LOGINMengenai tamu lainnya, termasuk Jason dan yang lain juga sudah pulang pagi hari tadi.Saat mengantar Ranty, Ranty memeluk Sonia tidak bersedia untuk melepaskannya. “Seharusnya resepsi pernikahan diadakan selama tiga hari. Sehari sama sekali nggak puas.”Sonia sungguh kehabisan kata-kata. “Tenang saja. Nanti masih ada pernikahan Kelly dan Tiffany. Kamu pasti akan merasa puas nanti.”Ranty berdiri. “Kapan kamu kembali ke Kota Jembara? Atau kamu langsung pergi bulan madu?”Sonia membalas, “Aku akan duluan beri tahu kamu saat pulang nanti.”“Kalau begitu, aku tunggu teleponmu. Kamu jangan diam-diam melarikan diri. Kamu mesti lakukan panggilan video setiap hari sama aku. Kirim foto juga!” Ranty saling berpelukan dengan Sonia, baru memasuki mobil dan meninggalkan tempat.Orang terakhir yang diantar Sonia adalah Cindy dan keluarganya.Hani menatap Sonia dan berkata dengan tersenyum. “Sebenarnya aku benar-benar tidak menyangka pernikahan pertama junior Keluarga Dikara itu kamu. Aku saja sudah
[ Morgan: Saat kamu bangun, apa kamu tidak lihat ada orang lain di sampingmu? ]Theresia membalas setelah tiga detik. [ Siapa? ]Morgan tersenyum. [ Kamu mau ngeyel? ]Beberapa saat kemudian, wanita itu baru mengetik dengan tidak rela. [ Aku nggak … ngeyel. ]Morgan pun tersenyum tipis. Dia memalingkan kepalanya untuk mencari rokok. Belum sempat dia menemukan rokok, dia pun menerima pesan baru lagi. Dia menoleh untuk melihat sekilas. Waktu pun ikut berhenti pada saat itu.Theresia mengirim sebuah bukti transfer. Dia mengirim uang 20 juta kepada Morgan.Morgan mengambil ponselnya dengan raut dingin. Ketika membaca catatan dari transaksi itu, raut wajahnya langsung menjadi muram.Mainan kucing .…Huft!Mainan kucing itu mahal sekali! Theresia meletakkan ponselnya, lalu lanjut mengemudi mobil.Setelah belasan menit kemudian, Theresia baru menerima pesan baru lagi. Dia mengira Morgan tidak berhasil mengendalikan emosinya. Siapa sangka Morgan membalas satu baris dengan sangat tenang. [ Ing
Apa pun jawabannya tetap akan masuk ke dalam jebakan Reza. Sonia tidak akan masuk ke dalam jebakan Reza. Dia memutar bola matanya, lalu tiba-tiba bertanya, “Sudah jam berapa?”Ekspresi serius Sonia seolah-olah tidak seperti sedang mengalihkan perhatiannya.Reza membalas, “Jam delapan!”Sonia mendorong pundak Reza. “Aku mesti bangun. Aku mesti beri hormat kepada Ayah dan Ibu di pagi hari.”Mata Reza berkilauan. “Bagus, ternyata kamu masih ingat.”Sonia bertanya, “Apa sekarang sudah kesiangan?”“Tidak. Tadi aku sudah telepon, aku beri tahu mereka, kita akan pergi sekitar jam sembilan. Setelah memberi hormat, kita akan sarapan bersama.” Reza melihat jam sekilas. “Jadi, kamu bisa tidur sekitar setengah jam lagi.”Sonia menatap Reza dengan tatapan berkilauan. “Apa kamu suruh aku tidur?”Reza melihat Sonia beberapa detik, lalu mengesampingkan selimut. “Tidur sama-sama!”Sonia membalikkan tubuhnya. Dia menuruni ranjang, lalu berlari ke kamar mandi dengan mengenakan pakaian tidur sutra berwarn
Theresia menatap Morgan. Nada bicaranya malah terdengar serius. “Kamu melupakan satu hal.”“Apa?”“Kamu lupa mandiin aku!” Theresia mengerutkan sedikit keningnya. Dia kelihatan agak kesal. “Aku nggak bisa tidur kalau nggak mandi.”Pria itu mengenakan sepotong jubah mandi berwarna biru tua. Dia baru saja selesai membasuh tubuhnya. Rambutnya juga masih basah. Sepasang matanya kelihatan memesona karena terkena uap air. Dia menatap Theresia lekat-lekat tanpa berbicara.Sementara itu, tatapan Theresia kelihatan linglung. Ujung matanya kelihatan memerah lantaran merasa sedikit sedih. Dia yang kelihatan menggoda itu mulai mendebarkan hati Morgan.Theresia berjalan ke sana untuk memeluk pinggang Morgan. Dia bersandar di atas pelukan Morgan, lalu menggesekkan keningnya di atas dada Morgan.Morgan langsung menggendongnya, lalu berjalan maju dua langkah untuk menutup pintu. Setelah itu, Morgan menggendongnya ke dalam kamar mandi.Theresia menemukan bola mainan kucingnya lagi. Dia pun langsung men
