LOGINRima terjaga, dia mendapati dirinya sudah berada di kamar pasien, masa kritisnya sudah berlalu. Tidak tahu berapa lama dia sudah berada di sana. Rima menatap kamar di mana dia berada saat ini, kamar yang sangat luas dilengkapi dengan perabotan. Kamar pasien kelas VIP. Tidak ada suara berisik bahkan suara ruangan sebelah juga tidak terdengar dari dalam ruangannya.“Rumah sakit? Siapa yang membawaku ke sini?” tanyanya pada dirinya sendiri.Tidak lama setelah itu, pintu kamar dibuka, seorang dokter masuk ke dalam ruangan.“Anda sudah bangun? Bagaimana perasaan Nyonya? Apa ada keluhan?”Jujur saja sekujur tubuh Rima masih sakit, ada beberapa bekas luka ditubuhnya akibat diseret oleh para preman yang sudah merundungnya.“Bagaimana kondisi bayi dalam perutku? Sebelumnya aku mengalami pendarahan.”“Kondisi bayi Anda baik-baik saja, tidak ada masalah serius. Bayi Anda kembar, keduanya baik-baik saja, dari hasil USG usianya sepertinya baru enam bulan jalan?” tebak dokter tersebut.Rima mengan
Pada keesokan paginya. Rima meninggalkan sarapan di meja, dia juga meletakkan obat untuk diminum Niko. Niko terjaga, dan dia melihat perban di telapak tangannya sudah diganti dengan yang baru. Niko beranjak bangun dan duduk. Dia mengingat tentang semua yang terjadi semalam. Dia selalu melakukannya dengan sepenuh hati, perasaannya tidak pernah berubah bahkan semakin dalam. Ketika pergi ke kamar mandi dia melihat makanan sudah dimasak dan dihidangkan di meja. Di sampingnya ada beberapa obat. Niko agak kesulitan ketika di kamar mandi, lukanya tidak boleh terkena air dan akhirnya dia hanya mengguyur tubuhnya dan memberikan sabun pada bagian tubuh yang bisa dia jangkau. Ketika keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat ponselnya berdering di atas meja makan. Niko masih membalut tubuhnya hanya dengan sehelai kain handuk. Melihat Rima yang menelepon senyum langsung mengembang di bibirnya, Niko merasa sangat senang. “Ya, Sayang?”Rima tersedak dan hampir memuntahkan air di mulutnya mende
“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”“Rima, kamu bukan tidak mengerti tapi kamu sengaja berpura-pura tidak mengerti...” desinya di telinga Rima. Niko mendekat lalu menyentuh bibir Rima dengan bibir tipisnya. Tubuh Rima gemetar, dia tidak ingin bercinta malam ini, sejujurnya dia hanya ingin tidur dengan nyaman. Tapi situasi saat ini sama sekali tidak memungkinkan untuk melakukan apa yang dia inginkan. Dia menggenggam erat gelas susu di kedua tangannya, menjaganya agar tidak tumpah. Bibirnya sudah terbenam dalam lumatan Niko. Rima ingin melepaskan ciumannya tapi semakin dia menghindar pagutannya semakin dalam, semakin gila, dan tidak terkendali. Dia baru sadar serigala lapar sudah terbangun dari tidurnya. Niko terus melumatnya dan hampir membuat Rima tidak bisa bernapas. Dia tidak berencana memberikan celah pada Rima untuk kabur. Rima merasa bibirnya lumer dan mulutnya sudah diacak-acak dengan lidah Niko. Jemari tangan kanan Niko menyentuh tengkuknya, meremasnya dengan agresif dan penu
Yosep menarik napas panjang. “Aku tahu kamu hanya tidak ingin keluarga ini hancur, tapi suatu hari bukankah kebenaran akan tetap terungkap?”“Tidak masalah jika bayi dalam kandungannya masuk ke dalam keluarga ini, toh aku sudah mengatakan pada semua orang bahwa dia pacarku. Dan jika suatu saat anak-anak itu tinggal di rumah keluarga Papa sudah tidak ada masalah lagi.” “Hahaha! Kamu lucu sekali, apa kamu tidak tahu Rima menolak semuanya? Dia lebih keras kepala dari yang kamu kira. Dia sudah mengatakan pada semua orang kalau dia tidak memiliki hubungan apa pun denganmu. Dia tidak akan pernah mau mengikuti permainan orang lain. Sudah jangan ganggu dia lagi,” tutur Yosep pada Elguen.Setelah keluar dari ruangan Yosep, Elguen menerima panggilan telepon dari Siska. Dia tahu Siska pasti ingin Elguen meralat kembali tentang semua yang dia katakan pada media. “Apa maksudmu? Kenapa kamu tiba-tiba terlibat dengan wanita asing bahkan kamu mengakuinya sebagai pacarmu? Apakah wanita itu layak men
“Bukankah kamu datang hanya untuk mengantarkan makanan? Seharusnya kamu pergi setelah mengantarnya, kenapa malah masih di sini?” nada suara Rima terdengar seperti usiran.“Sebagai calon suamimu aku harus berada di sini minimal sepuluh sampai dua puluh menit.”Rima menyipitkan matanya, lalu membuka pintu rumah untuk mengusirnya. “Tidak ada yang akan menikah denganmu, aku tidak mau melakukan pernikahan yang tidak aku inginkan.”Elguen berdiri dari kursinya dia menatap Rima. “Lalu? Apakah kamu akan membiarkan gosip simpang siur menimpa keluargaku? Kamu menolak menikah dengan Niko demi reputasinya, aku datang menggantikan posisinya. Lagi pula ini hanya pura-pura, kenapa kamu terus menyulitkan keluarga kami? Kamu tahu Niko tidak akan berhenti?”Rima mengepalkan tangannya. “Pergi!” usirnya.Elguen segera meninggalkan rumah Rima. Rima mengambil bungkusan di meja lalu membuangnya ke tempat sampah di luar rumah.***Pada keesokan paginya, ketika Rima tiba di kantor semua orang heboh dengan
Napas Niko memburu, dia menekan kedua bahu Rima hingga memosisikan diri duduk di tepi ranjang, Niko membuka kedua kakinya dan mulai menyatukan tubuh mereka berdua.Ritme gerakannya pelan, Rima memeluk tengkuknya dan menerima lumatan bibirnya. Dia menerima setiap tekanan dan pelepasan. Semalam perutnya terasa kurang nyaman, tapi setelah Niko melakukan hubungan intim dengannya Rima merasa ketegangan otot perutnya jauh lebih berkurang.Rima mencium bibirnya, dia tidak menolaknya dan malah memeluknya lebih erat. “Niko... ahh... ahhh, Niko,” lirihnya dalam desahan.Niko mencium bibirnya melumatnya sambil terus mendorong miliknya. “Rima, aku mencintaimu, aku akan mengikuti keinginanmu tapi jangan pernah mendorongku menjauh lagi...” desisnya di telinga Rima.Rima membuka matanya, keringat membanjir di sekujur tubuh polosnya dan rengkuhan kedua lengan Niko.Ketika ia sampai pada pelepasan yang kedua, Rima menggigit leher Niko secara spontan.“Engh, Niko, akh!”“Akh,” Niko memekik, dia juga







