Mag-log inSekitar jam lima subuh, Leo terbangun dari tidurnya saat pintu kamar terbuka pelan. Dinda masuk dengan langkah lembut, membawakan secangkir kopi panas untuk Leo. Wajahnya tampak segar meski hari masih sangat pagi.
Leo duduk di atas ranjang, mengusap matanya yang masih sedikit berat. Begitu melihat Dinda, senyum terukir di wajahnya.
"Selamat pagi, sayang," sapa Dinda dengan suara lembut sambil duduk di tepi ranjang.
"Aku tahu hari ini kamu ada tugas penting di kantor. Kopi ini untuk membantu kamu segar kembali," imbuhnya.
Leo menerima cangkir kopi dari Dinda dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu tahu bagaimana membuatku merasa lebih baik," balas Leo dengan tulus. Hatinya terasa hangat oleh perhatian kekasihnya ini.
Dinda tersenyum, kemudian menyisir rambut Leo dengan jarinya.
"Aku juga harus segera berangkat ke rumah sakit. Ada beberapa pasien yang perlu aku tangani pagi ini," ujarnya dengan nada yang menunjukkan dedikasinya sebagai seorang dokter.
Leo menatap Dinda dengan penuh kekaguman. Dalam benaknya, dia merasa beruntung memiliki seseorang seperti Dinda di sisinya, wanita yang bukan hanya cantik, tetapi juga perhatian dan bertanggung jawab.
Saat Dinda mengeluarkan seragam dokternya dari lemari, Leo merasa perasaan sayangnya semakin dalam.
Setelah Dinda selesai bersiap-siap, dia kembali mendekati Leo.
"Kamu jangan terlalu memaksakan diri di kantor, ya. Ingat, kesehatan itu yang paling penting," ucap Dinda sambil menatap Leo dengan penuh perhatian.
Leo mengangguk, "Kamu juga, Din. Jangan terlalu lelah di rumah sakit. Aku sangat mencintaimu"
Dinda tersenyum lembut dan mendekat untuk mencium pipi Leo, "Aku juga mencintaimu. Aku akan selalu ada di sini untukmu"
Setelah beberapa saat berbicara dengan penuh kehangatan, Dinda akhirnya beranjak keluar kamar untuk berangkat ke rumah sakit. Leo menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.
Pikiran Leo masih terbagi antara rasa sayangnya pada Dinda dan bayangan Bu Mela yang muncul di kepalanya. Namun, saat ini perhatian dan cinta Dinda membuatnya merasa lebih tenang.
Di tengah kesibukan dan tantangan yang ada, Leo merasa memiliki seseorang yang begitu mengerti dirinya, dan itu membuatnya merasa sangat bahagia dan beruntung.
Leo kemudian bergegas untuk bersiap-siap, mengingat hari ini akan menjadi hari yang panjang di kantor. Tapi dalam hatinya, dia merasa siap karena tahu bahwa dia memiliki dukungan dari Dinda, wanita yang akan segera menjadi istrinya.
Namun, begitu Leo keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi.
Bu Mela berdiri di ambang pintu, kali ini sudah rapi dengan kimono satin pendek warna merah marun yang pas di tubuh, panjangnya cuma sampai pertengahan paha. Rambutnya masih sedikit basah, seolah baru mandi. Aroma sabun mewah dan parfum yang sama seperti semalam langsung memenuhi ruangan.
“Pagi, Leo,” sapanya santai, suaranya masih agak serak khas bangun tidur, tapi matanya tajam, penuh maksud.
Leo langsung membeku di tempat, tangannya masih memegang gagang pintu kamar mandi. Hanya pakai celana boxer, badannya yang atletis terpampang jelas. Jantungnya langsung kembali berdegup kencang.
“Bu… Dinda baru aja keluar…” katanya pelan, suaranya hampir berbisik.
Bu Mela melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan satu jari. Kunci dia putar pelan.
Klik.
“Ibu tahu. Makanya Ibu tunggu sampai dia pergi,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
Dia melangkah mendekat, kimononya terbuka sedikit di bagian dada setiap kali dia bergerak menampakkan belahan yang dalam dan kulit putih yang masih berkilau bekas mandi.
Leo mundur satu langkah sampai punggungnya menempel dinding dekat pintu kamar mandi.
“B–Bu …”
“Sssst,” potong Bu Mela.
Bu Mela sudah berada sangat dekat sekarang. Jaraknya tinggal sejangkau tangan. Dia mengangkat jari telunjuknya lagi, kali ini langsung menyentuh bibir bawah Leo, lalu turun perlahan ke dada telanjang anak itu. “Semalam kamu belum kasih yang Ibu mau, Leo. Jadi belum selesai.”
