MasukOrang di dalam rumah menjadi hening dalam seketika. Bahkan, Yandi juga mengangkat kepalanya untuk menatap Tasya.Wajah Tasya kelihatan putih bening. Dia membuka ponselnya, lalu menyalakan rekaman suara, kemudian memutarnya.Isi rekaman suara adalah pembicaraan dua orang. Isinya juga sangat jelas. Suara pembuka itu adalah suara Lecy.“Meskipun nggak ada lubang, juga bakal ada tikus. Tikus akan menyusup saat nggak kelihatan orang, bisa jadi tikus masuknya dari jendela.”Tasya merasa agak putus asa. “Aku paling takut sama tikus. Kamar sewaanku juga pernah muncul tikus sekali. Entah dari mana asalnya?”“Maksudmu, kamu tinggal di kos ketika di Kota Jembara?”“Iya!”…Ketika diputar hingga bagian belakang, Lecy kelihatan sekali sedang menurunkan suaranya. “Tasya, kamu dan Yandi jangan ikut campur dengan masalah Keluarga Torna!”Suara Tasya terdengar kaget. “Apa?”“Aku beri kamu 40 juta. Kamu bujuk Yandi untuk tinggalkan tempat ini, oke?”“Kenapa?”“Kamu jangan tanya lagi. Asalkan kamu dan Ya
Sarah keluar dengan memegang sayuran hijau. “Erna, kenapa jerit-jerit?”Erna menatap Yandi dan Tasya dengan ekspresi semakin gusar. Dia menjerit, “Panggil semua anggota keluarga kalian keluar. Suruh Tora keluar juga. Hari ini kita mau tangkap orang picik!”Sarah merasa bingung. “Orang picik?”Tak lama kemudian, semua orang berkumpul di ruang tamu. Erna mengeluarkan ponselnya, lalu membuka foto, dan diletakkan ke atas meja. “Kalian lihat sendiri!”Tasya melihat foto Yandi di dalam foto dan juga dirinya.Foto itu diambil saat mereka berada di hotel pada hari Minggu. Saat mereka berempat sedang makan bersama, Petrus menyerahkan sekotak daun teh kepada Yandi.“Coba lihat. Coba kalian lihat!” Suara Erna semakin besar saja. Lantaran merasa marah, air liurnya juga bermuncratan ketika berbicara. “Mereka berdua sudah menerima uang sogokan dari pihak hotel untuk menjual rumah kalian. Kalian malah menjamu mereka seperti tamu. Mereka benar-benar tidak punya hati nurani!”Anggota Keluarga Torna mel
Setelah masuk ke kamar dan menutup pintu, Tasya melirik sekeliling. Dia sedang mencari di mana keberadaan lubang tikus?Lecy bersandar di jendela sembari berkata dengan tersenyum, “Meskipun nggak ada lubang, juga bakal ada tikus. Tikus akan menyusup saat nggak kelihatan orang, bisa jadi tikus masuknya dari jendela.”Tasya merasa agak putus asa. “Aku paling takut sama tikus. Kamar sewaanku juga pernah muncul tikus sekali. Entah dari mana asalnya?”Tatapan Lecy berkilauan. “Maksudmu, kamu tinggal di kos ketika di Kota Jembara?”Tasya mengangguk. “Iya!”Lecy mencoba untuk bertanya, “Kalau begitu, setelah kamu menikah dengan Bos Yandi, kamu juga nggak perlu sewa rumah lagi. Kulihat-lihat, sepertinya Bos Yandi cukup kaya.”“Dia?” Tasya menghela napas. “Sejak kapan dia punya uang? Cuma mobilnya saja yang sedikit bernilai. Meskipun dia menjual mobilnya, dia juga nggak sanggup untuk beli rumah. Rumah di Kota Jembara mahal sekali.”Lecy tersenyum. “Pokoknya, aku nggak akan menikah sebelum punya
Menjelang siang hari, kedua orang tua sedang pergi mempersiapkan makan siang. Lecy menarik Tora ke kamar untuk mengobati lukanya.Tasya memberi isyarat mata kepada Yandi. Mereka berdua pun keluar untuk mengobrol.Saat berada di halaman, Tasya berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku merasa ada masalah dengan anggota Keluarga Torna.”Yandi mengangkat pandangannya untuk menatap Tasya. “Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?”Tasya merendahkan nada bicaranya. “Semalam, sebelum kita meninggalkan rumah ini, Tora sempat bertanya kapan kita akan berangkat? Kamu bilang kita akan kembali ke Kota Jembara sekarang.”Hanya saja, saat perjalanan pulang, terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan pegunungan. Jalanan sangat macet. Mereka pun terjebak macet selama satu jam. Setelah kembali ke kota, langit sudah gelap, dan mereka tidak kembali ke Kota Jembara.Hanya saja, di mata Keluarga Torna, mereka sudah pergi.Yandi menyipitkan matanya, “Ada yang mengira kita sudah pergi, jadi ingin mengambil kesempatan u
