo berhenti di ambang pintu."Ayu, cukup," ucapnya pelan."Cukup apa?""Aku sudah menepati janjiku untuk datang ke sini. Tapi bukan untuk hal itu."Namun Ayu tiba-tiba mendorong tubuh Leo perlahan hingga ia terduduk di tepi tempat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status