首頁 / Romansa / Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan / Bab 4. Rencana Pernikahan

分享

Bab 4. Rencana Pernikahan

作者: SecretAK
last update publish date: 2026-04-29 05:26:06

Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.

“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya ingin membicarakan ulang—”

“Tentang pernikahan?” Ben menyela dingin.

Blaire yang duduk bersebelahan dengan laki-laki itu sontak refleks menoleh. Sejak kembali ke meja makan tadi, dia tak menemukan Ben di sana. Barulah setelah lima menit dia duduk, Ben akhirnya muncul dan langsung duduk di kursi di sebelahnya.

Aura laki-laki itu terasa begitu dingin, terutama sepasang matanya yang menatap sinis. Sejak tadi pun, Ben hanya duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Barulah sekarang laki-laki itu bersuara.

Saat mendengar suara Ben untuk pertama kalinya, sengatan ingatan acak itu kembali muncul di dalam kepala Blaire. Seolah makin memperjelas ingatan akan kejadian semalam.

“Menikahlah. Kalian adalah orang dewasa yang biasanya tidak akan mendengar pendapat anak kalian,” sambung Ben dengan nada dingin dan terselip sarkastik.

Marcel dan Irene saling melempar tatap. Lebih tepatnya, Irene yang lebih dulu membuat kontak mata dengan pria yang dicintainya, sebelum pria itu meledak akibat mendengar ucapan putra semata wayangnya.

“Ben,” tegur Marcel serius. Dia mengembuskan napas kasar, mencoba bersabar menghadapi sikap Ben.

“Ben, Blaire, Mom dan Dad akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Kami berharap kalian setuju atas pernikahan kami, karena bagaimanapun kalian adalah satu-satunya putra dan putri kami,” jelas Marcel dengan nada lebih tenang.

Ben tampak tak bereaksi, berbeda dengan Blaire yang menunjukkan sedikit emosi lewat gestur badannya. Tangannya menggenggam erat sendok di tangan dengan pandangan ditundukkan pada piring di bawahnya.

 “Maka dengan itu, kami berharap kalian bisa rukun sebagai saudara baru. Meski kalian tak terikat darah, sekarang kita semua adalah keluarga,” sambung Marcel dengan penuh harap.

Tatapan menghunus Ben langsung terarah pada ayahnya. Tampak kilat emosi tertahan di sana. Blaire pun terlihat sedikit gelisah, seolah ingin marah tetapi harus menahan diri.

“Ben, Dad harapkan kedewasaanmu. Sekarang kau bukan anak kecil lagi. Dad minta kau memahami posisi Dad. Dad juga berharap kau bisa menjadi kakak yang baik untuk adikmu, Blaire.” Marcel melayangkan tatapan lembut pada Blaire.

Blaire menelan ludah dengan susah payah. Mendadak makanan yang dia telan seakan berubah jadi batu.

Kakak? Sejak kapan dia siap memiliki suadara tiri? Apalagi jika saudara tiri itu seperti Ben?

“Aku anak tunggal. Sejak dulu tidak memiliki adik dan di masa depan pun enggan memiliki adik.” Ben merespons dingin dan ketus.

“Ben!” Marcel kembali menegur keras putranya. Namun, gertakannya itu sama sekali tak berpengaruh pada Ben.

Ben setengah melempar kasar sendok dan garpu di tangan, sebelum bangkit berdiri. Deritan kursi terdengar kencang di tengah suasana yang mendadak hening dengan atmosfer tegang menyebar kuat.

“Duduk, Ben. Dad belum selesai bicara,” peringat Marcel tak main-main.

Ben mengumpat dalam hati. Dengan wajah malas dan kesan dingin yang kuat, dia kembali mengempaskan duduk di kursi. “Cepat katakan. Aku harus segera pergi.”

Ketegangan antara anak dan ayah itu jelas ditonton oleh Blaire dan Irene. Namun, mereka tak berani membuka suara sedikit pun karena sadar takut akan memperkeruh suasana.

