เข้าสู่ระบบSeorang pria dewasa bernama Burhan, ditugaskan oleh keluarganya untuk memantau kebun sang Kakek di desa terpencil. Alih-alih bisa menikmati ketenangan, Burhan justru mendapat perlakuan tak terduga dari warga. Salah satunya Dina, yang terus mencari alasan untuk mendekatinya. “Om, Dina boleh nebeng nggak? Sebagai ongkosnya, Dina tawarin cucur anget kesukaan Om, deh.”
ดูเพิ่มเติม“Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.
Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.
“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”
Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.
“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di sana. Dan tugasmu, cek batas-batas kebun, pastikan batasnya jelas sebelum akta jual beli ditandatangani. Sekalian temui Pak Bakti, calon pembeli yang mau bayar tanah itu. Nanti kalau ada masalah, telepon kakek!” ucap Kakek Budi sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai.
Kalau sang kakek sudah berdiri dan menghentakkan tongkat keramatnya, pantang hukumnya untuk dibantah kalau tidak mau dicoret dari silsilah keluarga atau dikutuk jadi batu kali.
Pada akhirnya, Burhan menerima.
Yah, daripada di kota terus-terusan kepikiran mantan istri, tidak ada salahnya Burhan mencoba peruntungan berangkat ke desa. Lagipula, di desa juga tidak seburuk yang Burhan pikir, pasti akan banyak hiburan mata yang bisa membuatnya lupa tentang mantan istrinya yang matre dan tukang selingkuh itu!
Sambil bertekad tidak akan membiarkan wanita sembarangan mempermainkannya, ia berangkat sore itu juga meninggalkan ibu kota.
Setelah mengemudi hampir 12 jam, jalanan tanah berbatu akhirnya menyambut kedatangan Jeep hitam Burhan di perbatasan desa. Udara sejuk pedesaan pagi itu langsung menyergap, tapi ketiadaan plang petunjuk jalan membuatnya bingung mencari letak pasti rumah tua peninggalan kakeknya.
Burhan memelankan laju mobil di samping pematang ladang palawija. Dari balik kemudi, matanya menangkap sosok gadis muda yang sedang sibuk membetulkan letak keranjang panen di pinggir jalan.
Burhan menarik rem tangan lalu melangkah turun. Tubuh tegapnya yang dibalut kaos polo abu-abu ketat melangkah mendekat.
“Permisi ....”
Gadis itu menyapu peluh di dahinya, lalu mendongak. Seketika, napas Burhan tertahan. Pandangan matanya otomatis memindai sosok di depannya dari atas ke bawah.
Dina, gadis yang masih berumur 19 tahun itu hanya mengenakan caping bambu sederhana, kaos oblong putih model neck-V yang pas-pasan, dan celana training lusuh yang digulung sebetis.
Meski gayanya sederhana khas anak desa, tapi postur tubuhnya padat dan sintal. Kulitnya juga bukan hasil perawatan mahal, tapi cukup bersih, kencang, dan segar layaknya buah ranum yang baru dipetik. Wangi peluh bercampur aroma manis tubuhnya menguar samar, sempat membuat jakun Burhan naik-turun menelan ludah sebelum buru-buru menepis pikirannya sendiri.
“Eh ... iya, Pakde? Ada apa ya?” sahut gadis itu dengan mata bulat bening yang luar biasa polos dan bibir merah muda merekah basah.
Burhan segera berdehem, menjaga wibawa prianya. “Saya mau tanya rumah tua milik keluarga Pak Budi Handoko. Tahu arahnya ke mana?”
“Oh, rumah gedong juragan teh yang ada pagar kayunya ya? Pakde lurus aja lewatin kebun ini, nanti rumahnya ada di paling ujung jalan desa.”
“Terima kasih,” jawab Burhan singkat, lalu kembali naik ke mobilnya.
Mobil Burhan akhirnya tiba di pekarangan sebuah rumah bata merah megah berarsitektur kuno. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh Pakde Darmo, penjaga rumah tua keluarga mereka.
