Share

Bab 5. Keluarga Baru

Author: SecretAK
last update publish date: 2026-04-29 05:26:20

Blaire tak menyangka bahwa hidupnya akan mengalami perubahan drastis untuk kedua kalinya. Pertama, setelah ayah kandungnya meninggal yang merupakan titik balik hidupnya. Kedua, setelah kabar pernikahan ibunya dengan ayah tirinya ada di depan mata.

Blaire bukan tak mendukung pernikahan ibunya, hanya tetap saja, menerima orang baru dalam hidupnya tak semudah itu. Di sisi lain, dia melihat ibunya begitu bahagia, pria itu pun tampak mencintai ibunya.

Tenggelam dalam pikiran, membuat tangan Blaire berhenti sesaat. Pakaian-pakaian dari dalam lemari dikeluarkan, ditata satu per satu ke dalam koper. Embusan napas kasar keluar dari mulutnya saat pikiran itu dibuyarkan.

“Sayang,” tegur Irene yang rupanya memperhatikan putrinya sejak tadi dari ambang pintu kamar yang terbuka.

Blaire menoleh, menemukan Irene berjalan menuju dirinya yang tengah duduk bersila di dekat ranjang.

“Mommy bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Blaire tiba-tiba, tanpa membiarkan ibunya duduk lebih dulu.

Irene sedikit tertegun mendapat pertanyaan mendadak tersebut. Namun, senyumnya segera melebar. Nalurinya sebagai seorang ibu jelas begitu peka. Segera dia mengambil duduk tepat di samping Blaire, berdekatan.

“Sayang, Mommy paham apa ketakutan dan keraguanmu. Tapi Mommy juga memikirkan hal lain.” Irene berbicara serius dengan nada lembut. Tangan kanannya menggenggam hangat tangan putrinya. “Kau masih kecil, Sayang. Mommy hanya takut tak bisa memberimu kehidupan yang layak kalau Mommy berjuang sendirian. Di sisi lain, Mommy juga membutuhkan seorang yang bisa jadi tempat Mommy mengadu. Mommy akui Mommy lemah, Mommy hanya seorang ibu yang begitu mencintai kamu.”

Irene menghela napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Daddy Marcel adalah pria yang Mommy pilih karena Mommy sudah merasakan kasih sayang dan ketulusannya. Dia tidak mempermasalahkan status Mommy. Dia juga sudah membantu Mommy di banyak kesempatan. Tapi tentu saja Mommy bukan ingin mengganti daddy-mu. Kehidupan harus terus berlanjut, Sayang. Mommy tidak bisa terus terjebak masa lalu. Apalagi putri Mommy makin dewasa, makin banyak hal yang harus Mommy pikirkan dan berikan padamu.”

Blaire terdiam lama mendengar ucapan ibunya. Hubungan mereka memang sedikit renggang setelah kemunculan pria baru di hati ibunya. Lebih tepatnya, Blaire yang sedikit menunjukkan penolakan. Dia lebih banyak menghindar, pura-pura sibuk dengan tugas kuliah, bahkan beberapa kali mengabaikan ibunya.

Namun, Irene benar. Hidup mereka harus terus berjalan. Apa yang hilang akan digantikan dengan yang baru. Bukan kejam, melainkan masa mereka sudah habis, dan yang ditinggalkan harus tetap melanjutkan hidup.

Blaire bukan tak tahu bahwa Irene selalu bekerja keras. Irene selalu mengusahakan yang terbaik untuknya, memenuhi semua permintaannya, dan mengutamakan dirinya di atas kepentingan ibunya sendiri. Jadi, seharusnya sekarang dia membalas semua itu, kan? Mengizinkan ibunya menikah lagi dengan tulus adalah salah satu balasan yang tepat.

“Apa ... pria itu tulus mencintai Mommy?”

Pertanyaan itu keluar dengan nada pelan dari mulut Blaire.

Senyum Irene makin melebar saja. “Pria itu? Daddy Marcel, Sayang?”

Blaire hanya menatap ibunya.

“Biasakan menyebutnya begitu, Sayang. Sebentar lagi dia akan menjadi daddy barumu,” sambung Irene lembut.

Blaire menghela napas dan mengangguk saja.

“Daddy Marcel itu ... pria yang bertanggung jawab. Beberapa kali Mommy pernah dibantu dia saat Mommy kesusahan. Kami bertemu secara tidak sengaja waktu itu, tapi ternyata kami kembali bertemu dalam sebuah pertemuan bisnis.” Irene mulai bercerita. Tampak tatapannya memancarkan cinta dan kebahagiaan.

