LOGINAgnes tidak mengira, setelah ia menceritakan bagaimana ia diusir dari kosannya dan sekarang tinggal di kontrakannya Vivi, Daniel langsung berubah drastis.
Daniel tampak marah dan diam sepanjang perjalanan. Ia juga menyetir dengan sedikit mengebut.
“Daniel, pelan-pelan!”
Daniel memelankan mobilnya.
“Kontrakannya di dalam komplek itu,” Agnes menujuk ke kiri depan.
Daniel mengarahkan mobilnya masuk ke dalam komplek perumaha
“Masuk,” ucap Vivi seraya memutar daun pintu, memberikan jalan bagi Agnes untuk menyusup ke dalam kehangatan huniannya.Agnes melangkah masuk dengan gestur yang rapuh, membawa serta beban keputusasaan yang masih menggelayut kaku di pundaknya. Ia menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai area menonton televisi, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam empuknya bantalan. Pandangan matanya menyapu sekeliling, mencari presensi lain. “Kakak kamu... ada di rumah?”Vivi menggelengkan kepala pelan. “Lagi ada jadwal terbang,” sahutnya ringkas. Tanpa membuang waktu, Vivi berjalan menuju area meja makan yang menyatu secara terbuka dengan ruang tengah. “Makan yuk, aku tadi sempat beli mi tektek.”“Aku masih kenyang, Vi,” tolak Agnes halus. Suaranya terdengar begitu tipis dan tak berdaya.“Makan berdua aja.
Ketukan pelan berturut-turut di pintu ruang kerja memecah keheningan yang sejak tadi membekap Agnes. Keheningan itu sebenarnya terasa sangat melelahkan, dipenuhi gema ingatan dan bayang-bayang kecemasan yang tak henti-hentinya merayapi relung jiwanya. Ruang konseling yang biasanya menjadi suaka tempat ia mengurai benang kusut kehidupan orang lain, kini terasa seperti kurungan dingin yang menghimpit dada.“Masuk,” ucap Agnes pelan, memaksakan intonasi suaranya agar terdengar tegar dan profesional.Pintu kayu beritur halus itu terdorong terbuka, menampilkan sosok Lanang. Pria itu menyunggingkan senyum hangat yang jujur tanpa selubung pretensi—sebuah kontras yang cukup menyegarkan di tengah atmosfer klinik yang mencekam sejak skandalnya mencuat. Lanang mengangguk sopan, meminta izin untuk masuk dan mengajak Agnes berbincang sejenak mengenai sebuah kasus yang membingungkannya.Meskipun di dala
Tujuh fajar telah berlalu, dan setiap kali kelopak matanya terbuka menyambut terang, Agnes terbangun dengan perasaan hampa yang pekat. Ada beban tak kasatmata—seperti sebongkah batu raksasa—yang menindih tepat di tengah dadanya, menyiksa setiap helaan napas yang berusaha ia hirup. Tujuh hari berlalu, namun ingatan tentang malam itu tak pernah terkikis sedikit pun. Sensasi dingin dan sayatan perih ketika Daniel membanting pintu penthouse itu masih terngiang begitu nyaring di telinganya, menyisakan gema keputusasaan yang terus berulang tanpa ampun.Setiap pagi, dalam remang ruang tengah yang lengang, ilusi tentang Daniel kembali merayap menguasai pikirannya. Agnes masih bisa membayangkan gambaran itu dengan teramat jelas: Daniel yang berdiri tegap di sudut dapur dengan kaus olahraga yang basah oleh keringat, napasnya sedikit memburu setelah berlari, lalu meneguk protein shake hingga kandas dalam satu tegukan panjang. Pria itu selalu memiliki aroma keringat yang mask
Hening yang membekukan melapisi seluruh kabin mobil yang dikemudikan oleh Deri. Sepanjang perjalanan membelah riuhnya lalu lintas kota menuju penthouse, tak ada satu pun patah kata yang terucap dari bibir Daniel maupun Agnes. Lidah mereka seolah terkelu oleh krisis emosional yang teramat dahsyat, meninggalkan atmosfer berat yang menyesakkan dada. Deri yang mengemudi di depan pun hanya bisa melirik dari kaca spion dengan raut prihatin yang amat dalam, tak berani memecah keheningan yang sarat akan duka tersebut.Bayangan kejadian beberapa puluh menit lalu masih berputar liar di kepala Agnes, menggeledah sisa-sisa kewarasannya. Tepat setelah Sabina mengambil alih podium dan dengan nada penuh kebanggaan mengumumkan pernikahan dirinya dengan Daniel—pada tanggal dan lokasi yang sama persis dengan yang telah direncanakan Daniel untuk Agnes—dunia Agnes rasanya runtuh seketika. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Agnes melangkah kaku melarikan diri ke dalam ruang tunggu.
Agnes terpaku kaku di balik meja panggung, menjadi pusat gravitasi dari pusaran teror yang melumpuhkan jiwanya. Di hadapannya, puluhan wartawan menatapnya dengan binar lapar akan sensasi, sementara tim Daniel—Celsi, Monik, dan Jemima—menanti pernyataan resminya dengan napas tertahan. Namun, pusat penderitaan Agnes sesungguhnya tertambat pada dua sosok di barisan paling belakang: Rudi Baskara yang berdiri dengan raut angkuh bak algojo, serta Sabina yang menyunggingkan senyum kemenangan yang memuakkan. Di antara lautan manusia itu, mata Agnes tak sengaja menangkap sosok Vivi. Sahabatnya itu menatapnya dengan dahi berkerut dalam, ratusan kerutan kecemasan terpatri jelas di wajahnya.“Ada apa?” bibir Vivi bergerak pelan tanpa suara dari kejauhan, menyuarakan firasat buruk yang mendadak mencengkeram dadanya.Agnes tidak sanggup membalas isyarat itu. Ia terkunci dalam tatapan mata Rudi yang tampak sangat tajam menembus sukma—sebuah tatapan yang membawa ancaman impli
Hari Konferensi Pers.Pagi itu, atmosfer di dalam gedung tempat konferensi pers berlangsung terasa sangat pekat, berdenyut oleh ketegangan yang merayap hingga ke pori-pori. Ruang utama disulap menjadi panggung drama raksasa tempat masa depan Agnes dan Daniel dipertaruhkan. Puluhan wartawan dari berbagai media cetak, televisi, dan portal berita memadati barisan kursi. Kilatan lampu kilat kamera berkedip tak henti-hentinya, menciptakan pendar cahaya yang menyilaukan. Di atas meja panjang bertatap kain hitam, belasan mikrofon berdiri berderet menanti kalimat pertama yang akan terucap.Di sudut-sudut ruangan dan koridor, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap berdiri siaga dengan wajah kaku. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk mengantisipasi gejolak atau gangguan dari luar mengingat panasnya isu skandal yang membelit Daniel. Namun bagi Agnes, keberadaan seragam polisi itu justru makin mempertegas betapa mencekamnya situasi ini. Setiap ge







