"Kar, satu Garuda juga udah tau ya pas kak Shaka cegat motor lo waktu di parkiran. Apalagi ada yang sempet moto mata lo yang merah waktu itu. Akun gosip sekolah semuanya isinya tentang lo sama kak Shaka."Sekar cemberut. Kenapa murid Garuda malah ribut mengurusinya."Kar, jadi lo nangis di taman itu karena kak Shaka? Dia ngapain lo?" Ucap Bella."Bukan apa-apa, kok. Lo gak perlu khawatir.""Pokoknya kalo ada apa-apa lo harus cerita ya. Bella siap jadi pendengar yang baik.""Iya iya, bawel." Sekar terkekeh sebelum kemudian menutup sambungan telepon mereka.Shaka yang diam-diam menempelkan telinga di depan pintu kamar Bella menghela nafas berat dan meninggalkan kamar bella dengan lunglai.Sekar baru saja meletakkan kembali ponselnya tapi lagi-lagi ponselnya berdering. Sekar melihat ternyata lagi-lagi orang itu lah yang menelponnya. Dari kemarin orang itu terus menghubunginya. Sekar mendengus sebal dan mendiamkan panggilan itu. "Kok gak diangkat, Kar? Cowok lo ya?" Bintang menoel-noel ta
"Adeknya abang Pet," Petra memanggil lagi.Sekar tetap bungkam. Matanya menatap tajam Petra sebelum membuang muka.Petra menggaruk sisi kepalanya. Mencoba mengingat dosa apa yang sudah dilakukannya pada tuan putri. "Adeknya abang, maapin abang Pet ya kalau abang ada salah."Sekar mendelik sebal dan kembali membuang muka."Lo tadi malam janji mau bawain Sekar mangga muda pagi ini, Pet." Kayden membantu Petra. Hanya dia yang menyadari wajah masam Sekar dan bisa menebak penyebabnya."Allahuakbar. Kesayangan abang, maapin abang udah khilaf ya." Petra langsung mendekati Sekar dan menggenggam tangannya."Tau ah!" Sekar memiringkan tubuhnya tak ingin melihat muka Petra.Gara-gara kemarin John membahas mangga muda pak RT, seharian Sekar terus terbayang buah asam itu. Petra ingat bahwa tetangga di samping rumahnya memiliki pohon mangga yang sudah berbuah jadi dia menjanjikan akan membawakannya untuk Sekar pagi ini. Tapi ternyata
"Kar," Bella memanggil Sekar yang sedang menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Gadis itu menguap sebentar. "Ngapa, Bell?" tanya Sekar. "Kantin yuk!" Ucap Bella. Dia menggoyang tangan Sekar. Barusan Shaka mengirimi chat pada Bella untuk mengajak Sekar ke kantin.Sekar menggeleng, "Lo sendiri aja gapapa, ya. Gue masih ngantuk."Sekar menguap lagi. Pura-pura. Sebenarnya dia tidak ingin ke kantin karena merasa tidak nyaman dengan tatapan para murid yang tertuju padanya. Seperti tadi pagi.Dan yang utama, Sekar malas ke kantin karena tidak ingin melihat Shaka.Bella menghela nafas. "Yaudah lo mau nitip apa, nanti gue beliin.""Gak usah. Gue udah bawa bekal roti, kok." Sekar menepuk tasnya yang sedikit menggembung. Akhirnya Bella ke kantin sendirian. Dia duduk di meja yang sama dengan Shaka dan teman-temannya."Dia gak masuk, ya?" tanya Shaka begitu Bella duduk. Bella menggeleng, "Masuk. Tapi Sek
Dewo sebenarnya tidak puas dengan jumlah segitu tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Apalagi Sekar sudah bawa-bawa Oma."Omong-omong kakakmu bulan depan ulang tahun. Ada koleksi perhiasan keluaran baru kalau kamu mau kasih kado." Dewo mengingatkan Sekar. "Hmm" jawab Sekar singkat. Sebuah keharusan untuk Sekar mewujudkannya."T-tangan ayah kenapa?" tanya Sekar pelan. "Ketumpahan kopi sama OB di kantor."Dewo tak berlama-lama lagi. Setelah menyampaikan keperluannya, dia meninggalkan Sekar tanpa menyentuh kopi yang dipesankan Sekar.Sekar menatap punggung ayahnya yang semakin mengecil dengan tatapan sendu. "Sekar ulang tahun bulan kemarin, jangankan nyiapin kado. Ayah ingat aja Sekar gak yakin."***"Loh, balik lagi?"Sekar menatap Kayden sinis. Tidak ada larangan untuk menjenguk pasien lebih dari satu kali. Kenapa pula Kayden repot-repot mengurusinya."Calon imamkuh," Sekar tak meladeni Kayden la
