LOGINSaat festival perahu naga, aku mengantre selama enam jam di depan sebuah restoran hotpot. Pacarku, Levin, menelepon. "Yara pengin makan masakan barat. Kamu ke sini saja." Yara adalah sahabatku sekaligus mantan pacar Levin. Ini sudah ke-35 kalinya Levin mengacaukan rencana kami demi Yara. Levin sudah sebulan ingin makan di restoran hotpot yang sedang kuantre ini, tetapi kami selalu gagal karena antreannya terlalu panjang. Demi makan hotpot kali ini, aku bahkan mengambil cuti dan mengantre selama enam jam. Setiap sepuluh menit, aku selalu memberi tahu Levin perkembangan nomor antrean. Lima menit yang lalu, aku baru saja memberitahunya perkembangan terakhir. Nomor antreanku 3601, dan sekarang sudah sampai nomor 3595. Aku menggenggam erat nomor antreanku. "Levin, aku sampai mengambil cuti dan sudah mengantre enam jam. Sekarang tinggal enam orang lagi ...." Levin memotong ucapanku dengan tidak sabar, "Aku tahu, tapi Yaya ingin makan masakan barat. Hotpot bisa dimakan lain kali." Kedua ujung telepon terdiam selama dua detik. Kemudian terdengar suara Levin yang mendesakku, "Kami ada di restoran yang jaraknya cuma lima atau enam tempat dari restoran hotpot tempatmu mengantre. Cepat ke sini." Aku yang sudah mengalah sebanyak 34 kali tiba-tiba merasa semua ini sangat tidak berarti. "Nggak. Aku mau makan hotpot." Aku menutup telepon, lalu mengirim pesan kepada atasanku. [ Pak Zayn, aku setuju ditugaskan ke Swiss. ]
View MoreLevin menundukkan kepala, suaranya sedikit tercekat. "Aku salah. Aku minta maaf. Pulanglah denganku. Mulai sekarang aku pasti akan berubah."Sekali lagi dia mencoba meraih tanganku, tetapi aku menghindar dengan dingin. "Levin, nggak semua kesalahan punya kesempatan untuk diperbaiki. Hubungan kita benar-benar sudah berakhir.""Nggak, belum berakhir." Levin tiba-tiba meninggikan suaranya, tetapi suaranya sedikit bergetar. "Jenna, aku tahu aku salah dan aku juga sudah berjanji akan berubah. Aku sampai datang jauh-jauh ke Swiss untuk mencarimu. Apa kamu benar-benar nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?"Aku menolaknya dengan tegas. "Nggak bisa."Levin menatapku. Beberapa saat kemudian, matanya memerah. "Jenna, aku tahu aku salah. Bahkan kesalahanku sudah keterlaluan.""Aku bisa mengerti kalau kamu nggak mau memaafkanku semudah itu. Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuatmu melihat sendiri perubahanku."Malam harinya setelah menyelesaikan kesibukan seharian, aku memb
Mobil berhenti di tempat parkir bawah tanah, lalu mesinnya dimatikan. Levin tidak langsung turun. Dia melirik ponselnya.Pukul delapan malam. Dari pukul lima sore sampai sekarang, baru tiga jam berlalu.Kenapa baru tiga jam?Untuk pertama kalinya, Levin merasakan bahwa tiga jam ternyata bisa sepanjang ini. Dia teringat hotpot yang mereka makan dua hari lalu. Hotpot yang membuat Jenna sampai mengambil cuti dan mengantre selama enam jam.Bagaimana Jenna bisa bertahan melewati enam jam yang begitu membosankan? Selama itu, dirinya bahkan tidak pernah sekali pun bertanya apakah Jenna haus, lapar, atau kedinginan.Ketika Jenna tidak mau menuruti permintaannya untuk mengganti rencana dan makan masakan barat, dia bahkan menuduh Jenna sedang ngambek. Kenapa dirinya bisa sebajingan itu?Levin menyalakan sebatang rokok.Kemudian sebatang lagi.Satu demi satu.Puntung rokok berserakan memenuhi lantai, tetapi dia masih tidak ingin turun dari mobil. Dia tidak ingin naik ke rumah. Atau lebih tepatnya
Di atas meja makan masih ada kotak-kotak makanan sisa kemarin. Levin berjalan menghampiri untuk membereskannya. Dia menggabungkan semua makanan yang belum habis ke dalam satu wadah, lalu tiba-tiba gerakannya terhenti.Tatapannya jatuh pada segelas air putih di atas meja. Itu adalah air yang dia tuangkan untuk Jenna, untuk menghilangkan rasa pedas.Levin menyadari bahwa selain suhunya yang sudah berubah, air itu hampir sama persis seperti saat dia menyodorkannya kepada Jenna. Bahkan tidak ada sedikit pun noda minyak di gelasnya.Saat itulah dia menyadari bahwa Jenna sama sekali tidak menyentuh satu pun hidangan di meja.Entah kenapa, segelas air putih itu membuat hatinya terasa sedikit perih. Kenapa dirinya bisa selalai itu sampai tidak memesan beberapa hidangan yang tidak pedas?Setelah selesai membereskan meja makan, Levin masuk ke dapur. Dia mengeluarkan bahan makanan satu per satu. Tahu pedas, telur tumis cabai, lobster air tawar pedas ....Semuanya adalah makanan kesukaan Yara. Kal
Levin masuk ke rumah sambil membawa sekantong besar berisi bahan makanan, lalu mengganti sepatu di dekat pintu masuk."Jenna.""Yaya bilang sebelum berangkat, kita makan besar dulu supaya puas menikmati makanan Indonesia. Cepat keluar sini, bantu-bantu."Namun, satu-satunya jawaban yang terdengar hanyalah suara gesekan saat dia mengganti sepatu."Jenna?"Levin mengenakan sandal rumah, meletakkan bahan makanan di dapur, lalu langsung menuju kamar tamu. Hal pertama yang terlihat adalah ranjang lipat yang kosong. Kemudian, dia menyadari dua koper yang sebelumnya berada di samping lemari juga sudah tidak ada.Levin tertegun sesaat.Pergi? Seharusnya tidak. Bukankah penerbangannya baru besok pagi?Dia keluar dari kamar tamu, lalu mencari ke kamar utama, kamar mandi, bahkan gudang. Namun, Jenna tidak terlihat di mana pun. Dia segera berjalan ke pintu masuk dan melihat sepasang sandal di dalam tempat sampah.Wajah Levin langsung menggelap, lalu kepanikan melintas di matanya. Dia bergumam, "Cu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.