LOGINDua bulan telah berlalu, kini di Ibu kota, iring – iringan pasukan yang kembali dengan kemenangan mulai memasuki Istana.
Jendral Perang termuda, Chu Zhao, baru saja memenangkan perang dengan negara Beotang yang menyerang batas selatan negara. Negara Beotang berakhir dengan menyerah dan mengaku kalah dan tunduk pada Kekaisaran Beixin.
Seluruh rakyat di Ibukota berpesta merayakannya. Mereka mengelukan kehebatan Dinasty Baili Mu, dibawah naungan Jendral Chu Wei, sebagai Tiang Negara, yang memiliki putra – putri berbakti.
Jenderal Agung Chu Wei adalah Jenderal paling disegani saat ini. Kaisar sangat mempercayainya, dia yang menunjang seluruh Negara.
Anggota keluarganya juga bukan main – main.
Dia memiliki seorang istri, Zhao Zhi, yang merupakan seorang yang berpindah jiwa dari masa depan. Nama istrinya dari masa depan adalah Song Yaoyi.
Song Yaoyi atau Zhao Zhi ini nampaknya sangat menikmati kehidupannya di jaman kuno ini.
Dia wanita tangguh dan cerdas. Walau dia bertansmigrasi tanpa keahilan khusus apapun, tetapi kegigihan dan kecerdasannya lah yang membawanya sejauh ini.
Keluarga Jenderal Agung chu memiliki lima orang anak.
Anak pertamanya Zhu Yu adalah anak angkat dari desanya di Chujia. Seorang Yatim – piatu yang diselamatkan oleh song Yaoyi dari kekejaman Paman dan Bibinya, yang menyiksanya sepanjang waktu.
Saat ini Zhu Yu telah menjadi pedagang Kaya Raya, yang mengurusi bisnis Ibu Angkatnya, Song Yaoyi atau Zhao Zhi. Zhu Yu memiliki seorang istri Su Jin dan anak - anak yang pemberani.
Anak Kedua mereka adalah seorang Jenderal Perang, Chu Zhao.
Dia adalah yang tertua dari sepasang anak laki – laki kembar yang dilahirkan oleh Song Yaoyi atau Zhao Zhi. Saudara kembarnya adalah Chu Rui.
Chu Zhao memulai menjajal keberanian dan kegesitannya dalam berperang sejak usia yang sangat muda. Tidak heran di usianya sekarang, dia sudah memegang posisi tinggi dalam militer, sebagai Jenderal bintang Perang. Kemenangannya yang terakhir menjadikannya Pahlawan Negara yang membuatnya banyak dicintai Rakyat.
Namun, karena selalu menghadapi peranglah yang membuat seorang Chu Zhao yang tadinya sangat hangat dan banyak bicara, menjadi sosok yang kaku dan dingin. Sifatnya ini, banyak mendorong gadis – gadis yang mendekatinya, pergi. Bahkan beberapa Panatua Kekaisaran, mengatakan jika Chu Zhao adalah seorang ‘Prem Kering’.
Tetapi semua perilakunya ini, hanya muncul disaat Chu Zhao menemui orang lain. Percayalah, dia tetap Chu Zhao yang menyebalkan jika dia bersama Ibu dan saudara – saudaranya.
Song Yaoyi atau Zhao Zhi sangat khawatir dengan anaknya yang ini. Dia akan melakukan segala cara untuk mendorong anaknya si ‘Prem Kering’ ini menikah.
Anak ketiga Jenderal Agung Chu, adalah yang lebih muda dari anak kembar laki – laki. Chu Rui Namanya. Dia adalah seorang Gubernur Ibukota.
Saat masih sangat Muda, Chu Rui memang terbilang anak yang sangat Cerdas dan Pandai. Dia juga sangat berani.