"Gue ke kelas lagi aja deh." Sekar melengos."Ih becanda, Sekar." Bella merengek. Dia memegangi tangan Sekar agar tidak benar-benar meninggalkannya."Tapi kata anak-anak lo udah baikan sama kak Shaka." Bella berbisik pelan."Mana ada!" Sekar ngegas."Katanya tadi pagi Kak Shaka nyamperin lo ke kelas. Dia senyum-senyum habis dari sana." Bella bertanya lagi."Dia senyum bukan berarti ada sangkut-pautnya sama gue." Sekar mendengus sebal. Apalagi menyadari hampir seluruh pasang mata di sana memperhatikan ke arahnya dan Shaka bergantian. Dia merasa murid di Garuda ini tidak ada kerjaan sampai mengurusi kehidupan orang lain."Ternyata belum baikan, ya?" Bella meluruhkan pundak. Padahal dia sudah sangat berharap mereka benar-benar berbaikan.Di sudut kantin, Evelyn mengaduk nasi gorengnya dengan ganas. Dia tidak suka dengan cara Shaka menatap Sekar. Shaka miliknya. Hanya miliknya.°°°Pagi berikutnya, dengan s
Gio mengangguk. "Gue selalu bawa kotak itu kemana pun satu bulan ini. Jaga-jaga kalau gak sengaja ketemu lo. Suka, kan?"Sekar mengangguk, Gio langsung memasangkannya di tangan kanan Sekar."Sebenarnya gue bikin dua lagi, buat Kayden juga. Tapi dia gak mungkin mau nerima sekarang." Tak lupa Gio menunjuk gelang dengan model yang sama yang melingkar di tangan kanannya.Sekar terdiam. Dia juga tidak bisa apa-apa. Padahal dulu mereka tidak terpisahkan sampai banyak yang mengira mereka kembar tiga. Tapi sekarang...."Bang Kay ngapain aja pas nyerang lo?"Gio cemberut. Mukanya sudah sehancur ini, apa masih harus bertanya lagi. "Hobi banget lo bikin orang kesel.""Ya emang salah lo, ya." Sekar merebut telur gulung di tangan Gio. Miliknya sudah habis duluan.Sebenarnya masih ada tiga bungkus siomay dan bakso bakar, tapi Sekar rencananya ingin menyimpan untuk dia bawa pulang."Kayden gak cerita ke lo? kasian." Gio menjul
Sekar bertepuk tangan saat mendapati tidak hanya tiga, tapi lima batang cokelat begitu dia memeriksa laci. "Woahh. Ada lima!"Shaka yang diam-diam mengintipnya terkekeh gemas. Sekarang dia percaya dengan yang dibocorkan Bella bahwa Sekar memang pecinta makan. Shaka meninggalkan kelas Sekar dengan hati yang berbunga-bunga. Dia tersenyum di sepanjang koridor°°°"Udah berapa kali gue peringatin lo buat jauhin Shaka gue!"Sekar membuang pandangan. Dia sedang makan cokelat manis dari Shaka tadi pagi tapi rasa manisnya langsung hilang karena kemunculan Evelyn."Gue lagi ngomong sama lo!" Evelyn menggeram karena Sekar tak mendengarkan. Kakinya menghentak kesal. Sekar meliriknya malas. Ckck bocah. Sekar mendumel dalam hati."Gue gak tertarik sama dia!"Evelyn tak percaya. "Lo ngomongin apa sama Shaka tadi pagi di gerbang sampai bisik-bisik?"Sekar terkekeh. "Lo penasaran?" Sekar mendekatkan wajahnya, "tanya aja sama Sh
"Sudah selesai?" Dimas bertanya seperti orang yang tidak saling mengenal.Sekar segera mundur. Dia memonyongkan bibirnya karena diabaikan. Tadi saja sok suci menegur dia. Jika bukan orang tua pasti sudah Sekar tonjok.Dimas memperhatikan Sekar yang mulai mengendarai motornya. Pandangannya rumit. Dia sebenarnya sudah lupa siapa nama gadis itu. Dimas ingat anak itu suka mengintili anaknya sejak Kayden kelas tiga SD. Dimas jarang pulang ke rumah, tapi saat dia pulang dia akan selalu melihatnya di sekeliling Kayden.Sampai saat masuk SMA Kayden memilih tinggal di apartemen, Dimas tidak pernah melihat gadis itu lagi. Dia hanya tau dari Rendi bahwa Kayden sering mengunjungi Farah bersama gadis itu. Dia tidak tau Kayden ada hubungan apa dengannya. Dia juga sebenarnya tidak begitu peduli. Yang dia pedulikan di dunia ini hanya Farahnya seorang.°°°"Hai, babu babuku."Sekar memasuki Rumah Sendiri dengan bertingkah seperti berjalan di atas