Short
Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya

Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya

By:  WindaraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat festival perahu naga, aku mengantre selama enam jam di depan sebuah restoran hotpot. Pacarku, Levin, menelepon. "Yara pengin makan masakan barat. Kamu ke sini saja." Yara adalah sahabatku sekaligus mantan pacar Levin. Ini sudah ke-35 kalinya Levin mengacaukan rencana kami demi Yara. Levin sudah sebulan ingin makan di restoran hotpot yang sedang kuantre ini, tetapi kami selalu gagal karena antreannya terlalu panjang. Demi makan hotpot kali ini, aku bahkan mengambil cuti dan mengantre selama enam jam. Setiap sepuluh menit, aku selalu memberi tahu Levin perkembangan nomor antrean. Lima menit yang lalu, aku baru saja memberitahunya perkembangan terakhir. Nomor antreanku 3601, dan sekarang sudah sampai nomor 3595. Aku menggenggam erat nomor antreanku. "Levin, aku sampai mengambil cuti dan sudah mengantre enam jam. Sekarang tinggal enam orang lagi ...." Levin memotong ucapanku dengan tidak sabar, "Aku tahu, tapi Yaya ingin makan masakan barat. Hotpot bisa dimakan lain kali." Kedua ujung telepon terdiam selama dua detik. Kemudian terdengar suara Levin yang mendesakku, "Kami ada di restoran yang jaraknya cuma lima atau enam tempat dari restoran hotpot tempatmu mengantre. Cepat ke sini." Aku yang sudah mengalah sebanyak 34 kali tiba-tiba merasa semua ini sangat tidak berarti. "Nggak. Aku mau makan hotpot." Aku menutup telepon, lalu mengirim pesan kepada atasanku. [ Pak Zayn, aku setuju ditugaskan ke Swiss. ]

View More

Chapter 1

Bab 1

"Nomor 3601, ada?"

Aku menyerahkan nomor antreanku, lalu mengikuti pelayan menuju meja.

"Mau kuah pedas atau kuah tomat?"

"Kuah tomat."

Yara sangat menyukai makanan pedas, sedangkan aku sama sekali tidak tahan pedas. Setiap kali kami bertiga makan bersama, kami selalu harus menyesuaikan dengan selera Yara.

Aku menunduk untuk meletakkan jaket, lalu menunggu pelayan membawakan kuah hotpot.

"Nana."

Mendengar seseorang memanggilku, aku mendongak.

Yara melambaikan tangan sambil berjalan menghampiriku. Levin mengikuti di belakangnya. Tas tangan Yara tersampir di bahunya, sementara mantelnya terlipat di lengannya.

Setelah berhenti di depan meja, alisnya yang tegas tampak sedikit berkerut tidak senang. "Jenna, kali ini saja."

"Hm?"

"Kami sudah pesan makanan di sana. Yaya ngotot datang ke sini untuk temani kamu. Lain kali jangan ngambek begini lagi."

Padahal akulah pacar Levin, tetapi dia selalu memanggilku dengan nama lengkap.

Sedangkan kepada Yara, dia memanggilnya dengan panggilan yang jauh lebih akrab.

Aku cemburu dan merasa tidak nyaman.

Namun, Levin hanya menjawab asal-asalan bahwa dia sudah terbiasa memanggilnya begitu. Katanya, itu cuma sebuah panggilan dan aku tidak perlu terlalu berpikiran sempit. Kalau aku terus mempermasalahkannya, ujung-ujungnya aku akan dianggap sedang mengambek.

Yara meninju dada Levin pelan. "Jangan galak-galak sama Nana. Kalau sampai Nana menangis gara-gara kamu, aku nggak akan mengampunimu."

"Siap." Levin sedikit membungkuk. Nada bicaranya penuh kemanjaan yang tidak pernah kuterima darinya. "Manjakan saja dia terus. Kamu sudah memanjakannya sampai keterlaluan."

Yara merapat kepadaku dan menggandeng lenganku, lalu memutar mata ke arah Levin.

"Nana itu sahabat terbaikku. Kalau bukan dia yang kumanjakan, memangnya aku harus memanjakan kamu, mantan pacarku?"

Levin akhirnya mengalah. Dia meletakkan tas tangan dan mantel Yara dengan hati-hati. Kemudian, dia duduk di kursi yang lebih dekat dengan Yara.

Pelayan datang membawa kuah dan hendak menuangkannya ke dalam panci. Levin mengulurkan tangan untuk menghentikannya, lalu menatapku dengan nada mempertanyakan. "Kok kuah tomat?"

"Aku kira kalian nggak akan makan di sini. Aku nggak tahan pedas, jadi ...."

"Ganti dengan kuah pedas."

Levin bahkan tidak menungguku menyelesaikan ucapan. Dia langsung meminta pelayan menggantinya dengan kuah pedas kesukaan Yara.

"Tunggu." Yara terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada seolah sedang mengalah, "Atau kuah tomat saja deh."

"Nggak bisa." Nada Levin tegas. "Kamu sudah sebulan ingin makan hotpot di sini. Sekarang akhirnya dapat antrean, tentu harus makan sampai puas."

Tanganku yang sedang membagikan peralatan makan terhenti sejenak.

Ternyata orang yang sudah sebulan ingin makan hotpot adalah Yara. Yara hanya mengatakannya selama sebulan, tetapi Levin menyimpannya dalam hati selama sebulan penuh.

Saat ulang tahunku, aku pernah ingin Levin menemaniku makan masakan Prancis. Namun, dia bilang masakan Prancis terlalu hambar, sedangkan Yara suka makanan dengan cita rasa kuat dan tidak menyukainya.

Katanya, lain kali dia akan menemaniku makan berdua saja. Namun setelah semalam berlalu, dia langsung melupakannya.

Yara melirikku, lalu menatap Levin dengan ekspresi serba salah. "Nana nggak tahan pedas."

Levin menatapku dan sedikit mengernyit.

Sesaat kemudian, dia berkata kepada pelayan, "Ganti dengan kuah pedas. Lalu bawakan satu teko air putih dingin."

Pelayan membawa pergi kuah tomat itu, lalu Levin duduk. "Seperti biasanya. Kalau nanti kamu merasa terlalu pedas, celupkan saja makanannya ke air putih dulu."

Aku tidak mengatakan apa-apa dan terus membagikan peralatan makan. Seperti biasanya, Levin menganggap diamku sebagai tanda setuju.

Setelah kuah hotpot disiapkan, Yara berdiri untuk meracik saus cocolan. Levin menghentikannya dan pura-pura mengomel, "Kamu duduk saja. Jangan sampai salah menuangkan cuka karena mengiranya kecap lagi. Biar aku yang racik untukmu."

Yara mendengus. "Siapa bilang aku nggak bisa bedain?"

Dia mengangkat alis. "Kamu masih ingat seleraku, 'kan?"

Levin langsung menyebutkannya dengan lancar, "Tiga sendok saus wijen, dua sendok saus kucai, satu sendok saus tahu fermentasi, tiga sendok minyak cabai ...."

Sudut bibir Yara sedikit terangkat. Dia memotong ucapan Levin, "Sudahlah, nggak usah pamer ingatanmu. Sana racik."

Aku ikut berdiri.

Yara menarik lenganku. "Mau ke mana?"

"Meracik saus cocolan."

"Hal seperti itu serahkan saja pada Levin. Waktu dia masih pacaran denganku, dia perhatian banget."

Aku mendongak dan tatapanku bertemu dengan Levin.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status