Malam itu Lizbeth mabuk.
Entah berapa banyak muinuman yang ia tengak sembari duduk di bar, usai melihat kekasihnya bercumbu dengan kakak Lizbeth di suite bulan madu mereka.
Puas minum, Lizbeth menari-nari dalam keadaan sempoyongan saat hendak meninggalkan bar. Banyak pria yang menggodanya–mungkin karena penampilan seksinya malam itu, jauh berbeda dengan Lizbeth yang biasanya terlihat cupu dan tidak menarik.
Sampai akhirnya, ia justru terjatuh dalam pelukan Lucien.
Sepasang mata pria itu menenggelamkannya, hingga keduanya berakhir menuruti gairah dan terlibat cinta satu malam.
Andai saja Lizbeth tahu Lucien akan menjadi atasannya, dia tak akan pernah membiarkan dirinya terlibat sejauh itu. Meniduri pria yang kini menjadi bosnya hanya menambah panjang daftar masalah dalam hidupnya.
Meski tak tahu pasti apa yang ada di benak Lucien, setidaknya saat ini dia masih memiliki pekerjaannya. Dengan begitu ia dapat bertahan. Lizbeth berniat untuk menjaga jarak, agar tidak menyinggungnya lagi. Serta berharap pria itu bisa melupakannya.
***
Pagi itu Angela melongo ketika melihat Lizbeth baru tiba di ruang loker.
"Gila, kupikir kamu nggak bakal balik lagi," ucapnya heran.
Lizbeth tidak menjawab, hanya menghela napas sembari menutup pintu loker. Ia hendak pergi saat Angela tiba-tiba mencekal tangannya.
"Kita kerja di perusahaan besar, Liz. Penampilan dan kecantikan itu penting." Wanita itu berkata pada Lizbeth. “Kalau kamu tidak bisa dandan, sini kubantu.”
Lizbeth tidak tahu alasan Angela merias Lizbeth hari itu, tapi ia tidak menolak. Mungkin rekannya itu iba lantaran Lizbeth tampak pucat, dengan kantong mata hitam dan mata lelah.
Angela menata rambut Lizbeth dan memulas bibirnya dengan lipstik warna natural. Wanita itu tampak puas setelah selesai dengan itu semua.
"Kamu kelihatan jauh lebih segar. Nggak usah tampil jadul terus," ujar Angela dengan senyum puas.
Lizbeth tertegun, lalu ia menatap bayangannya di cermin.
Rambutnya yang biasa ia ikat sembarangan kini tergerai, tapi tampak rapi dan tidak acak-acakan. Wajahnya tampak lebih hidup, tidak pucat. Riasannya mungkin tidak semewah yang Lizbeth pakai saat ke kelab malam itu, tapi ia menyukainya.
Ini lebih terasa seperti dirinya.
Sejak kecil, Lizbeth selalu tampil sederhana. Ia dilarang mengenakan gaun atau pakaian baru, karena ia tidak boleh tampil lebih cantik dari Valeria, saudaranya. Baju-bajunya adalah pakaian bekas, yang seringnya kebesaran dan kusam. Saat Lizbeth sudah bekerja dan punya uang sendiri pun, ia tidak boleh membeli pakaian cantik karena Valeria akan langsung menghancurkannya jika ia tahu.
Tidak ada yang membela. Ibu tirinya, Martha, selalu mengatainya.
“Sayang sekali kalau pakaian mahal ini dipakai gadis jelek sepertimu. Nanti justru kelihatan murah.”
“Mau pakai riasan seperti apa juga kalau sudah jelek, pasti akan tetap kelihatan jelek, Liz.”
“Mukamu itu tidak pantas dipampangkan di muka umum.”
Itulah yang kerap kali diucapkan Martha. Sama seperti si ibu tiri, ayah Lizbeth pun tak pernah memihak Lizbeth, bahkan kerap kali menyebutnya pembohong dan pembangkang jika Lizbeth mengadu.
Entah sejak kapan Lizbeth kemudian memilih untuk diam dan menyimpan semuanya sendiri.
Ia pikir ia akan bahagia dengan Elmer, kekasihnya. Tapi pria itu justru menghancurkannya.
