MasukJulia berkata, “Mau bawa apa di rumah? Aku beresin sama-sama kamu.”Theresia membalas dengan tersenyum, “Nggak apa-apa. Biar aku sendiri saja. Nggak banyak juga!”Nada bicara Aska terdengar ramah. “Kalau begitu, kamu mesti pulang setelah pulang. Ada yang ingin Kakek diskusikan sama kamu.”Theresia membalas, “Oke.”Hallie berkata dengan tersenyum, “Setelah Theresia pulang ke rumah, dia tinggal di sebelah kamarku saja. Jadi, kita juga bisa jadi teman ngobrol.”Julia menolak dengan tersenyum datar, “Nggak usah. Aku sudah suruh pelayan untuk bereskan kamar di sampingku. Aku ingin lebih dekat sama Jeje.”Hallie tersenyum cerah. “Bagus juga.”Selesai sarapan, Morgan mengantar Theresia ke perusahaan. Aska juga mengantar mereka ke depan pintu gerbang halaman.Hallie duduk di mobil yang dikendarai sopir Keluarga Angsara. Ketika melihat Aska tidak merelakan mobil Morgan, hatinya pun terasa dingin. Ternyata memiliki hubungan darah memang berbeda. Padahal Hallie sudah tinggal berbulan-bulan di sin
“Memangnya kenapa kalau bermarga Bina? Theresia sendiri yang bersedia.” Jemmy pantang menyerah.“Itu karena dulu dia belum kembali ke Keluarga Angsara. Sekarang, dia sudah kembali, tentu saja marganya juga mesti diubah.” Aska kelihatan keras kepala, tidak berniat untuk mengalah.Jemmy bertanya, “Jeje itu nama panggilannya. Dulu, kalian beri dia nama apa?”Begitu Aska mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya menjadi suram. “Begitu Jeje lahir, aku dan Julia mulai bertengkar. Tidak lama kemudian, dia bawa Jeje meninggalkan Kota Kembara, lalu memberinya nama panggilan ‘Jeje’. Setelah pulang ke rumah, aku juga terus mengusulkan untuk memberi nama kepada Jeje. Tapi setiap kalinya, pendapatku selalu bentrok dengan Julia. Jadi, namanya masih belum dipilih.”Jemmy berkata dengan gembira, “Itu berarti Jeje memang ditakdirkan untuk diberi nama Theresia Bina. Aku rasa tidak perlu diubah lagi!”Aska mendengus dingin. “Tidak mungkin. Besok, aku akan diskusikan masalah ini dengan Julia. Kemudian, mena
Sonia membalikkan tangannya untuk menggenggam tangan Reza. Terlihat senyuman di atas wajah indahnya. “Sekarang, kita bisa pikir mau bulan madu di mana.”Tatapan Reza kelihatan lembut. “Kamu mau ke mana?”Tiba-tiba Sonia kepikiran sesuatu. “Sebenarnya aku agak khawatir sama Hallie.”“Tenang saja. Ada Morgan!” Reza tersenyum. “Dia tidak akan biarkan siapa pun melukai Theresia!”“Emm!” Terlihat tatapan penuh penantian di dalam mata Sonia. “Semoga saat kita pulang, Kak Morgan dan Theresia sudah jadian.”“Pasti!”…Malam hari.Julia membawa Theresia ke kamarnya sendiri. “Malam ini, kita tidur satu kamar saja. Masih ada banyak hal yang ingin aku obrolkan sama kamu.”Theresia tersenyum lembut. “Oke!”Pelayan sudah mempersiapkan keperluan mandi dan piama baru untuk Theresia. Setelah Theresia selesai mandi, Julia masih sedang duduk di atas ranjang sembari melihat foto masa kecil Theresia. Dia mengangkat kepalanya dan melambaikan tangan kepada Theresia. “Ayo, ke atas ranjang.”Theresia melepaska
Jemmy berkata, “Setelah mengucapkan semua isi hati, semuanya pun sudah berlalu. Jeje sudah kembali. Itu adalah hal yang gembira. Kalau kamu seperti ini, Jeje juga akan merasa tidak nyaman.”“Oke!” Aska menyeka air matanya, lalu berkata pada Theresia, “Hidup masih panjang. Kita cari kembali 20 tahun itu lagi!”Theresia mengangguk dengan tersenyum lembut. “Oke!”…Selesai makan, semua orang duduk di ruang tamu untuk mengobrol bersama. Jemmy berkata pada Sonia, “Bukannya kamu dan Reza mau pergi bulan madu? Sekarang, Jeje juga sudah ditemukan. Kalian bisa pergi besok.”Wajah Sonia terlihat indah. Dia berkata dengan tersenyum, “Aku merasa terlalu gembira, aku jadi nggak mau pergi.”Morgan berkata dengan tersenyum, “Reza sudah mengesampingkan masalah pekerjaan untuk menemanimu bersenang-senang. Kalian bisa lakukan apa yang ingin kalian lakukan sekarang. Kelak, waktu untuk berkumpul masih sangat banyak. Jangan sampai kami mengganggu waktu bulan madu kalian berdua.”Reza melirik Sonia sekilas,
