FAZER LOGIN“Kalau begitu, kamu makan dulu, makan!” Aska menatap Theresia. Sepertinya karena terlalu gembira, suaranya pun terdengar sedikit gemetar.Pelayan sudah mempersiapkan makan siang. Semua orang bersama-sama berjalan menuju ruang makan. Dari tadi Julia menggenggam tangan Theresia. Dia masih tidak bisa menenangkan dirinya.“Jadi, di dunia ini tidak mungkin bisa muncul kesan baik terhadap seseorang tanpa alasan. Saat pertama kali kita bertemu, kita bagai sudah kenal lama, ternyata karena punya hubungan darah.”Theresia berkata dengan tersenyum, “Setelah dipikir-pikir saat ini, semuanya terasa sangat ajaib.”Julia menyuruh Theresia untuk duduk. “Kamu makan dulu. Kita ngobrol setelah selesai makan.”Semua orang duduk mengelilingi meja makan. Aska bertanya pada pelayan, “Di mana Hallie? Seharian aku tidak melihatnya.”Pelayan membalas, “Kata Nona, ada sedikit urusan di perusahaan, dia pun sudah pergi bekerja pagi-pagi.”Morgan kepikiran dirinya bertemu dengan Jovita di lembaga forensik. Tatapan
Terlihat senyuman di atas wajah tampan Reza. “Hasil ini sangat menggembirakan!”Setidaknya sejak awal, siapa pun tidak akan menyangka hasil ini.Juno mengambil tisu untuk Rose dan Aska. Dia menepuk-nepuk pundak Rose. “Jangan menangis lagi. Kalau kamu menangis lagi, Pak Guru juga tidak bisa merasa tenang.”Rose mengambil tisu untuk menyeka air mata Aska. "Pak Guru jangan menangis lagi. Jangan menangis lagi!”Jemmy juga mengambil tisu yang diberikan Sonia, lalu menyeka matanya. Saat melihat Morgan, dia memberikan tatapan penuh rasa kagum. Cucunya ini memang hebat!Bibir tipis Morgan sedikit melengkung ke atas. Dia mengangkat bola matanya untuk melihat Theresia.Theresia tidak menangis. Tatapan yang diperlihatkan bahkan terasa tidak berdaya. Dia sudah lama tidak memiliki perasaan seperti ini. Hal yang paling berkesan di benaknya adalah masa Morgan membawanya pergi dari Hondura. Theresia duduk di dalam mobil. Dia tidak tahu pria itu hendak membawanya ke mana. Dia tidak tahu apa yang akan d
Morgan membawa Theresia kembali ke rumah Aska. Saat melewati halaman, Theresia melihat pemandangan di dalam halaman. Rasa familier yang tak bisa dideskripsikan menyerang hatinya. Sepertinya semua terasa begitu lama. Saking lamanya, semua terasa bagai di kehidupan lampau saja. Sepertinya dia memang pernah datang kemari.“Ada apa?” Morgan menoleh dan bertanya ketika melihat Theresia berhenti.Theresia melihat matanya dan menggeleng dengan perlahan.“Apa kamu merasa takut? Kamu itu Theresia yang tidak takut dengan apa pun, tapi kamu malah takut dengan hal seperti ini?” sindir Morgan, tetapi malah membalikkan tubuhnya dan pergi menggandeng tangan Theresia untuk melanjutkan langkahnya.Mereka berdua memasuki rumah. Semua orang sedang menunggu di dalam ruang tamu. Ketika melihat mereka berdua masuk secara bersamaan, Aska duluan berdiri, lalu bertanya dengan antusias, “Apa hasilnya sudah keluar?”“Sudah keluar!”Morgan menyerahkan tiga set hasil tes DNA kepada Aska, Julia, dan Jemmy.Aska men
“Apa kamu merasa gembira?” tanya Morgan.Theresia menggeleng. “Aku nggak tahu.”“Jadi bengong?” Morgan tersenyum.Theresia hanya menatap Morgan tanpa berbicara.Morgan meringankan suaranya. “Tidak apa-apa. Kamu akan mulai terbiasa. Semuanya ada aku, kok!”Theresia mengangguk dengan bingung.“Sekarang, aku bawa kamu pergi cari Bibi Julia untuk beri tahu dia kabar bagus ini.” Morgan tersenyum. Dia melepaskan Theresia, lalu menyalakan mesin mobil.Theresia menurunkan kelopak matanya sembari merenung. Dia bertanya, “Seandainya Bibi Julia itu ibuku, jadi siapa ayahku?”Morgan membantu Theresia untuk menjelaskan, “Ayahku adalah teman kuliah Bibi Julia. Dia tidak kembali lagi setelah kuliah di luar negeri. Seharusnya dia sudah punya keluarganya sendiri. Orang yang memiliki hubungan darah denganmu sekarang cuma Bibi Julia dan … Kakek Aska saja.”Theresia mengangguk dengan datar, lalu bergumam dengan nada ringan, “Jadi, aku juga bukan dicampakkan.”“Tentu saja bukan!” Tatapan Morgan terlihat mu
