Masuk
Morgan berkata, “Bukan masalah.”Julia melepaskan tangan Theresia, kemudian berkata dengan tersenyum, “Sudahlah, kalian sudah capek selama seharian ini. Cepat kembali untuk istirahat sana.”Theresia mengangguk dengan tersenyum hangat. “Kamu juga cepat istirahat sana.”“Baik!”Mereka bertiga sama-sama berjalan ke dalam, lalu berpisah. Morgan dan Theresia kembali ke vila tempat tinggal mereka.Lampu kelihatan menyala di dalam vila. Hanya saja, para pelayan sudah tidur. Morgan berkata, "Malam hari tadi tidak makan apa-apa. Aku akan suruh pelayan untuk masak untukmu.”“Nggak usah!” Theresia menggeleng tanda dia menolak. “Aku capek sekali, nggak punya nafsu makan juga. Aku tidur dulu di atas.”“Bagus juga. Kalau kamu lapar saat tengah malam nanti, kamu bisa telepon aku setiap saat!” Nada bicara Morgan kedengaran lembut.Theresia sedikit mengangguk. Dia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan ke lantai atas.Morgan menatap bayangan punggung Theresia. Dia merasa ada yang aneh dengan Theresia. Di
Usai Theresia berbicara, dia segera bertanya lagi, “Di mana Theja?”Sirla berkata dengan tersenyum, “Tenang saja. Dia sudah diantar sampai ke rumah. Sepertinya keluarganya sangat miskin. Kakeknya jatuh sakit, tapi mereka tidak punya uang untuk berobat ke rumah sakit. Anggotaku meninggalkan sedikit uang untuk keluarganya, anggap saja sebagai kompensasi karena sudah mengagetkannya. Aku juga sudah beri tahu ke dia kalau kalian baik-baik saja. Semua ini hanya lelucon saja.”Theresia mengangguk. “Terima kasih!”“Jangan sungkan. Dulu, kita memang tidak akrab, tapi kelak kita pasti akan sangat akrab!” Sirla tersenyum.“Jangan banyak omong. Ayo, cepat pergi!” ucap Morgan dengan kesal.Sirla mengangkat-angkat pundaknya terhadap Theresia, lalu memanggil anggotanya untuk menuruni gunung. Saat dia membalikkan tubuhnya hendak berjalan pergi, Sirla berkata lagi terhadap Theresia, “Masalah ini benar-benar tidak ada hubungannya sama Tuan Morgan. Semua ini keputusanku sendiri. Kamu jangan salahkan Tuan
Suara ledakannya memekakkan telinga, seolah-olah hendak merobohkan atap rumah saja!Theresia terbengong ketika melihat semua yang terjadi di hadapannya.Morgan memeluk Theresia erat-erat dengan kedua tangan, lalu menenangkan dengan suara rendah, “Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja. Sirla hanya lagi bercanda sama kamu.”“Sirla?” Theresia menoleh dengan tatapan kosong, memandang pria bertopeng yang ditendang Morgan hingga terjatuh ke lantai.Pria bertopeng itu berdiri, lalu melepaskan alat pengubah suara, kemudian mengangkat tangan untuk membuka topeng di wajahnya, memperlihatkan wajah tampan dengan senyum tipis. “Lacey, apa kamu masih ingat sama aku?”Pikiran Theresia berdengung. Saat ini, air mata masih berlinang di dalam matanya. Dia masih belum merespons, hanya menatap Sirla dengan terbengong. Dia merasa dirinya bagai orang bodoh saja!Morgan melepaskan Theresia, lalu berkata dengan suara perlahan, “Apa kamu lapar? Kamu makan dulu. Tunggu aku sebentar di sini!”Usai berbicara,
“Nggak mungkin!” Theresia menarik erat tali di tangannya. Pria bertopeng pun mengeluarkan suara mendengus.Theresia melonggarkan talinya, lalu kembali bersuara, “Lepaskan kami. Kalau nggak, jangan harap kamu bisa hidup!”Tiba-tiba pintu yang tertutup rapat ditendang dengan keras. Angin dingin berembus masuk, membuat api unggun berderu keras, menambah suasana tegang menjadi lebih mencekam.Belasan orang memasuki rumah. Semuanya mengarahkan senjata ke sisi Theresia dan Morgan.Morgan mengerutkan sedikit alisnya.Orang yang memimpin juga berpakaian seperti tentara bayaran dan memakai penutup wajah. Dia menatap pria bertopeng. “Aku sudah menduga, kamu tidak bisa menghadapi Morgans sendiri. Atasan mengutus aku untuk membantumu!”Pria bertopeng mengejek dingin, “Aku sudah memandang remeh wanita ini!”Pria yang menutup wajahnya dengan kain menatap Theresia. “Kamu hanya punya satu nyawa di tanganmu, hanya bisa ditukar dengan satu nyawa. Kamu pilih sendiri, kamu yang pergi atau Morgan yang perg
Theresia berusaha untuk mengangkat kepalanya menatap mata si pria. “Cium aku, ya?”Morgan menurunkan kelopak matanya, menatap mata lembut nan berani si wanita. Tatapannya semakin mendalam saja.Theresia mengecup dagu Morgan dan menggigitnya perlahan. Bibir delima Theresia yang hangat dan lembut menempel pada kulitnya. Napas yang ringan, sentuhan yang lembap, serta mata yang basah seperti diguyur hujan, semuanya bagaikan godaan saja, seolah-olah tidak sabar menunggu balasannya.Seperti deru angin dan hujan di luar yang mendadak, amarah pria itu pun mulai padam.Dengan sudut mata yang tajam, Theresia melirik pria bermasker itu, lalu sedikit menunduk dan mengecup bibir Theresia.Theresia segera mengulum bibirnya.Terdengar suara tawa dari kejauhan. Mereka berdua menganggap mereka sedang berada di dalam pegunungan, saling berciuman tanpa ada orang di sekitar. Theresia menyipitkan setengah matanya, hanya ada Morgan di dalam tatapannya dan hanya terdengar suara rintik hujan di atas atap dan
Theresia tidak ingin menjawab Morgan. Dia mengalihkan tatapannya. Tiba-tiba dia melihat sesuatu dan matanya seketika berkilauan.Theresia berusaha untuk mendekati telinga Morgan, lalu berkata dengan suara yang sangat kecil, “Aku melihat ada pecahan keramik di ujung tembok. Kita cari cara untuk mendapatkannya.”Pecahan keramik setengah terkubur di dalam debu. Sepertinya orang yang naik gunung memecahkan mangkuknya saat makan di sini, lalu membuangnya begitu saja.Wanita itu mengembuskan napas harumnya. Bibirnya yang lembut terbuka dan tertutup secara perlahan, menyentuh kulit sensitif di bawah daun telinga pria itu dengan pelan. Tubuh Morgan langsung menegang. Dia pun terdiam sesaat, baru menjawab, “Tidak ada gunanya.”“Apa?” Theresia mengangkat kepala untuk melihatnya.“Ada campuran kawat emas di dalam tali ini. Pisau tidak bisa memotongnya, apalagi pecahan keramik,” ucap Morgan dengan perlahan.Theresia spontan merasa putus asa. Dia berkata dengan nada rendah, “Mereka benar-benar meng







