Share

Bab 5

Author: Delia
Saat halaman pemesanan tiket sedang dimuat, gagang pintu berputar, dan Reno masuk.

Dia memegang segelas susu hangat di tangannya, matanya melirik layar laptopku.

"Sudah larut malam begini, masih sibuk apa?"

Aku segera mengganti halaman, berbicara dengan tenang.

"Bukan apa-apa, cari musik untuk ibu hamil."

Dia berjalan ke belakangku, meletakkan tangannya di bahuku.

"Sayang, Laura cuma tinggal beberapa hari di rumah kita. Kamu sebentar lagi melahirkan, jangan terlalu banyak pikiran."

Aku menutup laptop, lalu berdiri.

"Aku capek, aku mau tidur dulu."

Dia berdiri diam, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahan diri, akhirnya hanya menghela napas, lalu berbalik pergi.

Aku membuka kembali laptopku, lalu memesan tiket pesawat ke Bosdon.

Cahaya dari layar memantul di wajahku. Aku mengusap perutku yang membuncit, hatiku terasa tenang.

Kali ini, aku benar-benar akan pergi.

....

Keesokan paginya, aku membuka lemari dan mulai mengemas barang-barang.

Di sudut lemari, terdapat sebuah kotak perhiasan beludru merah yang sudah pudar, dengan sudut-sudut yang sudah terkelupas hingga memutih.

Aku membukanya dengan lembut. Di dalamnya, ada sebuah kalung perak dengan liontin lonceng kecil yang bertuliskan "Damai". Itu adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan ibuku untukku.

Baru saja aku memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam koper, Laura tiba-tiba membuka pintu dan masuk.

Pandangannya langsung tertuju pada kalung itu, dan kilatan serakah melintas di matanya.

"Kalung ini ... pasti hadiah dari Reno, 'kan?"

Aku menatapnya dengan dingin.

"Ini warisan ibuku."

"Kamu bohong!"

Dia berlari mendekat dan merebut kotak perhiasan itu.

"Reno pernah bilang mau memberiku kalung lonceng, pasti ini yang dia maksud!"

Aku menggenggam ujung kotak perhiasan itu dengan erat.

"Laura, kamu nggak mengerti orang bicara? Aku sudah bilang ini kalung ibuku!"

"Nggak usah sok memelas!"

Dia berteriak dengan suara melengking.

"Reno sudah pernah cerita padaku, ibumu bunuh diri karena ayahmu selingkuh. Orang dari keluarga sepertimu nggak pantas pakai kalung sebagus ini!"

Seluruh tubuhku menggigil, jari-jariku tanpa sadar sedikit melonggar.

Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik kotak perhiasan itu dengan keras, hingga kotak itu jatuh ke lantai dan kalung itu mengalir keluar.

"Bajingan seperti Reno dianggap pangeran, itu cuma kamu! Kalau kamu mau, silakan ambil. Aku nggak butuh!"

Aku membungkuk untuk mengambil kalung itu, suaraku terdengar dingin dan keras.

"Tapi ini kalung ibuku, jangan harap kamu bisa menyentuhnya!"

"Kamu sok suci buat apa?"

Dia mencibir.

"Kamu pikir Reno beneran mencintaimu? Dia cuma nggak rela aku melahirkan, jadi dia pinjam rahimmu saja."

"Diam!"

Aku menamparnya, lalu merebut kalung itu darinya.

Dia tidak bisa menahan amarahnya, lalu mendorongku sekuat tenaga.

Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan keras ke lantai, perutku membentur sudut tempat tidur.

Rasa sakit yang hebat seketika menjalar ke seluruh tubuhku. Aku meringkuk, keringat dingin mengalir di dahiku.

Laura tercengang, wajahnya memucat.

"Erisa ... jangan pura-pura."

"A-aku nggak sengaja."

Dia mundur dua langkah, lalu berbalik dan lari.

Aku terbaring di lantai, cairan ketuban dan darah bercampur membasahi karpet.

Rasa sakit yang hebat bagaikan pisau tumpul, mengaduk-aduk perutku.

"Tolong ... tolong ...."

