Share

Bab 6. Setelah Pesta

Author: SecretAK
last update publish date: 2026-06-19 23:34:33

Gema musik bas dari lantai bawah samar-samar masih merambat naik melalui pilar-pilar beton rumah megah ini, mengetuk dinding kamarnya bagai detak jantung monster yang tak kunjung tidur. Seharusnya malam ini Blaire masih berada di sana, berdiri di bawah guyuran cahaya lampu kristal, memegang gelas sampanye, dan memamerkan senyum palsu terbaiknya dalam after party pernikahan ibunya. Namun, di sinilah dia sekarang. Bersembunyi di balik selimut sutra tebal yang mendadak terasa mencekik, mencoba menulikan telinga dari sisa-sisa perayaan yang memuakkan itu.

Beberapa saat lalu, ketika sesak di dadanya sudah mencapai batas toleransi, Blaire memilih menyerah. Dia menggunakan alasan klasik—sakit kepala mendadak dan tubuh yang tidak enak badan—untuk memohon izin meninggalkan pesta lebih awal.

Sialnya, aktingnya terlalu meyakinkan. Atau mungkin, Marcel memang terlalu pandai memainkan peran sebagai ayah tiri yang sempurna. Pria paruh baya itu menunjukkan sisi hangat yang begitu natural, tipe perhatian yang akan membuat siapa pun percaya bahwa dia adalah pria paling tulus di dunia. Marcel bahkan sempat menahan langkah Blaire, menatapnya dengan binar khawatir yang sarat proteksi, menawarkan untuk memanggil dokter pribadi keluarga malam itu juga, hingga memerintahkan tiga pelayan khusus untuk berjaga di depan kamar Blaire demi memastikan kebutuhannya terpenuhi.

Sayang sekali, dinding pertahanan di hati Blaire terlalu tebal untuk ditembus oleh sandiwara selembut itu. Sikap hangat Marcel tidak lebih dari sekadar gangguan visual yang ingin segera dia hapus. Baginya, kehangatan di rumah ini terasa artifisial, sebuah kepura-puraan yang dirancang untuk mengubur kenangan masa lalu.

Sekarang, dalam keheningan kamarnya yang luas, Blaire hanya bisa telentang dan menatap kosong ke langit-langit. Tepat di atasnya, sebuah chandelier megah berdesain rumit tergantung kokoh, memancarkan sinar kekuningan yang redup dan lembut—sengaja diatur untuk memancing kantuk. Namun, alih-alih terlelap, pikirannya justru merangkak liar, menerawang jauh ke labirin memori yang kelam.

Pada menit-menit pertama, dia mencoba mengarahkan fokusnya pada kilas balik kenangannya bersama Irene, ibunya. Dia merindukan masa-masa ketika dunia mereka hanya terdiri dari mereka berdua. Hidup yang damai, sederhana, tanpa kepalsuan kaum borjuis, dan yang terpenting: tanpa kehadiran orang-orang baru yang menginvasi ruang privat mereka.

Namun, kedamaian itu berumur pendek. Sifat otaknya yang berkhianat justru memelintir memori tersebut, menggantinya dengan sebuah bayangan visual yang paling tidak ingin dia lihat. Bayangan yang muncul tanpa permisi, menyelinap di antara celah kewaspadaannya seperti racun yang mengendap cepat.

“Menjijikkan. Kenapa aku malah mengingat saat dia menciumku?” gerutu Blaire, suaranya parau memecah kesunyian kamar.

Kedua tangannya naik dengan kasar, mengusap wajahnya yang terasa panas seolah sisa-sisa sentuhan kasar pria itu masih tertinggal di kulitnya. Hidungnya mengembuskan napas kencang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba mengimpit paru-parunya.

Saat dia menurunkan tangannya, sepasang mata Blaire tampak menajam di kegelapan. Kilatan amarah dan frustrasi bercampur aduk menjadi satu. Bayangan brengsek itu menolak untuk lenyap. Sensasi bibir dingin yang menekan bibirnya dengan dominasi absolut, aroma maskulin yang mengintimidasi, dan cengkeraman kuat yang mengunci pergerakannya—semuanya kembali berputar seperti pita kaset rusak. Bahkan, ingatan traumatis sekaligus membingungkan itulah yang sebenarnya menjadi katalis utama, dorongan terkuat yang membuatnya melarikan diri dari pesta bawah tanah tadi.

