LOGINOrang lain yang berada di dalam lift juga merasa syok. Mereka tidak ingin membuat masalah, segera melangkah mundur. Ada dua orang datang bersama pria yang dipukul. Ketika melihat temannya sendiri dipukul tanpa membedakan benar dan salah, mereka yang berada di bawah pengaruh alkohol langsung menerjang ke sisi Yandi.“Berdiri di belakangku dan jangan bergerak!” ucap Yandi dengan suara rendah. Dia menarik Tasya ke belakang, lalu menggunakan belakang punggungnya untuk mengadang Tasya. Setelah itu, dia pun ditendang keluar.Tasya tertutup rapat di balik punggung lebar Morgan hingga nyaris tidak bisa melihat apa pun. Mendengar seruan kaget dan jeritan kesakitan dari depan, dia beberapa kali tidak tahan ingin menjulurkan kepala untuk melihat keributan itu, tetapi segera ditekan kembali oleh Morgan.Tasya berpikir, pria itu mungkin tidak ingin dirinya ketakutan, mungkin juga tidak ingin Tasya melihat sisinya yang galak dan kejam.…Lift berhenti di lantai satu. Orang-orang yang menunggu lift d
Tasya terbengong sejenak. Tatapannya tertuju pada diri pria itu. Jantungnya juga berdetak tidak karuan.Sonia juga sudah melihat Yandi. Dia memalingkan kepalanya melirik Tasya yang terbengong sejenak. Dia spontan ingin tersenyum.Yandi datang terlambat. Dia sudah menyapa Morgan, Reza, dan yang lain, kemudian duduk di antara mereka.Akhirnya Tasya merasa tenang.Ranty memberi isyarat mata kepada Theresia. “Kak Theresia sudah bisa menunjukkan kegunaannya!”Tasya segera berkata, “Lebih baik jangan. Aku sangat memahami pemikiran Bos Yandi. Lebih baik aku pelan-pelan saja!”Theresia mengangguk. “Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa segera cari aku.”Tasya berkata dengan lantang, “Tenang saja. Kita sudah sekeluarga. Aku pasti nggak akan bersikap sungkan sama kamu.”Setelah main sejenak, ponsel Tasya berdering. Dia pergi mengangkat telepon. Saat kembali, dia mencari tasnya. “Sonia, rekan kerjaku lagi dinas. Sekarang dia butuh data penting. Data itu ada di komputer. Aku mesti kembali ke perusah
Pada hari Sabtu malam, Morgan memesan ruangan VIP di Kasen.Pada jam delapan malam, semua orang juga sudah hadir. Morgan mengumumkan kabar dirinya telah menikah dengan Theresia. Setelah semuanya merasa syok, semuanya mulai bersorak untuk memberi selamat.Sonia dan Ranty sudah mengetahui masalah ini duluan. Hanya saja, mereka tetap merasa antusias seperti yang lain. Ranty tidak bisa mendeskripsikan rasa terharu di hatinya, lalu memeluk Theresia. “Aku benar-benar merasa gembira!”Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku mesti berterima kasih kepada makcomblangku!”Senyuman Ranty semakin lebar lagi. “Mesti, dong. Lain hari, aku akan pergi cari Kakek Jemmy. Aku mau tagih hadiah makcomblang sama dia!”Sonia tersenyum tipis. “Dengan sikap keras kepalamu, kamu pasti diberi hadiah!”Ranty tersenyum lembut, tetapi dia malah berkata, “Ujung-ujungnya, Kak Morgan yang paling hebat! Selamat, ya!”Morgan tersenyum tipis. “Terima kasih!”Semua orang saling berbasa-basi sejenak, lalu mulai duduk di tem
Theresia mengangguk dengan tersenyum. “Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi. Kelak kalau kita menetap di Kota Atria, aku bisa membujuk Kakek untuk pergi bersama.”Morgan mengambil ponselnya, lalu membuka beberapa lembar foto untuk diperlihatkan kepada Theresia. Theresia melihat halaman rumah dalam foto itu, ukiran indah memenuhi balok dan bangunannya. Dia mengangkat alis dan bertanya, “Kediaman Keluarga Bina?”“Bukan Kediaman Keluarga Bina di Kota Atria, tapi ini yang kubangun di Kota Jembara. Pembangunannya sudah hampir setengah tahun dan sebentar lagi akan selesai,” jelas Morgan padanya, “Tentu saja tidak mungkin bisa sama persis dengan kediaman keluarga kami. Beberapa barang antik dan kayu tidak bisa direplikasi. Tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya seperti aslinya.”Kediaman Keluarga Bina adalah rumah warisan berusia ratusan tahun. Setiap bunga dan rumput, setiap bata dan gentengnya, membawa nuansa kuno dan beratnya jejak waktu. Terlebih lagi lorong panjang d