Aku merangkak ke depan dengan susah payah, kuku-kukuku meninggalkan beberapa goresan berdarah di lantai.

Kalung itu masih tergenggam di tanganku, berlumuran darah.

Akhirnya, aku berhasil meraih ponselku, lalu menekan nomor darurat dengan gemetar, suaraku serak.

"Aku ... aku hamil 35 minggu, aku jatuh ... air ketubanku pecah ...."

Suara di ujung telepon terdengar mendesak.

"Alamat! Alamatnya di mana!"

Aku menyebutkan alamatnya, lalu pandanganku menjadi gelap.

Rasa sakit datang tiba-tiba seperti gelombang pasang, dan aku menggigit bibirku keras-keras agar tidak pingsan.

"Tahan sebentar! Ambulans sudah dalam perjalanan!"

Aku terbaring di lantai, menatap lampu gantung di langit-langit, pandanganku semakin kabur.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jebakan Lembut   Bab 9

    Jadi, aku menandatangani surat persetujuan untuk program kehamilan dengan sperma donor di sebuah klinik kesuburan di Bosdon.Dokter menyerahkan profil seorang donor sperma. Tinggi 185, lulusan universitas ternama, tanpa riwayat penyakit genetik dalam keluarga."Nona Erisa, kamu yakin ingin membesarkan anak ini sendirian?"Tanya dokter.Aku mengangguk, sambil mengusap kalung di leherku."Ya, sekarang aku mampu memberinya kehidupan terbaik."Namun, Reno sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan hidupku.Dia terus mengawasi aku dari balik layar, melalui kamera pengawas di apartemenku dan pelacakan lokasi ponsel.Bahkan, dia menyuap pelayan di kafe yang sering aku kunjungi.Dia seperti binatang buas yang bersembunyi di kegelapan, selalu mengawasi setiap gerak-gerikku.Jadi, saat aku melangkah masuk ke klinik itu, dia langsung mengetahuinya.Dia menerobos masuk ke apartemenku dengan wajah pucat pasi."Erisa, kamu sudah gila? Kamu mau mengandung anak pria lain? Ini pengkhianatan kepada Rara!

  • Jebakan Lembut   Bab 8

    Aku terkekeh sinis, lalu berbalik menuju kamar mandi."Kamu boleh pergi."Dia berdiri dengan terhuyung-huyung, dan saat sampai di pintu, tiba-tiba menoleh ke belakang."Erisa, aku ....""Pergi."Aku memotongnya dengan suara dingin.Setelah dia pergi, aku bergegas ke kamar mandi dan mencuci tangan dengan liar.Keran kubuka sepenuhnya, air dingin membasahi tanganku, tapi perasaan jijik itu tidak kunjung hilang.Aku menatap wajah pucatku di cermin, bergumam pelan."Rara, Ibu akan memberi balasan untuk mereka semua."....Setelah Reno pergi, aku berdiri di depan jendela, menatap punggungnya yang menghilang di tengah badai salju.Beberapa minggu kemudian, berita utama di dalam negeri menjadi dihebohkan dengan berita: [Mantan eksekutif Grup Dewangga, Laura Yosephine, telah resmi ditangkap polisi atas dugaan penipuan bisnis dan penggelapan dana perusahaan.]Berita tersebut secara rinci menggambarkan bagaimana Laura memanfaatkan jabatannya untuk memalsukan kontrak, menggelapkan dana perusahaan

  • Jebakan Lembut   Bab 7

    Aku menepis tangannya, tatapanku sedingin es."Rara sudah di surga. Sana pergi menemuinya."Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis."Oh, nggak bisa. Orang sepertimu, bahkan setelah mati pun akan masuk neraka. Mana mungkin kamu pantas bertemu anakku?"Wajahnya langsung pucat, dan dia mundur selangkah dengan terhuyung-huyung."Nggak mungkin. Kamu masih baik-baik saja sebulan yang lalu. Kalau kamu nggak ngambek dan kabur ke luar negeri, pasti ....""Reno."Aku memotong kalimatnya, suaraku penuh ejekan."Kamu merasa pantas menyebut namanya? Saat kamu menemani Laura ke rumah sakit, pernahkah kamu pikirkan anak kita? Saat kamu membiarkan wanita itu tinggal di rumah kita, pernahkah kamu pikirkan anak kita?"Dia membuka mulutnya, tapi tidak bisa berkata-kata.Aku berbalik masuk ke dalam apartemen, dia menerjang untuk menghentikanku, tapi dicegah oleh petugas keamanan di pintu."Erisa!"Dia berlutut di atas salju, suaranya serak."Izinkan aku bertemu Rara, aku mohon ...."Aku menutup pintu,

