LOGINTasya menatap Yandi dengan mata berkilauan. Beberapa saat kemudian, dia jadi terlihat kesal. “Justru karena aku bodoh, nggak mengerti apa-apa, makanya aku ingin tinggal di sini untuk menambah wawasanku dan belajar lebih banyak. Aku jamin aku nggak akan sembarangan petik barang lagi, oke?”Yandi menatap sosok malang Tasya. Pada akhirnya, dia pun luluh. “Gimana dengan pekerjaanmu?”“Minta cuti saja. Kebetulan aku baru menyelesaikan sebuah proyek. Oscar memang pernah bilang mau liburkan aku selama beberapa hari,” kata Tasya, “Tenang saja. Aku bukan tipe orang nggak bertanggung jawab. Pekerjaanku nggak akan terbengkalai.”Yandi juga tidak tenang untuk membiarkan Tasya pulang sendiri. “Dua hari ini kamu ikut aku saja. Jangan sendirian.”Akhirnya Tasya tersenyum. “Tenang saja. Aku malah ingin sekali bersamamu selama 24 jam.”Yandi hanya bisa terdiam. Dia tiba-tiba merasa curiga. Jangan-jangan Tasya sengaja ingin menggodanya? Dia bisa menggombal dengan mudah sekali!Namun, ketika melihat tata
Yandi langsung tersenyum sinis. Dia tentu saja tidak percaya. Dia mengambil pakaian dari lemari, lalu berkata dengan datar, “Kamu keluar!”Tasya tidak bersedia untuk berdiri. Dia bergumam, “Aku juga nggak akan ngintip. Sejak kapan aku begitu nggak tahu batasan? Kalau aku mau lihat, aku juga akan lihat secara terang-terangan!”Tasya berbicara sembari membuka pintu, berjalan ke sisi halaman.Yandi melihat bayangan punggung Tasya dengan sedikit emosi. Dia mandi dengan sangat cepat, hanya dalam hitungan beberapa menit. Setelah keluar dari kamar mandi, dia melihat ke sisi halaman, tetapi dia tidak bisa menemukan sosok Tasya.Kening Yandi sedikit berkerut. Dia berjalan ke sisi halaman dan menjerit, “Tasya!”Di luar sana ada sebuah kolam renang besar. Di tepi kolam berjajar payung matahari dan kursi santai untuk beristirahat. Di sekelilingnya hanya ada beberapa pohon hias, tidak ada apa pun lagi selain itu. Sebuah pagar besi hitam memisahkan area tersebut dari halaman kamar tamu di seberangny
Tasya menoleh untuk melirik Lecy dan Tora, kemudian dia bertanya dengan nada ringan, “Apa kamu capek? Turunkan aku saja!”“Dua jam juga bukan masalah!” ucap Yandi dengan nada datar.Tasya langsung tertawa. Dia bersandar di atas pundak Yandi, dan menyandarkan kepalanya di atas lengan kokoh Yandi. Dia jadi tidak ingin bangkit lagi.Gadis yang bersandar di punggung Yandi itu terasa sangat ringan. Karena sempat berkeringat tipis tadi, kulit halusnya terasa sedikit dingin, disertai aroma wangi tubuh sang gadis.Tasya memeluk pundak Yandi. Jarak mereka pun semakin dekat lagi. Bibirnya hampir saja menempel di atas leher si pria. Dia bertanya dengan nada rendah, “Yandi, apa kamu benar-benar nggak cinta sama aku?”Langkah kaki Yandi seketika berhenti. Suaranya terdengar agak serak dan tegas. “Tidak!"Sorot mata Tasya yang semula berbinar seketika meredup. Dia menghela napas dengan perlahan. Napasnya mengembus mengenai wajah samping si pria. Tasya berbisik, “Ya sudah kalau nggak cinta. Yang pent
“Nggak akan kelihatan karena ketutup lengan pakaianmu.” Tasya menarik tangan Yandi dan tidak bersedia untuk melepaskannya. Dia bersikeras ingin memakaikan gelang itu.Kening Yandi berkerut. Padahal dia sedang mengenakan kaus lengan pendek, bagaimana caranya bisa ketutup?Sepertinya Tasya sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah salah bicara. Dia masih memasangnya di pergelangan tangan Yandi. “Jangan bergerak!”Saat Yandi ingin mendorong Tasya, dia tiba-tiba terdengar suara Tora sedang menjeritnya di depan. Alhasil, Tasya pun sudah berhasil memasang gelang di pergelangan tangannya. Tasya bahkan berkata dengan sangat serius, “Jangan dilepas. Kalau nggak, aku akan beri tahu semua orang di dunia ini … masalah aku suka sama kamu!”Mereka berdiri di sebuah tempat lapang di pegunungan. Sinar matahari yang cerah menyinari mereka, jatuh ke sepasang mata gadis itu yang begitu hidup sekaligus penuh kasih.Nada bicara Tasya terdengar seperti sedang bercanda, tetapi tatapannya begitu serius.
