LOGINJuned melangkah masuk ke dalam kamar utama, mematikan lampu gantung dan menyisakan pendar remang dari lampu tidur di samping ranjang.Ratna sudah terlelap miring, napasnya teratur menyapu bantal.Juned merebahkan tubuhnya di sisi ranjang, menarik selimut tipis, lalu memejamkan mata dengan benak yang tetap bekerja ekstra jernih.Fajar menyingsing cepat, membilas kegelapan malam dengan sinar matahari pagi yang menembus celah gorden.Juned sudah bangun sejak pukul enam, menyelesaikan sesi olahraga ringannya di halaman belakang sebelum bersiap-siap untuk agenda penting hari ini.Meski akhir pekan, fokus utamanya pagi ini adalah mengeksekusi penandatanganan kontrak final bersama Fitri pukul sembilan tepat.Ia mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap, merapikan kerahnya di depan cermin besar, dan memastikan penampilannya memancarkan wibawa tingkat tinggi.Di ruang makan, Ratna sedang menyiapkan sarapan simpel berupa roti bakar dan telur setengah matang."Pagi, Ned. Kamu rapi banget jam
Keheningan melingkupi ruang kerja Juned saat ia membolak-balik lembaran dokumen proyek pengembangan area komersial yang berada di atas mejanya.Layar monitor menampilkan grafik progres dan tenggat waktu yang kian mendekat, menuntut fokus penuh tanpa gangguan.Ketukan pintu yang teratur terdengar dari luar."Masuk," ujar Juned tegas, pandangannya tetap tertuju pada berkas di tangan.Caca melangkah masuk dengan membawakan map tebal berisi laporan analisis pasar.Pakaian kerjanya rapi, dan raut wajahnya sepenuhnya profesional tanpa menyisakan riak emosi pribadi."Ini laporan analisis kompetitor untuk proyek minggu depan, Pak Juned," ujar Caca formal, meletakkan map tersebut di sisi meja kerja dengan jarak yang terukur.Juned mendongak, menatap asistennya dengan binar mata yang tajam dan dingin."Terima kasih, Caca. Pastikan kaji ulang angka estimasi biaya di bab tiga. Saya minta draf revisinya sebelum jam tiga sore," perintah Juned lugas, tanpa nada godaan sedikit pun."Baik, Pak. Segera
Setiba di rumah usai makan malam, suasana berangsur hening.Ratna menguap pelan, merapatkan mantelnya saat melangkah masuk ke dalam kamar utama."Duh, Ned... capek banget hari ini. Aku langsung mandi terus tidur ya," pamit Ratna seraya mengusap pipi Juned dengan penuh rasa sayang."Iya, Ra... Istirahat ya, biar besok fit lagi," balas Juned lembut, memberikan kecupan hangat di dahi istrinya.Begitu pintu kamar utama tertutup rapat, Juned melangkah pelan menuju ruang tengah yang temaram.Nayla sedang berdiri di dekat dispenser, menuangkan air hangat ke dalam gelas dengan jemari yang sedikit bergetar.Juned berjalan tanpa suara, mendekati gadis itu dari belakang hingga jarak di antara mereka terkikis habis."Mas..." desah Nayla tertahan saat lengan kokoh Juned melingkari pinggangnya secara mendadak.Nayla memiringkan kepalanya, membiarkan bibir Juned menyapu ceruk lehernya yang mulus dengan lumat yang intens."Eungghh... Mas Juned... nanti Mbak Ratna keluar..." bisik Nayla terbata-bata d
Ratna menyambut berkas itu dengan binar mata lega, mengibaskan rambutnya yang terurai seraya meletakkannya di atas meja kerja. "Makasih ya, Ned... Kamu emang gak pernah ngecewain," ucap Ratna tulus, berjalan mendekati Juned lalu mengusap lembut dadanya. Juned merengkuh pinggang Ratna, menarik tubuh istrinya rapat lalu mendaratkan kecupan hangat di dahinya. "Kan udah kewajiban aku buat bantu kamu, Ra," balas Juned lembut, menyunggingkan senyum hangat yang begitu meyakinkan. "Mhh-hmm... Nanti malam kita makan di luar yuk, Ned? Sekalian ajak Nayla," bisik Ratna manja seraya melingkarkan lengan di leher Juned. Juned mengusap punggung Ratna dengan irama konstan, matanya menatap tenang ke arah jendela kaca besar di belakang meja kerja. "Boleh banget, Ra. Nanti aku yang pilih tempatnya," sahut Juned santai, memberikan kenyamanan mutlak bagi istrinya. Di saat yang sama, ponsel di dalam saku celana Juned bergetar halus secara berkala. Ia tahu betul itu adalah notifikasi dari Ca
Juned melangkah keluar dari gedung perkantoran Fitri, menyambut terik matahari siang yang membakar kulitnya.Ia mematikan nada getar ponselnya sejenak, membiarkan Caca menunggu sepuluh menit lagi agar gejolak emosi wanita itu mereda.Setiba di dalam sedan hitamnya, Juned menyalakan AC pada kecepatan maksimum, merapikan rambutnya di depan spion tengah, lalu mengetik balasan singkat.'Mas jalan ke Resto Saung dekat kantor kamu sekarang. Meja sudut biasa ya, Ca.'Pesan terkirim. Pria itu menginjak pedal gas, membelai jalanan kota yang kian padat menjelang jam istirahat siang.Dua puluh menit kemudian, Juned melangkah masuk ke restoran bernuansa kayu yang sejuk itu.Caca sudah duduk di meja sudut yang agak terlindung tanaman hias, melipat tangannya di dada dengan raut wajah masam."Lama banget sih, Mas... Katanya cuma sebentar sama Fitri," sungut Caca begitu Juned mendudukkan diri di hadapannya.Juned meraih jemari Caca di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan lembut seraya member
Juned memarkirkan sedan hitamnya di slot langganannya, merapikan ikatan dasi di depan spion tengah, lalu melangkah keluar dengan gaya tegap yang selalu memancarkan wibawa.Langkah kakinya yang mantap membawanya menaiki lift menuju lantai lima gedung kantor.Begitu pintu lift terbuka, ia langsung berjalan santai menuju pantry sesuai pesan yang dikirimkan Caca tadi pagi.Di dalam pantry yang masih sepi, Caca sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja seraya mengaduk cangkir kopinya dengan raut wajah cemberut.Juned masuk, memutar kunci pintu dari dalam secara diam-diam, lalu melangkah menghampiri wanita itu dari belakang."Masih cemberut aja pagi-pagi gini," bisik Juned rendah tepat di telinga Caca seraya merengkuh pinggang rampingnya dari belakang.Caca tersentak pelan, namun langsung menyandarkan punggungnya di dada bidang Juned dengan desahan pasrah."Lagian kamu kemarin cuek banget, Pak... Aku kan cemburu liat kamu terus-terusan sama Bu Ratna," sungut Caca seraya memutar