Share

Bab 3

Penulis: Menikkk
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-02 03:12:28

Rombongan Chu Zhao dan Chu Rui keluar dari Istana. Meskipun kini sudah masuk pada waktu Ayam, masih banyak masyarakat yang berdiri di sepanjang jalan dari Istana Kaisar menuju kediaman Jendral Agung, untuk menyaksikan iring – iringan pasukan dan hadiah yang di berikan Kaisar pada Pahlwan negara.

Sedangkan Pesta untuk merayakan bertambahnya daerah kekuasaan Dinasty Baili Mu akan diadakan besok, berbarengan dengan festifal bulan. Jalanan Ibu kota semakin semarak dengan hiasan festival bulan dan perayaan kemenangan.

Rumah jendral semakin harum. Kini mereka benar menjadi tiang negara. Jasa Keluarga ini sangat besar untuk kedamaian negara.

Disini, Song Yaoyi merasa sedikit berdebar, bertemu kembali dengan anak - anaknya setelah lebih dari empat tahun terpisah. Selama empat tahun ini, dia sudah melahirkan bayi perempuan cantik dan sibuk membesarkannya, hingga tidak punya waktu untuk mengunjungi putra – putranya di perbatasan. Siapa sangka mereka melakukan perbuatan baik dan menyelesaikan semuanya.

Chu Yiyi dan Chu Yaoyao yang telah kembali pun merasakan ketegangan dan kesenangannya. Zhu Yu dan Su Jin bahkan sudah ada disana. Zhu Zhuan, anak mereka sudah berusia tiga tahun. Bocah laki - laki yang gemuk dan lucu. Betapa Chu Yiyi senang bermain bersamanya.

Chu Wei sebagai Ayah sekaligus Jendral Agung Negara, akan kembali bersama Chu Zhao dan Chu Rui dari Istana.

Kepemimpinan Kaisar saat ini, dirasakan oleh masyarakat lebih baik. Kaisar banyak memikirkan masyarakat, terlebih yang terkena bencana. Hampir bisa dilihat jika setiap bencana datang, kaisar menyelesaikannya dengan lebih cepat. Pengungsi lebih cepat ditangani dan jumlah kejahatan dan para bandit berkurang banyak.

Belum lagi kontribusi bibi Jiang dan Chu Yaoyao dalam memberikan pengobatan gratis pada pengungsi, semakin memakmurkan masyarakat. Rakyat kecil di kekaisaran ini merasa diperhatikan dan banyak dibantu. Sehingga negara - negara tetangga dekat perbatasan pun merasa sungkan dan ingin bekerja sama.

*

"Ibu..." Chu Rui memeluk Song Yaoyi erat. Song Yaoyi pun berkaca - kaca. Anak keduanya sekarang sudah bertambah tinggi sedikit. Badannya sedikit kurus. Tapi wajahnya penuh dengan kegembiraan. Song Yaoyi cukup puas melihatnya.

"Apa ini hanya Ibumu saja? Menyingkir..." Chu Zhao tampak lebih jauh lebuh kuat sejak terakhir bertemu. Kulitnya kecoklatan dengan badan yang tinggi juga kekar. Anak nakal ini telah berubah menjadi seorang pria yang bisa diandalkan. Baju besinya membuat penampilannya jauh lebih keren.

"Ibu~ mengapa kamu terlihat lebih pendek" ucapnya dengan sedikit kesusahan memeluknya.

Song Yaoyi melotot, "Anak ini!" Dia ingin memeluk lebih erat tapi tidak mau tersakiti oleh jubah besinya.

"Seharusnya kamu lebih perhatian dengan melepas jubah besi ini sebelum bertemu dengan ku." Song Yaoyi mencibir.

"Aku tidak mau beresiko akan terkena pukulan mu." Jawab Chu Zhao santai.

"Kakak pertama..." Chu Rui merangkul Zhu Yu dengan cengiran biasanya.

"Adik ketiga..." Zhu Yu merangkul Chu Rui. Keduanya sering bertemu belakangan ini dengan bisnis yang di jalani Zhu Yu berada juga di kota perbatasan.

"Mengapa kamu hanya memeluknya, apa kamu tidak merindukan ku kakak?" Chu Zhao menyela dan memeluk Zhu Yu.

Zhu Yu tertawa, "Apa maksudmu? Kita baru bertemu dua bulan lalu saat aku ke kota perbatasan."

"Apa kamu tidak bertemu Chu Rui dua bulan lalu?" Chu Zhao mencibir.

"Kamu menjadi jauh lebih lengket dari pada dulu..." Zhu Yu menatap Chu Zhao dengan geli.

Chu Zhao menjadi salah tingkah dan bergegas masuk kedalam.