Marcel berdeham kencang untuk mengambil alih perhatian semua orang di meja. “Selain menyampaikan soal pernikahan Dad dan Mom, Dad juga ingin membahas hal-hal lain. Setelah Dad dan Mom resmi menikah nanti, kami akan tinggal serumah. Otomatis Blaire juga akan tinggal di sini. Untuk itu, Dad akan menyuruh orang kepercayaan Dad untuk mengurus kepindahan Blaire dan Mom. Terutama soal kepindahan Blaire ke universitas yang sama dengan Ben.”

“Apa?” pekik Blaire dengan kekagetan penuh. Sementara itu, Ben tampak memberi reaksi dengan ekspresi wajah saja.

Blaire langsung menatap ibunya. Tak ada pembicaraan soal ini sebelumnya. Ibunya itu sama sekali tak membahas lebih detail sampai ke topik pernikahan dan kepindahannya. Memang sebelumnya, bahasan pernikahan ibunya tak terlalu disukai Blaire, itulah yang membuatnya sangat kaget sekarang.

“Mom, ... Mom tidak membicarakan ini sebelumnya,” protes Blaire dengan emosi tertahan.

“Bukankah kau selalu sibuk dengan tugas dan acaramu itu, Sayang? Nyaris tak ada waktu untuk kita bicara. Lagi pula, kau tinggal pindah, sisanya akan diurus daddy-mu,” balas Irene tenang.

Tiba-tiba Ben bangkit berdiri. Namun, sebelum Marcel sempat menegurnya, laki-laki itu lebih dulu berbalik dan melayangkan sebuah kalimat bernada datar.

“Aku sudah selesai sarapan. Aku berangkat.”

Setelahnya, laki-laki bertubuh tinggi tegap di usianya yang masih muda itu melangkah pergi dengan cepat.

Marcel mengembuskan napas sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Anak itu ....”

“Sabar, Sayang. Ben bukan anak kecil lagi yang bisa dengan mudah kau hadapi. Lagi pula, Ben pasti butuh waktu untuk menerima dan memahami ini semua,” hibur Irene dengan nada lembut.

“Terima kasih, Sayang. Aku memang tidak salah memilih wanita seperti kau yang selalu memahami dan mampu menenangkanku,” balas Marcel diakhiri senyum lebar.

Blaire sangat tidak tahan melihat keromantisan dua orang itu. Dia pun kesal dengan beberapa kata yang bisa dilontarkan dengan mudah oleh dua orang itu. ‘Mom’, ‘Dad’, ‘Kakak’, ‘keluarga’, Irene dan Marcel sungguh sudah sangat yakin bahwa mereka akan benar-benar menjadi keluarga.

Namun, nalar Blaire sulit untuk menerima semua itu. Apalagi setelah melihat respons dingin dan sinis Ben. Ditambah pula kenapa dengan reaksi tubuhnya yang saat di dekat Ben bisa langsung mengingat kejadian memalukan semalam.

Tidak mungkin laki-laki random itu adalah Ben, kan?

Tidak. Dia harus memastikan dengan benar, dan dia harap bahwa dugaan itu salah. Namun, bagaimana caranya? Melihat kepribadian Ben yang dingin dan sinis, jelas membuatnya tidak bisa memikirkan cara mudah untuk melakukan penyelidikan.

Terlebih dia ingin tahu, apa semalam ada yang berniat menjebaknya atau tidak. Sebab, dia memang banyak minum semalam, tetapi kalau sudah mabuk berat biasanya dia akan tertidur pulas seperti simulasi kematian.

Argh, entahlah. Kepalanya sekarang mendadak berdenyut sakit. Belum selesai dengan masalah laki-laki itu, ibunya malah sibuk bermesra dan membahas pernikahan dengan pria lain.

“Mom, aku sudah selesai sarapan.” Blaire tiba-tiba berkata, menghentikan momen romantis di meja makan. “Aku memiliki sedikit urusan dengan temanku. Aku akan pergi ke luar sebentar,” pamitnya.

“Baiklah, Sayang. Tapi kau jangan terlalu lama pergi karena kita akan segera pulang,” pesan Irene.

Blaire hanya mengangguki saja. Dia pun meninggalkan meja makan. Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar. Tanda ada pesan masuk. Nomor temannya muncul di layar.