Berada di dalam radius satu meter dari laki-laki itu adalah sebuah kesalahan fatal. Laki-laki itu adalah definisi dari bahaya yang berjalan dengan setelan jas mahal.

“Sudahlah, lebih baik aku tidur. Persetan dengan semuanya,” bisiknya pada diri sendiri, lebih sebagai perintah paksa untuk otaknya.

Blaire menyentak selimutnya naik, menariknya melewati bahu hingga menutupi seluruh kepala. Dia meringkuk, menyembunyikan seluruh tubuhnya dalam kegelapan kain seakan berharap tindakan kekanak-kanakan ini bisa membuatnya lenyap secara ajaib dari muka bumi. Kedua matanya dipejamkan rapat-rapat, merapalkan mantra dalam hati agar kesadarannya segera ditarik ke alam bawah sadar. Dia hanya ingin berhenti berpikir. Dia hanya ingin melupakan.

Namun--

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 88. Ben Memang Pria Sialan

    Keributan kecil yang terjadi di meja mereka jelas mulai menarik perhatian beberapa pengunjung kafe dan staf yang ada di sekitar sana. Tatapan-tatapan penasaran mulai tertuju pada mereka, dan Blaire merasa sangat, sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian atas drama picisan seperti ini.“Fine! Tunggu aku membereskan barang-barangku dulu!” kata Blaire pada akhirnya. Dia menyerah kalah, mengalah secara terpaksa demi menghentikan kegilaan ini meski dadanya bergemuruh menahan kekesalan yang membakar.Axelo tampak sangat kaget mendengar ucapan pasrah dari perempuan itu. “Blaire, kau tidak harus—”“Axelo, maafkan aku. Tapi aku memang harus pulang sekarang juga,” sela Blaire memotong ucapan Axelo. Dia sengaja menekankan dua kata terakhirnya sembari melemparkan tatapan penuh penyesalan pada laki-laki itu.“Ah... okay kalau memang begitu...” Axelo menghela napas pasrah, mendadak bingung dan kehilangan kata-kata harus bereaksi seperti apa lagi.Set

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 87. Tingkah Menyebalkan

    Axelo memilih sebuah kafe yang lokasinya terbilang cukup jauh dari area lingkungan kampus. Namun, begitu mereka sampai, pilihan tempatnya terbukti sangat luar biasa. Kafe tersebut mengusung gaya estetika retro yang hangat, dengan letak bangunan yang persis berada di tepi jembatan kota. Dengan kata lain, salah satu sisi kafe yang berdinding kaca transparan itu menyajikan pemandangan spektakuler berupa hamparan sungai jernih yang airnya mengalir deras di bawah terpaan sinar sore.Sesuai dengan agenda awal mereka, begitu berhasil mendapatkan meja kosong yang nyaman di sudut ruangan, berbagai peralatan belajar langsung dikeluarkan dari dalam tas. Untungnya, permukaan meja kayu tempat mereka duduk cukup lebar dan lapang, sehingga mereka bisa leluasa menata MacBook, buku-buku referensi tebal, buku catatan, pulpen, dan barang lainnya. Tentu saja, sebelum mulai sibuk, Blaire dan Axelo sudah lebih dulu memesan beberapa menu makanan ringan dan minuman hangat.Seharusnya, agenda

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 86. Mengawasi

    Blaire mengangguk setuju. “Boleh. Perutku juga belum terisi dari tadi pagi.”Atas ide tersebut, keduanya segera membereskan sisa barang di meja dan melangkah meninggalkan keheningan perpustakaan. Begitu memijak koridor luar, mereka mulai mengobrol dengan lebih bebas dan santai sembari berjalan berdampingan menuju kafetaria kampus.Sejujurnya, Blaire tergolong jarang sekali menyantap sarapan di area kampus. Dia jauh lebih terbiasa makan di rumah sebelum berangkat. Namun, karena pagi ini dia sengaja melewatkan ritual sarapan keluarga akibat suasana hatinya yang memburuk, keputusan untuk menyantap sarapan bersama Axelo rasanya bukan ide yang buruk sama sekali.Tak berapa lama, mereka telah duduk berhadapan di salah satu meja kosong di sudut kafetaria. Di hadapan masing-masing sudah tersedia menu sarapan hangat beserta minuman yang tadi mereka pesan. Tanpa banyak mengulur waktu, mereka mulai menikmati makanan tersebut.“Sepertinya semester ini kita bakal makin dipadatkan sama tugas-tugas

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 85. Kafetaria?