Di dalam Aula, Chu Yaoyao menyambut kedatangan Chu Zhao dengan gembira, "Kakak kedua..."

Chu Zhao menghampiri dan memeluk Chu Yaoyao lalu mengusap kepalanya. "Adikku sangat cantik sekarang..."

"Tapi masih lebih cantik aku~" suara gadis kecil menyela keduanya.

"Apakah ini Chu Yiyi si paling bungsu?" Chu Zhao melepaskan Chu Yaoyao dan berlutut menyamakan tinggi badannya.

"Kakak~..." Chu Yiyi berkata dengan gula manis dan senyum genitnya.

Chu Yaoyao memutar bola matanya. Tatapannya jatuh ke belakang, dan melihat kakak ketiganya sudah berdiri di sana.

"Kakak ketiga..." Chu Yaoyao berlalu dan memeluk Chu Rui.

Chu Rui memeluk Chu Yaoyao dengan erat. “Kamu semakin cantik…” ucap Chu Rui lalu mengusap kepala adik perempuannya.

"Apa ini Chu Yiyi, kamu sudah besar..." Chu Rui bergantian berlutut untuk memeluk Chu Yiyi.

"Kakak~..." Chu Yiyi memeluk manja Chu Rui. Dia menjentik - jentikkan bulu matanya yang lentik. Membuat tampilannya lebih imut dari boneka.

Chu Rui luluh olehnya dan merasa dunianya berwarna pink dalam sekejap.

"Apa kamu sudah selesai mengoda kakak - kakak mu?" Tanya Song Yaoyi, yang sudah masuk dan melihat putri bungsunya yang sedang mempesona kakak – kakaknya.

"Ibu aku hanya menyapa kakak - kakak ku." Chu Yiyi menggoyang tubuhnya manja.

Chu Zhao dan Chu Rui terpesona oleh kecantikan dan kelembutan sang adik tersenyum lembut.

Dari dalam, seorang wanita muda dan anaknya ikut bergabung.

"Sapa dulu paman mu..." Su Jin Istri Zhu Yu datang dan mengantar Zhu Zhuan kepada Chu Rui dan Chu Zhao.

Zhu Zhuan memandang mereka dengan tatapan penuh ke kaguman. "Paman..."

"Ayo kita makan dulu..." Song Yaoyi menghentikan saling sapa ini dan membawa mereka ke ruang makan besar mereka.

***

 Ji Yuan baru saja datang ke Ibu kota ini dua bulan lalu.

Dia adalah seorang penyuling jenius dalam kehidupannya terdahulu, dia melintasi waktu saat akan ditangkap oleh pada penjahat. Ledakan itu membuatnya bertransmigrasi ke dunia saat ini. Jaman kuno, jaman kerajaan yang pernah dia baca dalam literasi kecil yang dimiliki Gurunya.

Dan pemilik asli dari tubuh yang dia tinggali sekarang adalah seorang gadis yang tertutup dan murung.

Seorang yatim piatu yang kehilangan orang tua hampir bersamaan ini membuatnya merasa frustasi dan kesepian. Dia tidak siap. Sehingga membuatnya semakin terpuruk dan menyedihkan.

Namun reputasi sebagai anak Guru Negara yang juga mewarisi kepandaian Ayah Ibunya, Ji Yuan asli sering mendapat undangan untuk pembacaan puisi dan karya ilmiah. Membuatnya mendapatkan kesempatan untuk meloncat kembali ke Ibu kota. 

Sedangkan Ji Yuan dari jaman modern memiliki bakat paling luar biasa untuk memurnikan senjata kimia. Dia tidak pernah mengambil inisiatif untuk memprovokasi orang lain, tidak mengambil peluang dari orang lain, dan tidak membuat musuh dengan orang lain. Dia fokus pada pemurnian kimia, dan oleh karena itu tingkat kemahirannya benar – benar luar biasa.

Meski begitu, beberapa orang merasa khawatir tentang teknik pemurnian dan senjata buatannya. Masalah selalu datang ke pintu sendiri, dan itu bukan sesuatu yang bisa dia hindari, bahkan jika dia mau.

Ji Yuan agak ekstrim dalam beberapa aspek, jadi dia tidak ragu-ragu untuk memilih mati bersama, bahkan jika lawannya adalah orang kuat di periode out-of-aperture yang sama sekali tidak bisa dia jangkau, dia bisa melakukan segalanya. Dia bisa meledakkan dirinya sendiri dan pihak lawan berkeping-keping. 

Namun, Ji Yuan muncul di jaman ini, tidak mati, dan menjadi Ji Yuan di dunia ini.

