ログイン“Bas, apa ada yang tahu di mana aku tinggal sekarang?” tanya Alvan.
Usai dari kafe tadi, Alvan, Thea dan Erwin kembali ke ruko tempat studio Alvan. Kali ini Thea dan Erwin tampak sibuk membahas tentang proyek bareng mereka. Sedangkan Alvan sedang melakukan panggilan di lantai dua.
“Tidak, Tuan. Anda tenang saja. Nona Erika tidak tahu di mana Anda berada.”
Alvan menghela napas panjang sambil mengacak rambutnya.
“Kalau tidak tahu, kenapa dia mau ke sini tadi?”
Bastian tersenyum di seberang sana.
“Nona Erika memang tahu Anda tinggal di studio lukis, tapi tepatnya di mana tidak tahu. Anda tenang saja.”
Alvan terdiam sambil menganggukkan kepala. Bastian sudah lama menjadi asistennya dan mengurusi segala keperluan Alvan yang berhubungan dengan profesinya. Bahkan keluarga besar Alvan mengenal Bastian dengan baik. Rasanya tidak mungkin jika Bastian berbohong.
“Ya sudah kalau begitu.
“Mana yang lainnya, Pak?” tanya Evelyn.Ia langsung berangkat ke tempat yang dikirim Leo beberapa saat kemudian, tapi Evelyn sangat terkejut ketika mendapati hanya dirinya dan Leo yang berada di sana. Tidak ada rekan sejawat seperti yang dikatakan Leo di telepon tadi.“Mereka sedang ke toilet, tapi ada juga yang sudah pulang. Kami sejak dari tadi di sini, Bu Evelyn.”Evelyn hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sesekali ia mengedarkan pandangan memperhatikan sekitar.Sebenarnya Evelyn terbiasa datang ke tempat seperti ini. Ia juga terbiasa minum minuman alkohol. Saat sekolah di luar negeri, salah satu penyebabnya. Apalagi saat itu dia punya circle pertemanan yang cukup banyak dan sering hang out di bar seperti ini.“Saya pesankan minum ya, Bu Evelyn?”Tiba-tiba suara Leo membuyarkan lamunan Evelyn. Evelyn mengangguk dan sama sekali tidak curiga saat Leo bangkit dari duduknya dan pergi menuju meja pe
“Kamu memang pintar, Bu. Gak rugi aku menikah denganmu,” ujar Paman Sapto.Bi Mira hanya berdecak sambil melihatnya sekilas. Selanjutnya wanita paruh baya itu sudah memundurkan kembali tubuhnya.“Oh ya, lalu bagaimana kabar Ina? Apa hukuman sudah diputuskan?” Paman Sapto mengalihkan topik pembicaraan.Bi Mira menghela napas panjang sambil menggeleng.“Belum. Ada beberapa berkas yang belum lengkap. Semoga saja pengacara suruhan Alvan itu mau membantu Ina. Setidaknya meringankan hukumannya.”Paman Sapto terdiam sambil menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat lesu dan muram. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Bagaimanapun mereka tidak ingin masa depan putri tunggalnya hancur berantakan hanya karena kasus seperti ini.Namun, apa yang terjadi harus terjadi dan Ina harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Hampir pukul tujuh malam saat Alvan dan Thea tiba di studio tempat mereka tinggal. Cukup lama m
Pria berusia 60-an itu terdiam menatap Bastian dengan sayu. Raut wajahnya terlihat tegang. Bahkan tampak jelas urat nadinya melintang menghiasi wajah pucatnya.“Saya yakin Nona Bella pasti sedih jika mengetahuinya.”Bastian kembali bersuara saat pria di depannya bereaksi. Tidak ada jawaban atau gerak signifikan dari pria tersebut. Namun, Bastian bisa melihat perubahan mimik wajahnya.“Bella yang memutuskan pergi dari rumah ini. Bella yang memilih pria sialan itu. Harusnya dia tahu apa konsekuensinya saat meninggalkan rumah ini. Termasuk kehilangan atas harta dan statusnya.”“Itu juga berlaku pada putrinya!!!”Bastian terdiam. Bibirnya terkatup, menatap pria di depannya dengan sendu.“Thea tidak bersalah. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalu orang tuanya. Dia berhak tahu siapa dirinya.”“Dia berhak tahu asal usulnya!!!”Bastian terdiam sekilas. Bahunya naik tu
“Bas, kamu dengar suaraku, kan?”Suara Alvan memecah lamunan Bastian. Pria bertubuh jangkung itu mengangguk.“Saya mendengarnya, Tuan,” jawab Bastian dengan senyuman.“Baguslah kalau begitu. Aku minta tolong lakukan secepatnya!!”Bastian kembali menganggukkan kepala lagi. Selanjutnya Alvan sudah mengakhiri panggilannya. Sementara Bastian hanya diam sambil menggulir galeri di ponselnya. Tangannya langsung berhenti pada sebuah foto seorang gadis mengenakan seragam SMA.Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Bastian, tapi jakun pria itu sudah berulang kali bergerak naik turun menelan ludah. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti ia akan melakukan perintah Alvan dengan baik.Keesokan harinya, Thea dan Alvan terpaksa izin tidak masuk kuliah. Mereka sudah janjian dengan Paman Sapto dan Bu Siti untuk melakukan test DNA. Bahkan Alvan sudah menyiapkan akomodasi untuk mereka agar tidak terlambat.
“APA!!! Kamu jangan asal ngomong, Van!! Kamu pikir berapa biaya untuk test DNA,” sergah Paman Sapto.Pria paruh baya itu langsung marah saat Alvan memintanya test DNA. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Hanya Siti saja yang terdiam.“Iya, kamu pikir test DNA itu murah. Dari mana kami dapat uangnya. Pengacara saja, kami tidak mampu bayar.”Bi Mira ikutan menyahut. Wajah wanita paruh baya itu terlihat penuh amarah sama halnya dengan ekspresi suaminya.“Soal biaya dan rumah sakit, aku yang siapkan. Kalian cukup datang dan melakukan test saja.”Alvan kembali bersuara dan terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Thea yang duduk di sebelah Alvan langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, saya bersedia melakukannya. Jika memang Thea putri kandung saya. Saya senang sekali.”Siti lebih dulu bersuara dan terdengar antusias. Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia me
“Jangan bercanda deh, Paman!!!”Alvan tiba-tiba tertawa sambil berkata seperti itu. Terang saja ulah Alvan membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Satu persatu dari mereka saling pandang dan terlihat bingung. Hal yang sama juga ditunjukkan Thea.Sedari tadi wanita cantik itu tegang menghadapi hal ini. Kini begitu tahu kenyataannya, ia semakin terkejut. Namun, Alvan menanggapinya dengan tertawa.“Kamu pikir aku bohong, begitu?” sergah Paman Sapto.Pria paruh baya itu merah padam wajahnya menatap Alvan penuh amarah. Sementara Alvan terlihat lebih tenang dan sudah menghentikan tawanya.“Aku tidak menuduh Paman bohong. Hanya saja, mana ada ayah kandung yang mengolok putrinya sendiri sebagai anak haram.”Seketika wajah Paman Sapto semakin merah. Bahkan pria paruh baya itu sudah menundukkan kepala.“Thea memang anak haram. Ia terlahir dari hubungan terlarang suamiku dan pelacur ini.”