“Yang Mommy suka, Daddy Marcel selalu menjunjung kejujuran dan menghargai Mommy sebagai seorang wanita. Saat Mommy menceritakan tentangmu, dia bahkan langsung bertanya kapan bisa bertemu kau. Tapi Mommy hanya bisa memberinya fotomu saja. Dia memuji kau cantik dan dia makin tak sabar ingin bertemu kau. Katanya sudah sejak lama dia ingin memiliki anak perempuan,” sambung Irene.

Blaire hanya mendengarkan saja, sambil tangannya lanjut mengemasi pakaian ke dalam koper. Marcel sudah mengirim orang kepercayaannya untuk mengurus kepindahan mereka.

Besok adalah hari pernikahan yang telah ditentukan. Tidak ada acara megah, selain acara privat berkonsep intimate wedding, di mana tak banyak mengundang tamu luar.

Rencana mereka sore ini akan berangkat ke rumah Marcel dan menginap di sana, agar acara besok tak perlu repot lagi untuk bersiap.

Hela napas Irene mengembalikan Blaire ke kenyataan.

“Kau belum mengenalnya saja, Sayang. Tapi percayalah pada Mommy bahwa Mommy tidak akan sembarangan memilih pria untuk menjadi daddy barumu,” kata Irene serius.

Blaire terdiam cukup lama.

“Mommy harap, pernikahan Mommy ini atas izinmu, dan Mommy harap kau bisa dengan tulus menerima daddy barumu,” sambung Irene penuh harap.

Blaire lagi-lagi menghela napas, sebelum akhirnya membuka suara. “Aku tentu saja bahagia atas pernikahan Mommy, karena aku juga ingin melihat Mommy bahagia. Mommy sudah terlalu banyak berjuang untukku selama ini. Maaf aku merepotkan Mommy.” Dia berujar dengan kepala menunduk, tak berani menatap ibunya.

“Kau serius, Sayang?” Irene bersuara cukup kencang, tampak terkejut sekaligus bahagia.

Blaire hanya mengangguk.

Irene langsung memeluk erat tubuh Blaire dan mengecup keningnya beberapa kali. “Terima kasih, Sayang. Mommy menyayangimu.”

“Aku juga menyayangimu,” balas Blaire.

***

Pernikahan Marcel dan Irene dilaksanakan dengan cukup privat. Meski privat, tetap saja cukup banyak tamu yang datang, menunjukkan bahwa pria itu memang bukan orang sembarangan. Rata-rata yang hadir adalah orang-orang ternama.

Acara dilaksanakan di sebuah ballroom hotel bintang lima yang sudah disulap megah. Banyak orang menghadiri acara itu, yang adalah rekan kerja dari kedua pengantin.

Blaire sejak tadi ada di sana. Kadang Irene memanggilnya jika dia agak menjauh dari jangkauan ibunya itu. Tentu saja dia harus diperkenalkan sebagai putri baru Marcel. Beberapa kali juga dia dipaksa berfoto meski badannya sudah sangat lelah.

“Ke mana anak itu?”

Blaire menoleh pada Marcel yang menggerutu pelan.

“Sayang, bersabarlah. Mungkin Ben memiliki urusan sebentar,” kata Irene lembut.

Ah, soal Ben, Blaire memang belum melihat laki-laki itu sama sekali sejak menyaksikan kedua orang tua mereka mengucapkan janji suci pernikahan. Ben lenyap begitu saja bak ditelan bumi.

Marcel menggeleng-geleng lelah, tampak sudah habis kesabaran. “Anak itu selalu berulah, bahkan di hari penting ayahnya sendiri. Padahal aku sudah memperingatkan agar hari ini dia tidak membuat ulah.”

Marcel mengomel sambil memainkan ponsel, tampak sekali sedang berusaha menghubungi putranya, sampai mengirimkan spam chat. Namun, semua usahanya sia-sia saja.

“Mom, aku pamit ke toilet sebentar,” ucap Blaire tiba-tiba.

Irene mengembuskan napas. “Baiklah, jangan lama-lama, Sayang. Habis ini kita harus berfoto keluarga. Ah, sekalian saja kau ikut cari keberadaan kakakmu, ya,” pesannya.

Blaire mengangguki saja. Dalam hati dia jelas menolak ide itu. Mencari Ben? Rasanya seperti mencari raja hutan. Berbahaya.

Jadi, segera saja Blaire meninggalkan kedua orang tuanya yang harus kembali menerima tamu. Berjalan di antara para tamu yang tampil rapi.

Blaire tampak cantik hari itu dengan mermaid dress yang membalut tubuh rampingnya, tercetak sempurna dan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya digelung dan menyisakan beberapa helai yang menjuntai, penataan yang menyegarkan mata. Untuk pelengkap, dia tak terlalu banyak memakai pernak-pernik di tubuhnya. Makeup-nya pun tidak terlalu bold.

