LOGINTora memperlihatkan luka di tubuhnya kepada Yandi, lalu berkata dengan gusar, “Semua prosedur untuk membuka penginapan milik orang tuaku di sini lengkap. Tempat ini juga tidak termasuk ke dalam area proyek hotel. Mereka malah seenaknya menyuruh kami membongkarnya, atas dasar apa?”“Uang kompensasi yang mereka berikan juga sangat sedikit. Jadi, bagaimana orang tuaku bisa menjalani sisa hidup mereka? Tapi orang-orang di balik hotel itu punya kekuasaan dan pengaruh besar. Sama sekali tidak ada yang mau membela atau menegakkan keadilan untuk kami.”Tasya juga ikut merasa gusar. “Mereka ini sama saja dengan merampas. Kita bisa menggugatnya!”Tora tersenyum getir. “Tidak ada gunanya.”Lecy yang berada di samping berkata dengan suara kecil, “Sebenarnya, seandainya uang kompensasi yang mereka berikan cukup banyak, sebenarnya bukannya nggak boleh ….”Tora segera memotong omongan Lecy, “Tidak peduli berapa pun yang mereka berikan, penginapan ini tidak boleh dibongkar. Rumah di kampung halaman ka
Tasya teringat sesuatu. Dia pun mengangguk tanda setuju. “Setelah dengar ucapanmu, memang nggak mahal, sih!”Bisa memeluk seseorang, harga dua juta juga tidak mahal!Sebenarnya Yandi ingin menghibur Tasya, tetapi ketika melihat ekspresi Tasya, sepertinya dia sudah berpikir kebanyakan. Raut wajahnya pun seketika berubah murung.Suasana hati Tasya menjadi membaik. Dia berkata dengan tersenyum, “Apel juga sudah dibeli, jadi dimakan saja, jangan disia-siakan!”Tasya mengambil tisu untuk membersihkan apel, kemudian memberikan satu buah apel kepada Yandi.Yandi menolak untuk makan.“Kalau begitu, aku makan sendiri saja!” Tasya langsung menggigit buah apel. Suara renyah buah apel yang meledak mengeluarkan sari buah di dalam mulut memenuhi seluruh ruangan mobil.Jakun Yandi tanpa sadar ikut bergerak naik turun.Dalam waktu singkat, Tasya sudah mengunyah setengah buah apel. Dia memalingkan kepalanya dan berkata, “Apa benar kamu nggak mau makan? Rasanya manis sekali!”Apel ini memang pantas diha
Sesekali ada mobil wisatawan yang melintas di jalan pegunungan. Di kejauhan, tampak beberapa lampu penginapan menyala. Meskipun berada di tengah kegelapan malam, pemandangan itu justru menghadirkan rasa hangat dan tenang di hati.“Aroma apa ini? Kayaknya bau apel!” Tasya melangkah beberapa langkah ke depan, lalu menoleh dengan gembira. “Di sana ada pohon apel!”Yandi mengernyitkan dahi. “Jangan ke sana. Kita harus jalan lagi.”“Aku cuma petik satu saja!” jawab Tasya sambil berlari menuju pohon apel.Ini pertama kalinya Tasya melihat pohon apel. Dia memanfaatkan bantuan cahaya rembulan untuk memetik buah apel terbesar. Saat ini, dia kepikiran untuk memetik satu buah apel lagi untuk Yandi.Baru saja tangan Tasya menyentuh apel, dia pun terdengar suara jeritan. “Siapa yang mencuri buah apelku! Berhenti, jangan bergerak!”Cahaya senter terlihat di dalam kegelapan. Suara jeritan juga terdengar semakin mendekat. Ada yang berlari dari kejauhan. Tasya pun tertegun. Dia mengira pohon apel ini a
“Kota Owara.”Kota Owara adalah kota yang bersebelahan dengan Kota Jembara, juga dikenal sebagai kota wisata.Tasya berpikir sejenak, lalu membuat keputusan. “Aku pergi bersamamu!”Yandi mendengus dingin. “Apa kamu tahu apa yang mau aku lakukan di sana? Malah mau pergi bersamaku?”Tasya membalas dengan tersenyum, “Aku nggak peduli kamu mau ngapain. Intinya, aku mau pergi bersamamu!”Yandi langsung menolak, “Tidak boleh!”“Kenapa nggak boleh?”“Aku tidak bisa pulang hari ini. Aku akan tinggal dua hari di sana. Tidak praktis kalau kamu ikut ke sana.”“Anggap saja aku pergi untuk liburan!”Yandi tidak berbicara, tetapi dia tetap mengendarai mobil menuju Kediaman Keluarga Herdian.Tasya juga tidak panik. “Kamu antar aku pulang saja, biar aku kemas barang-barangku. Nanti aku akan bawa mobil sendiri ke Kota Owara. Bisa jadi kita bisa ketemuan di sana.”“Tasya!” Raut wajah Yandi berubah muram.Tasya menggigit bibirnya untuk melihat Yandi. “Rekan kerjaku pada pergi jalan-jalan. Aku bisa tetap
