Share

Bab 4

Penulis: Menikkk
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-02 03:16:42

Siapa Chu Zhao? Terlepas dari apa pun, nama General Chu saja sudah cukup keras untuk membuat orang melihat ke atas, tetapi nama keluarga yang mulia dan keras ini masih tidak dapat menutupi kecemerlangan Chu Zhao. 

Ketika dia baru berusia sepuluh tahun, Chu Zhao dipromosikan menjadi jenderal kecil berdasarkan kemampuannya dalam peperangan yang luar biasa dan eksploitasi tempur yang luar biasa. Dia adalah jenderal kecil termuda di seluruh negeri bahkan pertama kali dalam ratusan tahun.

Sekarang pada usia hampir delapan belas tahun, ia telah berulang kali memenangkan pertempuran di perbatasan, dan telah berulang kali menjaga kedamaian. Dia benar-benar menjelma menjadi Dewa laki-laki perang tingkat Super di seluruh negeri Beixin.

Selain itu, status putra Jendral kekaisaran juga membawanya ke tingkat yang lebih tinggi lagi, ditambah dengan wajahnya yang terpahat beku dari awal hingga akhir, seperti temperamen yang ditolak oleh gunung es yang bergerak ribuan mil jauhnya, itu membuatnya semakin tak terjangkau dan tak terjangkau, selalu seperti dewa yang ada di atas khayangan.

Tetapi untuk karakter seperti dewa, dia sering diangap sebagai seorang lelaki tua miskin yang dikatakan tidak berharga pada usia 30 tahun oleh para tetua disana. Banyak yang mengkhawatirkan masa depan Chu Zhao dalam pernikahannya. Bukankah ini kisah dunia?

Ya, Chu Zhao yang selalu dingin dalam peperangan, nampak memiliki dua kepribadian yang berbeda. Saat dia bertemu dengan musuh dan pejabat istana, dia akan sangat tegas dan irit bicara, tidak banyak kata yang diucapkannya. Dia bagaikan buah prem yang dikeringkan, begitu para tetua menganggapnya. Namun, jika dia berada dalam lingkungan keluarganya, sifat Chu Zhao yang sangat menjengkelkan ibu dan saudara – saudaranya akan keluar. Sungguh dia bagaikan dua orang yang berbeda.

Song Yaoyi, Ibunya awalnya tidak mengkhawatirkan hal ini, namun lama kelamaan dia kembali merenungkannya dan mulai meresahkannya. Dia tidak mau Chu Zhao menjadi 'prem kering'. Song Yaoyi bahkan tidak bisa tidur karena memikirkannya.

 Chu Wei, sang Jendral Agung, Ayah Chu Zhao dan juga suami Song Yaoyi masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa?” Chu Wei masuk dan menatap Song Yaoyi lama.

“Kamu sudah selesai?” Song Yaoyi menguap lagi. Matanya sudah merah dan kantung matanya terlihat sedikit bengkak.

“Heem. Kamu tidak tidur?” Chu Wei mendekati Song Yaoyi, mengelus pelan rambutnya yang terburai di bahunya.

“Aku tidak mau Chu Zhao menjadi 'prem kering'…” Song Yaoyi memajukan bibirnya. Chu Wei tertawa ditahan, mungkin karena Song Yaoyi sering bersama Chu Yiyi putri bungsu mereka, belakangan tingkahnya banyak persamaan. 

Song Yaoyi menatap Chu Wei yang sedang mengulum senyum, “Aku tidak mau Chu Zhao menjadi 'prem kering'…” ucapnya lagi.

“Apa?!” Chu Wei tidak bisa tidak mengerutkan keningnya. Apa Chu Zhao suka makan prem kering sekarang? 

“Kamu coba bicarakan pikirkan bagaimana caranya. Aku tidak mau anak ku menjadi 'prem kering'…” Song Yaoyi berkata dengan putus asa.

Chu Wei masih dengan ekpresi yang sama, dia tidak mengerti. “Anakmu? Prem kering? Apa maksudnya?”