Meninggalkan aula, Blaire melangkah menuju toilet setelah diarahkan oleh seorang petugas di sana. Sembari berjalan, dia memainkan ponsel karena tadi ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk.

Namun, terlalu fokus memainkan ponsel, Blaire sampai tak memperhatikan jalan. Tiba-tiba saja tubuh kecilnya menubruk tubuh tinggi tegap seseorang. Tubrukan itu cukup keras sampai membuat tubuhnya terpantul kembali ke belakang.

Beruntung, sebelum Blaire jatuh terjengkang, tangan kekar itu lebih dulu memeluk erat pinggangnya. Namun, karena dorongan tak sengaja, Blaire tersentak ke depan dan menubruk tubuh dari orang yang menolongnya.

Sayangnya, sekarang jantungnya seakan berhenti berdetak, kedua matanya membola, dan napasnya tertahan begitu matanya menemukan bagaimana posisinya sekarang.

Laki-laki itu agak merundukkan tubuh, membuat bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman tak disengaja. Bibir mereka saling menempel.

B–Ben?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 88. Ben Memang Pria Sialan

    Keributan kecil yang terjadi di meja mereka jelas mulai menarik perhatian beberapa pengunjung kafe dan staf yang ada di sekitar sana. Tatapan-tatapan penasaran mulai tertuju pada mereka, dan Blaire merasa sangat, sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian atas drama picisan seperti ini.“Fine! Tunggu aku membereskan barang-barangku dulu!” kata Blaire pada akhirnya. Dia menyerah kalah, mengalah secara terpaksa demi menghentikan kegilaan ini meski dadanya bergemuruh menahan kekesalan yang membakar.Axelo tampak sangat kaget mendengar ucapan pasrah dari perempuan itu. “Blaire, kau tidak harus—”“Axelo, maafkan aku. Tapi aku memang harus pulang sekarang juga,” sela Blaire memotong ucapan Axelo. Dia sengaja menekankan dua kata terakhirnya sembari melemparkan tatapan penuh penyesalan pada laki-laki itu.“Ah... okay kalau memang begitu...” Axelo menghela napas pasrah, mendadak bingung dan kehilangan kata-kata harus bereaksi seperti apa lagi.Set

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 87. Tingkah Menyebalkan

    Axelo memilih sebuah kafe yang lokasinya terbilang cukup jauh dari area lingkungan kampus. Namun, begitu mereka sampai, pilihan tempatnya terbukti sangat luar biasa. Kafe tersebut mengusung gaya estetika retro yang hangat, dengan letak bangunan yang persis berada di tepi jembatan kota. Dengan kata lain, salah satu sisi kafe yang berdinding kaca transparan itu menyajikan pemandangan spektakuler berupa hamparan sungai jernih yang airnya mengalir deras di bawah terpaan sinar sore.Sesuai dengan agenda awal mereka, begitu berhasil mendapatkan meja kosong yang nyaman di sudut ruangan, berbagai peralatan belajar langsung dikeluarkan dari dalam tas. Untungnya, permukaan meja kayu tempat mereka duduk cukup lebar dan lapang, sehingga mereka bisa leluasa menata MacBook, buku-buku referensi tebal, buku catatan, pulpen, dan barang lainnya. Tentu saja, sebelum mulai sibuk, Blaire dan Axelo sudah lebih dulu memesan beberapa menu makanan ringan dan minuman hangat.Seharusnya, agenda

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 86. Mengawasi

    Blaire mengangguk setuju. “Boleh. Perutku juga belum terisi dari tadi pagi.”Atas ide tersebut, keduanya segera membereskan sisa barang di meja dan melangkah meninggalkan keheningan perpustakaan. Begitu memijak koridor luar, mereka mulai mengobrol dengan lebih bebas dan santai sembari berjalan berdampingan menuju kafetaria kampus.Sejujurnya, Blaire tergolong jarang sekali menyantap sarapan di area kampus. Dia jauh lebih terbiasa makan di rumah sebelum berangkat. Namun, karena pagi ini dia sengaja melewatkan ritual sarapan keluarga akibat suasana hatinya yang memburuk, keputusan untuk menyantap sarapan bersama Axelo rasanya bukan ide yang buruk sama sekali.Tak berapa lama, mereka telah duduk berhadapan di salah satu meja kosong di sudut kafetaria. Di hadapan masing-masing sudah tersedia menu sarapan hangat beserta minuman yang tadi mereka pesan. Tanpa banyak mengulur waktu, mereka mulai menikmati makanan tersebut.“Sepertinya semester ini kita bakal makin dipadatkan sama tugas-tugas

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 85. Kafetaria?