Suara Tora terdengar buru-buru. “Kak Yandi, pihak hotel yang melakukan pembongkaran datang lagi. Mereka bahkan datang dengan alat berat, katanya mereka ingin menghancurkan rumah kami! Apa yang terjadi? Bukannya sudah sepakat untuk tidak membongkar rumah kami? Kami belum tanda tangan surat perjanjian dan juga tidak setuju dengan apa pun, kenapa mereka tiba-tiba mau membongkar rumah kami?”Raut wajah Yandi menjadi dingin, begitu pula dengan tatapannya. “Aku akan segera ke sana. Kamu halangi orang-orang yang ingin melakukan pembongkaran dulu. Jaga dirimu dan juga anggota keluargamu!”“Oke!” balas Tora dengan panik, “Aku akan diskusikan dengan mereka lagi. Semoga saja aku bisa menghalangi mereka!”“Kamu mesti perhatikan keselamatan!”Setelah Yandi mengakhiri panggilan, Tasya baru bertanya dengan kaget, “Apa yang terjadi?”Yandi menceritakan kembali apa yang terjadi.Tasya juga merasa sangat aneh. “Bukannya semua sudah selesai semalam? Apa pihak lapangan belum menerima kabar?”Yandi mengend
Tasya melirik kemari. Dia menyadari pose tidur pria itu membuat hatinya bergetar, bahkan berdetak semakin kencang. Pria itu memang terlihat menawan di mata orang yang menyukainya!Tasya naik ke atas ranjang. Dia memejamkan matanya, kemudian melebarkan matanya lagi, lalu memalingkan kepalanya menatap orang yang dia sukai. “Bos Yandi, aku ingin dengar cerita!”Yandi mengangkat kelopak matanya, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap Tasya. “Dengar cerita 229 mantan kekasihku?”Tasya memelototinya. “Kalau kamu berani menceritakannya, aku juga berani untuk mendengarnya!”“Oke!” Yandi duduk bersandar di atas ranjang. Dia terlihat sedang mengenang kembali. “Wanita pertama, aku dan dia ….”Tasya langsung menyusup ke dalam selimutnya dan menutupi kepalanya.Yandi pun tersenyum ketika menatap sosok Tasya yang menyembunyikan kepalanya seperti burung unta. Dia mengangkat tangannya untuk mematikan lampu.Hari kedua, Yandi membawa Tasya untuk menikmati pemandangan di Kota Owara. Tasya pun bermain
Hendri berkata, “Masalahnya seperti ini. Kakekmu ingin membuka perusahaan di Kota Kibau. Kamu juga tahu sendiri, Keluarga Tamara sangat berkuasa di Kota Kibau. Kebetulan, kami ingin membahas soal kerja sama dengan Keluarga Tamara. Tapi tiba-tiba kami dapat telepon dari Keluarga Tamara, katanya kamu
Setelah Kelly pergi, Howard duduk di bangku, lalu berkata dengan tersenyum, “Kenapa kamu malah mengagetkan adik kecil itu? Sebenarnya juga bukan masalah serius. Kamu seharusnya lebih memercayai Kelly daripada aku. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu.”Jason menyalakan rokok, lalu mengisapnya dal
“Aku nggak peduli. Dia mesti dengar apa kataku!” Ranty tersenyum dengan sangat lebar.…Setelah mereka berdua pergi, beberapa saat kemudian, Cella dipapah teman-temannya untuk duduk di sofa. Kedua pipi Cella sudah bengkak parah. Bagian mata dan ujung bibirnya juga memar. Bahkan, rambut panjang Cella b
Penanggung jawab GK, Dania, berjalan ke sisi podium. Tokoh utama hari ini juga berangsur-angsur memasuki ruangan. Suasana juga berubah hening.Juno juga sudah tiba. Hari ini dia mengenakan kemeja berwarna hitam dan juga celana formal berwarna hitam. Kacamata berbingkai emas itu membuatnya kelihatan e