{Blaire, aku dan mobilmu sudah di depan rumah dari alamat yang kau kirim. Aku tidak bisa sembarangan masuk karena di sini ada penjaga yang berjaga.}

Blaire segera berjalan dengan cepat meninggalkan ruang makan, menuju pintu utama untuk segera menemui temannya.

Tiba di sana, rupanya temannya sudah menunggu. Ada dua mobil di sana, yang pastinya satunya itu milik temannya yang lain.

Kunci mobil disodorkan. Blaire mengambilnya dengan cepat sambil memberikan senyuman.

Thanks.”

Cill, girls. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Emily.

“Ya. Dan aku juga punya satu pertanyaan untukmu,” balas Blaire.

“Oke. Aku duluan. Semalam, kau menghilang ke mana? Kenapa setelah kau izin pergi ke toilet, kau tidak kembali atau memberiku kabar?”

Blaire menelan ludah mendapatkan pertanyaan yang menohoknya itu. Haruskah dia menjawab jujur? Namun, posisinya jelas tak aman di sini.

“Aku ....” Blaire tergagap-gagap.

Emily menangkap gelagat gugup teman masa kecilnya itu. Senyum manisnya terbit. Dia lalu merundukkan tubuh, berbisik tepat di depan wajah Blaire.

“Kau tidak pergi dengan seorang laki-laki tampan dan menghabiskan malam panas dengannya, kan?” tanyanya penuh tuduhan.

What? T–tidak, kok!” Blaire berusaha berkelit dengan sebaik mungkin.

“Kau berbohong. Aku dapat informasi dari temanku yang melihatmu menempeli seorang laki-laki tampan, lalu  kalian pergi entah ke mana.” Emily berbicara dengan tetap menjaga suaranya. “Melihat kau tidak ada kabar semalaman dan baru memunculkan diri pagi ini, dugaanku pasti tepat. Santai, girls, kita sudah dewasa, itu adalah hal biasa.”

Blaire menelan ludah pahit. Pandangan Emily yang menelitinya membuatnya gugup.

“K–kau tahu siapa laki-laki itu?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya, dan dia merutuki dirinya sendiri karena seakan membongkar aibnya sendiri.

Senyum misterius Emily melebar. Belum sempat dia menjawab, pandangannya teralih pada sebuah mobil sport hitam yang melaju tenang melewati gerbang di depannya. Kaca di samping kursi pengemudi terbuka, menampilkan seraut wajah tampan.

“Dia tinggi dan sangat tampan, seperti laki-laki itu.” Emily berkata sambil menunjuk pengendara mobil yang adalah Ben.

Melihat arah yang ditunjukkan Emily, Blaire merasa jantungnya terjun bebas ke perut.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 5. Keluarga Baru

    Blaire tak menyangka bahwa hidupnya akan mengalami perubahan drastis untuk kedua kalinya. Pertama, setelah ayah kandungnya meninggal yang merupakan titik balik hidupnya. Kedua, setelah kabar pernikahan ibunya dengan ayah tirinya ada di depan mata.Blaire bukan tak mendukung pernikahan ibunya, hanya tetap saja, menerima orang baru dalam hidupnya tak semudah itu. Di sisi lain, dia melihat ibunya begitu bahagia, pria itu pun tampak mencintai ibunya.Tenggelam dalam pikiran, membuat tangan Blaire berhenti sesaat. Pakaian-pakaian dari dalam lemari dikeluarkan, ditata satu per satu ke dalam koper. Embusan napas kasar keluar dari mulutnya saat pikiran itu dibuyarkan.“Sayang,” tegur Irene yang rupanya memperhatikan putrinya sejak tadi dari ambang pintu kamar yang terbuka.Blaire menoleh, menemukan Irene berjalan menuju dirinya yang tengah duduk bersila di dekat ranjang.“Mommy bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Blaire tiba-tiba, tanpa membiarkan ibunya duduk lebih dulu.Irene sedikit tert