Tokk Tokk Tokk

Ji Yuan sedikit bingung. Saat dia memutuskan untuk mengikuti seleksi dan datang ke Ibu kota, dia tidak banyak berhubungan dengan pihak lain. Selama waktu itu, dia pada dasarnya tidak bisa meninggalkan pintu di balik pintu tertutup. Dan untuk menghemat uang, dia secara khusus mencari tempat tinggal ditepi kota, di sudut tingkat terendah, masuk akal bahwa tidak ada yang akan datang mencarinya.

Tapi setelah membuka pintu, Ji Yuan mengerti bahwa postur bertarung lurus dan aksen keras kedua pria itu membuat Ji Yuan langsung menebak identitas mereka, ini adalah dua tentara.

"Anda adalah Nona Ji Yuan, kan?"

Salah satu dari mereka mencoba untuk menekan ketidaknyamanan dan bertanya dengan canggung. Jelas, dia menyatakan ketidaknyamanan dan kebingungan kepada Ji Yuan, tepatnya, untuk semua orang yang ada di tempat ini.

"Ya, saya."

"Halo, Jenderal Chu Zhao mencari Anda. Harap segera mengikuti kami dan harap tidak membuat perlawanan, ini adalah urusan urusan militer dan Anda tidak diperbolehkan untuk menolak. Jadi mari bekerja sama."

Pria tegak yang tidak pandai berbohong memerah, tetapi tugasnya adalah mematuhi perintah.

Ji Yuan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan bibirnya.

Siapa sih Jendral Chu Zhao ini?

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 13

    Begitu Ji Yuan bangun, bau obat yang unik membuatnya mengerutkan kening, dan segera dia menemukan dirinya terbaring di tempat tidur yang asing. Kemudian mengingat, di masih tinggal di halaman Bangongshi milik Jendral Agung Chu.Kakinya yang mati rasa mengejutkan Ji Yuan dan dia dengan cepat mengangkat selimutnya. Perban di kaki kanannya dilepas. Kaki yang bengkak telah kembali normal, dan area yang terluka telah dirawat. Gelombang kecil di mata telah memulihkan ketenangan.“Sudah bangun?” Suara Chu Zhao tiba-tiba datang dari samping.Ji Yuan hanya melihat sosok tinggi Chu Zhao duduk di sisi tempat tidur, duduk tegak. Jika bukan karena dia berbicara, Ji Yuan tidak memperhatikannya untuk sementara waktu.Chu Zhao memandang Ji Yuan, yang setengah lurus, dan telah kembali ke penampilannya yang dingin, seolah-olah bukan dia yang meraih jarinya dan memanggilnya Ayah kemarin malam."Kondisimu memburuk selama dua malam, lukanya beracun, membuat kamu demam tinggi" kata Chu Zhao dan memblokir u

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 11

    Ji Yuan mengernyit heran. Dari kejauhan dia melihat semua. Apakah penjahat itu baru saja mat*?Ji Yuan melihat, sabetan pedang dan pukulan kosong yang diberikan Jendral Chu Zhao tidak ada yang mematikan. Seharusnya dia tidak mat*. ’Apakah dia memakan racun?’ Pikirnya.Saat itu Chu Zhao menghampiri Ji Yuan. Mata saling berhadapan, dan mata yang tenang dengan cepat menjauh dari Ji Yuan, tanpa niat untuk tinggal sama sekali.Chu Zhao menemukan bahwa wajah Ji Yuan sudah sedikit lebih cerah. Dia terlihat tenang dan tidak panik, bahkan tidak terisak seperti gadis - gadis lain yang mengalami hal ini. Chu Zhao juga menyanjung kemampuan JI Yuan yang berhasil keluar dari kereta seorang diri. Chu Zhao dapat yakin, semua prajurit yang dia bawa, belum ada yang bertindak menyelamatkan Ji Yuan, dan mengeluarkannya dari dalam kereta. Jadi pasti dia merangkak dan berjuang keluar sendiri. Chu Zhao tanpa sadar mendengus. ‘Pembangkang!’.Chu Zhao tidak bermaksud berbicara pada awalnya, sampai matanya jat

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 10

    Ji Yuan menutup matanya, berusaha menenangkan hatinya. Entah mengapa sedari tadi hatinya merasa sangat tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang salah. Seperti ada sesuatu yang mengintai.Traakkk….Kereta kuda yang ditumpangi Ji Yuan berjalan tak terkendali. Ji Yuan tersadar dari lamunan panjangnya. Instingnya mulai bekerja lagi. Perasaan buruk ini adalah perasan yang sama yang muncul di hari terakhirnya di dunia modern.Ji Yuan merasakan dirinya dalam bahaya. Seperti dikejar – kejar. Seperti sedang diburu.Ji Yuan melihat ke jendela, dia sudah memasuki hutan kota. Jalan dipinggiran hutan yang asri namun tiada berpenghuni. Ji Yuan merasa kereta berjalan semakin cepat, bagai tidak terkendali. Ada apa ini?“Kusir… Chefu!” Ji Yuan berteriak memanggil.Tidak ada suara di depan. Ji Yuan melongok keluar jendela. Kusirnya ada disana namun tidak bergerak. Detik itu juga dia tau ada sesuatu yang salah.Lagi? Pikirnya.Mengapa aku harus mengalami ini lagi? Apakah aku akan celaka dan mati lagi di k

