로그인Daniel Mathew, aktor tampan papan atas yang disukai semua perempuan - termasuk Agnes - turun dari mobil mewah warna putihnya. Dengan menggunakan long coat hitam, ia menyembunyikan wajahnya di balik hoodie dan melangkah ke arah pintu masuk klinik, sambil membawa tas map yang terbuat dari kulit.
Agnes bergegas keluar dari ruangan untuk menyambut Daniel. Ia tiba di lobi bersamaan dengan Daniel masuk ke dalam klinik.
Mereka saling berpandangan.
Jantungnya berdebar keras. Jari tangannya terasa semakin dingin. Tenggorokannya kering. Agnes menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia tidak menyangka bintang film dan bintang iklan dengan bayaran paling mahal, kini ada di hadapannya.
Tiga hari yang lalu, ia - dan tentu saja jutaan fans Daniel lainnya - patah hati begitu mendapatkan kabar dari sebuah akun gosip yang mengunggah foto-foto lamaran Daniel dan calon istrinya, seorang artis pendatang baru bernama Sabina. Akun gosip itu juga membocorkan hari pernikahan Daniel bulan depan, dengan menggunakan tagar haripatahhatinasional. Topik Daniel Mathew akan menikah lansung menjadi trending topik di media sosial.
@kyuti2001 : Tidaaak. Daniel ku diambil orang! (emoji menangis)
@Reni_laura : Fix, bulan depan bakalan jadi bulan patah hati nasional. Aku nggak mau kuliah, mau bergalau ria aja. (emoji patah hati)
@Cimolimut : Sabina cantik sih, tapi kayaknya Daniel lebih cocok sama yang berpendidikan gitu, nggak sih? Kayak aku! (emoji tertawa)
@Tantegemoy : Ah, paling juga habis nikah langsung pisah, kayak artis-artis kebanyakan. (emoji mencibir)
Meski termasuk pengagum Daniel, Agnes tidak begitu merasa patah hati, karena ia sadar bahwa Daniel hanyalah seorang manusia biasa yang kebetulan berprofesi sebagai pemain film. Bisa jadi sosok Daniel sebagai seorang pria yang romantis, perhatian, serba bisa, yang dilihatnya di film atau media sosial, bukan lah kepribadian Daniel yang sebenarnya.
Namun itu dulu, sebelum ia menatap langsung sosok Daniel di depan mata. Ternyata berhadapan dengan Daniel secara langsung membuat kedua lututnya terasa lemas.
Daniel melangkah perlahan mendekati Agnes yang masih terdiam terpaku.
‘Jadi pasien yang identitasnya tidak ingin diketahui semua orang adalah Daniel Mathew?’ tanya Agnes dalam hati.
Agnes masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia menarik napas panjang dan perlahan untuk menenangkan dirinya. Ia harus tetap profesional.
Daniel semakin dekat. Wangi parfum tubuhnya Daniel semakin jelas merasuki badan Agnes.
‘Astaga, kulitnya halus sekali, badannya wangi sekali.’
Agnes tiba-tiba mengedipkan mata dan menggelengkan kepalanya, karena kaget mendengar suara Daniel berdehem untuk menyadarkan Agnes yang sedari tadi menatapnya seperti tidak berdaya.
“Saya sudah ada janji dengan mbak Agnes Magnolia.”
“Saya…,” suara Agnes keluar serak seperti orang yang baru bangun tidur. Ia lalu berdehem untuk memperbaiki suaranya, sambil mengulurkan tangan, “saya Agnes.”
“Saya Daniel,” ketika Daniel menjabat tangannya, Agnes langsung merasakan aliran listrik menjalaran ke seluruh tubuhnya.
‘Profesional! Profesional! Profesional!’
Agnes mengangguk, menarik tangannya lalu berpaling dengan anggun. Meski lututnya masih sedikit bergetar, ia melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan badan tetap tegak. “Silakan masuk.”
Daniel masuk ke ruangan sambil membuka long coatnya, menyimpannya di kursi pasien. Agnes duduk di kursi terapis, sementara Daniel duduk di hadapannya, di kursi pasien.