    Pagi ini cuaca kota sedang amat cerah. Langit membentang bak kain biru bersih tanpa cela, hanya dihiasi segelintir gumpalan awan putih tipis yang berarak perlahan terdorong angin. Matahari menyiramkan sinar hangatnya, yang lambat laun beranjak kian terik seiring detik yang bergerak menuju siang. Di atas sana, gerombolan burung gereja sesekali terbang melintas membentuk formasi, bersahut-sahutan di antara pepohonan kampus. Dari kejauhan, deru lalu lintas jalan raya dan riuk rendah hiruk-pikuk perkotaan menyajikan ritme pemandangan yang teramat biasa bagi siapa pun yang melintas.Namun, Blaire kembali gagal memulai harinya dengan suasana hati yang baik.Kejadian serba canggung dan kacau semalam benar-benar memengaruhi kewarasannya. Bayangan-bayangan yang seharusnya tidak hadir terus berputar tanpa permisi di kepalanya, memburu hingga ke sela-sela napas. Untuk alasan itu pula, pagi ini dia sengaja melewatkan sarapan di meja makan rumah, sengaja menghindari tatapan siapa pun, dan memilih

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 84. Munafik!

    Kalimat sumpah serapah itu kembali lenyap di udara ketika Ben menunduk, melumat bibirnya lebih dalam dan menyambung kembali momen panas yang memabukkan tersebut.Pada mulanya, Blaire masih mencoba menolak. Bagaimanapun, ingatan tentang Ben yang mencium perempuan lain kembali membayangi kepalanya setiap kali sentuhan laki-laki itu merayapi kulitnya. Rasa hina itu membakar martabatnya.Namun sialnya, kenyataan pahit yang diucapkan Ben terbukti benar. Bibirnya boleh saja terus merangkai kalimat pedas, pikirannya boleh berontak mati-matian, dan hatinya boleh menolak dengan keras. Sayangnya, tubuh wanita itu menyerah pada biologisnya sendiri.Tubuhnya bergetar, memberi respons penuh pasrah atas setiap sentuhan Ben. Dan entah bagaimana, tiap remasan, gesekan, dan usapan jemari Ben menciptakan letupan rangsangan baru yang asing sekaligus adiktif. Seakan-akan Blaire sedang ditarik lepas dari pijakan bumi, dibawa terbang melayang dan ditenggelamkan dalam sensasi baru yan

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 83. Kau Menjijikkan

    Suara bisikan sarat bisa itu meluncur mulus dari bibir Blaire. Dan tepat di detik kalimat itu selesai diucapkan, raut dingin yang membeku di wajah Ben akhirnya retak. Topeng tenangnya runtuh seketika, berganti dengan gulungan emosi gelap yang mendadak menyeruak ke permukaan. Sepasang mata gelap laki-laki itu kini menampakkan kobaran emosi yang berbahaya.“Jijik?” Satu kata itu dilontarkan Ben dengan kekehan sinis, disertai senyum miring yang terukir samar di sudut bibirnya.“Ya. Kau. Menjijikkan,” desis Blaire tanpa keraguan sedikit pun, penuh nada permusuhan. Di balik binar matanya yang menyorot tajam, ada kebencian mendalam yang merambat naik mencapai puncaknya.Harga diri Ben jelas terhentak keras. Kata pendek itu telak mengenai egonya, terlebih karena Ben tahu betul Blaire tidak sedang bergurau. Lagi pula, sejarah di antara mereka tidak pernah menyisakan ruang untuk gurauan hangat. Sebaliknya, atmosfer di antara mereka selalu diselimu

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 6. Setelah Pesta

    Gema musik bas dari lantai bawah samar-samar masih merambat naik melalui pilar-pilar beton rumah megah ini, mengetuk dinding kamarnya bagai detak jantung monster yang tak kunjung tidur. Seharusnya malam ini Blaire masih berada di sana, berdiri di bawah guyuran cahaya lampu kristal, memegang gelas s

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 4. Rencana Pernikahan

    Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 3. Bertemu Calon Kakak Tiri

    Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias,

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 2. Tersadar dari Mimpi Panjang

    Mimpi itu terasa terlalu nyata, tetapi jika kenyataan justru itu terasa seperti mimpi. Cukup lama Blaire terjebak dalam buaian mimpi hingga akhirnya dia berhasil perlahan-lahan meraih kesadaran.Kedua matanya mulai bergerak-gerak sebelum perlahan-lahan membuka penuh. Hal pertama yang dia lihat adal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status