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 9

    “Chu Zhao…” Song Yaoyi masuk ke ruang kerjanya. Melihat Chu Zhao sedang duduk di kursinya tidak melakukan apa – apa. Hanya duduk dan memandang keluar jendela. Song Yaoyi mendesah. Baru ini dia melihat Chu Zhao seperti ini, sedikit nyeri dirasanya.“Chu Zhao…” Song YAoyi sekali lagi memanggilnya. Kini dia sudah berada di depan meja.Chu Zhao tersentak kaget. Membalikkan tubuhnya dan melihat Ibunya sudah berdiri di depan mejanya. “Ibu…”“Kamu tau, Chu Yiyi tadi pagi berbicara apa pada Ibu?” Song Yaoyi berbicara.“Dia bilang dia baru saja memutuskan hal paling sulit dalam hidupnya.” Song Yaoyi tersenyum geli.“Apa yang anak empat tahun itu katakan paling sulit, adalah memutuskan makanan favoritnya.” Senyumnya semakin mengembang mengingat perilaku putri bungsunya yang sangat genit.“Tapi Ibu, sangat bangga padanya. Kau tau kenapa?” Song Yaoyi duduk dikursi di depan meja. tempat yang sama tadi Ji Yuan duduki. Chu Zhao memandang kursi itu dan entah kenapa merasakan rasa yang aneh menurutnya

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 8

    “Anda tidak boleh pergi.” Dongmei berdiri di depan pintu menghalangi Ji Yuan yang akan keluar. Ji Yuan melihatnya dan bertambah kesal.“Kenapa tidak boleh? Apa Jendral picik itu yang menyuruhmu! Mengapa kamu mau saja disuruh – suruh dengan orang tidak sopan seperti itu? benar – benar menyebalkan!” Ji Yuan sudah kehilangan kesabarannya.“Ada apa?” Song Yaoyi mendekat.“Menjawab Nyonya, Nona ini ingin keluar dari ruangan. Sesuai perintah Nyonya, saya tidak membiarkan seorang pun pergi dari ruangan ini.” Ucap Dongmei.“Oke. Terima kasih.” Song Yaoyi mengangguk pada Dongmei.“Siapa nama mu Nona? Dari keluarga mana kamu berasal?” Song Yaoyi tersenyum menatap Ji Yuan. Wajah gadis muda itu sudah memerah. Tampak sangat emosi.“Saya… Ji Yuan Nyonya. Saya berasal dari desa Zhongdong di perbukitan perbatasan barat daya.” Ji Yuan menjawab dengan lugas. Lalu menarik nafasnya banyak – banyak, dia tidak mau membuat masalah dengan Nyonya Jendral Agung ini, dengan melampiaskan emosinya.“Desa Zhongdon

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 7

    “Berapa yang ku dapat?” Jawab Ji Yuan singkat.“Kurang ajar!!”Suara itu bukan dari Chu Zhao, melainkan dari Letnan Jendral di belakangnya.“Apa maksudmu? Bukankah kamu Guru di sekolah ke Kaisaran? Seharusnya kamu berbakti untuk kekaisaran! Kamu ingin dihukum?!” Teriak Wang Yi’an lagi.“Atas dasar apa aku akan dihukum?” Jawab Ji Yuan dingin.“Kamu!!!” Wang Yi’an sudah berdiri dan akan mendorong ji Yuan.“Mengapa berbuat gaduh?!” Suara seorang wanita terdengar dari pintu.Ji Yuan yang sudah dalam posisi siaga pun menoleh. Dilihatnya seorang wanita dewasa yang masih cantik diusianya. Rambutnya disanggul sederhana, bahkan bajunya pun sederhana, tidak ada kesan bangsawan besar pada dirinya, namum auranya cukup menindas.“Bibi~” Wang Yi’an mencelos ngeri.“Ibu.” Chu Zhao bangkit dan mendekat ke arah pintu dimana Song Yaoyi berdiri.“Kami sedang diskusi mengenai hal yang penting. Ibu bisa menunggu di dalam, Kakak pertama dan anak – anaknya juga sudah di dalam. Sebaiknya ibu menemui mereka.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status