“Den Raka cucunya Kakek Budi, ya? Wah, sekarang sudah besar ya,” sambut Pakde Darmo.
“Pakde tahu saya?” tanya Burhan sambil menjabat tangan Pakde Darmo.
“Wah, ya jelas tahu toh, Den. Den Raka dulu pernah diajak Kakek Budi kesini waktu umur 5 tahunan. Pasti sudah nggak inget ya? Tadi Pak Budi juga sudah telepon ngabari. Pokoknya selama Den Raka disini, jangan sungkan kalau butuh apa-apa. Rumah pakde ada dibelakang, bisa langsng kesana atau telepon.”
Burhan tersenyum tipis sambil angguk-angguk. Tidak menyangka, dulu ia pernah diajak kesini oleh kakeknya. Padahal tadi sebelum berangkat, kakeknya cuma bercerita singkat soal Pakde Darmo yang dibayar untuk menjaga serta membersihkan rumah tuanya, dan akan membantunya selama disana.
“Kalau gitu panggil Burhan saja, Pakde. Jangan pakai sebutan Den,” pinta Burhan. Ia memang sengaja memakai nama itu agar terasa lebih membaur, sekaligus ingin menemukan kehidupan baru di sini.
Tak berselang lama setelah Burhan duduk di sofa ruang tamu, seorang wanita melangkah anggun dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat.
“Nah, ini anak pertama saya, Mas Burhan. Namanya Yanti,” kata Pakde Darmo memperkenalkan.
“Mari diminum tehnya, Mas Burhan,” sapa Mbak Yanti dengan senyum santun.
Burhan memperhatikan sosok janda mati berusia tiga puluh dua tahun itu. Sikapnya sangat tahu tata krama dan menghormati Burhan sebagai majikan.
Namun, daster tipis berbahan jatuh yang dikenakan Yanti menempel sangat ketat di lekuk tubuh matangnya. Aura matangnya sangat kuat, tipe wanita yang paham betul cara memancing mata pria.
Burhan terkesiap, buru-buru menyeruput teh menetralkan tenggorokan yang mendadak kering.
Sialnya, ketika Yanti membungkuk meletakkan piring pisang goreng, kerah daster yang longgar sontak terbuka lebar, memamerkan sepasang buah pepaya matang yang pucuknya ranum, menggantung bebas tanpa penyangga memadai tepat di depan matanya.
UHUKK!
BYURR!
Burhan tersedak. Teh hangat yang baru diseruputnya langsung menyembur keluar, membasahi sebagian meja dan celana panjangnya tepat di area selangkangan.
“Eh, ya ampun, Mas!” seru Yanti panik. Pakde Darmo juga langsung terjingkat kaget.
“Aduh! Cepet ambil lap, Yan!”
Dengan cepat, Yanti mengambil serbet kain lalu berlutut tepat di depan kaki Burhan. Berniat membersihkan tumpahan air secepatnya, tapi tangan Yanti yang tergesa-gesa justru tanpa sengaja menggosok pangkal paha hingga meraba area selangkangan celana Burhan yang basah dan menyentuh gundukan keras yang mendadak menegang di balik kain.
Burhan tersentak dan bangkit berdiri.
“Saya ... mau mandi dulu, Pakde, Mbak,” potong Burhan.
“O-oh, iya, Mas. Itu kamar mandinya di pojok samping dapur,” sahut Pakde Darmo.
Burhan langsung melangkah cepat menuju kamar mandi. Di bawah kucuran air sumur yang dingin, dia mengguyur kepalanya berkali-kali demi meredakan ‘dedek gemoy’-nya yang mendadak bangkit keras akibat rangsangan janda tadi.
Setelah amarah biologisnya agak mereda, Burhan langsung masuk ke kamar dan memilih untuk segera tidur. Ia lelah setelah menempuh perjalanan 10 jam lebih.
***
Keesokan harinya, pukul empat sore.