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 4. Rencana Pernikahan

    Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya ingin membicarakan ulang—”“Tentang pernikahan?” Ben menyela dingin.Blaire yang duduk bersebelahan dengan laki-laki itu sontak refleks menoleh. Sejak kembali ke meja makan tadi, dia tak menemukan Ben di sana. Barulah setelah lima menit dia duduk, Ben akhirnya muncul dan langsung duduk di kursi di sebelahnya.Aura laki-laki itu terasa begitu dingin, terutama sepasang matanya yang menatap sinis. Sejak tadi pun, Ben hanya duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Barulah sekarang laki-laki itu bersuara.Saat mendengar suara Ben untuk pertama kalinya, sengatan ingatan acak itu kembali muncul di dalam kepala Blaire. Seolah makin memperjelas ingatan akan kejadian semalam.“Menikahlah. Kalian ada

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 3. Bertemu Calon Kakak Tiri

    Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias, ini rumah calon ayah tirinya.Sehari sebelumnya, ibunya menyeretnya untuk pergi berkunjung ke rumah calon ayah tirinya. Karena wanita itu begitu memaksa, akhirnya Blaire tak punya pilihan. Ibunya bilang bahwa mereka akan menginap semalam di sini sebagai bentuk pendekatan.Ya, itulah alasan yang mendorong Blaire sampai pergi ke kelab malam dan melakukan hal gila. Setelah acara makan malam semalam selesai, Blaire langsung melarikan diri dengan alasan diajak pergi oleh teman.Sungguh, semalam dia benar-benar sudah tak waras sampai melakukan hal yang di luar batas. Sampai melakukan one night stand dengan laki-laki yang entah siapa, untuk pertama kalinya.Blaire refleks menggelengkan kepala saat

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 2. Tersadar dari Mimpi Panjang

    Mimpi itu terasa terlalu nyata, tetapi jika kenyataan justru itu terasa seperti mimpi. Cukup lama Blaire terjebak dalam buaian mimpi hingga akhirnya dia berhasil perlahan-lahan meraih kesadaran.Kedua matanya mulai bergerak-gerak sebelum perlahan-lahan membuka penuh. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit putih dengan lampu bersinar terang. Jelas ini bukan kamarnya.Tangan kanannya mulai naik memijat kening yang mendadak dihantam rasa pening. Rasa pening itu dengan cepat menguasai kepalanya.Saat dia akan bergerak, justru dia merasakan hal lain. Rasa sakit yang membuat mulutnya refleks mengeluarkan ringisan rendah. Rasa sakit itu terasa hampir di setiap bagian tubuhnya. Seolah tubuhnya baru saja dipakai untuk lari maraton ratusan kilometer.Blaire masih terjebak di antara mimpi dan kenyataan sehingga sulit untuk mendapatkan kesadaran penuh. Butuh waktu cukup lama untuknya mengumpulkan tenaga.Hingga, begitu dia berhasil membuat tubuhnya beringsut duduk di kepala ranjang, dia

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 1. Jebakan Panas

    “Blaire, kau sepertinya butuh bantuan,” ucap suara familier itu. Blaire mengenali pria itu sebagai kakkak sahabatnya. “Ayolah. Apakah kau akan pergi sebelum bersenang-senang denganku?”Blaire menggelengkan kepala, mencoba fokus. Kesadarannya nyaris menguap sepenuhnya, dan sialnya, dia mulai merasakan reaksi aneh pada tubuhnya. Rasa gerah yang mendesak, rasa haus tetapi bukan di tenggorokan.Malam ini, ia memang minum beberapa gelas alkohol untuk pesta perpisahan dirinya dan teman-temannya. Dirinya akan pindah, mengikuti sang ibu yang menikah lagi dan ingin membawanya serta. Ini bukan kali pertama ia minum minuman keras, tapi baru kali ini tubuhnya bereaksi demikian.“Tidak,” tolak Blaire. Ia mencoba menepis tangan laki-laki itu. “Lepaskan aku….”“Masih saja jual mahal.” Terdengar laki-laki itu mencemooh. Tiba-tiba ia mendorong Blaire ke dinding. “Padahal Ella sudah menaruh obat itu. Tapi kenapa kau masih menolakku, huh?”Jantung Blaire seperti berhenti berdetak. “Ella? Obat?” gumamny

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status