Short
Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama

Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama

Por:  XavieraCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
18Capítulos
1visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Julia Martha hidup asal-asalan dan semaunya sendiri sejak kecil. Sebagai putri tunggal tiga generasi Keluarga Martha, yang hampir kehilangan nyawa karena lahir prematur. Orang tuanya yang baru memiliki anak di usia paruh baya, sangat memanjakannya bak permata. Latar belakang ini membuatnya terbiasa dengan aturan bahwa dunia harus berputar di sekelilingnya. Oleh karena itu, di usianya yang kesembilan belas tahun, saat menyelamatkan Calvin Parsa yang jatuh ke air, dia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan menggunakan segala cara untuk memaksa pria itu menikah dengannya. Setelah menikah, Julia baru tahu bahwa pria itu memiliki cinta pertama yang tidak bisa dilupakan. Jadi, tentu saja, dia mulai menargetkan Naomi Filla. Pertama, dia merusak karya Naomi di pameran lukisan. Kemudian, dia menyuap media untuk membuat berita utama hiburan tentang kepulangan Naomi setelah bercerai sebagai janda kaya yang terbuang. Hingga kali ini, dia secara diam-diam melaporkan masalah perpajakan galeri milik Naomi. Selama empat puluh delapan jam penuh, Calvin mengupayakan segala cara, tetapi tetap tidak bisa mengeluarkan wanita itu dengan jaminan. Tidak sanggup menahannya lagi, Calvin akhirnya menemui Julia. "Sudah cukup kegilaanmu ini?" ucapnya kata demi kata. "Apa kesalahan Naomi? Kalau ada masalah, lampiaskan saja padaku!"

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

"Lampiaskan padamu?" Julia tertawa. Senyumnya tampak tajam dan dingin. "Calvin, biar kuperjelas dulu. Aku ini istrimu. Naomi nggak salah apa pun, yang salah adalah kamu masih menyimpan dia di dalam hatimu!"

Dia mengangkat dagunya. "Jangan lupa, kamu berutang nyawa padaku. Nyawa ini nggak akan pernah bisa kamu bayar seumur hidupmu!"

Begitu kata-kata itu terucap, Calvin mendadak mengambil pisau pemotong kertas di atas meja. Tanpa mengedipkan mata, dia menancapkan pisau itu ke dadanya. Darah dengan cepat merembes keluar.

Wajahnya pucat pasi dalam sekejap, tetapi dengan suara serak dia masih bertanya, "Kukembalikan nyawa ini padamu, apa sudah cukup?"

Julia terpaku di tempat.

Melihat wanita itu diam saja, Calvin mencabut pisau itu dan hendak menancapkannya untuk kedua kali. Baru saat itulah Julia tersadar. Dia menekan luka pria itu. "Kamu sudah gila?"

Darah hangat merembes keluar dari sela-sela jari wanita itu yang gemetar. Tanpa disadari, air matanya menetes.

Calvin kehilangan kesadaran dan ambruk ke belakang. Julia tidak kuat menahannya, sehingga mereka berdua jatuh tersungkur ke lantai.

Punggungnya membentur sudut meja tulis hingga membuat penglihatannya gelap karena rasa sakit yang tajam, tetapi tangannya masih menekan luka itu kuat-kuat.

"Cepat kemari! Panggil ambulans!"

...

Lampu koridor rumah sakit memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.

Lampu merah ruang operasi masih menyala, sudah dua jam berlalu.

Ibu Calvin yang mendengar kabar itu bergegas datang. Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah Julia.

"Sampai mana kamu mau menyiksa Calvin baru mau melepaskannya?" Suara Ibu Calvin gemetar karena marah. "Harus lihat dia mati di depan matamu dulu baru kamu puas, iya?"

Julia perlahan memalingkan kepalanya. Wajahnya terasa panas dan perih, tetapi dia tidak peduli. Dia hanya menunduk menatap tangannya yang ternoda darah Calvin.