Usianya yang masih terbilang sangat Muda ketika dia awal diangkat menjadi Gubernur di Kota perbatasan, yang sedang berperang. Tapi berkat kecerdasan dan Keberaniannya, Kaisar memintanya untuk memimpin dan mengatur Ibu Kota. Bisa dibilang, Chu Rui masih lah Gubernur yang termuda.
Anak Keempat Jenderal Agung Chu adalah, sorang gadis yang sangat Cantik, Chu Yaoyao. Dia adalah seorang Dokter yang sangat mumpuni.
Chu Yaoyao belajar langsung dari ahlinya racun dan ramuan, Bibi Jiang.
Chu Yaoyao, memiliki pusat pengobatan di Alun – Alun Ibu kota dan sebuat toko obat yang besar. Kebanyakan di balai pengobatannya, pemeriksaan dan obat – obatannya dapat diambil gratis atau bahkan jika harus membayar, harga yang diberikan cederung lebih murah.
Chu Yaoyao memiliki berbagai kegiatan philanthropy yang sangat bermanfaat untuk Rakyat.
Gadis kecil Jenderal Agung Chu ini, memiliki keterikatan khusus dengan Putra Mahkota Kekaisaran ini.
Namun, Chu Yaoyao punya beberapa keraguan dengan Putra Mahkota. Melihat pernikahan Ayah dan Ibunya yang hanya memiliki satu sama lain, tanpa kehadiran selir dan istri lainnya. Chu Yaoyao memimpikan memiliki pernikahan seperti itu juga. Namun rasanya akan sulit diwujudkan jika dia memilih bersama dengan Putra Mahkota Kekaisaran.
Anak Jendral Agung Chu paling akhir juga adalah seorang perempuan. Gadis centil dan genit yang sangat lengket dengan Ayah dan Kakak – kakaknya. Dia bisa membuat semua orang jatuh mencintainya dan bertekuk lutut dengan pesonanya. Sungguh seorang gadis yang sangat mempersona. Chu Yiyi Namanya.
Sang Jenderal Agung juga memiliki sahabat yang merupakan adik Ipar Kaisar.
Jenderal Feng Yi, adalah sahabatnya sejak pertama kali Jenderal Agung Chu masuk ke dalam Militer. Mereka berjuang bersama, dan berperang bersama. Benar – benar sahabat sehidup semati.
Istrinya adalah Putri yang terbuang oleh Kaisar terdahulu, Putri Nishang. Namun kini keduanya hidup Bahagia bersama dengan empat orang anak.
**
Istana Jendral tengah sibuk menyiapkan acara penyambutan kepulangan Kedua Anaknya dari Perbatasan. Setelah lebih dari empat tahun berperang, Beotang akhirnya menandatatangani perjanjian damai.
Putra Kedua, Jendral Chu Zhao telah membawa kemenangan untuk negara. Kesuksesan Chu Zhao juga diiringi oleh kemampuan Chu Rui membereskan masalah di pemerintahan kota perbatasan. Kaisar sangat terkesan dengan ini, sehingga menariknya untuk menjadi gubernur di Ibukota.
"Ibu...Ibu apa kakak - kakak ku akan segera datang? Kapan datang? Mengapa lama sekali?" Chu Yiyi meloncat - loncat bagai kelinci. Song Yaoyi tergelak melihat putrinya ini. Dia aktif seperti Chu Yaoyao ketika masih kecil, meloncat - loncat bagai monyet, tetapi Chu Yiyi lebih memiliki Aura anggun pada wajah dan ekpresinya. Song Yaoyi bertanya - tanya, apakah lahir di ibukota membuatnya seperti ini? Berbeda dengan kakak - kakaknya yang lahir di pedesaan.
"Kakak perempuanku... apakah kamu akan pergi ke luar. Bolehkah aku ikut?" Chu Yiyi kini sudah berpindah bergelayut dikaki Chu Yaoyao.
"Ibu-Ibu aku mau ikut..." Chu Yiyi menatap Song Yaoyi dengan tatapan khasnya ketika meiminta sesuatu. Jika yang ditatap saat ini Chu Wei, ayahnya, pasti dia akan langsung luluh dan memberikan kepadanya apa pun.
