LOGINSesekali Yandi akan menimpali, tetapi sebagian besar waktu hanya Tasya yang terus bercerita.“Di departemen sebelah kedatangan anak magang baru. Dia sering banget cari alasan buat datang ke kantor kami, dan selalu datang pas ada Oscar. Semua orang bilang dia naksir sama Oscar. Sayangnya, meski sudah datang empat atau lima kali, Oscar bahkan belum ingat siapa namanya.”“Anggota departemen sebelah juga ikut dalam team building kali ini. Bisa jadi ini adalah kesempatan bagus!”“Salah satu rekan kerjaku juga memelihara kucing Persia yang usianya sudah setahun. Setelah lihat foto Miao, dia langsung suka banget. Dia bahkan bilang, nanti kalau sudah besar, kucing kita bisa dijodohkan.”“Tentu saja, semua ini mesti dapat persetujuanmu dulu!”…Tasya teringat sesuatu. Saat dia berbicara dengan serunya, tiba-tiba dia terdiam dan memalingkan kepalanya untuk menatap Yandi.Yandi mengangkat kepalanya. “Ada apa?”Tasya menggigit bibirnya. “Menurutmu, kalau kita menikah dan bersama setiap hari, bukan
Sonia menggenggam tangan Kelly. Sepasang matanya dipenuhi dengan kekuatan. Dia menatap langit malam berkilauan, lalu berkata dengan tersenyum tipis, “Semuanya baru saja dimulai. Masa depan kita akan semakin membaik!”…Pada hari Jumat, di Restoran Steamboat Kuat.Restoran tidak beroperasi di pagi hari, jadi Bruno dan yang lainnya juga tidak bangun pagi. Setelah sarapan, mereka membersihkan restoran, menyusun meja dan kursi, lalu pergi membeli bahan makanan. Saat ini waktu sudah menjelang pukul sepuluh pagi, begitu pintu restoran dibuka, Tasya masuk dengan memeluk sebuah kardus.Tanpa perlu dilihat, isi kardus itu pasti adalah makanan, camilan, dan pasir untuk si Miao.Bruno merasa agak kaget. “Hari ini bukan akhir pekan. Kenapa kamu tidak masuk kerja?”Hari ini, Tasya mengenakan kaos berwarna putih dengan rambut dikuncir di atas. Saat berbicara, dia pun tersenyum dan suaranya terdengar lantang. “Hari ini perusahaan mengadakan team building. Aku nggak ikut.”Leon berjalan mendekat untu
Wajah Ennie seketika berubah merah. “Apa kamu sengaja lagi menghinaku?”Tidak terlihat senyuman di wajah Melvin. Raut wajahnya kelihatan sangat datar. Dia menyalakan sebatang rokok. “Bawa cermin pemberianku dan pergi dari sini!”Orang yang berani bersikap arogan terhadap Sonia pasti tidak memiliki cermin di rumah!Ennie yang malu itu juga mulai marah. “Ternyata kamu sengaja!” Dia sedang memikirkan kembali ucapan Melvin tadi. Otaknya berputar dengan cepat. Dia berkata dengan syok, “Jangan-jangan, kamu juga suka sama Reza?”Itulah sebabnya Melvin membawa Ennie keluar dari acara. Dia takut Ennie akan mendekati Reza!“Heh!” Melvin hampir saja tersedak ketika mendengar ucapan itu. Dia menatap wanita dengan dingin. “Aku ulangi sekali lagi. Pergi dari sini!”Tatapan apa itu!Ennie masih tidak bersedia menuruni mobil. Melvin langsung membuka pintu mobil, mengangkat kakinya untuk menendang Ennie keluar mobil.Pria di luar sana takut terjadi sesuatu dengan Ennie. Dia pun mengulurkan tangannya la
Sonia bersandar di atas pundak lebar dan kokoh Reza. Dia terlihat begitu lembut dan lugu. Jari tangannya bergerak ke bawah pundak, kemudian ditahan oleh pria itu. Reza langsung memeluk Sonia ke dalam pelukannya.Pada saat yang sama, ciuman basah telah diberikan.…Setelah Ennie kembali ke taman bunga, dia mencari tahu dari orang yang dikenalnya. Siapa pria yang berdiri di samping Jason tadi? Pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu.Ada yang menebak, “Yang memiliki hubungan bagus dengan Tuan Jason ada Tuan Reza, Tuan Johan juga. Siapa yang kamu maksud?”Firasat Ennie mengatakan, “Tuan Reza? Presdir Herdian Group?”“Iya, Reza!”Tatapan Ennie semakin gembira saja. “Apa dia sudah menikah?”Orang itu berkata dengan antusias, “Iya, resepsi pernikahan diadakan dengan sangat meriah, bahkan ada siaran langsung waktu itu.”Ennie teringat dengan wanita yang ditemuinya di koridor tadi. Dia berkata dengan nada menyindir, “Apa istrinya yang galak itu? Kenapa cowok seperti ini mau mencari wanita