Bagaimana bisa jadi seperti ini?

Padahal pada awalnya, dia hanya ingin pria itu bicara lebih banyak dengannya dan sedikit lebih peduli padanya.

Pernikahan tujuh tahun lalu begitu megah hingga gempar di seluruh kota.

Namun, di malam pernikahan, Calvin hanya meninggalkan kalimat “Aku butuh waktu untuk terbiasa," lalu pergi ke kamar tamu.

Saat menemani Julia berkunjung ke rumah orang tuanya, Calvin mengobrol dengan sangat menyenangkan bersama mertuanya. Namun di rumah sendiri, dia menganggap istrinya seperti angin lalu dan selalu membisu saat makan bersama.

Ketika Julia sakit, Calvin memanggilkan dokter terbaik, tetapi tidak memberikan perhatian sepatah kata pun.

Hadiah ulang tahun pernikahan selalu berupa perhiasan terbaru dari tempat lelang, tetapi tidak pernah disentuh langsung oleh tangannya.

Namun, Julia terus meyakinkan dirinya sendiri. Ini hanya masalah waktu, dan dia punya banyak waktu serta kesabaran.

Hingga lima tahun lalu, Naomi bercerai dan kembali pulang dari luar negeri membawa seorang putri.

Calvin meninggalkannya begitu saja demi menjemput Naomi di bandara.

Saat wartawan menjual foto-foto itu kepadanya, malam itu Julia mengamuk dan merusak ruang kerja.

Ketika Calvin pulang dan melihat ruangan yang kacau-balau, pria itu hanya menatapnya beberapa detik, lalu berkata, "Perlu minta asisten menghubungi perusahaan renovasi?"

Sangat tenang hingga membuat frustrasi dan putus asa.

Kemudian, saat Naomi membuka galeri seni, Calvin berinvestasi.

Saat Naomi sakit, Calvin menjaga di rumah sakit.

Saat Naomi ulang tahun, Calvin memilihkan hadiah secara pribadi lengkap dengan kartu ucapan tulisan tangan.

Julia menyaksikan semuanya, hingga dia mulai menyulitkan Naomi.

Sampai hari ini.

Mungkin sejak awal dia memang sudah salah. Dia mengira asal cukup gigih, dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Namun, perasaan manusia tidak seperti itu.

Calvin adalah suami yang sempurna. Dia pulang tepat waktu, mengingat semua hari peringatan, dan menjalankan kewajiban sebagai suami.

Namun, hanya sebatas itu.

"Oke." Julia mendengar suaranya sendiri. "Aku akan melepaskannya."

Ibu Calvin tertegun, seolah tidak percaya. "Apa katamu?"

Julia mendongak dan mengulanginya, "Aku akan bercerai dengan Calvin, sesuai keinginan kalian."

Setelah mengatakan itu, dia tidak lagi memedulikan reaksi siapa pun dan berbalik pergi.

Di ujung koridor, Naomi baru saja tiba. Begitu pandangan mereka bertemu, Naomi mendadak berhenti, lalu menjelaskan dengan canggung dan gugup, "Nona Julia, kontak darurat Calvin diisi dengan nomor saya, jadi pihak rumah sakit menghubungi saya ...." Dia menggigit bibirnya. "Kalau Anda keberatan, saya akan pergi sekarang."

Langkah kaki Julia terhenti sejenak. Bahkan untuk menyimpan nomor ponselnya saja pria itu terpaksa, tetapi kontak daruratnya bisa langsung diisi dengan nama Naomi.

Namun kali ini, Julia tidak menangis atau membuat keributan. Dia melewati Naomi. "Nggak perlu, kamu tetap di sini dan jaga dia baik-baik."

Saat keluar dari rumah sakit, hari sudah benar-benar gelap. Dia tidak memanggil sopir, melainkan berjalan menyusuri jalanan tanpa arah.

Kota ini sangat besar, tetapi dia merasa tidak memiliki tempat untuk dituju.

