Mag-log inJulia berusaha menahan air matanya, tetapi malah menetes. “Morgan, apa aku masih bisa menemukan Jeje?”Pada saat ini, Julia seolah-olah kembali ke masa Jeje baru saja menghilang dari sisinya. Morgan yang berusia belasan tahun itu datang ke Kota Jembara. Julia yang menangis dengan tersedu-sedu itu bertanya padanya dengan putus asa, “Morgan, apa aku masih bisa menemukan Jeje?”“Bisa!”Hari ini, Morgan juga memberinya jawaban yang sama. Tatapannya kelihatan tegas. “Kita lakukan tes DNA sekali lagi, ya?”Julia menatap Morgan dengan kaget. “Apa?”Aska juga seolah-olah menemukan harapan saja. Dia segera bertanya, “Apa ada kelalaian dengan tes DNA itu, apa hasilnya akan lebih akurat setelah melakukan tes ulang?”“Bukan!” Morgan menoleh melihat Theresia. Dia meraih pergelangan tangannya, lalu membawa Theresia berjalan keluar bayangan gelap. Dia berjalan ke hadapan Julia. “Bibi Julia, kali ini kamu lakukan tes DNA dengan Theresia.”Begitu Morgan menyelesaikan omongannya, semua orang pun terbeng
“Untung saja kamu sendirian hari ini!” kata Morgan dengan nada tidak hangat dan juga tidak dingin.Theresia pun terdiam.Sementara itu, Morgan juga tidak bermaksud untuk berbasa-basi. Dia langsung meraih pergelangan tangan Theresia, lalu memasuki mobil.Theresia berlari untuk mengejar langkahnya. “Ke mana?”Begitu datang langsung masuk ke topik utama? Apa waktu itu dia sudah beri sinyal yang salah kepada Morgan? Atau Tuan Morgan merasa bisnis ini sangat menguntungkan, jadi dia ingin mencari uang yang lebih banyak lagi?Seandainya transaksi akan lunas seperti itu, Theresia juga … bisa mempertimbangkannya ….Tentu saja Morgan tidak tahu imajinasi di dalam benak Theresia. Dia membuka pintu mobil samping pengemudi mempersilakan Theresia masuk ke dalam, lalu berkata dengan nada datar, “Ketemuan sama Bibi Julia!”Imajinasi Theresia langsung berhenti sampai di situ. Mata indahnya sedikit terbelalak. “Bukannya Bibi Julia … sudah kembali ke Kota Jembara?”“Emm,” jawab Morgan dengan singkat, lal
Sonia dan Rose sama-sama memapah Julia ke lantai atas, membiarkannya untuk istirahat sejenak. Reza pun menghubungi dokter. Dokter segera kemari.Aska yang berada di lantai bawah juga merasa syok ketika melihat Julia jatuh pingsan. Untung saja ada Jemmy yang menemani, dia pun merasa lebih tenang.…Di lantai atas, Vanz sedang berdiri di depan ranjang dengan kening berkerut. Terlihat ekspresi penuh rasa khawatir di atas wajahnya. “Julia, kamu jangan begini. Aku akan bantu kamu untuk cari putrimu. Aku pasti akan menemukannya.”Julia memejamkan matanya dan berkata dengan nada rendah, “Kamu keluar dulu. Aku mau tenangkan diri sebentar.”Sonia menyuruh semuanya untuk keluar. Dia menuangkan segelas air untuk Julia, lalu duduk di samping ranjang. Kelopak matanya diturunkan. Dia pun berkata, “Maaf, Bibi Julia.”Julia kelihatannya tidak peduli dengan Hallie. Sikapnya sangatlah dingin. Hanya saja, mana mungkin Julia tidak peduli dengan putrinya sendiri? Julia hanya tidak berani mengekspresikannya
Aska berkata, “Selama ini aku merasa aku tidak bersalah. Semua yang aku lakukan kepadamu juga demi kebaikanmu. Tapi setelah dipikir-pikir kembali, apa selama beberapa tahun ini kamu benar-benar melewati hari-harimu dengan baik? Aku memang pantas dimarah olehmu. Aku selalu bersikap egois dan dominan. Kelak, aku tidak akan ikut campur dengan apa yang kamu lakukan, yang penting kamu merasa gembira saja.”Ketika Julia mendengar ucapan ayahnya, tiba-tiba air matanya mengalir. Dia spontan memalingkan kepalanya.…Waktu ketika menunggu memang sangat menderita, tapi waktu empat jam juga sudah berlalu dengan sangat cepat. Morgan sudah mengendarai mobil pergi ke lembaga forensik. Setelah mendapatkan laporan hasil tes DNA, Morgan langsung memotretnya untuk Julia.Hasil tes DNA menunjukkan bahwa Julia dan Hallie tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Julia bukanlah ibu kandung Hallie.Setelah mengambil laporan, Morgan pun mengendarai mobil meninggalkan tempat.Di rumah Aska.Semua orang sedang
