MasukJemmy malah tidak ingin Hallie pergi mengganggu Sonia dan temannya. “Hallie juga tidak kenal sama yang lain. Duduk di sana, malah jadi canggung, lebih baik dia kembali untuk tidur saja.”Hallie berkata dengan tersenyum, “Benar apa kata Kakek Jemmy. Aku merasa sedikit capek, ingin pulang untuk tidur.”“Kalau begitu, pergi bersama saja!” Aska juga tidak berkata lain lagi.Robi terus berjaga di samping. Saat ini, ketika melihat Jemmy dan yang lainnya berdiri, dia segera mengatur mobil kemari mengantar Jemmy dan Aska pulang untuk beristirahat.Reza juga berjalan kemari. Dia bersama Sonia pergi mengantar Jemmy dan Aska.Jemmy juga sengaja memanggil Reza ke depan mobil. Dia berpesan beberapa hal, Reza pun mendengar dengan serius.Setelah mobil mulai melaju, Sonia baru bertanya pada pria di sampingnya, “Apa yang Kakek katakan sama kamu?”Reza menggenggam tangan Sonia, lalu berjalan ke sisi jamuan. Dia memalingkan kepalanya, lalu tersenyum lembut. “Kakek memujiku!”Sonia telah mengganti mahkot
Hari ini, Aska merasa gembira. Dia juga tidak perhitungan terhadap Sonia.Hallie berjalan ke hadapan Sonia, lalu berkata dengan suara lembut, “Sonia, aku juga mau ngomong sama kamu, tapi nggak ada kesempatan.”Sonia menegakkan tubuhnya. Tatapannya kelihatan berkilauan. “Katakanlah!”Hallie berkata dengan tersenyum, “Pertama-tama, hari ini kamu cantik sekali. Pengantin pria juga tampan sekali!”Sonia pun tersenyum. “Terima kasih!”Tatapan Hallie semakin tulus. “Di dalam hatiku, selain Kakek, kamu adalah orang terpenting dalam hidupku. Tanpa kamu, aku pun sudah mati sejak awal, nggak mungkin akan datang ke Kota Jembara, apalagi kenal dengan Kakek. Hari ini, aku juga sudah ketemu sama Ibu. Aku benar-benar merasa sangat gembira!”Jemmy mengomel di samping, lalu berkata, “Di hari berbahagia ini, kenapa malah membalas soal mati? Semua orang bahas hal yang lebih menyenangkan saja!”Hallie tidak berhenti mengangguk. Dia mengangkat tangannya untuk menyeka ujung matanya. “Aku merasa agak emosion
Sonia pergi menemani Jemmy sebentar.Kakek dan cucu itu duduk di koridor yang tenang, memandang orang-orang di pesta yang sedang mengobrol dan tertawa dengan riuh.Jemmy berkata dengan tersenyum, “Apa kamu merasa gembira?”Sonia memalingkan kepalanya, lalu mengangguk dengan serius. “Gembira!”Rasa gembira yang Sonia rasakan ini diberikan oleh Reza, kakeknya, dan abangnya. Dalam acara resepsi pernikahan hari ini, selain merasa terharu, dia juga lebih merasa berterima kasih.Ada begitu banyak orang sudah berusaha keras untuk menyenangkan Sonia. Mereka bahkan begitu detail dalam setiap sesi.Jemmy mengangguk dengan gembira. “Yang penting kamu merasa gembira!”Sonia bertanya, “Hari ini aku bertemu dengan Bibi Julia. Kami ngobrol sebentar. Dia tanya aku proses ketemu Hallie dengan detail.”Jemmy berkata dengan suara ringan, “Jadi, sebenarnya Julia juga peduli apakah Hallie itu putrinya atau bukan.”Seharusnya perasaan Julia juga sangat bertentangan. Dia berharap bisa menemukan putrinya, tet
Kening Morgan berkerut. Dia mengangkat tangannya untuk menahan kepala Theresia, lalu menyandarkannya kembali ke atas pundak. “Tidurlah!”Theresia membalas dengan patuh, “Emm.”Ternyata Theresia benar-benar memejamkan matanya.Namun baru beberapa menit berlalu, Theresia tidak bisa menahan dirinya lagi. Mata berkilauannya terus menatap jakun si pria. Jari tangannya mulai meraba ke bagian atas.Leher pria itu terlihat jenjang. Garis ototnya tampak tegas. Sementara tangan wanita itu putih mulus dan tanpa hiasan berlebihan di atas kukunya, hanya dilapisi kuteks transparan dengan kilau merah muda seperti bunga sakura, yang kini jatuh tepat di atas jakun pria itu.Theresia menyipitkan sedikit matanya, lalu berkata, “Apa aku boleh cium sebelah sini?”Tatapan pria itu melirik si wanita sekilas. Dia membuka sedikit bibir tipisnya. “Tidak boleh!”Theresia mengernyitkan keningnya. “Kenapa nggak boleh?”Kening si pria juga berkerut. “Theresia, apa kamu lagi pura-pura mabuk? Kalau kamu tidak mabuk,