"Keputusan ini ada pada kakak perempuan mu. Bukan pada Ibu." Song Yaoyi akan sangat sibuk membenahi istana Jendral seharian ini, sehingga dia sedikit berharap jika Chu Yiyi tidak akan mengganggunya. Biasanya Perjamuan di Istana akan memakan waktu seharian, Suami dan anak – anaknya baru bisa kembali pulang kerumah setelah waktu Ayam (sekitar pukul 5 sampai 7 malam). Dia masih memiliki banyak waktu untuk bersiap.
"Ibu, aku akan pergi sebentar ke balai pengobatan milikku dan kemudian pergi menemui Bibi Nishang untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya. Jadi aku bisa membawa Chu Yiyi." Chu Yaoyao mengetahui keinginan Ibunya hanya dalam sekali tatap.
"Dan kamu harus patuh pada - ku saat kita keluar." Kini Chu Yaoyao menurunkan tubuhnya agar setara dan menatap Chu Yiyi penuh peringatan. Adiknya ini memang suka sekali berlarian.
"Tentu saja..."
Chu Yiyi melompat - lompat dan berlarian keseparuh halaman. Chu Yaoyao menghela nafasnya. "Ibu... ini akan menjadi perjalanan ku yang melelahkan..."
Song Yaoyi : "Ibu akan sangat sibuk hari ini, kamu harus menjauhkannya sesaat. Oh katakan pada Bibi Nishang mu, jika dia kelelahan pada kehamilan keduanya ini, dia tidak perlu memaksakan datang. Biar Chu Zhao dan Chu Rui yang akan menemui Bibinya nanti."
Chu Yaoyao mengangguk. Memiliki adik dan bertambahnya usia membuat Chu Yaoyao menjadi sangat dewasa.
"Apakah Mu Feng akan datang? Ibu sudah mengundangnya terakhir kali. Dia bilang akan datang, tapi siapa tau dengan kesibukannya sekarang ini." Song Yaoyi berkata.
Chu Yaoyao mengangukkan kepalanya. "Um... dia bilang akan menyempatkan diri menyambut pahlawan negara." Terdengar dengusan Chu Yaoyao kemudian. "Mulutnya sangat licin sekali..."
Song Yaoyi tersenyum melihat pasangan ini. Panas dingin sepanjang waktu.
"Pergilah" Song Yaoyi melambaikan tangannya dan kembali ke aula utama. Dongmei Pelayan utamanya, mengikuti dibelakang.
***
“Berhasil…” ucap Ji Yuan pelan.“Apa katamu?” ucap Bibi Jiang. Dia mendengar Ji Yuansmengatakan sesuatu namun dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.“Selesai Bibi. Kita berhasil.” jawab Ji Yuan kali ini dengan suara yang lebih lantang.“Kamu yakin?” tanya Bibi Jiang.“Ya. Hanya saja kita perlu mencobanya.” Jawab Ji Yuan.“Mencobanya? Apa maksudmu?” Tanya Bibi Jiang dengan kebingungan.“Ya kita perlu mencobanya dulu.” Ucap Ji Yuan.Ji Yuan mengambil beberapa bungkus anti materi b*m diatas meja dan berjalan keluar ruang berkubah.Sebenarnya pembuatan anti materi b*m ini tidak sulit untuk Ji Yuan. Dia jaman modern dia pernah membuatnya beberapa kali. Namun kini di jaman kuno, terasa akan lebih sulit karena kekurangan alat dan bahan yang masih sangat mentah. Sehingga Ji Yuan harus mengekstrasi bahannya satu persatu sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.Bibi Jiang mengikuti Ji Yuan ke luar ruangan berkubah.Ji Yuan berjalan menuju kumpulan pengawal dan pasukan Chu Wei yang ditingg