Di suatu area pemakaman Kota Jembara.Makam Kalong, T-rex, dan yang lain sudah dipindahkan tepat di samping makam Serigala. Mereka seolah-olah sedang berkumpul bersama lagi.Setelah Yandi tiba, dia menyalakan sebatang rokok di masing-masing depan makam. Tasya juga meletakkan bunga di depan batu nisan.Seperti biasanya, Yandi duduk di atas anak tangga batu. Dia menatap pegunungan di kejauhan sembari mendampingi mereka dengan hening.Tasya juga duduk menemani Yandi sejenak. Pada saat ini, dia berkata, “Kamu ceritakan lagi kisah kalian sebelumnya kepadaku!”Raut wajah Yandi kelihatan datar. “Aku sudah cerita semuanya!”Setiap kali kemari, Tasya selalu meminta Yandi menceritakan kisah di Benua Delta sebelumnya. Dia juga sudah menceritakan semua yang masih diingatnya.Tasya berkata, “Bukannya kedatangan banyak teman seperjuangan baru. Pasti ada banyak kisah lagi!”“Tidak ada lagi!” Yandi menekuk satu kaki dengan sikap santai dan cuek, bahkan tampak sedikit tidak sabar.“Kalau begitu, lain k
Tasya berkata, “Kalau begitu, aku terpaksa lapor polisi!”Pria bertato merasa agak kesal. “Bukannya cuma seorang pelayan, malah bersikap belagu. Aku bisa minta nomor WhatsApp-mu juga karena memandang tinggi dirimu!”Tasya menatap pria bertato dengan tatapan dingin. Dia melihat pria itu tidak menghentikan aksinya, dia pun langsung berteriak, “Bos Yandi, ada yang datang merusak restoranmu!”Tak lama kemudian, Yandi berjalan keluar dari dapur. Dia mengenakan kaos berwarna hitam. Postur tubuhnya tinggi dan kokoh. Saat berjalan kemari, udara sekitar seolah-olah telah membeku.Tatapan dingin Yandi menyapu ke sisi pria bertato. Pria bertato merasakan aura dingin yang menusuk tulang. Punggungnya terasa merinding. Dia pun spontan mundur selangkah.Tasya mengangkat tangannya menunjuk pria bertato itu. “Dia nggak mau bayar sebelum aku beri dia nomor WhatsApp-ku.”Teman pria bertato mendengar kegaduhan di sana. Mereka segera berdiri dan melihat ke sana. Mereka kelihatannya seperti preman saja.Leo
Hati Jason terasa luluh dan sakit.…Tidak lama kemudian, semua orang juga telah mengetahui masalah ini. Raut wajah Yusa kelihatan pucat. Dia langsung meminta maaf kepada Jason, “Kak Jason, aku benar-benar tidak tahu harus ngomong apa sama kamu. Kalau kamu masih merasa marah, kamu bisa tampar aku!”
Jucy bermain permainan sejenak, kemudian dia merasa tidak seru. Dia juga tidak bisa menyambung topik pembicaraan orang lain. Pada akhirnya, dia pun pergi ke sebelah sendirian. Jucy melewati area tanaman bunga mawar. Dia melihat ada yang sedang bersandar di bawah lampu jalan sembari merokok.Tatapan
Ranty tersenyum cerah. “Semangat!”Theresia pun tersenyum. “Terima kasih!”…Morgan mencari tempat yang lebih hening untuk mengangkat telepon. “Ada apa?”“Tuan Morgan!” Suara orang di ujung telepon terdengar serius. “Sudah terjadi sesuatu. Aku terpaksa beri tahu kamu!”Nada bicara Morgan terdengar s
Di dalam kamar.Sonia dan Jemmy sedang bermain catur. Sonia tidak pintar dalam bermain catur, dia selalu butuh arahan dari Jemmy. Sonia pun mendengar dengan sabar. Meskipun hanya bermain catur, dia merasa sangat menikmati dan memperolehi penghasilan ketika mendapat arahan dari sang kakek.Ponsel yan







