Share

Pacaran Dulu

Penulis: Calibrie
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 21:45:17

Kami masih saling menatap dalam keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur redup di sudut. Bayangan kami memanjang di dinding, bergerak halus mengikuti helaan napas yang mulai teratur. Mungkin sama-sama saling merasakan kedalaman. Atau, mencari kejujuran di balik tatapan mata yang lelah setelah gejolak malam ini. Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini. Aku ingin tahu, apakah dia serius dengan pertanyaannya tadi; pertanyaan tentang perceraian yang meluncur begitu saja di tengah keintiman kami.

"Kok diem?" tanya Claudia, jari-jarinya menyentuh daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya.

"Memangnya bisa semudah itu?" jawabku pelan, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

"Apa yang membuatnya sulit?" Claudia menggeser tubuhnya lebih dekat. Kehangatan kulitnya menyentuh lenganku. Di luar jendela kamarku, suara jangkrik mulai mereda, pertanda fajar tak lama lagi.

"Aku dan Dinda... kami tidak bertengkar. Kami butuh alasan untuk bercerai tanpa saling menyakiti..." Kata-kata itu t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
De Zoey
manusia bs bodoh dan hancur sekali...tp apa harus bodoh dan hancur terus menerus berkali-kali!? sekarang aryo mau ngambil keputusan dg emosional seperti sebelumnya ato dg berfikir secara logis untuk kedepannya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Dinda Dan Dewi Sudah Pulang

    Jam delapan pagi, kami akhirnya meninggalkan rumah. Udara pagi masih terasa sejuk ketika aku menyetir mobil melewati jalanan kota yang mulai ramai. Claudia duduk di sampingku dengan senyum tipis yang terlihat berbeda dari biasanya. Blazer hitamnya sudah kembali rapi menutupi tubuhnya, rambut yang tadi pagi masih basah kini sudah ditata kembali menjadi gaya profesional yang biasa ia kenakan.Tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. Hanya sesekali pandangan kami bertemu, lalu salah satu dari kami tersenyum, sebuah kode rahasia yang hanya kami berdua yang paham. Aku mengantarnya ke sebuah minimarket tidak jauh dari gedung kantornya. Tempat yang cukup aman untuk berpisah tanpa menarik perhatian."Sampai di sini saja, ya," ucapnya sambil melepas sabuk pengaman.Aku mengangguk. "Baik, Kak."Sebelum turun, ia menoleh sejenak, menatapku dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Ada rasa terima kasih di sana, mungkin juga sedikit penyesalan, atau justru kelegaan. Entahlah."Terima ka

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Pagi Hari Di Kamar Mandi

    Setelah badai itu mereda, suasana ruangan yang tadinya bising oleh deru napas dan erangan mendadak menjadi sunyi yang intim. Claudia masih bertumpu pada sofa, bahunya naik turun dengan tidak teratur, sementara aku masih memeluknya dari belakang, mencoba mengatur detak jantungku yang masih berdetak gila.Aku mengecup pundaknya yang berkeringat, lalu membalikkan tubuhnya perlahan. Wajahnya terlihat berantakan; rambut yang acak-acakkan, bibir yang bengkak, dan mata yang masih berkaca-kaca karena puncak kenikmatan tadi. Ia nampak begitu manusiawi, begitu jauh dari kesan "Wanita Besi" yang ditakuti di kantor pusat."Kamu baik-baik saja, Kak?" tanyaku lembut sambil merapikan helaian rambut yang menempel di pipinya.Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dadaku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam. "Aku merasa... hidup, Aryo. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bukan sekadar pajangan atau mesin pencetak uang."Aku membimbingnya duduk di sofa, menyeli

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Perang Panas Di Sofa

    Lampu ruang tengah yang temaram seolah ikut mengecilkan dunia ini, menyisakan hanya kami berdua di atas sofa yang kini terasa seperti pusat semesta. Napas Claudia memburu, terasa hangat dan pendek-pendek di ceruk leherku saat aku membenamkan wajah di sana. Aroma parfum mahalnya kini bercampur dengan aroma alami kulitnya yang memabukkan, sesuatu yang jauh lebih candu dari wangi masakan tadi."Aryo..." bisiknya parau, sebuah desahan yang lebih mirip rintihan kecil saat jemariku mulai menjelajahi lekuk pinggangnya yang halus.Aku melepaskan pautan bibir kami sejenak hanya untuk menatap matanya yang sayu dan basah. "Kamu cantik sekali, Kak. Benar-benar keterlaluan cantiknya," bisikku tulus.Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan menarik tengkukku kembali, menyatukan kening kami. Tangannya yang mungil kini merayap di dadaku yang polos, mencengkeram bahuku seolah aku adalah satu-satunya pegangan di tengah badai yang sedang ia rasakan.Aku membawa kecupanku turun ke arah tulang