“Bukan salahku kalau aku lebih memilih Valeria, Liz,” kata Elmer waktu Lizbeth melihatnya mencumbu saudaranya. “Aku muak melihat wajahmu. Aku bahkan tidak yakin kamu bisa memuaskan kebutuhanku di ranjang seperti Val.”
“Jangan menyalahkanku,” imbuh Valeria kemudian. “Kamu sendiri yang tidak mampu mengurus diri, sampai kekasihmu tidak betah.”
Mengingat itu semua membuat dada Lizbeth sesak.
"Lizbeth?" suara Angela membuyarkan lamunannya. "Kenapa kamu bengong?"
Lizbeth menggeleng dan tersenyum tipis. Ia harus fokus pada hidupnya yang sekarang dan terus maju.
Wanita itu kemudian berjalan menuju meja depan dan bersiap memulai hari kerjanya.
Ketika waktu menyambut kedatangan CEO tiba, seperti biasa seluruh staf keamanan dan resepsionis berdiri berjejer. Lizbeth menundukkan kepala saat Lucien melintas. Tatapan pria itu menelisik tajam sebelum akhirnya masuk ke dalam lift bersama sang asisten.
Begitu sosoknya menghilang, Lizbeth menghela napas berat.
Ia kemudian pergi ke pantry, membuat teh untuk menenangkan hati dan pikirannya. Ia juga mengambil sepotong roti. Seusai menyisip teh, ia kembali ke meja dan duduk, menghadap layar komputer.
Telepon tiba-tiba berdering. Lizbeth mengangkatnya.
"Buatkan kopi untuk saya."
Mendengar suara Lucien, membuatnya tercekat. Sebelum sempat merespons, telepon sudah dimatikan sepihak.
Lizbeth membeku untuk beberapa saat.
"Mau ke mana lagi?" tanya Angela saat Lizbeth berdiri.
"Pak Lucien minta dibuatkan kopi,” imbuh Lizbeth.
Angela mengernyit, seakan mengerti bahwa sesuatu sedang terjadi. Lizbeth pun beranjak. Karena lupa menanyakan jenis kopi yang dimaksud, ia membuatkan americano panas.
Begitu kopi siap, Lizbeth membawanya ke ruangan Lucien. Ia melihat pria itu tengah sibuk menandatangani dokumen. Kilian sempat meliriknya, tapi tidak mengatakan apapun. Sementara Lucien tak menunjukkan reaksi.
“Pak, kopinya?”
“Pegang dulu. Saya belum selesai,” titah Lucien. Pria itu menatapnya dengan pandangan dingin sepintas. “Keberatan?”
Lizbeth tediam. “... Tidak, Pak,” sahutnya kemudian.
Tiga puluh menit berlalu. Tangan Lizbeth terasa kaku dan kebas, tapi ia bertahan.
Lucien akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan menyeringai kecil melihat Lizbeth yang mulai kelelahan memegang kopi, bahkan kakinya mulai kesemutan.
"Kirim orang untuk mengecek lokasi," ucap Lucien pada sang asisten kemudian.
“Baik Pak,” ucap Kilian, lalu meninggalkan ruangan.
Lucien pun berdehem, tanpa menoleh ke arah Lizbeth. Saat Lizbeth bersiap meletakkan kopi yang diminta Lucien.
"Ganti kopinya," ucap Lucien tiba-tiba.
Lizbeth menatapnya kaget.
"Kamu mau kasih saya kopi dingin?"
Mendengar nada bicara Lucien, Lizbeth hanya mengangguk dan pergi membuat kopi baru.
Namun, saat Lizbeth beniat meletakkan kopi di atas meja, suara Lucien kembali menginterupsi.
“Saya minta latte. Bukan Americano.”
Lizbeth memejamkan matanya sejenak, menahan emosinya yang mulai naik.
"Buatkan yang benar."
“Baik, Pak.” Lizbeth mengangguk dan kembali ke pantry.
Namun, saat Lizbeth kembali, Lucien menolaknya sekali lagi.
"Saya mau yang dari kafe di seberang."
Kini, Lizbeth tidak bisa menyangkal dirinya sendiri. Pria ini memang sengaja merundungnya.
Namun, sebagai pekerja yang baru saja selamat dari risiko pemecatan, Lizbeth melakukan semua perintah Lucien.
