Masuk“Selamat pagi, Pak!!” sapa sosok wanita cantik itu.
Ia sudah berada di ruangan Pak Hanafi, dekan fakultas seni. Pria paruh baya itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Silakan masuk, Bu Evelyn.”
Wanita cantik yang tak lain bernama Evelyn itu berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia tersenyum dengan ramah kemudian duduk berhadapan dengan Pak Hanafi.
“Saya senang Ibu bisa secepatnya bergabung dengan kampus kami.”
Evelyn tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sebenarnya ia memang sengaja bergabung ke kampus ini dengan tujuan tertentu.
Evelyn adalah teman SMA Alvan yang sering dijodohkan dengannya tempo hari. Evelyn sangat mencintai Alvan. Sayangnya, pria itu tidak membuka hatinya sama sekali pada Evelyn. Bahkan saat kuliah, Evelyn sengaja memilih kampus yang sama dengan Alvan hanya sekedar untuk dekat dengannya.
Tanpa sepengetahuan Alvan, Evelyn sengaja berkuliah lagi mengambil jurusan seni. Lalu atas b
“THEA!!!”Suara cempreng Irma memenuhi telinga Thea pagi ini. Wanita muda berparas cantik itu langsung menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Ia melihat sahabatnya tampak berjalan menghampiri.“Aku pikir kamu bakal gak masuk kuliah lagi.”Thea hanya mengulum senyum sambil berjalan beriringan bersama Irma. Gara-gara harus melakukan test DNA, Thea terpaksa membolos kuliah.“Kemarin Pak Alvan juga gak masuk dan dia memberi banyak tugas. Aku jadi heran, deh. Kenapa setiap kamu gak masuk, Pak Alvan juga gak ngajar. Kayaknya kalian janjian, deh.’Thea kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala.“Kebetulan saja kali.”Irma manggut-manggut sambil melirik teman dekatnya. Belakangan ini penampilan Thea berbeda dari sebelumnya. Ia lebih memperhatikan outfitnya dan tidak asal-asalan seperti sebelumnya.Bisa jadi perubahan Thea ini karena hubungannya dengan Aby. Mungkin Aby menuntut
Leo tercengang kaget mendengar ucapan Evelyn. Matanya membola lebar. Sayang, kacamata hitam yang selalu nangkring di hidungnya menutupi pandangan Evelyn.“Apa maksud Ibu?” tanya Leo.Evelyn tersenyum sambil menatap Leo dengan tajam.“Bapak hendak menjebak saya, kan? Bapak sengaja membuat saya tak sadarkan diri dan menempatkan saya bersama pria asing yang mengaku menjadi Pak Alvan.”Serta merta Leo terkejut. Ia tidak menduga jika Evelyn tahu akal busuknya. Apa mungkin semalam Evelyn masih terjaga? Ia belum seratus persen pingsan sehingga menyadari apa yang terjadi.“Anda jangan asal tuduh, Bu Evelyn. Saya bisa melaporkan Anda balik sebagai kasus pencemaran nama naik.”Bukannya meminta maaf dan memperbaiki keadaan, Leo malah mengancam Evelyn. Evelyn berdecak sambil menggelengkan kepala.“Ternyata benar rumor yang beredar di kampus ini. Jika Anda bukan seorang gentleman.”Lagi-lagi L
“Terima kasih sudah mengantar saya,” ucap Evelyn begitu mobil yang mereka tumpangi tiba di apartemennya.Bastian hanya mengangguk sambil tersenyum. Evelyn membuka seat belt dan bersiap turun, tapi tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya.“Eng … boleh aku tahu namamu. Sepanjang perjalanan tadi, kita belum berkenalan.”Bastian kembali tersenyum, kemudian mengulurkan tangan.“Bastian. Nama saya Bastian.”Evelyn tersenyum menyambut uluran tangan Bastian. “Panggil aku Evelyn.”Bastian mengangguk. Evelyn bersiap turun, tapi tiba-tiba ia terdiam dan tampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.“Ini nomor teleponku. Lain kali aku akan traktir kamu, tapi tidak di tempat tadi. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih sudah menolongku.”Kembali Bastian menjawab dengan anggukan kepala. Selanjutnya Evelyn sudah turun dan masuk ke dalam apartemen.Bastian tampak
BRAK!!!Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar bersamaan lampu yang menyala benderang. Seketika pria tak dikenal itu terjingkat kaget dan menoleh ke arah pintu.Seorang pria tak dikenal berpenampilan rapi dan bertubuh jangkung telah berdiri menantang di depannya.“APA-APAAN INI?” sergah pria tak dikenal itu.Ia langsung bangkit tergesa mengurai pagutannya. Evelyn yang tadinya terbuai segera membuka mata dan memperhatikan sekitar. Sebenarnya ia bukan tipikal orang yang gampang mabuk. Namun, gara-gara obat tidur yang dimasukkan ke minumannya membuat Evelyn setengah mengantuk.Evelyn mengerjapkan mata menatap pria yang baru saja beradu saliva dengannya.“Kamu bukan Alvan?” desisnya.Pria tak dikenal itu terkejut dan buru-buru bangkit menghampiri pria yang masih menghadang di depan pintu.“Dia memang bukan Tuan Alvan Abbiya, Nona,” sahut pria bertubuh jangkung itu, yang tak lain Bastian.Evel
“Mana yang lainnya, Pak?” tanya Evelyn.Ia langsung berangkat ke tempat yang dikirim Leo beberapa saat kemudian, tapi Evelyn sangat terkejut ketika mendapati hanya dirinya dan Leo yang berada di sana. Tidak ada rekan sejawat seperti yang dikatakan Leo di telepon tadi.“Mereka sedang ke toilet, tapi ada juga yang sudah pulang. Kami sejak dari tadi di sini, Bu Evelyn.”Evelyn hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sesekali ia mengedarkan pandangan memperhatikan sekitar.Sebenarnya Evelyn terbiasa datang ke tempat seperti ini. Ia juga terbiasa minum minuman alkohol. Saat sekolah di luar negeri, salah satu penyebabnya. Apalagi saat itu dia punya circle pertemanan yang cukup banyak dan sering hang out di bar seperti ini.“Saya pesankan minum ya, Bu Evelyn?”Tiba-tiba suara Leo membuyarkan lamunan Evelyn. Evelyn mengangguk dan sama sekali tidak curiga saat Leo bangkit dari duduknya dan pergi menuju meja pe
“Kamu memang pintar, Bu. Gak rugi aku menikah denganmu,” ujar Paman Sapto.Bi Mira hanya berdecak sambil melihatnya sekilas. Selanjutnya wanita paruh baya itu sudah memundurkan kembali tubuhnya.“Oh ya, lalu bagaimana kabar Ina? Apa hukuman sudah diputuskan?” Paman Sapto mengalihkan topik pembicaraan.Bi Mira menghela napas panjang sambil menggeleng.“Belum. Ada beberapa berkas yang belum lengkap. Semoga saja pengacara suruhan Alvan itu mau membantu Ina. Setidaknya meringankan hukumannya.”Paman Sapto terdiam sambil menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat lesu dan muram. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Bagaimanapun mereka tidak ingin masa depan putri tunggalnya hancur berantakan hanya karena kasus seperti ini.Namun, apa yang terjadi harus terjadi dan Ina harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Hampir pukul tujuh malam saat Alvan dan Thea tiba di studio tempat mereka tinggal. Cukup lama m