Hari ke empat hingga ketujuh semua masih berjalan seperti biasa. Chu Yaoyao sudah bisa menjalani dengan ringan. Dia sudah terbiasa. Dan lagi keadaan pasien – pasien dengan luka berat (para prajurit Chu Zhao) sudah lebih baik.Peilu sudah bisa bernafas normal. Paru – parunya mengalami peningkatan penyembuhan setelah beberapa kali meminum ramuan obat yang dibuat oleh Ji Yuan. Bibi Jiang sendiri memberikan ramuan lain untuk mempercepat pengeringan lukanya. Kini, Peilu sudah bisa duduk dan bergerak ringan di atas tempat tidur.Dingbang juga sudah lebih baik. Bengkak di kakinya sudah hampir hilang. Kini yang tersisa adalah perawatan lukanya, baik itu luka di kaki dan tangannya. Paru – parunya juga sudah membaik. Luka kecil pada paru – parunya akibat hembusan panas dari b*m dahsyat itu telah sembuh beberapa hari lalu. Kini Dingbang hanya menunggu luka – lukanya mongering. Yang menurutnya luar biasa adalah luka bakar pada tangannya, luka itu kini sudah tidak sakit lagi. Memang masihlah ditut
Selesai menemui Nenek Buguo dan Pingguo kecil, Chu Yaoyao kembali menghampiri Song Yaoyi di taman belakang bangunan utama halaman miliki Bibi Jiang.“Ibu~” Chu Yaoyao langsung duduk meringsek Song Yaoyi dan memeluknya erat.“Apa kamu sudah selesai?” Song Yaoyi tersenyum dan memeluk Chu Yaoyao.“Sudah Ibu.” Chu Yaoyao meletakkan kepalanya pada pangkuan Song Yaoyi dan menarik nafas panjang.“Ada yang ingin Ibu bicarakan. Ibu akan kembali ke Rumah Utama Kediaman Jendral Agung Chu, untuk ke mengaburkan fakta jika di halaman Bibi Jiang sedang ada beberapa pasukan Chu Zhao yang terluka.” Ucap Song Yaoyi sambil mengusap kepala Chu Yaoyao yang ada dipangkuannya.Chu Yaoyao segera mengeluarkan suara keberatannya.“Apa yang kamu lakukan? Ibu harus melakukan itu, agar tidak ada yang mencurigai aktivitas di halaman Bangongshi. Kita tidak ingin orang lain tau mengenai hal ini. Ibu yakin fraksi pendukung Selir Tua Gui sedang mengawasi semua orang. terlebih keluarga Jendral Agung Chu.” Song Yaoyi be
Keesokan harinya, halaman Bangongshi milik Jendral Agung Chu sangat sibuk. Prajurit dan pelayan yang dimiliki Chu Wei, mulai bergerak keluar dengan hati – hati untuk mencari bahan obat – obatan dengan bantuan jaringan perdagangan yang dimiliki Song Yaoyi dan Zhu Yu. Zhu Yu sendiri bahkan ikut sibuk untuk mencari dan memastikan bahan – bahan tersedia.Beberapa Prajurit bahkan mencari Ikan salmon dan Ikan Aselarat dengan terjun langsung ke sungai – sungai berarus deras. Mereka menjaring dengan hati – hati dan juga sembunyi – sembunyi.Chu Yaoyao sudah sibuk sejak pagi. Dia mempersiapkan obat dan peralatan pergantian perban dan olesan obat untuk luka bakar. Ji Yuan sudah memberikan resepnya dan sudah menuliskan Langkah – Langkah pembuatannya dengan sangat rinci. Chu Yaoyao tidak merasa kesulitan membuatnya. Dalam hatinya dia berpikiran jika Ji Yuan memang sangat tepat menjadi guru. Karena Ji Yuan menuliskan baik cara pembuatannya maupun cara memberikan obat – obatannya dengan sangat deta