Hallie berdiri di sana dengan wajah pucat. Cahaya senja memancar ke atas wajahnya, membuat wajahnya kelihatan lebih dingin.Baru saja hari pertama, Theresia pun sudah bersikap seperti ini terhadapnya. Sepertinya Theresia sudah mulai kepikiran untuk mengusirnya! Hallie tidak akan pergi. Dia duluan datang ke sini. Atas dasar apa dia pergi?Hallie terisak-isak. Dia menengadah kepalanya untuk menahan air matanya. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia baru membalikkan tubuhnya berjalan kembali.Begitu Hallie masuk rumah, dia mendengar dua orang pelayan sedang mengerumuninya. “Nona, ada sup sarang burung walet berkualitas tinggi dimasak dengan goji berry, apa kamu terbiasa dengan rasa seperti ini? Kalau Nona tidak suka, aku akan ganti dengan rasa lain.”“Nona, biasanya kamu suka makan ikan kukus polos atau yang lain? Kata Pak Aska, dimasak sesuai dengan kesukaanmu saja.”“Nona, biasanya kamu lebih suka rasa yang lebih manis atau yang lebih pedas. Kamu bisa beri tahu kami, kami akan masak se
Morgan mengangguk. “Oke!”Julia melirik Theresia sekilas dan tersenyum padanya. Dia pun duluan meninggalkan tempat.Theresia mengerti bahwa Julia ingin menyuruhnya mengobrol berdua dengan Morgan. Di dalam taman bunga ini, memang hanya tersisa mereka berdua saja.Julia suka dengan bunga lili. Ada banyak bunga lili ditanam di taman bunga Aska. Kebetulan sekarang adalah bulan Mei, cuaca terasa hangat dan bunga-bunga sedang bermekaran. Kelopak bunga berwarna putih itu terlihat lembut dan terasa wangi.Di dalam taman bunga yang hening ini, Morgan menatap Theresia dalam-dalam. Dia mengangkat tangannya untuk menyeka ujung mata Theresia, lalu berkata dengan suara rendah, “Apa kamu menangis?”Theresia menatapnya. “Tadi Bibi Julia cerita banyak kisah masa kecil kepadaku ….”“Ibu!” sela Morgan, lalu berkata padanya dengan tegas, “Mulai sekarang, kamu mesti panggil ‘Ibu’.”Theresia menggigit bibir delimanya. Terlihat rasa tidak leluasa di dalam bola mata menawannya.Morgan berkata, “Memang tidak t
Suara Yandi memang pada dasarnya serak. Di dalam ruangan yang sunyi, nada bicaranya terasa semakin rendah, setiap kata seolah-olah menghantam hati Tasya.Wajah putih Tasya seketika merona. Mata bulatnya berkilau. Bibir merah mudanya digigit ringan saat dia berkata dengan suara rendah, “Aku menciummu
Di Kediaman Keluarga Bina.Jemmy dan Morgan sedang berdiri di luar pintu untuk menunggu kepulangan Sonia.Ketika melihat mobil berwarna hitam melaju ke dalam yang masih berjarak sangat jauh, Jemmy pun tersenyum. “Dia sudah kembali.”Tampak sedikit rasa nostalgia yang dalam di mata yang sudah tampak
“Nggak.”“Coba kamu nangis malam ini.”…Langit di malam hari semakin gelap. Kesadaran kembali jernih. Langit di ujung sana juga sudah mulai terang.Setelah Sonia tertidur, Reza keluar kamar. Dia menutup rapat pintu kamar, lalu berjalan hingga ke balkon ruang tamu sebelum menelepon Robi.Setelah pan
Theresia tertegun sejenak, lalu membalikkan kepalanya untuk melirik pundak Morgan. Dia mengulurkan tangannya hendak memilih sebuah payung.“Satu saja sudah cukup!” Morgan menarik lengan Theresia. “Tidak ada ruang untuk menaruh begitu banyak payung!” Sambil berbicara, Morgan menarik Theresia untuk be