Ketika Tasya melihat Yandi kembali, dia segera berkata dengan gembira, “Bos Yandi, Tora bilang mau bawa kita ke atas gunung.”Tora berkata pada Yandi, “Pemandangan di tempat kami sangat bagus. Kalau kalian tidak ada kegiatan di sore hari, aku akan bawa kalian untuk jalan-jalan ke atas gunung.”Ketika Yandi melihat Tasya sangat berminat, dia pun tidak menolak. “Oke!”Tora membawa mereka bertiga naik ke atas gunung. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka pun tiba di jalan utama pegunungan. Mulai tampak banyak wisatawan di sana.Mereka berempat berjalan sembari mengobrol. Lecy terus menggandeng lengan Tora. Pose mereka kelihatan mesra.Di kejauhan, pegunungan menjulang tinggi dan megah. Puncaknya yang diselimuti salju putih tampak samar dari kejauhan. Sementara itu, di bagian yang lebih dekat, bebatuan terjal berpadu dengan pepohonan yang rimbun. Udaranya begitu segar, membuat hati dan pikiran terasa lapang.Tasya merasa gembira. “Pemandangannya bagus sekali!”Yandi berkata, “Buka
Raut wajah Tasya sedikit memerah. Dia menatap Yandi dengan gusar, “Walaupun itu memang anggrek, bukankah itu cuma jenis anggrek biasa? Kenapa bisa dihargai dengan uang sepuluh juta? Bos Yandi memang kaya, ya!”Kening Yandi berkerut. “Apa hubungannya sama aku? Aku akan potong uang sepuluh juta ini dari gajimu!”Mata Tasya langsung terbelalak. Yandi tidak berhasil menahan tawanya. Dia langsung tertawa dengan suara keras.Tadinya Tasya sedang merasa sangat marah. Dia merasa kesal karena merasa dirinya sangat bodoh. Dia juga marah karena Yandi mentertawakannya. Hanya saja, ketika melihat senyuman Yandi, seluruh amarah di hatinya langsung sirna.Tasya menggigit bibir bawahnya berusaha untuk mengintrospeksi diri. “Aku nggak akan sembarangan sentuh lagi.”Yandi tidak tersenyum lagi. Dia menatap Tasya dengan datar, hendak memberi tahu Tasya bahwa dirinya tidak bersalah. Dia juga tidak merasa Tasya telah merepotkannya. Namun, dia tidak sanggup untuk melontarkan ucapan seperti itu terhadapnya.
Salju turun semakin lebat saja. Rose ingin sekali menjerit Juno agar dia segera pulang ke rumah. Hanya saja, suaranya tersangkut di tenggorokan. Entah kenapa dia malah tidak bisa mengeluarkannya? Kata Juno, selama ini dia hanya mencintai Rose seorang diri! Waktu itu, setelah merasa syok, dia berpik
Ada orang yang akan lalu lalang di koridor. Rose yang gugup itu hendak melangkah mundur. Tubuhnya malah bagai terkena sihir saja hingga tidak bisa bergerak. Dia hanya melebarkan matanya dan menggeleng.Suara Juno terdengar dingin dan dominan. “Semuanya supaya kamu tidak meninggalkanku. Masalah Devin
Tidak lama kemudian, masuk panggilan dari Sonia. Rose segera mengangkatnya. “Sonia?”Sonia mengatakan, “Tadi aku baru saja telepon Kak Juno. Dia nggak kenapa-napa, mungkin tadi dia lagi sarapan, makanya dia nggak lihat ada panggilanmu.”Rose terbengong sejenak. “Serius?”Sonia tersenyum. “Serius. Ak
Kamar mandinya bermodel sekat terpisah, di mana dipasang kisi kayu di antara dua wastafel di kiri dan kanan. Bagian tengahnya adalah kaca yang tampak seperti cermin, sehingga banyak orang mengira itu adalah dinding.Jadi, ketika Rose sedang mencuci tangan dan merapikan riasannya, dia pun dapat mende







