Mag-log in"Lepasin aku, Mas! Lepas!" jerit Alexa.
"Kalau kamu mati, aku tidak peduli!" geram Gani.Namun, licinnya air hujan membuat tumpuan kaki Gani di tepi balkon tergelincir. Cengkeramannya terlepas, dan tubuh pemuda itu ikut tertarik jatuh bersama Alexa.Dua tubuh itu menghantam tanah pekarangan yang keras berkerikil. Suara patah yang mengerikan terdengar jelas bersamaan dengan rasa sakit yang belum pernah dialami Alexa seumur hidupnya.Tulang kering kaki kirinBelasan tahun lalu .... Aroma obat-obatan yang membakar hidung dan derit ranjang besi di kamar rumah sakit daerah, selalu menjadi latar belakang masa kecil Alexa. Saat itu usianya baru sepuluh tahun. Duduk di kelas lima sekolah dasar.Ayahnya terbaring kaku dengan tubuhnya yang dulu gagah makin menyusut menggerogoti tulang, akibat kanker usus stadium akhir. Alexa kecil setiap hari duduk di samping ranjang, menggenggam jari-jari dingin lelaki itu. Membacakan buku dengan suara cicit yang polos.Namun, di balik pintu kamar perawatan, Irin tidak pernah ada di sana untuk menggenggam tangan suaminya. Wanita itu selalu sibuk bersolek di depan cermin toilet hospital, meratapi nasibnya yang harus mengurus suami sekarat dan anak kecil, di sebuah desa terpencil tanpa uang. Hingga malam kelam itu tiba. Hari ketika napas ayah Alexa berhenti untuk selamanya.Belum genap tujuh hari tanah kuburan ayahnya mengering, suara benturan koper tua dihantamkan ke lantai rumah kayu nenek Alexa dan memecah keh
"Cobalah dulu." Randu menggeser piring ke hadapan Alexa, lalu menyodorkan segelas susu putih hangat.Di atas piring tertata rapi nasi goreng Thailand berwarna keemasan dengan potongan udang segar, telur orak-arik yang lembut, irisan cabai merah, dan wangi daun ketumbar serta minyak wijen yang kuat.Alexa mengambil sendok dan mencicipinya satu suapan kecil. Matanya seketika membelalak. Rasa gurih, sedikit manis, asam segar dari jeruk nipis, dan tekstur nasi yang renyah berpadu sempurna di dalam mulutnya."Enak banget!" cetus Alexa spontan, tanpa sadar menyuap sendok kedua. "Ini serius kamu yang masak? Rasanya mirip sekali dengan buatan koki di restoran bintang lima!"Randu yang sedang menyesap kopi hitamnya terkekeh bangga. Ia menyandarkan siku di meja, menatap Alexa yang makan dengan lahap. "Waktu kuliah di Amerika dulu, aku bosan dengan makanan junk food. Jadi, ikut les memasak dengan beberapa koki profesional di sana. Senang kalau kamu suka."Alexa tersenyum manis di sela kunyahann
Pria itu menarik tubuh Alexa yang gemetaran ke dalam pelukannya. Didekapnya kepala gadis itu di dada, menenggelamkan isak tangis yang makin menjadi-jadi.Tangan Randu melingkar erat, mengusap punggung dan rambut basah Alexa secara berulang. Menyalurkan kehangatan nyata tubuhnya untuk mengusir bayangan iblis masa lalu dari benak sang gadis."Aku di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Aku janji," gumam Randu terus-menerus, mengulang kata-kata itu bagai mantra pendamai.Perlahan, gerakan panik tangan Alexa yang mencengkeram kakinya mulai mengendur. Isak tangisnya yang semula histeris berganti menjadi napas yang kian teratur, walau tubuhnya masih sesekali menyentak kaget.Kehangatan dada Randu dan detak jantung pria itu yang teratur, perlahan menarik Alexa keluar dari jurang hening mimpi buruknya. Gadis itu tidak terbangun sepenuhnya, tetapi tubuhnya yang lelah kembali terkulai pasrah.Randu menghela napas lega, membelai lembut pipi A
"Aku adalah pemilik saham mayoritas sekaligus pendiri dari holding company yang menaungi platform-platform novel online ini, Al," ungkap Randu jujur. "Kami menaungi puluhan ribu penulis aktif dengan jutaan pembaca harian." Mata Alexa berkedip cepat. Otaknya berusaha mencerna kenyataan tersebut. "Tunggu, jadi seluruh ekosistem penerbitan digital yang sedang naik daun ini milikmu?" "Bisa dibilang begitu." Randu tersenyum tipis. "Penghasilan bersih dari satu platform saja bisa mencapai miliaran rupiah per bulan dari transaksi koin dan royalti. Jadi, belanjaan kecil kita tadi sama sekali tidak mengurangi apa pun dari keuanganku." Alexa menyandarkan punggungnya di sofa, benar-benar kehilangan kata-kata. Pria yang dulu di SMA sering meminjam catatan dan mentraktirnya bakso di kantin, kini adalah seorang tycoon media digital yang bergerak di balik layar. "Kenap
"Randu! Stop!" Alexa menyenggol pinggang lelaki itu dengan siku, enahan malu yang membakar hingga ke ujung telinganya. "Biar aku yang pilih sendiri bagian itu!" Randu tersenyum tipis. Senyuman pertama yang begitu tulus setelah ketegangan sepanjang sore. "Baiklah. Pilih yang paling nyaman. Jangan pikirkan harga." Dua puluh menit kemudian, lima kantong belanjaan besar berlogo emas sudah berada di genggaman Randu. Saat melihat angka yang tertera di struk pembayaran saat lelaki itu menggesek kartu hitamnya, mata Alexa hampir melompat keluar. Puluhan juta rupiah melayang hanya untuk kebutuhan dasar beberapa hari. "Ini mubazir, Randu," protes Alexa sewaktu mereka berjalan menuju area restoran. "Kamu membuang uang untuk barang-barang yang sebenarnya bisa dibeli dengan harga sepersepuluhnya."
Jeritan ketakutan Alexa beriring dengan napas Randu yang memburu perlahan dan mulai terkontrol. Mata tajamnya berganti menatap gadis itu. Ada kilat kepedihan yang sangat dalam di sana, saat ia melihat pergelangan tangan Alexa yang memerah memar akibat cengkeraman Gani. Randu melepaskan cengkeramannya pada kerah lelaki itu dengan kasar, membuatnya tersungkur di lantai beton yang basah. "Pergi!" Randu mendorong tubuh Gani dengan ujung sepatunya. "Sebelum aku memanggil polisi dan memastikan kau membusuk di penjara atas pasal penganiayaan dan pemerasan." Gani terbatuk-batuk, menatap Randu dengan rasa benci bercampur takut. Pria itu menyeka darah di wajahnya, lalu tertawa getir. "Kamu tidak akan bisa menutupi semuanya, Daneswara! Perempuan itu pembawa sial! Dia bakal menghancurkan kamu!" Dengan langkah pincang dan tubuh bersimbah darah bercampur air hujan, Gani akhirnya berbalik dan berlari menghilang di balik kegelapan lorong jalanan. Hujan kini turun semakin lebat. Menyamarkan ba