Dia menatap lurus ke mata Leo, lalu pandangannya turun perlahan ke perut rata Leo, lalu lebih ke bawah. Matanya menyipit, tersenyum kecil saat melihat ada sedikit tonjolan pagi yang mulai terbentuk di balik boxer tipis itu.
“Wah… pagi-pagi udah semangat ya?” goda Bu Mela, suaranya manja tapi berbahaya.
Jari telunjuknya terus turun, berhenti tepat di atas pinggang boxer Leo. “Ibu cuma mau pastikan… kamu beneran mau buang kesempatan langka ini? Dinda nggak akan tahu, Leo. Cuma kita berdua. Lima belas menit aja. Ibu janji cepet.”
Leo menelan ludah keras. Napasnya sudah mulai berat. Aroma Bu Mela yang baru mandi, campuran sabun mawar dan parfum manis membuat kepalanya pening lagi, persis seperti semalam.
“Bu… tolong… aku janji bakal nurut apa pun asal jangan sekarang… aku mohon…”
Bu Mela malah tertawa kecil. Dia melangkah lebih dekat lagi sampai dada mereka hampir bersentuhan. Kimononya terbuka lebih lebar karena gerakan itu, dadanya yang penuh kini benar-benar terlihat separuh, tampak sedikit berkilau.
“Janji lagi?” bisiknya sambil mendongak menatap Leo dari bawah. “Kamu janji apa aja mudah banget, tapi yang satu ini kok susah sekali ditepati?”
Tangan kirinya tiba-tiba menyelinap ke bawah, langsung menyentuh tonjolan di boxer Leo hanya sekali, pelan, tapi cukup membuat Leo tersentak dan memejamkan mata.
“Bu… jangan…”
“Kalau kamu beneran nggak mau,” Bu Mela berbisik tepat di telinga Leo, napasnya panas, “kenapa ini malah tambah keras tiap Ibu sentuh? Hmm?”
Dia menjauh sedikit, cukup untuk Leo bisa melihat senyumnya yang penuh kemenangan kecil.
Hingga tiba-tiba—
Kring!!
Ponsel Leo berdering keras, membuat keduanya menoleh ke arah kasur.
Setelah melaju kurang lebih dua jam. Leo akhirnya sampai di depak rumah. Wajahnya masih menunjukkan kemarahan. Leo tidak menyangka, ternyata Nadia bersekongkol dengan Rendi. Mereka menjebaknya.Pintu rumah terbuka pelan. Leo melangkah masuk dengan napas yang masih berat. Wajahnya tegang, sisa emosi dari kejadian di puncak belum sepenuhnya hilang.Namun, saat Leo membuka pintu. Dia mengerutkan keningnya. Rumahnya sepi."Sayang…" panggilnya.Tapi tidak ada jawaban.Ia mengernyit.Biasanya, suara Dinda akan langsung menyahut. Atau setidaknya, terdengar suara aktifitas di dapur. Namun kali ini, begitu sunyi.Leo melangkah lebih dalam."Dinda?" panggilnya lagi, sedikit lebih keras.Tetap tidak ada jawaban. Matanya mulai bergerak cepat, menyapu seluruh ruangan. Bahkan Leo tidak melihat Sindi yang biasanya sibuk di dapur."Sindi?" panggilnya lagi.Jantung Leo mulai berdetak lebih cepat. Ia berjalan menuju dapur lalu pindah ke kamar.Saat pintu kamar terbuka. Ternyata kosong. Tempat tidur r
Beberapa hari berlalu.Hari Minggu yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pagi, Leo sudah terlihat bersiap. Ia mengenakan pakaian santai, namun tetap rapi. Wajahnya tampak lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya.Dinda yang melihatnya sedikit heran."Mau ke mana, Mas?" tanyanya.Leo menjawab santai, "Ke kantor sebentar.""Ini kan minggu? Gak libur?" Dinda mengerutkan kening."Iya, ada urusan penting," jawab Leo cepat.Dinda mengangguk pelan. ""Oh… ya udah."Leo mendekat, lalu mencium kening anaknya."Jaga Vino yah," ucapnya.Dinda tersenyum kecil. "Iya, Mas."Leo menatap Dinda sebentar. "Aku mungkin agak lama."Dinda mengangguk. "Nggak apa-apa. Yang penting hati-hati."Leo tersenyum tipis. "Iya."Tanpa banyak bicara lagi, Leo langsung keluar dari rumah.Begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung menghembuskan napas panjang."Hari ini…" gumamnya.Ada senyum tipis di wajahnya. Perasaannya berbeda. Antara senang dan penuh harap.Ia langsung menyalakan mesin mobil dan melaju menuju tempat yan