“Aku takut Chu Zhao akan menjadi 'prem kering'. Dia terlalu kaku dan tidak menyenangkan, aku tidak mau dia mati sendirian.”

“Hah…” Chu Wei menghembuskan nafasnya kencang. Rupanya ini, perbincangan para tetua beberapa waktu lalu mengenai Chu Zhao yang membuat Song Yaoyi istrinya berlarut – larut dalam pikirannya.

“Song Yaoyi…, Chu Zhao baik – baik saja. Dia tidak akan menjadi buah kering seperti pikiran orang - orang tua itu." Chu Wei berusaha menenangkan Song Yaoyi.

"Tapi dia terlalu kaku. Tidak ada gadis yang tahan dengan sikap itu. Chu Wei… kamu harus memikirkan caranya…” Song Yaoyi menempelkan kepalanya ke dada Chu Wei.

“Apa yang harus dipikirkan. Bukankah kamu selalu memiliki beribu cara. Zhi Zhi… lakukan saja seperti yang biasanya…” Chu Wei mencium pucuk rambut istrinya yang masih berantakan.

Song Yaoyi mendengus. “Kamu mandi dulu sana…”

Chu Wei mendengus geli. Ini tetaplah istrinya. Dia menjetikan jarinya di dahi Song Yaoyi dengan gemas.

“Kamu bau… segera mandi.” Song Yaoyi bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mempersiapkan pakaian ganti Chu Wei. Lalu memberikannya segera. “Ayo… bukankah kamu harus ke pengadilan besok pagi.”

Chu Wei yang masih merasakan gemas terhadap istrinya, lalu menariknya kedalam pelukannya dan menciumnya dengan rakus. 

*

Sementara Jendral Chu Zhao yang dikhawatirkan Ibunya akan menjadi buah plum kering sedang berada diatas kuda, berjalan cepat menuju pinggir kota. Ada tugas lain yang diberikan oleh Kaisar untuknya.

Sebuah ledakkan keras telah terjadi yang menghanguskan sebuah wilayah. Anehnya ledakkan itu tanpa residu. Bahkan tanpa menyisakan jejak korban. Kaisar sudah menutupi berita ledakkan itu. Setidaknya sampai mendapatkan jawaban, ledakkan apa itu? Apa jenis dan bahannya? Agar rakyat tidak merasa ketakutan.

Penyelidikan Chu Zhao untuk mengidentifikasi ledakan itu membuatnya mengumpulkan orang – orang yang aktif dalam kajian dan karya ilmiah. Beberapa nama muncul dengan penilaian menakjubkan. Chu Zhao sudah menelitinya satu persatu. Dia tidak memperdulikan gender. Lihat saja Ibunya, dia lihai dalam segala hal. Jadi pikirannya tidak lah cupat. Baik laki – laki maupun perempuan, semua yang berbakat akan dia tanyai.

Satu nama tersisa, Ji Yuan. Salah satu pemenang seleksi Guru Akademi Putri Kekaisaran. Essay dalam ujian seleksinya banyak menjelaskan mengenai materi dan ledakkan. Chu Zhao harus bertemu dengannya. Dia mungkin saja tau mengenai kejadian itu. Atau paling tidak, dia tau mengenai jenis dan bahan ledakkan itu.

Oleh sebab itu, saat Chu Zhao keluar istana, dia sudah menyuruh dua anggota kepercayaannya, untuk membawa Ji Yuan ke ‘markas’ nya yang berada di pinggir Ibu kota besok pagi. Tapi malam ini, Chu Zhao harus mempelajari semua dokumen juga laporan mengenai ledakkan itu. Untuk itu dia harus bekerja keras, dan pergi ke kamar kerjanya di 'markas' malam ini juga.

Setelah makan malam keluarga, saat semua keluarganya tertidur, Chu Zhao mengendarai kudanya menuju ‘markas’ di ujung kota.