Saat langit sudah sepenuhnya menjadi gelap, Morgan pun memasak untuk Theresia. Dia mengganti pakaiannya dengan sepotong kemeja berwarna putih. Dia menggulung lengan pakaiannya ke atas, menunjukkan lekuk otot yang jelas di bagian lengannya.Tangan yang terbiasa memegang pistol itu, kini juga kelihatan kokoh dan santai ketika memegang pisau untuk memotong sayuran.Setelah membasuh tubuhnya, Theresia mengenakan sepotong gaun panjang berbahan sutra asli. Dia mengikat rambut panjangnya di belakang, menunjukkan leher panjang bak angsa itu. Terlukis senyuman di atas kelima indra yang indah dan lembut itu. Dia membantu Morgan untuk mengambil barang atau menginstruksinya dalam mengatur rasa.Mereka berdua bersenda gurau sejenak. Kegiatan memasak yang awalnya membosankan malah berubah menjadi lebih menarik.Theresia merasa sangat bagus untuk tinggal di sini. Rumah ini tidak besar, tapi cukup untuk ditempati mereka berdua. Tanpa perlu dilayani oleh pelayan, mereka pun bisa terbiasa dengan situasi
Dias malah sudah melihat keberadaan Arvan. Dia langsung menunjukkan senyuman di wajahnya, lalu menyapa dengan hangat, “Tuan Arvan!”Ketika melihat ekspresi munafik Dias yang membuat orang merasa jijik, tiba-tiba Arvan mengerti betapa langkanya wanita seperti Theresia di muka bumi ini.Sepertinya tidaklah sulit untuk dipahami kenapa Morgan bisa menyukainya.…Setelah memasuki mobil, Morgan mengambil bunga di baris belakang kepada Theresia.Theresia memeluk buket bunga mawar berwarna merah, lalu memalingkan kepalanya untuk melihat si pria.Terlihat senyuman di atas wajah tampan Morgan. “Ada apa?”Theresia memutar bola mata indahnya. Terlihat sedikit ekspresi nakal di wajahnya. “Dulu, kenapa aku nggak sadar kalau Tuan Morgan seromantis ini?”“Romantis?” Morgan melihat situasi jalan di depan sana. Suaranya terdengar magnetis. “Cuma membeli sedikit barang kesukaanmu saja sudah tergolong romantis?”Theresia memeluk bunga. Wajahnya kelihatan lebih indah daripada bunga. Dia juga tersenyum deng
“Kalau tidak mau minum obat, kamu jangan sakit!”“Kamu kira aku bersedia untuk sakit?”“Kalau tidak mau sakit, kenapa kamu tengah malam malah berdiri di tengah angin dingin? Apa hubunganmu dengan angin dingin bagus sekali?”Rose tidak sanggup mengalahkan ucapan Juno. Dia langsung mengambil obat, lal
Morgan membalikkan tubuhnya, lalu menunduk untuk menatap Theresia. “Sekarang kamu mulai minta balasan?”Theresia menengadah kepalanya untuk menatap Morgan. Mata indahnya kelihatan menawan. Theresia menggeleng pelan. “Seumur hidupku, aku nggak bisa membalas semua yang kamu berikan kepadaku.”Morgan t
Igbert segera berkata, “Aku lalai dalam mendidik anak. Aku sudah membuat banyak masalah untuk kamu. Apa pun hasil pemeriksaan nanti, aku pasti tidak akan membantunya.”Suara Morgan terdengar rendah. “Aku sudah beri kesempatan kepadanya.”“Aku tahu. Aku tahu!” Igbert mengangguk. “Selama ini, aku sang
Theresia memeluk Morgan, lalu menjinjit ujung kakinya untuk membalas ciuman.Morgan langsung menggendong Theresia, lalu melangkah ke sisi ranjang. Dia menurunkan Theresia ke atas ranjang, lalu membungkukkan tubuhnya untuk mencium Theresia. “Tadi kamu panggil aku apa?”Mata Theresia berkaca-kaca. Dia