“Sebelumnya. Boleh ceritakan keluhannya,” Agnes mengambil buku catatan di atas meja sambil menyilangkan kakinya.
“Tidak ada keluhan,” Daniel yang duduk dengan menumpukan kedua tangan di lututnya, bicara dengan nada datar. Matanya masih terpaku menatap Agnes, seolah ingin mengontrolnya.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Daniel, Agnes mengangguk perlahan. Ia sudah sering menemukan pasien pria yang datang dengan masalah berat, tapi terlalu gengsi untuk membicarakannya.
‘Kalau tidak ada keluhan, kenapa datang ke psikolog?’
Agnes sedikit jengkel, tapi ia berusaha untuk menahan ekspresinya tetap datar.
“Saya paham, tidak ada orang yang menginginkan sakit.” Agnes berusaha tenang.
“Saya tidak sakit.”
“Kalau begitu, kenapa anda datang ke seorang psikolog yang memiliki keahlian khusus di bidang terapi seksual?” tanya Agnes yang akhirnya tidak bisa menahan kekesalannya.
“Saya juga tidak tahu. Anda psikolognya, bukan saya.”
‘Astaga. Ternyata aktor yang dipuja semua perempuan, punya sifat yang menyebalkan seperti ini?’
“Biasanya, orang yang datang konsultasi pada saya, adalah orang yang memiliki masalah seksualitas. Ada yang kecanduan film porno. Ada yang impoten. Ada yang tidak mengerti bagaimana cara melayani pasangannya.” Agnes berusaha mencairkan suasana. “Kira-kira, apakah masalah atau keluhan anda, ada dari tiga contoh yang saya berikan?”
Daniel menggelengkan kepalanya, “Tidak ketiganya.”
“Saya diminta dr. Indra. Dokter andrologi, tentu saja, anda tahu itu,” dengan sedikit frustrasi Agnes menutup buku catatannya. Ia lalu mengambil ponselnya di atas meja, “Jadi untuk menyembuhkan penyakit anda. Berarti, masalahnya ada di seputar masalah reproduksi dan fungsi seksual pria. Kalau anda tidak mau menjelaskan keluhannya anda, mungkin sebaiknya saya konsultasi dengan dr. Indra.”
Daniel langsung mengenggam pergelangan tangan Agnes yang sedang memegang ponselnya untuk menelepon dr. Indra. “Kamu mau apa?”
“Telepon dokter Indra.”
“Tidak perlu. Semua hasil pemeriksaan ada di sini.” Daniel mengeluarkan berkas dari dalam tas map yang dibawanya, lalu menyodorkannya di atas meja.
Agnes terbangun dalam dekapan hangat yang melingkar posesif dari belakang tubuhnya. Udara pagi terasa begitu hening dan menenangkan, membawa kehangatan yang selama berbulan-bulan lalu seperti kemewahan yang tak tergapai. Ia membiarkan matanya terpejam sejenak, meresapi ritme napas teratur Daniel yang berhembus pelan di ceruk lehernya. Rasanya mustahil menyadari bagaimana jutaan beban, teror media, sangkaan hukum, dan trauma yang meremukkan jiwanya selama beberapa bulan terakhir ini mendadak hilang tanpa bekas—seolah terbawa angin laut yang berhembus melewatinya.Lirik matanya jatuh pada lengan Daniel yang kokoh, merengkuh pinggangnya erat seakan takut ia menguap bersama fajar.Memori lama mendadak berputar lambat di benaknya. Sepertinya baru kemarin, ia berdiri kaku menatap seorang pria tampan namun hancur yang melangkah masuk ke lobi kliniknya dengan pandangan mata mati. Sepertinya baru kemarin, jemarinya yang gemetar me
Bab 149Halaman belakang sebuah restoran kecil di pinggiran Jakarta sore itu tersulap menjadi oase kedamaian yang magis. Jauh dari kebisingan jurnalis dan kilatan lampu flash yang membakar, udara terbuka berembus lembut di antara rimbunnya pepohonan dan untaian lampu fairy light yang hangat. Sebuah altar kayu sederhana berdiri anggun di atas hamparan rumput hijau, dihiasi sulur-sulur bunga melati dan mawar putih yang memancarkan aroma harum menenangkan.Pernikahan itu sengaja dirancang begitu intim—sebuah suaka murni yang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat Agnes serta sahabat-sahabat inti Dan