Matahari mulai condong ke barat, memayungi jalanan tanah dengan semburat jingga. Burhan menyetir Jeep-nya perlahan untuk meninjau batas lahan pabrik teh kakeknya.
Namun saat mobilnya melintasi jalanan perkebunan yang mulai gelap dan sepi, mata Burhan menangkap sesosok tubuh kecil di pinggir jalan.
Itu Dina, yang sedang berdiri di tepi jalan sambil menyeka keringat di lehernya. Karena kegerahan dan kakinya yang gemetar sehabis berjalan jauh memikul keranjang kosong, Dina tampak menyingsingkan sedikit kain rok bawahnya ke atas, paha mulusnya yang putih bersih dan bebas noda terlihat kontras dengan debu jalanan di sekitarnya.
Gadis itu jelas ketinggalan satu-satunya bus desa yang cuma beroperasi sampai jam tiga sore.
Begitu Dina melihat mobil melintas, ia mengayunkan tangan. Refleks Burhan menghentikan laju mobilnya.
Dina melangkah mendekat ke pintu samping kemudi. Dengan mata bening tanpa dosa dan bibir mungil yang merekah kelelahan, Dina menatap lurus ke mata Burhan.
“Om, Dina boleh nebeng sampai desa? Sebagai ongkosnya, Dina bisa bikin Om muncrat.”
Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden
Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri
Dina menelan ludahnya susah payah. Sorot matanya sempat goyah ditatap tajam sedekat itu.Tapi sedetik kemudian, dia malah nyengir manis tanpa dosa. Tubuhnya yang sudah lepas dari kungkungan Burhan berbalik membelakangi bak Jeep. Tangannya buru-buru menarik turun ujung daster kusamnya yang basah dan kusut, menutupi paha dalamnya yang lengket.“A-Apa sih, Om. Jangan mikir kejauhan deh!” sungut Dina sambil mencibir sebal. “Ya kali bisa nikah kilat kayak beli gorengan. Juragan itu cuma mau ketemu doang nanti sore, cuma dikenalin!”Burhan menyipitkan mata. Rahangnya mengetat kaku, nggak kemakan omongan itu. “Jangan bohongin Om, Din.”“Siapa yang bohong sih, Om Burhan?” Dina malah tertawa renyah. Tangannya terangkat santai, mencubit pipi brewok Burhan tanpa rasa takut. “Mukanya tegang amat kayak mau razia polisi. Udah ah. Mending buruan ke pasar, keburu siang ini!”Burhan bergeming. Dina jelas-jelas lagi ngeles, dan Burhan bukan anak kemarin sore yang bisa dialihkan pakai cubitan manja begi
Burhan menundukkan badannya sedikit ke depan, menempelkan dadanya yang basah oleh peluh ke punggung mungil Dina.“Kamu denger apa yang Simbah omongin sama ibu-ibu tadi?” bisik Burhan.“Hah? A-apa, Om? Dina nggak tahu.”“Nggak tahu apa nggak denger?” sergah Burhan dingin.Dina menoleh susah payah. Keningnya basah oleh keringat, napasnya masih terengah-engah. “N-nggak denger, Om. Beneran suer!”Burhan melirik sekilas ke arah luar pagar. Sosok Mbah Siti dan Bu Susi sudah benar-benar lenyap di ujung jalan setapak kebun. Suasana kembali lengang.Tanpa aba-aba, Burhan menyentakkan pinggulnya ke depan, lebih dalam dan tajam hingga batangnya menghantam telak rongga terdalam Dina.“Akhh!” Dina memekik tertahan, punggungnya refleks melengkung kaget.“Jangan bohong,” desis Burhan dingin, rahangnya mengetat rapat. “Kamu pasti denger soal Mang Maman yang nungguin kamu di rumah, kan? Nama juragan juga disebut Simbah tadi.”“Emmp ... i-itu denger dikit—ahh, Om, pelan dong! Jangan ngegas terus!” rint






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น