Beranda / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 108. Jembatan Sementara Tidak Sepenuhnya Menyelamatkan

Share

Bab 108. Jembatan Sementara Tidak Sepenuhnya Menyelamatkan

Penulis: Zhang A Yu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 12:04:05

Semua prajurit beserta komandan Miao Feng dan komandan Hutong Bai berhasil menyebrangi jembatan.

Satu-satunya yang belum lewat adalah jenderal Shang!

Dia berdiri di tepi sungai, memegang kendali kuda hitamnya yang besar, tinggi selayaknya kuda perang. Nafas hewan itu memburu, hidungnya mengembuskan uap tipis ke udara lembah yang lembap.

“Maju,” ucap jenderal Shang rendah, seolah berbicara pada seorang prajurit lama.

Kemudian dia menepuk leher kuda itu pelan, lalu melepaskan kendalinya.

Si kuda melangkah ke jembatan gantung. Bilah bambu berderit. Tali utama menegang.

Jenderal Shang berdiri di belakang, kedua kakinya masih di daratan. Tangannya terkepal di balik lengan baju zirah, dadanya naik turun pelan. Ada rasa waswas yang menusuk, tapi wajahnya tetap tenang selayaknya seorang pemimpin yang tak boleh runtuh di depan siapa pun.

Di depannya, kuda itu berjalan pelan selangkah demi sel
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 117. Kedatangan Chu Qiao

    Tangan jenderal Shang mencengkeram pergelangan Shen Liu Zi dan menariknya menjauh dari cangkir teh tanpa komando! Gerakannya cepat, refleks seorang prajurit yang terbiasa menyelamatkan nyawa di tengah bahaya, bukan gerakan seorang pria yang sempat berpikir panjang. “—!” Shen Liu Zi terhuyung setengah langkah ke depan. Rasa perih membuat matanya membesar, napasnya tercekat. Namun, sebelum keluhannya sempat keluar, dia sudah ditarik lebih dekat. Jenderal Shang menunduk. Tatapannya jatuh ke tangan Shen Liu Zi yang memerah. Air teh masih menetes dari sela jemarinya. Untuk sepersekian detik—sangat singkat, nyaris tak tertangkap, raut wajahnya retak. Ada kilatan cemas di matanya! Shen Liu Zi menangkapnya. Dadanya bergetar. Aku salah lihat? pikirnya. Saat dia menatap lebih saksama, wajah jenderal Shang telah kembali dingin, tertutup rapat seperti pintu baja

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 116. Sangat Cemburu

    Brak! Gerbang kediaman jenderal Shang tertutup dengan suara keras. Shang Xiwu terhenti tepat di depan daun gerbang yang kini memisahkan dirinya dari dunia dalam. Wajahnya memerah, urat di pelipisnya menegang. Napasnya naik-turun cepat, tapi tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Kepala Xun, yang tadi mengiringinya dengan wajah dingin, sudah lebih dulu pergi, meninggalkan Shang Xiwu ditemani amarahnya sendiri. Kini Shang Xiwu mengepalkan tangan. Lalu, menghentakkan kaki kesal, berbalik, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di dalam kediaman.Jenderal mengenakan jubah tidur tipis. Lekukan di perutnya terbentuk jelas, seakan jubah yang dia kenakan sengaja didesain untuk memperlihatkan bentuk indah di sana.Dia tidak berkata apapun, tetapi kepala Xun yang sebelumnya selesai berbalik usai menutup gerbang, kini melangkah pergi ke sisi lain dengan kepala menunduk sebagai rasa hormat.Sementara itu, Shen Liu Zi yang masih membawa semangkuk obat mulai dilanda kegugupan kembali.