Saat Ennie sedang diam-diam merasa senang, lalu kembali melangkah maju, dia pun kedengaran suara dingin dan ketus dari dalam sana.“Keluar!”Ennie terkejut hingga pakaian di tangannya hampir saja terjatuh. Dia berdiri di tempat. Setelah merasa canggung, dia pun merasa marah. Dia segera meletakkan pakaian di atas sofa, lalu meninggalkan ruangan.Beberapa saat kemudian, Reza berjalan keluar dari dalam kamar. Kancing kemeja di tubuhnya telah dilepaskan beberapa butir, memamerkan otot kokoh di dalamnya. Reza yang sekarang terlihat seksi dan penuh pesona.Reza berjalan ke depan sofa untuk mengambil kemeja. Pria itu mencium kemeja itu sejenak, lalu membuangnya ke lantai dengan ekspresi jijik. Reza mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Sonia, “Sayang, kamu lagi di mana?”Sonia membalas dengan tersenyum, “Lagi di taman bunga. Apa kamu nggak bisa menemukanku?”Saat berbicara, Sonia sepertinya juga sedang mencari Reza dan dia tidak bisa menemukan pria itu. Sonia pun berbisik, “Kamu ke mana?”
Kelly melihat ke sisi Kenneth yang sedang mengobrol dengan wanita lain di kejauhan. Dia masih merasa tidak mengerti. “Aku kira kamu akan datang bersama Kak Kenneth.”Christie juga melihat bayangan tubuh Kenneth. Senyumannya menjadi datar. “Dia lagi beri tahu aku, meskipun dia nggak berhasil mengejarmu, dia juga nggak akan jadian sama aku.”Kelly sungguh kehabisan kata-kata. “Mungkin suatu hari nanti Kak Kenneth akan menyadari kebaikan Kak Christie.”Christie menggeleng dengan tersenyum. Jelas-jelas dia sangat mencintai Kenneth, tetapi dia malah menunjukkan seolah-olah sudah melepaskannya. “Tergantung takdir saja.”Pada akhirnya, Christie berkata dengan tulus, “Kelly, aku doakan semoga kamu bisa bahagia. Kamu pantas untuk menerimanya!”Kelly tersenyum lembut. “Terima kasih. Aku doakan juga kamu bisa segera menemukan kebahagiaanmu!”Christie mengulurkan lengannya untuk berpelukan ringan dengan Kelly.…Yana mengambil sebuah balon, kemudian berlari ke hadapan Reza. “Paman Reza, aku merind
Yandi tercengang dan berkata, “Siapa Non kalian?”Pria itu berkata, “Non Ranty!”Yandi tetap tidak mengenalinya.Pria bernama Mervin dipukul dua kali menggunakan kayu. Darah mengalir di wajahnya. Dia dibawa kabur keluar restoran sambil dilindungi oleh James dan yang lainnya. Sebelum pergi, dia menunjuk
Sup sudah mendidih. Namun, Reza masih belum menghentikan kecupannya. Dia mengecup Sonia dari atas alis, pipi hingga bibirnya.Entah sudah berapa lama, tutup panci pun sudah hampir jatuh. Saat ini Reza pun baru mengulurkan tangannya untuk mengecilkan api kompor ….Setengah jam kemudian, Sonia duduk di
“Hmm!” Sonia hanya bergumam, tidak menjawab.Reza menoleh dan mencium bagian belakang telinga Sonia. Melihat wanita itu sepertinya tidak ingin membicarakannya, dia pun mengubah topik pembicaraan, “Kamu pesan apa untuk Yandi?”Selesai main, Sonia bangkit dan berkata, “Aku nggak pesan apa pun untuk Yand
David menatap perempuan itu lekat-lekat, lalu menoleh ke belakang dan tertegun sejenak. “Desain yang sebelumnya juga sudah diubah? Bukankah ada dua versi yang sudah ditentukan desainnya?”Silvia langsung melihat ke arah Stella, sambil berkata dengan wajah yang serius, “Bukankah aku sudah memberitahum