Morgan dan Julia sedang mengobrol dengan santai. Tatapannya terus tertuju pada diri Theresia, Sirla, dan yang lain.Ketika melihat Theresia minum segelas demi segelas, kening Morgan pun semakin berkerut. Beberapa saat kemudian, Morgan berdiri. “Sepertinya dia sudah minum kebanyakan. Aku pergi lihat dia dulu.”Julia melihat jam tangannya sekilas, lalu mengangguk. “Waktu sudah malam. Aku juga sudah harus beristirahat. Kamu jaga Theresia dengan baik.”“Aku akan melakukannya!”Morgan sedikit mengangguk. Dia berjalan ke sisi Sirla dan yang lain dengan langkah besar.Theresia sedang memegang segelas anggur. Dia sedang mendengar Sirla menceritakan masalah seru di Barkia. Saat seorang pria berjalan ke belakangnya, mengambil pergi gelas di tangannya, dan meletakkannya di atas meja, Theresia baru membalikkan kepalanya. Seketika, Theresia tersenyum tipis. “Tuan Morgan, apa mau minum alkohol bersama?”Morgan menatap Theresia sekilas. Dia tahu bahwa Theresia sudah mabuk. Saat Theresia mabuk, tatap
Dengan begitu, Morgan pun tidak akan kesal saat ini.“Sepertinya Roger masih sangat menyukai Theresia, ingin mengejarnya kembali!” kata Julia, “Gimana kalau aku panggil dia kemari?”“Tidak usah!” kata si pria, lalu menunduk untuk meminum alkohol. Dia tidak ingin melihat ke arah Theresia.Beberapa menit kemudian saat Julia mengangkat kepalanya kembali, dia melihat ada 5-6 pria sedang mengerumuni Theresia. Mereka sedang bersenda gurau, hanya saja Morgan tidak bisa mendengar dengan jelas.Julia berkata dengan gugup, “Apa ada orang yang cari masalah di saat mabuk?”Morgan menatap orang-orang yang mengerumuni Theresia, tetapi dia malah tersenyum. “Bukan, kamu tidak usah peduli.”….Orang-orang yang mengerumuni Theresia adalah Sirla, Solmi, dan yang lain. Mereka beranggotakan banyak orang. Dalam seketika, Roger pun terdesak ke samping.Roger ingin meluapkan amarahnya, tetapi Sirla malah langsung merangkul pundak Solmi, berkata dengan cengengesan, “Kami itu temannya Nona Theresia, teman yang
Sonia mengabaikan orang-orang yang sedang menggosipnya. Dia kembali duduk di bangkunya, melanjutkan permainannya.Darren berjalan mendekatinya, lalu bertanya dengan terkejut, “Sonia, kamu bisa seni bela diri?”Sonia mengangguk. “Pernah belajar sedikit!”“Ini namanya sedikit?!” Darren menatap Sonia deng
Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Siska baru sampai di apartemen pribadi Jivan. Tadi malam tiba-tiba sutradara menambahkan satu adegan Siksa. Jadi, dia selesai kerjanya agak malam. Ditambah lagi, Siska takut dirinya akan dibuntuti oleh reporter. Makanya, Siska baru sampai semalam ini.Baru
Melvin tersenyum. “Aku akan pulang besok. Nanti aku bantu kamu untuk lampiaskan amarahmu. Tak peduli siapa lelakinya, aku pasti akan suruh mereka minta maaf sama kamu!”“Emm, nanti telepon aku kalau kamu sudah sampai di Kota Jembara!”Nancy dan Melvin mengobrol beberapa saat. Saat panggilan diakhiri,
Suasana seketika menjadi hening. Ini adalah taman belakang lokasi syuting, tempat biasa Sonia curi-curi istirahat. Jarang ada yang datang ke sini. Saat ini, hanya tersisa tiga orang di taman. Bahkan, angin yang berembus juga tidak berani bersuara.Reza melirik Sonia, lalu melirik Darren dengan tatapa