“Nyonya Jovita, ini hasil tes DNA-nya. Apa benar kamu adalah temannya orang yang melakukan tes DNA?” tanya orang itu, “Aku bawa keluar hasil tes DNA kepadamu dengan risiko dan tanggung jawab sangat besar!”“Iya, dia memintaku untuk membawa hasilnya. Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa!” Jovita tersenyum. Dia mengambil hasil tes DNA, lalu menyuruh orang itu untuk kembali duluan. Dia duduk di atas bangku sembari membaca hasil tes DNA di tangannya. Bagian depan diabaikan, langsung membaca hasilnya. Baru saja melihat sekilas, laporan tes DNA pun dirampas oleh orang lain. Jovita mengangkat kepalanya dengan kaget. Dia melihat ada seorang pria tinggi dan tampan di hadapannya dan dia pun terbengong.Morgan melihat hasil tes DNA sekilas, lalu berkata dengan nada dingin, “Apa kamu itu Nyonya Jovita? Apa hasil tes DNA ini ada hubungannya sama kamu? Kamu malah menyuap petugas untuk mengambil hasil tes DNA. Apa kamu tidak tahu perbuatanmu itu melanggar hukum?”Jovita kenal dengan Morgan. Dia s
Theresia tersenyum. “Kamu sudah banyak membantu, sudah sewajarnya aku traktir kamu makan.”Pria itu berkata, “Jadi, aku sibuk demi ditraktir makan sama kamu?”Bola mata Theresia berputar. “Kalau perlu imbalan, kamu bisa mengatakannya juga.” Theresia mengeluarkan ponselnya. “Tuan Morgan merasa cocoknya berapa?”Raut wajah Morgan berubah muram. “Coba saja kalau kamu berani transfer lagi!”Theresia pun tersenyum, lalu memalingkan kepalanya untuk melihat ke luar jendela mobil. Cahaya lampu menyinari lekuk wajah indah Theresia. Ujung matanya juga berkilauan, terlihat menawan.…Setelah kembali ke tempat tinggal Theresia, begitu memasuki rumah, Theresia pun berkata, “Kamu duduk dulu. Aku pergi ambil minuman.”Theresia mengambil dua botol minuman dari dalam kulkas, lalu berjalan ke dalam ruang tamu. Morgan duduk di atas sofa sembari mengambil ponsel untuk membalas pesan.Theresia menyerahkan minuman kepadanya, lalu berbasa-basi, “Sibuk, ya?”Morgan meletakkan ponselnya. Dia tidak mengambil bo
Raut wajah Stella sangatlah muram. Betapa inginnya dia segera menghilang dari pandangan Reza!Reviana memaksa diri untuk bersikap tenang. “Aku merasa kalau Tuan Reza bisa menjaga Sonia, bisa tidak kamu juga lebih menjaga Stella? Kamu hanya perlu memahami Stella saja. Bakatnya itu pasti akan mengubah
Tasya mengangguk. “Boleh! Kalau begitu, kamu makan dulu. Aku akan minta izin sama bosku. Kita pergi bersama nanti.”“Kamu juga makan dulu. Kalau nanti kamu disalahkan bosmu, aku akan jelasin sama dia.” Oscar menunjukkan senyuman hangatnya.“Nggak usah, aku bisa makan di belakang. Kalau begitu, aku sib
Indra membalikkan tubuh untuk meninggalkan Reza. Dia berjalan ke dapur. Kebetulan tampak Herman sedang menuangkan obat yang baru selesai dimasaknya ke dalam mangkuk. Dia segera berjalan maju. “Biar aku saja yang hidangkan!”Herman mengangguk. “Setelah obatnya agak dingin, kamu bisa suap Pak Jemmy. Ak
Hati Stella berdegup kencang. Seandainya dia menjadi istrinya Reza, sepertinya semua orang di Kota Jembara akan tunduk terhadapnya!Reza menyalakan sebatang rokok, lalu kembali melihat ke sisi Hendri. Tatapannya penuh dengan hinaan. “Sonia itu anak asuhmu?”Punggung Hendri spontan berkeringat dingin.







