LOGINLe mariage de cinq ans entre Léa et Alex, il a été maintenu en piétinant la dignité physique et morale de Léa. Elle pensait qu'il n'y avait pas d'amour entre eux, mais qu'il devait y avoir des liens familiaux. Jusqu'à ce jour-là. Le certificat de décès imminent de leur unique enfant et les gros titres des divertissements, où il dépensait sans compter pour son premier amour, sont apparus en même temps devant elle. Elle n'avait plus besoin de jouer le rôle de Mme Richard. Cet homme impitoyable a pourtant soudoyé tous les médias, se mettant à genoux dans la neige, les yeux rouges, pour lui demander de lui pardonner. Léa est apparue, main dans la main, avec un autre homme. Elle a annoncé son nouveau compagnon au monde entier.
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”« Isabelle, l'argent est prêt ? Adrien commence à s'impatienter ! » a lancé Louis après avoir raccroché, se précipitant vers sa sœur tel un spectre harcelant. Son ton était nerveux, son visage crispé d'impatience.« Sérieusement ? C'est cinq millions d'euros qu'il réclame, pas cinq cents ! Tu crois que je tiens une imprimerie à billets ? » a rétorqué Isabelle en contemplant avec amertume l'écran de transfert bancaire.Voir cette somme colossale être virée de son compte aussi facilement que l'eau s'écoulait, c'était à lui fendre le cœur.« Est-ce vraiment le moment de lésiner ? Si ce type décide de nous dénoncer, ni cinq ni cinquante millions ne nous sauveront de la prison ! » s'est écrié Louis en tapant du pied. La perspective de tout perdre le rendait hystérique.« Ça va, ça va ! C'est en cours », a-t-elle grommelé tout en validant le virement malgré sa réticence.Chasser le loup exigeait d'abandonner l'appât, même si cet appât lui arrachait le cœur.« Argent perdu, danger évité
Léa a affiché un sourire ténu. Elle a porté sa tasse de café à ses lèvres et a conclu : « C'était prévisible. Alex allie vanité et sottise. Se faire tromper une fois est un accident, deux fois une négligence, mais persister dans l'aveuglement relève de l'incurable. »Soren a secoué la tête avec exaspération : « Mon Dieu ? A-t-il perdu la raison ? N'importe qui verrait qu'Isabelle est une intrigante. Mais lui, il ose lui accorder une confiance absolue... »Léa a reposé sa tasse, le regard perdu au-dehors : « Ce n'est pas la raison qu'il a perdue, mais son orgueil qu'il préserve. Il refuse d'admettre qu'Isabelle l'a dupé à nouveau. »Ce scénario lui était familier. Il en avait été de même après la mort d'Eva.Théo a posé sur Léa un regard empreint de douceur et a tenté de la réconforter : « Il récolte ce qu'il a semé. Tout cela n'est que la conséquence de ses propre actes. Inutile de t'affliger ou de t'indigner pour lui. »Léa s'est tournée vers lui, une lueur de gratitude dans les
Charles se disait qu'il avait fait tout ce qui était en son pouvoir. Il n'avait négligé ni les avertissements ni les tentatives de raisonnement. Mais si Alex persistait à fermer les yeux, c'était son choix à lui et nul ne pouvait le forcer à voir la vérité.Avec un soupir, il a sorti son téléphone et a envoyé un nouveau message à Léa : « Mme Bernard, Alex refuse désormais toute écoute. Il n'a d'yeux que pour Isabelle. Je crains qu'il ne soit vraiment... perdu. »Puis il a rangé son appareil, le regard vide fixé devant lui, enveloppé d'un lourd manteau de résignation....« Isabelle, tu as entendu ? Ce pauvre Alex danse complètement dans ta paume ! » s'est exclamé Louis en surgissant dans la chambre de sa sœur, radieux.Isabelle, devant son miroir, achevait de parfaire un maquillage qui accentuait sa pâleur et sa fragilité factice.Elle a posé son rouge à lèvres et s'est tournée vers lui, feignant l'agacement : « Pas si fort ! Veille à ce que personne n'entende. »« Qui oserait ?
« Alex... Je me sens toujours aussi épuisée. Sans énergie », a-t-elle murmuré d'une voix si fragile qu'elle semblait prête à se briser.Alex a interrompu aussitôt son massage et l'a regardée, inquiet : « Ça va ? Faut-il appeler le médecin ? »Isabelle a secoué la tête et a saisi doucement sa main : « Non... C'est juste un vide ici. » Elle a posé sa main sur sa poitrine, son regard voilé de confusion et de vulnérabilité.Le cœur serré, Alex l'a prise dans ses bras : « N'aie pas peur. Je suis là, et je ne te quitterai pas. »Isabelle a hoché la tête contre son épaule, un sourire fugace et calculateur effleurant ses lèvres.Charles, témoin de la scène, a ressenti un mélange d'amertume et de frustration. Il a déposé ses dossiers et s'est approché d'Alex : « M. Richard, des dossiers urgents attendent votre attention. Je peux veiller sur Mme Moreau en votre absence. »Alex a froncé les sourcils et lui a jeté un regard agacé : « Les affaires peuvent attendre. La santé d'Isabelle est ma
Le médecin a hoché la tête d'un geste professionnel : « Mme Moreau, les résultats sont disponibles. Veuillez me suivre, s'il vous plaît. »Isabelle s'est tournée vers Alex, son regard n'étant plus qu'une supplique muette : « J'ai besoin de toi... »Sans hésiter, Alex lui a pris la main et est entr
Théo a dit avec un léger sourire : « Pas de souci, tout s’est passé comme prévu. Adrien, lui, a déjà été convaincu. Il prendra tout sur lui, sans mêler Isabelle ni Louis. »« Sérieux ? Comment t’as fait ? Ce type-là, c’était un dur à cuire, non ? » s’est exclamé Soren, les yeux ronds. Théo a affi
Alex a regardé les larmes d’Isabelle et les défenses de son cœur se sont effondrées une fois de plus. Il avait une peur panique de voir Isabelle en larmes. Surtout maintenant, elle sanglotait tellement, comme si on lui avait fait un gros tort.« Ne pleure plus », a-t-il dit doucement. « Je te c
« Isabelle, est-ce que tu me caches quelque chose ? », a demandé Alex, d’une voix douce pour ne pas l’effrayer. Le corps d’Isabelle a frissonné ; d’un mouvement brusque, elle a redressé la tête, son regard noyé de larmes. « Même toi, Alex, tu me soupçonnes ? »Il a précipitamment secoué la tête e






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
reviews