Tanpa sadar, dia pulang ke rumah orang tuanya. Lampu ruang tamu masih menyala.

Julia mendorong pintu dan masuk. Orang tuanya sedang membicarakan sesuatu. Begitu melihatnya pulang dalam keadaan berantakan, keduanya terkejut hingga berdiri.

"Julia? Kamu ...." Ibunya melangkah cepat mendekat. Ketika melihat bekas tamparan di wajah putrinya, suaranya langsung bergetar. "Siapa yang memukulmu? Mana Calvin?"

Ayahnya juga memasang wajah tegang. "Aku akan menelepon Keluarga Parsa sekarang!"

"Nggak usah." Julia menghentikan ayahnya. "Ayah, Ibu, aku berencana untuk bercerai."

Ruang tamu seketika menjadi hening.

Ibunya merespons lebih dulu, matanya langsung memerah. "Selama bertahun-tahun ini, kami tahu berapa banyak kepedihan yang kamu tanggung saat bersamanya. Kami ingin kamu pulang, tapi takut kamu malah nggak bahagia kalau kembali."

Ayahnya bergeming cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Kamu benar-benar sudah yakin?"

"Ya."

"Kalau begitu, bercerai saja." Ayahnya menepuk bahunya. "Ayah berjuang bertahun-tahun ini cuma supaya putri Ayah punya jalan untuk kembali."

Julia menatap punggung ayahnya yang tak lagi tegap, lalu tak kuasa menahan napas yang sesak.

Namun, dari sudut matanya, dia melihat beberapa laporan keuangan dan draf kontrak bertebaran di atas meja.

Dia mengambil dokumen-dokumen itu dan membaliknya lembar demi lembar. Ujung jarinya perlahan mulai dingin.

Proyek inti direbut, rantai pendanaan menegang. Ayahnya mencoba bekerja sama dengan Perusahaan Parsa, tetapi syarat dari pihak Perusahaan Parsa adalah menggerus kepemilikan saham orang tuanya.

Pantas saja, pantas saja mereka belum tidur selarut ini.

Julia memejamkan mata. "Calvin sengaja menyulitkan Ayah dan Ibu ...."

Ayahnya pura-pura santai. "Nggak separah itu, masalah kecil begini Ayah bisa atasi."

Angka-angka dan pasal-pasal yang rapat itu membuat matanya sembap dan perih.

Saat menikah dulu, orang-orang di kalangan atas mengatakan bahwa Calvin beruntung bisa menikahinya.

Orang tua Julia takut harga diri pria itu terluka, sehingga bertahun-tahun ini tidak ragu mengerahkan segala upaya untuk membantunya.

Perusahaan Parsa makin kuat dari hari ke hari. Namun, tidak disangka, hal pertama yang dilakukan pria itu setelah mengepakkan sayapnya adalah berbalik mencabut hak suara orang tuanya.

Mereka takut Julia khawatir dan serba salah, jadi tidak pernah membahasnya.

Uban di pelipis ayahnya dan kerutan ibunya menyembunyikan rasa lelah serta kecemasan yang selama ini diabaikan oleh Julia.

Demi pernikahan yang dipaksakannya ini, berapa banyak senyuman palsu yang harus mereka perlihatkan. Berapa banyak ketidakadilan yang harus mereka telan, dan berapa banyak hal yang telah mereka halangi di belakangnya?

Beruntung, semua ini belum terlambat. Dia menarik napas dalam-dalam.

"Ayah, Ibu, maafkan aku. Selama ini aku terlalu nggak dewasa, nantinya nggak akan begitu lagi."

Malam itu, Julia tidak tidur semalaman.

Dia menatap layar komputer dan berkas-berkas, memeriksanya pasal demi pasal, menyusun kembali masa lalu yang sempat dia abaikan.

Dua hari kemudian, Calvin dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Julia membawa draf perjanjian perceraian yang telah dia siapkan menuju rumah sakit.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
18 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status