MasukNah loh. Ketahuan apa gak, nih????
“APA!!! Kamu jangan asal ngomong, Van!! Kamu pikir berapa biaya untuk test DNA,” sergah Paman Sapto.Pria paruh baya itu langsung marah saat Alvan memintanya test DNA. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Hanya Siti saja yang terdiam.“Iya, kamu pikir test DNA itu murah. Dari mana kami dapat uangnya. Pengacara saja, kami tidak mampu bayar.”Bi Mira ikutan menyahut. Wajah wanita paruh baya itu terlihat penuh amarah sama halnya dengan ekspresi suaminya.“Soal biaya dan rumah sakit, aku yang siapkan. Kalian cukup datang dan melakukan test saja.”Alvan kembali bersuara dan terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Thea yang duduk di sebelah Alvan langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, saya bersedia melakukannya. Jika memang Thea putri kandung saya. Saya senang sekali.”Siti lebih dulu bersuara dan terdengar antusias. Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia me
“Jangan bercanda deh, Paman!!!”Alvan tiba-tiba tertawa sambil berkata seperti itu. Terang saja ulah Alvan membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Satu persatu dari mereka saling pandang dan terlihat bingung. Hal yang sama juga ditunjukkan Thea.Sedari tadi wanita cantik itu tegang menghadapi hal ini. Kini begitu tahu kenyataannya, ia semakin terkejut. Namun, Alvan menanggapinya dengan tertawa.“Kamu pikir aku bohong, begitu?” sergah Paman Sapto.Pria paruh baya itu merah padam wajahnya menatap Alvan penuh amarah. Sementara Alvan terlihat lebih tenang dan sudah menghentikan tawanya.“Aku tidak menuduh Paman bohong. Hanya saja, mana ada ayah kandung yang mengolok putrinya sendiri sebagai anak haram.”Seketika wajah Paman Sapto semakin merah. Bahkan pria paruh baya itu sudah menundukkan kepala.“Thea memang anak haram. Ia terlahir dari hubungan terlarang suamiku dan pelacur ini.”
“Terima kasih, Bastian,” ucap Thea.Mereka sudah tiba di studio milik Alvan. Thea langsung turun dari mobil dan tergesa masuk. Sementara Bastian hanya diam di posisinya sambil menatap tubuh Thea yang sudah menghilang ke dalam studio.“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumam Bastian, “apa sebaiknya aku katakan saja siapa sebenarnya Nona Thea.”“Lalu bagaimana jika Tuan besar marah?”Bastian terdiam, tampak menghela napas beberapa kali. Banyak gejolak di dalam dadanya setiap memikirkan hal ini. Andai saja ia tidak tahu soal rahasia ini pasti itu lebih baik. Ketimbang harus menderita seperti ini.Lamunan Bastian buyar saat mendengar mobil Alvan datang. Bastian menoleh dan melihat Alvan baru saja turun dari mobil. Bastian tergesa keluar untuk menemui Alvan.“Nona Thea baru saja masuk, Tuan.”Alvan mengangguk sambil menepuk bahu Bastian.“Terima kasih. Kamu boleh pu
“Thea, Irma, kalian belum pulang?”Alvan langsung menghentikan langkah dan menyapa mereka. Sementara Evelyn hanya diam sambil sesekali menatapnya.“Belum, Pak. Thea sedang menunggu jemputan.” Irma yang menjawab.Alvan melihat Thea sekilas, kemudian melihat Evelyn.“Bu Evelyn juga di sini.”Evelyn tersenyum masam sambil berdecak. Ia kesal dengan nada suara Alvan yang terdengar mengejek saat menyapanya.“Ini tempat umum, Pak. Memang tidak boleh saya di sini?”Alvan tersenyum. “Saya tidak melarang. Saya hanya menyapa tadi. Jangan baper dong, Bu.”Evelyn semakin kesal mendengar ucapan Alvan. Sementara Thea dan Irma tampak mengulum senyum usai mendengar jawaban Alvan.Ternyata tidak hanya killer dan sadis ke mahasiswanya. Alvan juga akan melakukan hal yang sama kepada orang yang tidak ia sukai.“Lalu … Pak Alvan sendiri ngapain ke sini? Apa jangan
“Bas, tolong beberapa hari ini antar jemput Thea ke kampus,” pinta Alvan.Usai mengajar, Alvan langsung menghubungi Bastian. Bastian yang menerima panggilan di seberang sana tampak terkejut. Tidak biasanya Alvan memintanya mengantar jemput Thea.“Bas, kamu dengar, gak?” ulang Alvan.“Iya, Tuan. Saya dengar.”Alvan manggut-manggut. Usai mendapat ancaman dari Evelyn tadi pagi, Alvan mengkhawatirkan Thea. Ia bisa memukul balik ancaman Evelyn, lalu bagaimana dengan Thea?Alvan takut, Evelyn kerja sama dengan Leo dan akan menjebak Thea. Lalu kalau sudah begitu, semua yang mereka rencanakan selama ini akan hancur berantakan. Padahal Alvan sudah janji akan menunggu dua semester lagi untuk mempublis hubungannya.“Apa Nona Thea sudah diberitahu, Tuan?” Suara Bastian di seberang sana membuyarkan lamunan Alvan.“Iya, aku sudah memberitahunya. Dia akan menunggu kamu di mini market depan kampus
“Pagi, Alvan!!!” sapa Evelyn pagi itu.Ia tampak bersemangat pagi ini. Saat melihat mobil Alvan baru saja parkir, Evelyn bergegas menghampirinya. Tentu saja ulahnya membuat Alvan kesal.Pria tampan itu tidak menjawab dan berjalan menjauh. Namun, Evelyn terlihat tidak putus asa. Ia mengikuti langkah Alvan bahkan sedikit berlari untuk mengejarnya.“Kamu tidak menjawab salamku, Van?” Lagi-lagi Evelyn bersuara. Alvan tidak bereaksi, hanya diam sambil melirik sekilas.Seingat Alvan, Evelyn tidak seagresif ini saat SMA. Bahkan ia terlalu pendiam. Evelyn lebih suka kerja di belakang layar. Ia yang meminta teman-temannya untuk mengirim makanan atau surat ke Alvan. Namun, kenapa sekarang ia berubah?“Ternyata kamu salah satu icon kampus ini ya, Van. Masih saja sama seperti saat SMA. Di mana kamu berada, kamu seperti magnet yang menarik banyak orang.”Evelyn berkata dengan banyak pujian untuk Alvan. Suami Thea itu t




![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