    Pagi ini cuaca kota sedang amat cerah. Langit membentang bak kain biru bersih tanpa cela, hanya dihiasi segelintir gumpalan awan putih tipis yang berarak perlahan terdorong angin. Matahari menyiramkan sinar hangatnya, yang lambat laun beranjak kian terik seiring detik yang bergerak menuju siang. Di atas sana, gerombolan burung gereja sesekali terbang melintas membentuk formasi, bersahut-sahutan di antara pepohonan kampus. Dari kejauhan, deru lalu lintas jalan raya dan riuk rendah hiruk-pikuk perkotaan menyajikan ritme pemandangan yang teramat biasa bagi siapa pun yang melintas.Namun, Blaire kembali gagal memulai harinya dengan suasana hati yang baik.Kejadian serba canggung dan kacau semalam benar-benar memengaruhi kewarasannya. Bayangan-bayangan yang seharusnya tidak hadir terus berputar tanpa permisi di kepalanya, memburu hingga ke sela-sela napas. Untuk alasan itu pula, pagi ini dia sengaja melewatkan sarapan di meja makan rumah, sengaja menghindari tatapan siapa pun, dan memilih

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 84. Munafik!

    Kalimat sumpah serapah itu kembali lenyap di udara ketika Ben menunduk, melumat bibirnya lebih dalam dan menyambung kembali momen panas yang memabukkan tersebut.Pada mulanya, Blaire masih mencoba menolak. Bagaimanapun, ingatan tentang Ben yang mencium perempuan lain kembali membayangi kepalanya setiap kali sentuhan laki-laki itu merayapi kulitnya. Rasa hina itu membakar martabatnya.Namun sialnya, kenyataan pahit yang diucapkan Ben terbukti benar. Bibirnya boleh saja terus merangkai kalimat pedas, pikirannya boleh berontak mati-matian, dan hatinya boleh menolak dengan keras. Sayangnya, tubuh wanita itu menyerah pada biologisnya sendiri.Tubuhnya bergetar, memberi respons penuh pasrah atas setiap sentuhan Ben. Dan entah bagaimana, tiap remasan, gesekan, dan usapan jemari Ben menciptakan letupan rangsangan baru yang asing sekaligus adiktif. Seakan-akan Blaire sedang ditarik lepas dari pijakan bumi, dibawa terbang melayang dan ditenggelamkan dalam sensasi baru yan

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 83. Kau Menjijikkan

    Suara bisikan sarat bisa itu meluncur mulus dari bibir Blaire. Dan tepat di detik kalimat itu selesai diucapkan, raut dingin yang membeku di wajah Ben akhirnya retak. Topeng tenangnya runtuh seketika, berganti dengan gulungan emosi gelap yang mendadak menyeruak ke permukaan. Sepasang mata gelap laki-laki itu kini menampakkan kobaran emosi yang berbahaya.“Jijik?” Satu kata itu dilontarkan Ben dengan kekehan sinis, disertai senyum miring yang terukir samar di sudut bibirnya.“Ya. Kau. Menjijikkan,” desis Blaire tanpa keraguan sedikit pun, penuh nada permusuhan. Di balik binar matanya yang menyorot tajam, ada kebencian mendalam yang merambat naik mencapai puncaknya.Harga diri Ben jelas terhentak keras. Kata pendek itu telak mengenai egonya, terlebih karena Ben tahu betul Blaire tidak sedang bergurau. Lagi pula, sejarah di antara mereka tidak pernah menyisakan ruang untuk gurauan hangat. Sebaliknya, atmosfer di antara mereka selalu diselimu

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 1. Jebakan Panas

    “Blaire, kau sepertinya butuh bantuan,” ucap suara familier itu. Blaire mengenali pria itu sebagai kakkak sahabatnya. “Ayolah. Apakah kau akan pergi sebelum bersenang-senang denganku?”Blaire menggelengkan kepala, mencoba fokus. Kesadarannya nyaris menguap sepenuhnya, dan sialnya, dia mulai merasak

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 5. Keluarga Baru

    Blaire tak menyangka bahwa hidupnya akan mengalami perubahan drastis untuk kedua kalinya. Pertama, setelah ayah kandungnya meninggal yang merupakan titik balik hidupnya. Kedua, setelah kabar pernikahan ibunya dengan ayah tirinya ada di depan mata.Blaire bukan tak mendukung pernikahan ibunya, hanya

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 4. Rencana Pernikahan

    Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 3. Bertemu Calon Kakak Tiri

    Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status