Share

Sentuhan Godaan Pagi Ini

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 11:30:46

Juned memegang kedua pundak Desi, menatap matanya dengan lekat.

​"Des, Mas pengen nemenin kamu, tapi Mas udah ditunggu sama anak majikan Mas, mau antar ke kampus," ucap Juned dengan nada bicara yang sangat lembut.

​"Yaaahh... majikanku lagi pada keluar kota semua... aku sendirian..." ucap Desi sambil menunduk lesu, wajahnya tampak sangat kecewa.

​Juned tersenyum tipis melihat reaksi itu, ia mengusap kepala Desi deng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pelayanan Yang Tak Tertandingi

    Ratna langsung mendorong pelan bahu Juned, merapikan bajunya yang sedikit berantakan dengan gerakan kilat sebelum berlari menuju kamar. Juned hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang tadi sempat memompa cepat. ​"Ned! Ambilin air hangat ya!" teriak Ratna dari dalam kamar, suaranya terdengar sangat khawatir. ​Juned segera bangkit, melangkah ke dapur dengan terburu-buru. Ia menekan tuas dispenser, menunggu gelas terisi penuh dengan air hangat, lalu bergegas menyusul ke kamar. Di sana, suasana tampak riuh; Maudy meringkuk di atas kasur sambil memegangi perutnya, sementara Ratna sibuk mengoleskan minyak kayu putih ke perut putrinya itu. ​"Ini airnya, Na," ucap Juned sambil memberikan gelas tersebut. "Kenapa perutnya, Dy? Sakit banget?" ​Maudy hanya merintih pelan sebagai jawaban, wajahnya sedikit pucat. ​"Enggak tahu ini, kayaknya gara-gara kebanyakan m

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Bimbang Dalam Persembunyian

    Juned mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa keraguan yang menyesakkan dadanya. Ia menatap Ratna lekat-lekat, menyadari bahwa wanita di depannya ini tidak akan berhenti sebelum mendapatkan kepastian. ​"Selama itu bisa aman untuk kita, ya mungkin untuk sementara sampai aku benar-benar nemu cara lain, aku nggak masalah," ucap Juned dengan nada rendah namun mantap. ​Ratna tampak sedikit lega, binar matanya kembali cerah mendengar jawaban itu. Ia hendak membuka suara, namun Juned segera mengangkat tangan, memberikan isyarat agar ia tidak terlalu bereaksi berlebihan. ​"Tapi ada syaratnya, Na," lanjut Juned serius. "Yang penting jangan terburu-buru. Aku nggak mau rencana ini malah jadi bumerang karena kita terlalu bernafsu ingin meresmikan semuanya." ​Ratna tersenyum tipis, lalu meraih tangan Juned dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Aku mengerti. Pelan-pelan asal selamat, kan? Yang penting aku sudah tahu j

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keinginan Yang Dinanti

    Maudy menghempaskan tubuhnya ke sofa di samping Juned, lalu meletakkan bungkusan plastik berisi vitamin dan beberapa botol minuman ke atas meja kayu. Ia tidak segera beranjak, melainkan menyipitkan mata menatap Juned dan Ratna bergantian dengan penuh selidik. ​"Ayo, lagi bahas apa kalian? Serius amat sampai namaku disebut-sebut tadi," tagih Maudy, tangannya bersedekap di dada. ​Ratna berdehem pelan, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat tegang. "Itu... Mama lagi tanya ke Mas Juned, kira-kira kamu kapan wisudanya? Perasaan kuliah nggak selesai-selesai," jawab Ratna cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada bicara yang dibuat sesantai mungkin. ​Juned langsung menangkap kode dari Ratna dan ikut menimpali sambil menyandarkan punggungnya. "Iya, jangan kelamaan kuliahnya, Dy. Mas aja sampai bosan dengar kamu bahas tugas terus tapi nggak lulus-lulus," canda Juned demi mencairkan suasana. ​Maudy langsung mengem

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kejujuran dan Pengakuan

    Juned perlahan bangkit dari pangkuan Ratna, lalu duduk tegak dengan raut wajah yang mendadak serius. Ia menatap lurus ke depan, seolah sedang menyusun kepingan memori yang selama ini ia simpan rapat. ​"Sebenarnya... aku udah tahu soal perselingkuhan Lusiana dan Tuan Besar," ucap Juned pelan namun tegas. ​Ratna tersentak, posisi duduknya langsung berubah tegak. "Maksud kamu? Kamu tahu dari mana, Ned?" ​"Aku nemu beberapa bukti yang kuat banget," jawab Juned sambil menoleh ke arah Ratna. "Awalnya, aku nggak sengaja lihat dua booking pass di laci meja ruang kerja Tuan Besar. Atas nama dia dan Ibu Lusiana di tanggal dan tujuan yang sama." ​Ratna terdiam, matanya menyipit seolah sedang mengingat-ngingat sesuatu. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan itu sebelum Juned melanjutkan bicaranya dengan nada yang lebih rendah. ​"Aku penasaran. Aku coba cari bukti lain dengan caraku sendiri," lanjut Juned. ​

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Terkuras Lemas

    Lampu kamar sudah dipadamkan, menyisakan cahaya remang dari lampu sudut yang memberikan semburat jingga di atas ranjang. Juned berbaring telentang dengan tangan terlipat di atas perut, matanya terpejam rapat mencoba menjemput kantuk lebih awal. ​Namun, di sisi kiri dan kanannya, suasana sama sekali tidak tenang. Maudy terus bergerak gelisah, sementara Ratna berkali-kali memperbaiki posisi bantalnya sambil sesekali melirik ke arah Juned. ​"Mas... beneran nih? Nggak ada menu tambahan malam ini?" bisik Maudy sambil menyenggol lengan Juned, suaranya terdengar sangat berharap di tengah keheningan. ​Juned tidak bergeming, kelopak matanya bahkan tidak bergetar. "Tadi Mas bilang apa? Tidur, Dy. Mas mau istirahat." ​Ratna yang berada di sisi kanan menghela napas panjang, sengaja mengeluarkan suara embusan napas yang terdengar sangat kecewa. Ia menggeser tubuhnya hingga menempel ketat di sisi Juned, lalu berbisik pelan di telinga pri

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Wanita Dewasa Yang Kekanak-kanakan

    Mentari pagi Raja Ampat menyelinap masuk lewat celah gorden, memantulkan cahaya di atas lantai kayu villa. Juned sudah berdiri di teras dengan kaus polo santai, sementara Ratna dan Maudy keluar dengan pakaian musim panas yang tipis dan kacamata hitam bertengger di kepala mereka. ​"Wah, airnya lebih bening daripada kemarin ya!" seru Maudy sambil melangkah riang menuruni anak tangga kayu menuju jalan setapak. ​Ratna berjalan di samping Juned, sesekali lengannya bersentuhan sengaja dengan lengan Juned saat mereka melewati rimbunnya pepohonan tropis. "Ned, bawa tasnya jangan di belakang terus, sini biar agak santai jalannya," ucap Ratna lembut sambil menarik pelan pundak Juned agar sejajar dengannya. ​Mereka menyusuri jembatan kayu panjang yang membelah air laut jernih. Di bawah mereka, gerombolan ikan warna-warni berenang bebas di sela-sela terumbu karang. ​"Mas Juned! Sini cepat, fotoin aku di sini!" p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status