分享

Bab 2

作者: ararasa
last update publish date: 2026-07-29 11:18:18

Agnes sedikit terkejut dengan antusias Deri yang langsung membicarakan soal uang. “Kebetulan jadwal saya siang ini kosong. Silakan datang ke klinik.”

“Baik. Saya akan datang secepatnya. Terima kasih.”

Agnes langsung menyimpan ponselnya di atas meja dan membuka laptopnya. Ia membuka data pasien lamanya untuk mempelajari ulang beberapa kasus berat yang pernah ditanganinya.

**

Dua jam kemudian, terdengar samar-samar suara Lina bicara dengan seseorang di lobi klinik.

Agnes masih serius membaca file di laptopnya, sesekali ia menulis sesuatu di buku catatannya.

Terdengar suara ketukan pintu.

“Ya?” Agnes menatap ke pintu sambil menutup buku catatannya.

Lina membuka pintu dan mengantarkan seorang pria masuk ke ruangan, “Pasien atas nama Deri Maryadi, mbak.”

“Selamat siang,” Agnes berdiri dan mengulurkan tangan pada Deri yang membawa tas selempang warna hitam.

Deri menjabat tangan Agnes secara singkat, “Siang, mbak.”

“Silakan duduk,” Agnes tersenyum sambil memperhatikan Deri yang tampak gugup.

‘Mungkin ini pertama kali dia datang ke psikolog,’ pikir Agnes.

Deri duduk di kursi, bersamaan Lina menutup pintu ruangan.

“Makasih, mbak,” Deri merapikan rambutnya yang klimis, seperti kebanyakan memakai minyak rambut. Ia memakai kaos polos yang dimasukkan ke dalam celana bahan sehingga terlihat jelas ikat pinggang dengan kepala sabuk berwarna silver menyilaukan.

“Boleh diceritakan keluhannya?”

“Sebenernya begini, mbak. Sebenernya, bukan saya yang harusnya ke sini.”

Agnes kaget, “Maksudnya?”

Deri menelan ludah, “Sebenernya, bos saya yang harusnya ke sini.”

“Siapa bos kamu?”

“Ehmm…,” Deri terlihat ragu, “nama bos saya, Daniel.”

“Lalu kenapa dia tidak datang langsung, kenapa kamu yang datang?”

“Karena saya mau memastikan satu hal.”

“Yaitu?”

“Bos saya bersedia membayar mahal dengan catatan tidak boleh ada yang tahu bahwa bos saya pernah konsultasi ke klinik ini.”

Kedua alis mata Agnes bergerak naik. Ia menghembuskan napas berat, “Klinik ini sudah memiliki izin praktek resmi. Saya sebagai psikolog sama seperti dokter, terikat sumpah untuk tidak membocorkan data pasien. Jadi bisa saya pastikan, siapa pun yang konsultasi di sini akan terjaga kerahasiaannya.”

Deri mengangguk pelan, “Iya, saya mengerti itu. Tapi bukan cuma data, saya minta nama bos saya tidak tercatat sama sekali sebagai pasien di klinik ini.”

Agnes menahan reaksi kebingungan di wajahnya. ‘Siapa sebenarnya orang yang ingin konsultasi padanya? Kenapa harus serahasia ini?’

“Bagaimana pun juga, bos anda yang harus datang sendiri ke sini. Saya tidak bisa menjaga kerahasiaan itu, karena di sini ada orang lain selain saya.”

“Untuk itu. Bos saya minta agar sesi konsultasinya dilakukan setelah jam tutup klinik,” kata Deri sambil merapikan kerah bajunya yang sudah rapi.

“Klinik ini tutup jam 9? Anda minta saya lembur?” dahi Agnes berkerut mendengar permintaan yang semakin mencurigakan.

“Jadi mbak Agnes menolak?”

Deri kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan amplop coklat berisi uang tunai. “Ini uang muka untuk sesi pertama.”

Agnes menatap amplop coklat gemuk di atas meja. Ia teringat persoalan debt collector yang akan mengambil rumahnya. Dengan uang ini, pasien ini, mungkin ia bisa membuat mamanya tidak jadi menjual rumahnya. Ia lalu menatap mata Deri dan mengangguk perlahan.