"Silakan, Pak." Lizbeth meletakkan latte yang ia beli dari kafe depan kantor di meja Lucien.
Namun, Lucien hanya melirik. Ia tak menyentuh minumannya.
Lizbeth mengambil langkah mundur. "Apabila tidak ada lagi, saya permisi, Pak."
Namun, Lucien tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Lizbeth, pinggangnya diraih hingga tubuh mereka berbenturan. Lizbeth tertegun, menatap sepasang mata yang menatapnya dingin.
"Tolong lepaskan saya, Pak."
"Bagaimana kalau saya tidak mau?" bisik Lucien, wajahnya mendekat.
Tatapan intens itu membuat Lizbeth gugup. Ia cemas, Lucien akan melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Kamu bilang akan melakukan apa pun agar tetap bekerja di sini. Sudah lupa?" bisik Lucien, suaranya rendah di telinga Lizbeth. "Sekarang saya akan beri tahu apa yang saya inginkan."
Sore itu, Kilian mengikuti Lizbeth ke ruangan kaca. Kilian merasakan ada kemarahan di wajah Lizbeth, dia tahu Lizbeth akan mengomelinya.“Nyonya.” Suaranya terdengar parau, seolah ingin menjelaskan sesuatu.Namun, Lizbeth menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia berbalik cepat, membuat Kilian hampir menabrak tubuhnya. Mata Lizbeth tajam, bibirnya bergetar menahan emosi.“Kau pikir aku tidak marah?” suaranya bergetar, namun penuh tekanan. “Kau pikir aku tidak melihat bagaimana Lucas berdiri di hadapanmu tadi, dengan wajah penuh sindiran? Kau kira aku tidak merasakan sesuatu yang janggal darinya? Aku tahu, Kilian!”Kilian terdiam, tetapi terkejut. Ia menatap Lizbeth dengan mata penuh keyakinan. “Kalau kau tahu, kenapa kau masih diam? Kenapa kau malah menegurku di depan semua orang? Aku hanya ingin membongkar siapa Lucas sebenarnya!”“Justru karena itu aku marah padamu!” Lizbeth mendekat, jarak mereka kini hanya satu langkah. Suaranya mendadak rendah, tapi matanya tetap tajam. “Kau tidak me
Lizbeth terduduk di tepi ranjang, jantungnya masih berdegup kencang. Ucapannya barusan kepada Lucas masih terngiang di telinganya sendiri. Ia tahu, setiap kata yang ia lontarkan hanyalah tameng, sebuah kebohongan untuk melindungi dirinya dan juga Lucien. Namun, semakin ia berpura-pura, semakin hatinya sakit. Dia tidak bisa ke gabah, karena saat ini Kingsley ada di tangan Lucas. Dia bisa saja membuang Lizbeth, seperti dia membuang Lucien. Sebelum menemukan semua bukti yang tidak bisa terbantahkan, Lizbeth harus tetap tenang agar Lucas tidak curiga. Karena ia tahu Lucas sama seperti Lucien, tidak bodoh.“Kabar kedatanganku sangat cepat terdengar ke telinganya. Aku yakin di rumah ini masih ada mata-mata.”Tangannya perlahan mengusap perutnya. Ia menutup mata, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan Lucas, serta tatapan Lucas yang kadang terasa dingin, menusuk, penuh rahasia, tidak bisa Lizbeth abaikan begitu saja.Malam itu, tanpa Lizbeth sadari, di balik dinding, sepasang mata
Lizbeth berhenti melangkah. Matanya menatap Kilian tajam, seakan bersiap jika harus menerima kabar buruk lagi. “Apa itu?”Kilian menarik napas panjang. “Lucas, dia juga berada di New York. Dia datang ke sini, melihat Pak Lucien, belum lama ini.”Deg! Hati Lizbeth langsung mencelos. Ia baru tahu kalau Lukas berada di sini, hal itu mengejutkan Lizbeth. Membuat Lizbeth semakin yakin, kalau Lucas adalah anak kesayangan Alessandro. Bahkan kepergiannya sama sekali tidak diketahui oleh Lizbeth, dan sama sekali tidak memberitahunya.Lizbeth menahan napas. Ekspresinya datar, meski dalam hati penuh gejolak. “Aku mengerti.”Kilian tampak ragu. “Nyonya, apakah Anda tidak—”“Tidak perlu membicarakannya sekarang,” potong Lizbeth cepat, suaranya tegas. “Kita pulang. Aku ingin kembali ke rumah.”Kilian menunduk. “Baik, Nyonya.”Meskipun sebenarnya banyak hal yang ingin kalian katakan kepada Lizbeth tentang Lucas, ia berpikir Lizbeth pasti akan menuduhnya lagi. Demi menjaga perasaan Lizbeth, Kilian