Hallie tersenyum dan berjalan maju. “Nggak secepat itu. Mesti empat jam baru bisa ada hasilnya. Kakek, kamu jangan buru-buru!”“Perlu selama itu!” Aska duduk, lalu melihat jam sekilas. Setiap detik terasa tersiksa baginya.Vanz bertanya pada Julia dengan perhatian, “Apa sakit ketika diambil darah?”Julia tersenyum datar. “Sedikit saja, tidak sakit.”Jemmy berkata, “Selagi menunggu, ada yang ingin aku katakan.”Semua orang langsung terdiam melihat ke sisi Jemmy.Jemmy berkata dengan perlahan, “Hasilnya cuma dua saja, kemungkinannya setengah-setengah. Kita semua mesti persiapkan mental. Seandainya Hallie adalah anggota keluarganya Aska, semua pun akan ikut berbahagia, tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Seandainya bukan, Julia, kamu juga jangan kecewa dan jangan salahkan Aska. Selama bertahun-tahun ini, dia tidak pernah melepaskan Jeje. Saat Jeje hilang waktu itu, dia tidak makan dan tidak minum, hampir saja ikut pergi. Kamu juga melihatnya.”Hidung Julia terasa tidak nyaman. Dia mengan
Hallie merenung sejenak, lalu mengangguk dengan linglung. “Aku tahu, tapi … aku tetap saja merasa sedikit takut ….”Sonia menatap mata Hallie, lalu langsung bertanya, “Kamu takut kehilangan keluargamu atau takut kehilangan persyaratan mewah dari keluarga Kakek Aska?”Hallie terbengong sejenak, lalu segera menjawab, “Tentu saja nggak merelakan Kakek. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Selama beberapa bulan ini, aku pun sudah menganggapnya sebagai kakek kandungku sendiri!”Sonia berkata, “Kata Pak Guru, meskipun kamu bukan anak kandungnya Bibi Julia, dia juga akan menjagamu seperti dulu, makanya kamu nggak perlu khawatir.”Hallie memaksa dirinya untuk tersenyum. Dia menunduk dan berbisik, “Beda, dong.”Sonia mengerutkan sedikit keningnya. “Hallie, coba kamu pikir saat kamu berada di Hondura, kamu sedang berada di kondisi yang sangat membahayakan dan nggak memiliki apa pun, apa kondisi sekarang jauh lebih buruk daripada waktu itu?”Hallie menatap Sonia dengan terbengong dan tidak ber
“Kata Nyonya, Tuan ada rapat yang sangat penting di sore hari. Dia suruh aku beri tahu kamu setelah selesai rapat,” ucap Robi.“Di mana dia sekarang?” ucap Reza sembari berjalan pergi dengan cepat.Robi membalas, “Di kantor polisi Jalan Takara.”Langkah kaki Reza langsung berhenti. Dia segera menole
Salju turun semakin lebat saja. Rose ingin sekali menjerit Juno agar dia segera pulang ke rumah. Hanya saja, suaranya tersangkut di tenggorokan. Entah kenapa dia malah tidak bisa mengeluarkannya? Kata Juno, selama ini dia hanya mencintai Rose seorang diri! Waktu itu, setelah merasa syok, dia berpik
Rose berkata dengan bingung, “Kenapa kamu beli begitu banyak piama?”Juno berucap dengan serius, “Setelah aku kembali dari Negara Madani, kamu pindah ke sini saja.”Rose semakin syok lagi. “Kenapa aku mesti pindah ke sini?”Juno tersenyum datar. “Karena setiap harinya aku akan masak makanan kesukaan
Ada orang yang akan lalu lalang di koridor. Rose yang gugup itu hendak melangkah mundur. Tubuhnya malah bagai terkena sihir saja hingga tidak bisa bergerak. Dia hanya melebarkan matanya dan menggeleng.Suara Juno terdengar dingin dan dominan. “Semuanya supaya kamu tidak meninggalkanku. Masalah Devin