Suara gemerinting sendok yang mengaduk cangkir kopi berpadu dengan derit kertas papan konsep yang terus dibalik di atas meja kayu panjang. Di dalam sebuah ruangan privat yang disewa khusus, atmosfer rapat persiapan pernikahan itu terasa begitu hidup. Arya duduk dengan dua laptop menyala di hadapannya, mencatat detail logistik dengan presisi tinggi. Celsi sibuk memeriksa daftar tamu dan rilis media yang sudah disaring ketat, sementara Vivi dengan antusiasme yang meletup-letup memamerkan lusinan papan sampel kain dan sketsa dekorasi di hadapan Daniel dan Agnes."Konsepnya simpel tapi elegan," ujar Celsi seraya membetulkan kacamata bacanya. "Lokasinya tertutup untuk publik, hanya keluarga dekat, sahabat, dan tim inti. Media hanya akan dapat dokumentasi resmi setelah acara selesai.""Aku setuju," sahut Daniel pelan, tangannya yang berada di bawah meja tak pernah melepaskan genggaman jemari Agnes. "Kita sudah cukup memberi makan konsumsi publik selama berbulan-bulan. Hari i
Ketukan palu majelis hakim sebanyak tiga kali bergema garang di seluruh penjuru ruang sidang, memecah ketegangan ekstrem yang telah membekukan udara selama berjam-jam. Amar putusan dibacakan dengan lantang dan tanpa keraguan: anak pejabat tinggi kepolisian serta saudara tiri Daniel—putra kandung Rudi Baskara—terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak kejahatan kekerasan seksual serta konspirasi kriminal terhadap Sabina. Putusan hukuman penjara bertahun-tahun resmi dijatuhkan kepada kedua pelaku.Ruang sidang seketika pecah dalam keharuan. Di barisan kursi pengunjung, Agnes menghembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan absolut. Di sampingnya, Daniel menggenggam erat jemari Agn
Dua bulan berlalu bagaikan siksaan panjang yang mengikis stamina jiwa. Setiap detik yang terbuang tanpa kepastian adalah siksaan tak kasat mata bagi Agnes. Hari ini, di bawah naungan langit siang yang terik, Agnes berdiri berdampingan bersama Monik dan Celsi di halaman luar Lembaga Pemasyarakatan sementara. Udara di sekitarnya terasa penuh oleh ketegangan, bercampur dengan riuh rendah gelombang wartawan yang sudah bersiap menanti momen sejarah kebebasan sang aktor.Pintu besi berderit terbuka. Sosok tinggi tegap yang sangat dirindukannya akhirnya melangkah keluar dari dalam lapas. Daniel berjalan menyongsong kebebasan dengan seulas senyum tipis yang merekah di wajah tampannya—senyum nyata pertama yang memancarkan pendar kehidupan setelah sekian lama padam. Matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Agnes, menatap wanita itu tanpa berkedip sedikit pun, seolah dunia di sekeliling mereka seketika menguap tak berbekas.D
Atmosfer di dalam ruang sidang utama hari itu terasa begitu berat, pengap, dan sarat akan ketegangan yang menekan dada. Agnes duduk kaku di barisan depan tepat di belakang Monik yang bergeming di kursi pengacara. Di belakang mereka, barisan bangku pengunjung dipadati oleh puluhan awak media dan wartawan yang saling berdesakan. Kilatan lampu kilat kamera dan dengung bisik-bisik spekulatif berkali-kali memecah keheningan, menciptakan riak kegelisahan yang tajam di udara.Dua orang petugas kepolisian memimpin jalan ketika pintu samping ruang sidang mendadak terbuka. Daniel melangkah masuk dengan tangan terikat, mengenakan kemeja putih polos yang sedikit kusut, lalu digiring untuk duduk di kursi tersangka y