****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 13

    Begitu Ji Yuan bangun, bau obat yang unik membuatnya mengerutkan kening, dan segera dia menemukan dirinya terbaring di tempat tidur yang asing. Kemudian mengingat, di masih tinggal di halaman Bangongshi milik Jendral Agung Chu.Kakinya yang mati rasa mengejutkan Ji Yuan dan dia dengan cepat mengangkat selimutnya. Perban di kaki kanannya dilepas. Kaki yang bengkak telah kembali normal, dan area yang terluka telah dirawat. Gelombang kecil di mata telah memulihkan ketenangan.“Sudah bangun?” Suara Chu Zhao tiba-tiba datang dari samping.Ji Yuan hanya melihat sosok tinggi Chu Zhao duduk di sisi tempat tidur, duduk tegak. Jika bukan karena dia berbicara, Ji Yuan tidak memperhatikannya untuk sementara waktu.Chu Zhao memandang Ji Yuan, yang setengah lurus, dan telah kembali ke penampilannya yang dingin, seolah-olah bukan dia yang meraih jarinya dan memanggilnya Ayah kemarin malam."Kondisimu memburuk selama dua malam, lukanya beracun, membuat kamu demam tinggi" kata Chu Zhao dan memblokir u

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 11

    Ji Yuan mengernyit heran. Dari kejauhan dia melihat semua. Apakah penjahat itu baru saja mat*?Ji Yuan melihat, sabetan pedang dan pukulan kosong yang diberikan Jendral Chu Zhao tidak ada yang mematikan. Seharusnya dia tidak mat*. ’Apakah dia memakan racun?’ Pikirnya.Saat itu Chu Zhao menghampiri Ji Yuan. Mata saling berhadapan, dan mata yang tenang dengan cepat menjauh dari Ji Yuan, tanpa niat untuk tinggal sama sekali.Chu Zhao menemukan bahwa wajah Ji Yuan sudah sedikit lebih cerah. Dia terlihat tenang dan tidak panik, bahkan tidak terisak seperti gadis - gadis lain yang mengalami hal ini. Chu Zhao juga menyanjung kemampuan JI Yuan yang berhasil keluar dari kereta seorang diri. Chu Zhao dapat yakin, semua prajurit yang dia bawa, belum ada yang bertindak menyelamatkan Ji Yuan, dan mengeluarkannya dari dalam kereta. Jadi pasti dia merangkak dan berjuang keluar sendiri. Chu Zhao tanpa sadar mendengus. ‘Pembangkang!’.Chu Zhao tidak bermaksud berbicara pada awalnya, sampai matanya jat

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 10

    Ji Yuan menutup matanya, berusaha menenangkan hatinya. Entah mengapa sedari tadi hatinya merasa sangat tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang salah. Seperti ada sesuatu yang mengintai.Traakkk….Kereta kuda yang ditumpangi Ji Yuan berjalan tak terkendali. Ji Yuan tersadar dari lamunan panjangnya. Instingnya mulai bekerja lagi. Perasaan buruk ini adalah perasan yang sama yang muncul di hari terakhirnya di dunia modern.Ji Yuan merasakan dirinya dalam bahaya. Seperti dikejar – kejar. Seperti sedang diburu.Ji Yuan melihat ke jendela, dia sudah memasuki hutan kota. Jalan dipinggiran hutan yang asri namun tiada berpenghuni. Ji Yuan merasa kereta berjalan semakin cepat, bagai tidak terkendali. Ada apa ini?“Kusir… Chefu!” Ji Yuan berteriak memanggil.Tidak ada suara di depan. Ji Yuan melongok keluar jendela. Kusirnya ada disana namun tidak bergerak. Detik itu juga dia tau ada sesuatu yang salah.Lagi? Pikirnya.Mengapa aku harus mengalami ini lagi? Apakah aku akan celaka dan mati lagi di k