Ji Yuan duduk di atas tempat tidur di dalam kamar Bibi Jiang. Di sebelahnya Chu Yaoyao berbaring setengah badan. Kakinya lurus memanjang di atas lantai. Sementara Bibi Jiang terlentang dan sedang memukul – mukul pinggangnya.Song Yaoyi yang duduk di dekat Chu Yaoyao sambil memijat tangan Chu Yaoyao menatap mereka dengan tatapan kasian. Chu Wei berdiri menatap jendela dengan tenang.Pingguo kembar masuk kedalam kamar dengan perlahan. Pingguo kecil membawa baki kecil berisi botol – botol yang juga berukuran kecil. Sedangkan Pingguo besar membawa gelas – gelas berisi air gula hangat.Keduanya meletakkan baki – baki itu diatas meja, lalu dengan sopan Pingguo kecil memberikan gelas gelas berisi air gula merah pada masing – masing orang yang ada di dalam ruangan.“Terima kasih.”“Mengapa kamu disini? Seharusnya kamu beristirahat. Kamu pun masih dalam tahap pengobatan?” Tanya Chu Yaoyaou pada Pingguo kecil.“Nona saya sudah merasa lebih baik.” Pingguo kecil menajawab dengan penuh hormat.“Se
Halaman Bangongshi, sangat sibuk malam ini, terutama Bibi Jiang dan Chu Yaoyao. Anggota pasukan Chu Zhao dikirim langsung ke halaman Bongongshi tanpa kereta. Mereka di bopong dengan rekan sesama pasukannya bergantian hingga bisa sampai pada halaman Bangongshi dalam satu dupa.Setelah menyerahkan ketiga rekannya yang sedang dalam kondisi terluka parah, ke duabelas anggota pasukan Chu Zhao lainnya langsung terduduk lemas. Malah ini energi mereka terkuras habis.Beberapa penjaga di halaman Bangongshi segera memberikan mereka air madu untuk membantu mereka meraih energi mereka kembali.Song Yaoyi bahkan keluar menemui mereka dan memberikan mereka kurma merah yang sangat mahal untuk mengembalikan kondisi mereka.Saat ini, Chu Yaoyao, Bibi Jiang dan Ji Yuan sedang mengobati pasukan yang terluka.Satu orang prajurit Chu Zhao bernama Peilu, terluka parah akibat sabetan benda tajam di bagian punggungnya. Lukanya dalam dan menembus organ paru – parunya. Chu Yaoyao sedang mengobatinya dan menut
Murong Feng mengatur beberapa anak buahnya untuk membeli semua persediaan bahan – bahan yang sudah dituliskan oleh Ji Yuan tadi. Menghentikan pendistribusiannya, dan mendata pabrik – pabrik yang menggunakan bahan – bahan itu, lalu mengawasinya dengan ketat. Jangan sampai ada bahan – bahan itu yang
Ji Yuan mengelilingi lima bangunan yang hancur dengan berhati – hati. Ji Yuan banyak berhenti dan memeriksa di beberapa tempat. Mengambil beberapa bubuk, tanah, dan serpihan benda tertentu dan memasukkannya ke dalam suatu wadah yang Murong Feng bahkan tidak tahu apa namanya.Sepanjang jalan Ji Yuan
Kereta kuda sudah terparkir di pintu belakang kediaman Gubernur Bongshi. Lubou sudah menyiapkan kudanya dan beberapa perbekalan dan senjata mereka. Acugo juga telah bersiap, dia mengenakan pakaian seorang kusir biasa, dan seorang anak buahnya bernama Quzo, seorang prajurit yang sangat mahir bermain
Ji Yuan berkeliling kediaman Gubernur Bongshi untuk mencari Chu Zhao, tetapi dia tidak juga menemukannya dimana pun. Ji Yuan mulai merasa Chu Zhao sedang meninggalkannya di Kota Bongshi. Rasa kesal menyeruak di hatinya, Chu Zhao ini bisa – bisanya dia meninggalkan