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 115. Chu Qiao Menyelesaikan Tugasnya

    Kereta melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya! Udara senja yang semula hangat, kini terbelah oleh derap kaki kuda, juga oleh gemeretak roda yang kini tak lagi sekadar berderak, melainkan mengaum, menghantam batu demi batu tanpa ragu. Debu terangkat tinggi, menutup sebagian pandangan, menjadikan jalanan seperti kabut perang yang terbentuk mendadak di jantung kota. Serangan masih datang bertubi-tubi! Dari atap, bayangan melompat, senjata terhunus, tubuh-tubuh itu meluncur turun dengan niat membunuh yang telanjang. Dari belakang, langkah ringan menyusul cepat, jarak dipangkas dengan teknik yang jelas terlatih. Dari samping, kilatan baja muncul dari sela kerumunan, begitu dekat hingga napas mereka nyaris menyentuh sisi kereta. Kereta seolah hidup! Setiap kali bahaya mendekat, jalurnya berubah setengah tapak—cukup untuk membuat sabetan meleset, cukup untuk membuat panah hanya menyayat udara. Chu Qiao mengendalikan laju secara kejam tapi indah, memanfaatkan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 114. Shen Liu Bei Juga Diincar

    Sore merayap turun perlahan, cahaya matahari merunduk di antara atap-atap rumah dan gerbang toko yang mulai ditutup setengah. Bayangan orang dan bangunan memanjang di jalanan pusat kota, menyatu bersama debu yang terangkat oleh roda kereta. Sebuah kereta kuda melintas—tidak cepat, tidak pula lambat. Lajunya wajar, nyaris membosankan, seperti ratusan kereta lain yang keluar-masuk kota setiap hari. Kusirnya duduk malas di depan. Pakaiannya sederhana, polos, tanpa hiasan mencolok. Topi bundar menutupi sebagian besar wajahnya, menurunkan bayangan ke dahi hingga mata nyaris tak terlihat jelas. Dari luar, tak ada yang akan menyangka bahwa kusir itu seorang wanita—Chu Qiao. Tangannya memegang kendali dengan mantap. Setiap tarikan tali kekang presisi, setiap ayunan cambuk hanya sekadar isyarat. Kuda melangkah patuh, seakan sudah lama mengenal orang di atas punggung kereta itu. Di dalam kereta, Shen Liu Bei duduk bersandar, tubuhnya sedikit condong untuk menjaga keseimbangan. Tongkatny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 113. Jenderal Shang Hanya Ngigau

    Cekalan itu membuat Shen Liu Zi membeku. “...” Tangan wanita itu tertahan, pergelangan yang ramping terkurung dalam genggaman panas yang tidak terkontrol. Jantung Shen Liu Zi berdegup keras, kepalanya kosong sesaat. Dia menunduk, menatap wajah jenderal Shang dengan napas tertahan khawatir. Tidak tahu pasti seberapa lama, yang jelas genggaman tangan jenderal Shang mendadak mengendur. Jari-jarinya meluncur turun, terlepas begitu saja, seolah refleks yang lahir dari mimpi buruk singkat. Kelopak mata yang tadi sempat terbuka tapi kosong, kini bergetar samar, lalu kembali terpejam. Napasnya tetap berat, tetapi iramanya perlahan menjadi lebih teratur. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Shen Liu Zi berdiri kaku beberapa saat, baru menyadari bahwa napasnya sendiri memburu. Dia mengangkat tangannya yang sempat dicekal, menekannya ke dada, mencoba menenangkan degup jantung yang belum reda. Wajah jenderal Shang kini terlihat berbeda. Tidak dingin, tidak keras seperti biasanya. Rau

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 112. Jenderal Shang Sampai Rumah

    Jenderal Shang sudah berdiri di depan gerbang kediamannya yang tertutup rapat. Wajahnya tanpa ekspresi, punggungnya tegak tidak seperti orang yang baru saja bertarung dengan maut. 'Siapa yang tidak jatuh hati pada wanita semenarik dia?' Ucapan Miao Feng kembali bergema, jelas, tenang, seolah belum lama terucap. Pandangan jenderal Shang lurus ke depan, menembus daun pintu kayu yang tertutup rapat. Ekspresinya tidak berubah, tapi matanya sedikit mengeras, seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin dia akui. Seiring berjalannya waktu, tangan pria itu terangkat. Handle gerbang didorong. Kayu gerbang berderit seiring gerbangnya bergerak. Suaranya pelan, panjang, memecah keheningan siang. Saat celah terbuka, angin dari dalam halaman menyapu keluar. Kelopak-kelopak bunga persik beterbangan, berwarna merah muda pucat, jatuh satu per satu, seolah sengaja menyambut langkahnya. Musim gugur baru saja menyentuh halaman itu—tidak dingin, tidak hangat, hanya cukup untuk m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status