LOGIN“Beberapa tahun lalu, Theresia datang ke Kota Jembara, lalu membuka sebuah perusahaan humas. Dia kelihatannya cukup kaya, tapi sepertinya keluarganya nggak punya latar belakang apa-apa.” Agnes mendekati Jovita dengan makna tersirat. “Seorang wanita cantik nggak punya latar keluarga, tapi malah begitu kaya. Dia pindah ke kota lain, lalu buka sebuah perusahaan humas. Menurutmu, apa pekerjaannya dulu? Bibi juga sudah pernah mengalami banyak hal, seharusnya kamu lebih paham daripada aku!”Jovita terbengong sejenak. “Benarkah?”“Coba kamu lihat, dia bisa membuat Kak Roger terpesona dengannya dalam waktu begitu singkat, dapat diketahui betapa hebatnya dia. Aku takut Theresia itu menargetkan uang,” ucap Agnes dengan mendengus dingin.Kening Jovita berkerut. “Tapi, nenekmu sudah menulis surat wasiat. Apa lagi yang bisa aku lakukan?”“Suruh Kak Roger segera putus dengan Theresia. Setelah mereka putus, Theresia bukan lagi pacarnya dan bukan bagian dari Keluarga Manthana. Atas dasar apa dia mewa
“Nek!” panggil Agnes. Ketika menyadari wanita tua itu tidak bergerak, dia mendorong Riana ke samping, lalu mengangkat bantal untuk melihat bagian bawahnya.Sebuah kantong kertas coklat terlihat di bawah sana. Mata gadis itu langsung berkilauan. Dia spontan tersenyum lega, seolah-olah bebannya telah tersingkirkan.Agnes menarik keluar kantong kertas coklat itu, mengeluarkan isinya, lalu membacanya dengan cepat. Semakin dibaca, wajahnya justru semakin dingin, bahkan tatapannya mengandung aura kebencian. Saking bencinya, dia pun memelototi si wanita tua.Lantaran takut Hestya akan masuk, Agnes segera mengeluarkan ponsel untuk memotretnya. Setelah selesai memotret, dia kembali memasukkannya ke dalam kantong kertas coklat itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula.Barang yang Agnes cari sudah didapatkannya. Tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal di sini. Agnes pun membuka pintu dan berjalan pergi.Setelah kembali ke mobilnya sendiri, Agnes merasa semakin gusar saja. Tadinya dia ingin m
Saat Theresia pulang, dia sengaja melirik sekilas ke luar jendela. Dia melihat lampu di kamar Morgan masih dalam keadaan menyala.Setelah memasuki vila dan memasuki ruang tamu, Theresia melepaskan jaketnya. Dia pergi mengambil kotak P3K, lalu pergi mengetuk pintu.“Masuklah!” balas si pria dengan suara rendah.Theresia membuka pintu. Tampak Morgan duduk di depan meja baca sembari membaca beberapa dokumen. Dia meletakkan jaket Morgan ke atas sofa, lalu berkata, “Aku letakkan pakaianmu di sini.”“Emm!” Pria itu juga tidak mengangkat kepalanya, hanya bersandar di tempat duduknya.Theresia membawa kotak P3K ke dalam. Dia sedang mempersiapkan sembari berkata, “Lepaskan pakaianmu. Ganti perban.”Kali ini, Morgan baru melirik Theresia sekilas, lalu mulai melepaskan kancing.Theresia menatap lurus ke depan. Setelah Morgan menarik lengan baju ke bawah, dia baru mulai membuka perban di lukanya.Kemeja luarnya sudah basah karena terkena hujan. Untungnya, hanya lapisan luar perban saja yang sediki
Julia tersenyum. “Ternyata kamu salah kenal orang.”Jevan segera menggeleng. “Aku langsung menyadarinya.”Tatapan Julia kelihatan lembut. Dia berkata dengan suara datar, “Apa kamu merasa capek? Aku aturkan tempat tinggal dulu buat kamu.”“Apa aku bisa tinggal bersamamu?” Usai berbicara, Jevan segera berkata, “Maksudku, kita bisa tinggal lebih dekat.”Julia berpikir sejenak, sepertinya dia hanya bisa mengatur Jevan untuk tinggal di vilanya.…Theresia dan Morgan sudah mengantar obat ke klinik. Saat kembali, dia bertemu dengan Julia.Ponsel Morgan berdering. Dia menganggukkan sedikit kepalanya kepada Julia, lalu memasuki vila untuk menerima panggilan.“Hujan sudah berhenti. Udaranya juga bagus sekali. Gimana kalau kita jalan-jalan?” ucap Julia dengan tersenyum.“Oke!” Theresia menyimpan payung, lalu bersama Julia berjalan di jalan bebatuan tengah halaman.Julia berkata, “Aku sudah mengatur orang untuk masuk sif malam. Stok obat juga cukup. Seharusnya tidak akan ada masalah. Untung saja a
Theresia tertawa. Dia membuka jendela, lalu melihat pria berambut pirang yang mengikutinya dari belakang. “Ayo, masuk mobil. Bibi Julia lagi tidak berada di kota, masih ada perjalanan yang harus ditempuh.”“Terima kasih!” Pria berambut pirang itu tersenyum memperlihatkan giginya yang putih. Dia membuka pintu belakang mobil, lalu masuk ke dalam.Morgan menempatkan tangannya di atas setir mobil. Ketika melihat senyuman pria itu dari kaca spion, wajahnya menampakkan sedikit rasa kesal.Setelah mobil berjalan dengan stabil, pria berambut pirang itu menyerahkan kartu nama kepada Theresia. Dia tersenyum lembut dan sopan. “Halo, ini kartu namaku.”Theresia mengambil kartu itu. Warna kartu itu coklat kehitaman dengan sebuah nama tertulis “Jevan”, diikuti oleh nama belakang yang panjang.Di sudut kiri atas kartu terdapat sebuah gambar roda, tampak seperti simbol dari suatu keluarga. Selain itu, tidak terdapat informasi lain di atas kartu itu. Ketika melihat simbol roda itu, Theresia merasa san
Pria berambut pirang mundur selangkah dengan kaget.Theresia terbengong sejenak, lalu segera meraih lengan Morgan. Dia berkata dengan suara ringan, “Kamu sudah salah paham. Dia itu … teman bule … dia datang untuk mencari Bibi Julia.”Morgan menyipitkan matanya dengan kaget. “Cari Bibi Julia?”“Apa kalian benar-benar kenal sama Julia? Apa kamu bisa bawa aku pergi mencarinya?” Tatapan pria berambut pirang itu kelihatan panik dan penuh harapan.Morgan menatap pria itu dengan tatapan interogasi. “Untuk apa kamu cari Julia?”Pria berambut pirang segera berkata, “Aku itu temannya. Aku sengaja datang ke Negara Cendania untuk mencarinya. Kalau kalian kenal sama dia, mohon bawa aku untuk bertemu dengannya.”“Kenapa kamu tidak langsung telepon dia?”“Tadinya aku ingin beri kejutan kepadanya. Tapi ketika sampai di sini, aku malah kehilangan ponselku, tidak bisa menghubunginya. Aku juga tidak tahu di mana tepatnya dia sekarang?” Pria berambut pirang kelihatan agak putus asa. “Aku sudah seharian ke