“Justru aku yang seharusnya berterima kasih.” Victoria terkejut. “Karena Mom sudah melahirkan Lucien kedunia ini.” Lizbeth tersenyum, yang diikuti oleh senyuman Victoria.“Hari ini aku akan menjenguk Lucien,” sambung Lizbeth.Ada keterkejutan di wajah Victoria. Bahkan Victoria dan Cameron hingga hari ini belum berani melihat Lucien, dan semua itu diurus oleh pengacara. Victoria tidak tega melihat Lucien yang seperti itu.“Kau memiliki keberanian ibumu, Lilibeth.”Lizbeth tersenyum, setelah itu dia berdiri. Lalu pergi dari kamar Victoria.Sekitar jam 11 siang, Lizbeth akhirnya memutuskan untuk menemui suaminya. Namun, orang yag pertama menemui Lucien adalah Kilian.Petugas membuka pintu ruangan khusus yang dipinta oleh Lizbeth untuk berbicara dengan mereka. Di dalam, Lucien duduk di bangku besi. Wajahnya lebam, bibir pecah, ada luka memar yang sudah mengering di pelipis. Namun, matanya tetap tajam.“Kilian?” suara Lucien serak, nyaris berbisik. Ada keterkejutan sekaligus secercah keleg
Esok harinya, saat sarapan bersama dengan Caspian dan Samantha. Lizbeth akhirnya mengutarakan keinginannya untuk pergi ke New York.“Tidak boleh. Kondisi saat ini belum stabil. Kamu juga tidak boleh menemui Lucien dulu.”Lizbeth mengerutkan keningnya.“Aku bukan anak kecil yang bisa diatur semaumu Dad. Yang berada di sana adalah suamiku. Aku akan tetap pergi meskipun kau tidak mengizinkannya.”Caspian menatap tajam Lizbeth, dia tahu ucapannya tidak akan menghentikan Lizbeth.“Aku akan menemaninya,” kata Samantha.“Aku bisa sendiri,” kata Lizbeth.Samantha menatap Lizbeth. “Untuk saat ini kamu tidak bisa bepergian sendirian. Biarkan Nenek menemanimu. Dengan begitu ayahmu bisa tenang.”Lizbeth menurunkan pandangannya. “Sore ini, tidak ada kata besok.”Lizbeth berdiri. Dia meninggalkan meja makan, saat hendak masuk ke dalam lift. Ia merasakan perutnya sakit.“Aaargh!” desisnya.Lizbeth kembali ke kamar, dia mulai menyiapkan pakaiannya. Apa yang terjadi saat ini tidak bisa menekan keingin
Lucas berhenti tepat di ambang pintu. Punggungnya menegang, detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Sebutan itu terdengar jelas di telinga Lucas.“Kakak,” gumam Lucas.Dengan perlahan, ia menoleh. Sorot matanya tajam, berusaha membaca ekspresi Lucien yang penuh luka dan amarah. Namun, Lucien masih bisa tersenyum sinis. “Apa maksudmu?” suara Lucas terdengar berat, hampir tercekat.Lucien tertawa lirih, suaranya serak. “Kakak, seharusnya sejak dulu aku memanggilmu dengan sebutan itu.” Lucien menghela napas. “Jika kau sangat ingin Kingsley, kenapa harus melakukan cara sekotor ini? Kau bisa memintanya padaku. Dengan senang hati aku bisa memberikannya padamu.”Lucas mengepal tangannya. Matanya menajam, sorot matanya merah. Seolah dirinya hanya menerima barang bekas milik Lucien. Lucas menekan amarah dan menyipitkan mata, menahan diri untuk tetap tenang. “Kau berhalusinasi, Lucien. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”Namun Lucien justru menggeleng pelan, bibirnya meleng