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 9

    “Chu Zhao…” Song Yaoyi masuk ke ruang kerjanya. Melihat Chu Zhao sedang duduk di kursinya tidak melakukan apa – apa. Hanya duduk dan memandang keluar jendela. Song Yaoyi mendesah. Baru ini dia melihat Chu Zhao seperti ini, sedikit nyeri dirasanya.“Chu Zhao…” Song YAoyi sekali lagi memanggilnya. Kini dia sudah berada di depan meja.Chu Zhao tersentak kaget. Membalikkan tubuhnya dan melihat Ibunya sudah berdiri di depan mejanya. “Ibu…”“Kamu tau, Chu Yiyi tadi pagi berbicara apa pada Ibu?” Song Yaoyi berbicara.“Dia bilang dia baru saja memutuskan hal paling sulit dalam hidupnya.” Song Yaoyi tersenyum geli.“Apa yang anak empat tahun itu katakan paling sulit, adalah memutuskan makanan favoritnya.” Senyumnya semakin mengembang mengingat perilaku putri bungsunya yang sangat genit.“Tapi Ibu, sangat bangga padanya. Kau tau kenapa?” Song Yaoyi duduk dikursi di depan meja. tempat yang sama tadi Ji Yuan duduki. Chu Zhao memandang kursi itu dan entah kenapa merasakan rasa yang aneh menurutnya

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 8

    “Anda tidak boleh pergi.” Dongmei berdiri di depan pintu menghalangi Ji Yuan yang akan keluar. Ji Yuan melihatnya dan bertambah kesal.“Kenapa tidak boleh? Apa Jendral picik itu yang menyuruhmu! Mengapa kamu mau saja disuruh – suruh dengan orang tidak sopan seperti itu? benar – benar menyebalkan!” Ji Yuan sudah kehilangan kesabarannya.“Ada apa?” Song Yaoyi mendekat.“Menjawab Nyonya, Nona ini ingin keluar dari ruangan. Sesuai perintah Nyonya, saya tidak membiarkan seorang pun pergi dari ruangan ini.” Ucap Dongmei.“Oke. Terima kasih.” Song Yaoyi mengangguk pada Dongmei.“Siapa nama mu Nona? Dari keluarga mana kamu berasal?” Song Yaoyi tersenyum menatap Ji Yuan. Wajah gadis muda itu sudah memerah. Tampak sangat emosi.“Saya… Ji Yuan Nyonya. Saya berasal dari desa Zhongdong di perbukitan perbatasan barat daya.” Ji Yuan menjawab dengan lugas. Lalu menarik nafasnya banyak – banyak, dia tidak mau membuat masalah dengan Nyonya Jendral Agung ini, dengan melampiaskan emosinya.“Desa Zhongdon

  • Jatuh dalam Ledakan Cinta   Bab 7

    “Berapa yang ku dapat?” Jawab Ji Yuan singkat.“Kurang ajar!!”Suara itu bukan dari Chu Zhao, melainkan dari Letnan Jendral di belakangnya.“Apa maksudmu? Bukankah kamu Guru di sekolah ke Kaisaran? Seharusnya kamu berbakti untuk kekaisaran! Kamu ingin dihukum?!” Teriak Wang Yi’an lagi.“Atas dasar apa aku akan dihukum?” Jawab Ji Yuan dingin.“Kamu!!!” Wang Yi’an sudah berdiri dan akan mendorong ji Yuan.“Mengapa berbuat gaduh?!” Suara seorang wanita terdengar dari pintu.Ji Yuan yang sudah dalam posisi siaga pun menoleh. Dilihatnya seorang wanita dewasa yang masih cantik diusianya. Rambutnya disanggul sederhana, bahkan bajunya pun sederhana, tidak ada kesan bangsawan besar pada dirinya, namum auranya cukup menindas.“Bibi~” Wang Yi’an mencelos ngeri.“Ibu.” Chu Zhao bangkit dan mendekat ke arah pintu dimana Song Yaoyi berdiri.“Kami sedang diskusi mengenai hal yang penting. Ibu bisa menunggu di dalam, Kakak pertama dan anak – anaknya juga sudah di dalam. Sebaiknya ibu menemui mereka.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status