“Baik. Terima kasih.” Deri berdiri sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum. Ia tidak terlihat gugup lagi.

“Tapi perlu saya tekankan. Sesi terapi ini bersifat profesional,” kata Agnes sambil menjabat tangan Deri.

**

“Sebetulnya siapa pasien yang seharusnya konsultasi dengan saya, dok?” tanya Agnes pada dr. Indra ditelepon. Ia berdiri mondar-mandir di ruangannya. Sesekali ia melihat ke luar jendela. Jam tangannya menujukan pukul sembilan malam. Pasien yang dikatakan akan datang malam ini, belum juga terlihat.

“Memang kamu tidak bertanya siapa namanya?”

“Iya. Saya tanya. Namanya Daniel. Daniel siapa sih? Orang penting? Pejabat? CEO?” Agnes menghela napas, kesal.

“Dia …,” dr. Indra terdengar gugup, “orang kaya yang punya penyakit psikosmatis seksual. Kamu harus bantu dia.”

“Iya, tapi saya juga harus tahu dong, siapa dia?”

“Nanti juga kamu akan tahu siapa dia.”

Tiba-tiba sinar menyorot ke dalam jendela dari arah parkiran, sehingga membuat Agnes berpaling. Ia menyudahi telepon dengan dr. Indra, lalu memperhatikan mobil mewah warna putih parkir di depan kliniknya.

Karena ini sesi khusus dan memang rahasia, Agnes menyuruh Lina pulang lebih dulu.

Seharusnya ia bergegas keluar ruangan dan menunggu pasien ini di lobi, tapi ia terpaku. Matanya membesar melihat sosok pria yang turun dari mobil mewah itu. Ternyata orang kaya yang memiliki penyakit psikosomatis seksual itu adalah seorang …

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 8

    “Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 7

    “Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 6

    Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 5

    Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 4

    Jam di ponselnya Agnes sudah menunjukan hampir pukul 10 malam. Agnes membaca setiap berkas yang diberikan Daniel dengan seksama. Ternyata semuanya mengatakan bahwa seluruh fungsi organ reproduksi pria yang ada di hadapannya berada dalam kondisi yang sehat.‘Dia konsultasi ke tiga dokter andrologi, berarti dia memang memiliki masalah seksual. Tapi seperti apa tepatnya? Apa hanya masalah kenyamanan saat berhubungan? Atau apakah respon terhadap rangsangannya lambat? Atau jangan-jangan sama sekali tidak… Tapi dari hasil pemeriksaan ini semua, tidak menujukkan adanya indikasi impotensi.’Dari balik berkas, Agnes melirik Daniel yang ternyata masih terus memandangnya. Ia mengalihkan pandangan dan langsung kembali pura-pura membaca berkas, lalu lanjut berpikir.‘Tapi dr. Indra tadi bilang, aku bisa menyembuhkannya. Berarti dia memang punya masalah mengenai fungsi seksual. Bukannya dia mau menikah? Jadi ini alasannya dia dikirim padaku, karena dia harus segera ditangani.’Tanpa berekspresi, Ag

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 3

    Daniel Mathew, aktor tampan papan atas yang disukai semua perempuan - termasuk Agnes - turun dari mobil mewah warna putihnya. Dengan menggunakan long coat hitam, ia menyembunyikan wajahnya di balik hoodie dan melangkah ke arah pintu masuk klinik, sambil membawa tas map yang terbuat dari kulit.Agnes bergegas keluar dari ruangan untuk menyambut Daniel. Ia tiba di lobi bersamaan dengan Daniel masuk ke dalam klinik.Mereka saling berpandangan.Jantungnya berdebar keras. Jari tangannya terasa semakin dingin. Tenggorokannya kering. Agnes menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia tidak menyangka bintang film dan bintang iklan dengan bayaran paling mahal, kini ada di hadapannya.Tiga hari yang lalu, ia - dan tentu saja jutaan fans Daniel lainnya - patah hati begitu mendapatkan kabar dari sebuah akun gosip yang mengunggah foto-foto lamaran Daniel dan calon istrinya, seorang artis pendatang baru bernama Sabina. Akun gosip itu juga membocorkan hari pernikahan Daniel bulan dep

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status