Tak lama kemudian."Kita langsung pulang saja ya, Mas," ucapnya.Leo mengangguk tanpa banyak bicara. "Iya. Nanti keburu sore."Mereka berjalan menuju mobil. Dinda masih menggendong Vino, sementara Leo membuka pintu dan membantu mereka masuk. Begitu mobil melaju, suasana sempat hening.Leo fokus menyetir, namun pikirannya tidak tenang."Ini nggak mungkin cuma soal pasar," batinnya.Ia mengingat kembali penjelasan Rendi tadi. Terlalu rapi. Seolah tidak ada celah.Leo menyipitkan mata sedikit."Aku yakin. Ada yang disembunyikan dia," gumamnya pelan.Dinda menoleh. "Kamu ngomong apa, Mas?"Leo langsung menggeleng. "Ah. Nggak, cuma kepikiran kerjaan."Dinda mengangguk. "Oh…"Beberapa detik kemudian, Dinda kembali bicara."Menurut kamu tadi gimana penjelasan Rendi?" tanyanya.Leo menjawab santai, "Ya… cukup jelas."Dinda tersenyum tipis. "Iya kan."Leo melirik sebentar. "Kamu percaya banget sama dia ya."Dinda langsung menjawab, "Iya. Karena udah lama yang menangani perusahaan ku, Mas."Leo
Leo menatap Dinda dengan ekspresi yang mulai berubah. Tatapannya tidak lagi santai seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya, dan kali ini mulai keluar."Tapi menurutku. Harusnya Rendi yang beresin semuanya," ucap Leo lebih menekan.Dinda yang sedang merapikan tas langsung menoleh. "Maksud kamu?"Leo menghela napas pendek. "Dia kan orang kepercayaan kamu. Harusnya dia yang tanggung jawab kalau perusahaan lagi turun."Dinda terdiam sejenak, lalu menjawab, "Mas, ini nggak sesederhana itu."Leo mengernyit. "Kenapa nggak? Dia dibayar untuk itu kan?""Iya. Tapi bukan berarti salah Rendi, Mas," balas Dinda dengan nada yang lebih tegas.Leo langsung menatapnya tajam. "Kamu yakin?""Iya," jawab Dinda tanpa ragu.Leo tersenyum tipis, tapi bukan karena senang. "Kamu cepat banget bela dia."Dinda menghela napas. "Bukan bela, Mas. Tapi memang kenyataannya begitu."Leo melipat tangannya di dada. "Atau kamu terlalu percaya sama dia?"Dinda menatap Leo dalam-dalam. "Aku meman
Padahal, mereka hanya bicara biasa. Tapi pikiran Leo tidak bisa diam. Beberapa kejadian sebelumnya kembali teringat. Hal-hal kecil yang terasa janggal. Cara Rendi berbicara dengan Dinda. Cara Dinda merespons. Semua terasa… tidak biasa. "Kami cuma sebentar kok, Pak," ucap Maya mencoba menjelaskan. Leo mengangguk singkat. "Iya, nggak apa-apa." Namun nada suaranya datar. Tidak sehangat biasanya. Dinda melirik Leo sebentar, seolah menyadari perubahan itu. "Mas, kamu mau istirahat dulu?" tanyanya. Leo langsung menjawab, "Iya." Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung berjalan menuju kamar. Langkahnya cepat. Pikirannya mulai tidak tenang. Beberapa detik kemudian. Pintu kamar terbuka. Dinda masuk. "Mas…" panggilnya pelan. Leo berdiri di dekat lemari, lalu menoleh. "Iya?" jawabnya. Dinda mendekat. "Kamu kenapa?" Leo menghela napas pelan. "Itu mereka… ngapain ke sini?" Dinda sedikit terdiam, lalu menjawab, "Ada urusan kantor, Mas." "Urusan apa?" tanya Leo lagi. "Ya…
Leo kembali menatap layar ponselnya. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Pesan terakhirnya ke Nadia masih terpampang jelas, ajakan untuk melakukan video call.Ia menelan ludah. Rasa penasaran itu semakin kuat."Seperti apa ya dia sekarang…" batinnya.Leo melirik ke arah dalam rumah, memastikan suasana aman. Pintu tertutup, tidak ada suara. Ia menarik napas pelan, lalu menekan tombol panggilan video.Layar mulai berdering. Satu detik. Dua detik.Leo semakin tegang."Ayo angkat…" gumamnya pelan.Matanya terus tertuju pada layar, sementara sesekali ia melirik ke arah pintu rumah. Perasaannya tidak tenang, seolah sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Namun rasa penasaran itu lebih besar.Dan akhirnya...KLIK.Panggilan terhubung.Leo langsung terdiam. Matanya seketika membesar."Nadia…" bisiknya pelan.Di layar, wajah Nadia muncul dengan jelas. Rambutnya tergerai, wajahnya tampak segar meski malam sudah larut. Kulitnya terlihat begitu putih dan bersih, ditambah