Sonia berjalan ke sana. Dia melihat kembang api di luar sana sudah padam. Jamuan di dalam taman bunga juga sudah dibersihkan tanpa ada orang sama sekali.Sonia berjongkok perlahan di hadapan Reza. “Kenapa duduk di sini?”Jari tangan panjang Reza mengusap wajah Sonia. Dia tersenyum lembut. “Lihat kembang api!”“Lihat kembang api?” Kening indah Sonia mulai berkerut.Reza mencondongkan tubuhnya untuk mencium hidung mancung Sonia. “Coba berdiri, apa ada kembang api?”Sonia berdiri dan bersandar di atas pagar batu. Dia memandang ke luar kastil dan tidak menemukan kembang api, bahkan kebanyakan lampu di luar sana juga sudah dipadamkan. Hanya tersisa sedikit bayangan lampu yang kabur di tengah kegelapan. Di kejauhan, tampak pegunungan yang megah dan berlapis-lapis.Saat Sonia hendak bertanya pada Reza, tubuhnya tiba-tiba menegang. Tangan pria itu menyentuh pahanya, disusul dengan sedikit sentuhan dingin di bibir.Ada beberapa hal yang bisa dipahami tanpa perlu kata-kata, sehingga hanya dengan
Sonia berhitung sebentar. “Sudah sepuluh tahun!”Sepuluh tahun kedengarannya sangat jauh. Namun, ketika mengenang kembali, semuanya terasa seperti sesaat saja.Reza mengulurkan tangannya kepada Sonia. “Ayo, pergi, Nyonya Sonia. Kegilaan dan kehidupan khusus kita berdua baru saja resmi dimulai!”Sonia meletakkan tangannya di dalam telapak tangan Reza. Bola matanya terlihat berkilauan. “Asalkan kamu nggak merasa bosan, aku nggak akan meninggalkanmu sampai kapan pun!”Reza menggenggam tangan Sonia, lalu memeluk Sonia ke dalam pelukannya. “Tenang saja. Seumur hidup ini, kita berdua tidak akan berpisah lagi!”Sonia bersandar di atas pundak Reza, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat kembang api di atas langit. “Terima kasih, Reza.”Terima kasih sudah membawa Sonia berjalan keluar dari kegelapan dan memiliki kehidupan yang berbeda!Reza menggendong Sonia berjalan ke dalam kastil. Lampu di seluruh kastil terang benderang. Akhirnya malam ini menyambut sang pemiliknya.Mereka terus naik hingg
“Tapi ada yang aneh kali ini!” Tandy menggeleng, lalu berkata pada Sonia, “Aku taruhan, ya. Kali ini cinta Kak Tasya pasti bertepuk sebelah tangan!”Sonia menunjukkan ekspresi kagetnya. “Siapa lelaki yang nggak tahu diri itu? Mana mungkin cinta kakakmu bertepuk sebelah tangan?”Tandy berkata dengan kh
Begitu memasuki rumah, tampak dekorasi klasik nan indah di dalamnya. Jantung Jason seketika berdegup kencang. Dia tidak bisa mendeskripsikan apa yang dirasakannya saat ini.“Tuan, biar aku bawa Yana ke kamar,” ucap Linda dengan tersenyum ringan.“Oke.”Jason tidak leluasa untuk masuk ke kamar perempuan
Tubuh Sonia menempel di balik kaca jendela. Rasa dingin itu membuat Sonia mulai menyadarkan dirinya. Sekarang mereka sedang berada di lantai 30. Semuanya terasa sangat familier bagi Sonia.Tetiba Sonia kepikiran dengan kejadian beberapa tahun silam. Hanya saja, semuanya terasa bagai mimpi saja.Cahaya
Pesta akan segera dimulai.Setelah menuruni mobil, Tiffany berjalan ke sisi Sonia, lalu mengajaknya. “Ada barbeku di sana. Kita pergi panggang daging, yuk!”“Ayo!” Sonia mengangguk dengan tersenyum.Kali ini, Reza baru melepaskan tangan Sonia. Dia berkata dengan lembut, “Main sana. Nanti aku akan pergi