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Malam Kedua Claudia Kembali Datang

    Kekhawatiranku menguap begitu saja. Pak Hendra ternyata sedang tidak mood bermain-main dengan wanita. Tapi dia menawariku. Saat ia menawarkan "fasilitas" wanita-wanita itu, aku menolak dengan halus, dan ia hanya mengangguk paham tanpa memaksa. Jadi, sogokan wanita itu sebenarnya tak berguna juga. Kalau pun tak ada, sepertinya juga tak masalah.Begitu urusan selesai, kami kembali ke kantor. Lalu aku segera membereskan barang-barangku, kembali ke basement, naik ke mobilku, lalu aku memacu mobil membelah kemacetan kota. Jarum jam menunjukkan angka yang masih bersahabat. Aku mengirim pesan singkat pada Claudia: "Aku pulang tepat waktu. Perlu aku jemput di mana?"Tidak ada balasan. Layar ponselku tetap gelap. Aku sempat ragu untuk menelepon; membayangkan ia sedang memimpin rapat besar atau tenggelam dalam dokumen. Orang sesibuk dia punya dunianya sendiri yang terkadang terasa jauh bagiku.Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan diri. Air dingin sedikit membasuh rasa lelahku. Baru saj

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Diajak Meeting Pak Hendra

    Selama aku bekerja hari ini, konsentrasiku tidak sepenuhnya pada pekerjaan. Ponselku bergetar beberapa kali; notifikasi pesan masuk. Dari Claudia."Pagi, Arya. Sudah sampai kantor?""Sudah, Kak. Baru sampai. Kamu gimana?”“Sudah di kantor!”"Syukur deh.""Kamu sibuk nggak hari ini?""Lumayan sibuk. Ada beberapa meeting. Kenapa, Kak?""Nggak ada apa-apa. Cuma kangen aja."Kangen.Kata yang sangat... loaded. Kata yang membawa implikasi lebih dari sekedar interaksi fisik semalam."Aku juga kangen."Dan aku mengetik itu tanpa berpikir panjang. Spontan. Jujur.Kami bertukar pesan sepanjang pagi. Pesan-pesan yang manis, yang penuh dengan flirting subtle, yang kadang membuatku tersenyum sendiri di depan layar komputer."Kapan bisa ketemu lagi?""Kapanpun kamu mau. Istriku masih di vila sampai besok sore.""Hmm... menarik. Nanti aku kabarin ya."Pesan-pesan itu terus berlanjut. Bahkan saat aku sedang meeting, ponselku bergetar dan aku harus menahan diri untuk tidak langsung mengecek. Begitu m

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Pacaran Dulu

    Kami masih saling menatap dalam keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur redup di sudut. Bayangan kami memanjang di dinding, bergerak halus mengikuti helaan napas yang mulai teratur. Mungkin sama-sama saling merasakan kedalaman. Atau, mencari kejujuran di balik tatapan mata yang lelah setelah gejolak malam ini. Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini. Aku ingin tahu, apakah dia serius dengan pertanyaannya tadi; pertanyaan tentang perceraian yang meluncur begitu saja di tengah keintiman kami."Kok diem?" tanya Claudia, jari-jarinya menyentuh daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya."Memangnya bisa semudah itu?" jawabku pelan, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri."Apa yang membuatnya sulit?" Claudia menggeser tubuhnya lebih dekat. Kehangatan kulitnya menyentuh lenganku. Di luar jendela kamarku, suara jangkrik mulai mereda, pertanda fajar tak lama lagi."Aku dan Dinda... kami tidak bertengkar. Kami butuh alasan untuk bercerai tanpa saling menyakiti..." Kata-kata itu t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status