  • Jebakan Lembut   Bab 6

    Saat terbangun kembali, cahaya putih yang menyilaukan membuatku menyipitkan mata.Aroma cairan disinfektan menusuk hidungku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang infus terpasang di tanganku."Sudah bangun?"Dokter mendekat, dengan nada suara yang berat."Mohon maaf, janinnya nggak bisa diselamatkan."Seluruh tubuhku menggigil, jari-jariku mencengkeram seprai dengan erat."Kenapa?""Benturan langsung di perut menyebabkan plasenta terlepas sebelum waktunya."Dokter membuka buku rekam medis."Saat sampai di sini, pendarahan sudah parah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."Aku menutup mata, telingaku berdengung."Mau menghubungi keluarga?"Perawat bertanya dengan suara lembut.Aku menggeleng, suaraku serak."Nggak usah."Ruangan rawat inap sunyi mencekam, hanya terdengar bunyi detak monitor.Aku mengusap perutku, yang kini sudah rata seperti semula, tapi terasa hampa, seolah ada sesuatu yang telah diambil darinya."Rara."Aku bergumam pelan, air mata mengalir tanpa suar

  • Jebakan Lembut   Bab 5

    Saat halaman pemesanan tiket sedang dimuat, gagang pintu berputar, dan Reno masuk.Dia memegang segelas susu hangat di tangannya, matanya melirik layar laptopku."Sudah larut malam begini, masih sibuk apa?"Aku segera mengganti halaman, berbicara dengan tenang."Bukan apa-apa, cari musik untuk ibu hamil."Dia berjalan ke belakangku, meletakkan tangannya di bahuku."Sayang, Laura cuma tinggal beberapa hari di rumah kita. Kamu sebentar lagi melahirkan, jangan terlalu banyak pikiran."Aku menutup laptop, lalu berdiri."Aku capek, aku mau tidur dulu."Dia berdiri diam, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahan diri, akhirnya hanya menghela napas, lalu berbalik pergi.Aku membuka kembali laptopku, lalu memesan tiket pesawat ke Bosdon.Cahaya dari layar memantul di wajahku. Aku mengusap perutku yang membuncit, hatiku terasa tenang.Kali ini, aku benar-benar akan pergi.....Keesokan paginya, aku membuka lemari dan mulai mengemas barang-barang.Di sudut lemari, terdapat sebuah kotak perhiasan

  • Jebakan Lembut   Bab 4

    "Laura, jangan bicara lagi."Nada suaranya seolah sedang menengahi pertengkaran, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Laura.Aku mengepalkan tangan, kuku-kukuku menancap dalam di telapak tanganku.....Sepanjang minggu berikutnya, Reno selalu pulang larut dan berangkat pagi-pagi.Aku tidak bertanya apa-apa. Kami tinggal di bawah satu atap, tapi kami seperti orang asing.Hari ini adalah hari periksa kehamilanku.Aku mengirim pesan padanya, tapi dia tidak membalas. Aku menelepon, tapi dia tidak mengangkatnya.Akhirnya, aku terpaksa naik taksi sendiri ke rumah sakit.Ruang tunggu dipenuhi pasangan suami-istri. Para suami menggandeng istri mereka dengan hati-hati sambil membisikkan kata-kata menghibur.Aku duduk sendirian di sudut, menggenggam buku rekam medis. Bayi dalam kandunganku seolah merasakan perasaanku, menendangku dengan lembut."Nomor 28, Erisa."Aku mendengar perawat memanggil namaku.Aku berdiri dengan susah payah, berpegangan pada dinding, berjalan perlahan masuk ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status